Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Bismillah, Berkhitbah di masjid Rahmatullah


__ADS_3

Langit senja di pelataran Masjid Rahmatullah, Lampuuk - Lhoknga menjadi background yang indah bagi sepasang kekasih yang baru bersua.


Lantunan ayat suci Al Qur’an dari loudspeaker sebelum adzan maghrib berkumandang menambah kesyahduan. Cerita keduanya di masa penantian membuat lupa waktu.


" Na, maafin mas ya. Karena kejadian di Bandung waktu itu membuat kamu harus menunggu mas bertahun-tahun"


Beena hanya membalas pernyataan Akbar dengan senyum manisnya.


" Kamu menyesal Na? "tanya Akbar.


" Saya tidak pernah menyesal atas kejadian yang telah berlalu. Lagi pula Allah sudah menuntun takdir kita bertemu di bumiNya yang suci ini dengan jalan penuh manfaat. Kalau bukan karena skenario-Nya tidak mungkin saya akan dikirim kembali ke Aceh. Jadi kenapa harus menyesal".


" Ah, kamu masih tetap jadi Beena sepuluh tahun yang lalu"


"Sepuluh tahun yang lalu?" Beena bertanya ulang , meminta Akbar menjelaskan atas pernyataannya itu.


" Ya, kamu masih sama seperti waktu di pramuka. Pertanyaan pendek dijawab panjang dan lebar" jawab Akbar.


“ Oh ya Na, malam ini ada kegiatan peliputan gak?” tanya Akbar


“ Ga ada sih mas, kata Bimo mulai besok pagi. Paling nanti malam nemenin anak-anak di posko”.


“ Jadi benarkan suara merdu lagu doraemon itu kamu yang nyanyi!”.


Beena mengangguk,


“ Jadi mas tahu?kenapa gak nyamperin aku”.


“ Mas udah mau ke posko waktu itu, tapi karena ada kegiatan lain akhirnya mas urungkan. Malam berikutnya mas cari lagi eh sudah gak ada”


Allahu akbar...allahu akbar...


Suara muadzin di masjid tepat di seberang arah mereka tempat mengobrol memaksa keduanya untuk menghentikan perbincangan.


" Sudah adzan , Na" .


Beena mengangguk, sambil menjawab lantunan adzan dalam hatinya.


Akbar segera beranjak dari posisinya semula, setelah membaca doa selepas adzan. Ia mengulurkan tangannya.


Akbar menggandeng tangan Beena menuju masjid untuk berjama’ah.


Keduanya berjalan ke arah masjid yang jaraknya hanya beberapa meter dari posko tempat mereka berbincang-bincang.


Lantunan lafadz iqomah mengajak semua manusia di sekitar masjid untuk segera mendirikan shalat.


Seperti biasanya, barisan shalat terisi oleh warga sekitar dan relawan akademisi, medis, hingga relawan mancanegara yang muslim.


Namun shalat jama'ah kali ini terasa berbeda bagi Beena maka tak henti-hentinya ia mengucapkan syukur atas pertemuan ini. Pertemuan yang akan merubah jalan cerita cintanya.


Setelah dzikir dan doa selesai, masih tersisa beberapa relawan, masyarakat sekitar dan rekan-rekan TNI lainnya di dalam masjid sekedar berkumpul, bercerita melepas penat selama kegiatan sehari sembari menunggu waktu shalat isya.


Tiba-tiba Akbar berdiri,


“ Assalamu’alaikum, bapak-ibu saudaraku semua yang ada disini. Izinkan saya menyampaikan sesuatu pada perempuan yang saya cintai. Perempuan yang sudah sabar menunggu saya tanpa harus bercerita panjang lebar".


Akbar menghela nafasnya dalam-dalam, lalu melanjutkan ucapannya. " Perempuan yang kuat dan hebat". Untuk beberapa detik, Akbar menghentikan kalimatnya lagi. Membayangkan betapa maha kuasanya Tuhan menggiring skenario asmaranya dengan wanita pujaannya.

__ADS_1


" Dengan mengucap bismillah aku khitbah engkau Maryam Tabeena. Mau kah kamu menjadi Maryamku dan mendidik anak-anakku kelak sebagaimana ibunda Maryam mendidik Isa Alaihis Salam?” ucap Akbar.


Mendengar namanya disebut dari arah berlawanan. Membuat Beena membelalakkan matanya.


Sambil melipat mukenanya, Beena merasa kaget atas ulah Akbar kali ini.Kalimat yang dilontarkan Akbar membuat Beena merona di balik mihrab masjid, pembatas jamaah laki-laki dan perempuan. Semua jama'ah perempuan menoleh ke arah Beena.


Sejenak masjid hening, menunggu jawaban Beena.


“ Kak ayo dijawab “ titah ibu-ibu paruh baya.


Beena menarik nafas dalam satu tarikan lalu menghembuskannya pelan,


“ Bismillahirrahmanirrahim,


Menjadi sosok Maryam yang mas Akbar inginkan terlalu berat untuk saya yang hanya manusia biasa. Namun dengan segala ketidaksempurnaan saya, izinkan saya mewakafkan waktu dan diri saya dengan menemanimu menunaikan sapta margamu sebagai prajurit . Di serambi Mekkah ini saya terima khitbahmu,mas Syaiful Akbar”.


“ Alhamdulillah...” seru seluruh penghuni masjid.


Akbar menyerahkan sebuah bros huruf emas berkilauan permata swarowsky berwarna ungu pada wanita yang berada di samping Beena untuk memakaikannya pada hijab yang beena kenakan.


Kini bros itu sudah menemukan pemiliknya. Terlihat cantik dan anggun menempel di dada sebelah kiri Beena.


" Barakallah, ternyata musibah di Aceh memberikan maslakhah bagi kedua insan ini" celetuk sang imam masjid.


Semua jama'ah masjid secara bergantian memberikan selamat pada keduanya.


Selesai acara salam-salaman, adzan isya dikumandangkan mu'adzin. Segala doa yang baik dipanjatkan Akbar di antara waktu adzan dan iqomah, sebab waktu tersebut merupakan salah satu waktu mustajabah.


Para jama'ah melaksanakan shalat isya dengan tumakninah dan penuh kekhusukan.


Setelah suasana haru dan romantis disebuah masjid, Akbar mengantar Beena menuju posko pengungsian anak-anak.


" Na..."


" Ya, mas"


" Boleh gak aku manggil kamu sayang?"


" Apa? sayang? gak...gak...norak tau" tolak Beena.


" Atau aku panggil honey aja, gimana?"


"Honey...honey" Beena mengulang kata-kata Akbar bernada meledek lalu ia tertawa terpingkal-pingkal. " Huh...apalagi itu, malu sama anak abg mas"


" Terus apa dong? aku ingin memanggilmu dengan kata-kata spesial".


" Hm...apa ya? terserah deh mas, kalo untuk urusan begituan aku gak punya ide" jawab Beena sambil mempercepat langkahnya hingga Akbar tertinggal beberapa langkah dari Beena.


" Cin,cinta..." Ucap Akbar.


Beena menggeleng, menandakan tidak setuju.


"Sweety?" kata Akbar.


Beena tetap menggeleng dan fokus pada jalan yang sedang di hadapannya.


" Bee " teriak Akbar.

__ADS_1


Kali ini Beena berhenti dan berbalik arah, Beena tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Panggilan sayang bee, yang Akbar berikan sudah mendapatkan persetujian dari Beena.


Bee bisa dari kata hubby atau bee ( lebah) yang manis dirasa paling cocok, dan untuk menyamarkannya agar tidak terlalu ke-abg-an diambil dari nama Beena. Hari ini merupakan hari yang membahagiakan buat Akbar dan Beena.Kini tujuannya telah sampai dan menepi disebuah dermaga.


Dari arah posko pengungsian sudah ramai oleh anak-anak penghuni posko, mereka sangat antusias sekali saat melihat Beena berjalan mendekat ke area posko.


" Mas, saya ke posko dulu ya? mas istirahat saja" .


Akbar menggeleng, " aku penasaran ingin melihat kamu bermain dengan anak-anak. Kejadian tempo hari sepertinya asyik sekali".


" Yakin? bisa lama lho!" tantang Beena meyakinkan pada Akbar.


" Siapa takut" jawab Akbar dengan pasti.


Tepat berada di depan posko, Beena memberikan salam pada semua penghuni posko.


" Assalamu'alaikum semuanya..."


" Wa'alaikumussalam " jawab semua penghuni posko dengan serempak bak paduan suara.


" Hore...kak Beena datang" ucap seorang gadis kecil yang berlari menuju arah Beena. Lalu ia memeluknya dengan erat.


" Kak Beena, aku kangen umi" ucap Faraa sambil menangis.


" Eh, anak shalihah gak boleh nangis. Kalau kangen kita doa aja yuk. Kita baca Alfatihan sama-sama".


Beena menghibur anak-anak yang sudah ia rindukan. Pun, dengan anak-anak pengungsian. Mereka rindu sosok Beena yang selama 3 hari ini tak menemani mereka.


Akbar dengan penuh seksama melihat sisi lain Beena dari dekat. Sambil sesekali mengarahkan kamera hp-nya untuk mengambil gambar berbagai ekspresi Beena saat bercerita di depan anak-anak.


Selama dua jam, Akbar memperhatikan Beena menemani anak-anak. Beena yang sangat keibuan menjadi wanita yang tepat ia pilih untuk hidup dan kehidupannya kelak.


“ Ibu yang sempurna buat anak-anakku kelak” gumamnya.


Setelah acara dengan anak-anak selesai, Beena mendekat ke arah Akbar lalu duduk disampingnya.


“ Kenapa mas? " tanya Beena " kakinya masih sakit?” ucapnya memastikan keadaan Akbar.


“ Udah sembuh, semenjak liat kamu bee”


Plak , tangan Beena memukul kaki Akbar.


“ Awww, pelan-pelan kali“ Akbar merintih menahan sakit.


“ Lha katanya sembuh, kok sekarang bilang sakit. Kalo mau gombal itu sama kambing mas”.


" Lho kok kambing?"


" Iya, bener sama kambing. Kambingkan manut aja di gombalin, dibohongin padahal mau disembelih" Beena memonyongkan bibirnya.


Akbar kali ini tidak bisa mengelak,


“ Bener tadi udah sembuh, sekarang sakit lagi. Jadi kamu harus tanggung jawab” kata Akbar menantang.


“ Ish...ish...ish...baru tahu ada hantu laut yang manja” Beena menggeleng.

__ADS_1


***


__ADS_2