
Bang Billy datang menghampiri Beena yang sedang melamun sesaat setelah menerima panggilan dari Akbar.
“ Bengong aja...”
Ucap Billy sambil memberikan amplop cokelat.
“ Apa ini bang?”
“ Buka aja” sambung Billy sambil tersenyum.
“ Paspor dan Visa?” Beena semakin tak mengerti.
“ Itu reward dari mbak Mia”
“ Maksud abang?”
“ Kamu dan Bimo sudah bekerja keras selama di Aceh bulan lalu. Tahun baru kalian gak ambil cuti dan sebagai reward mbak Mia kasih kalian kepercayaan buat liputan di Lebanon sekalian jalan-jalan”.
“Liputan atas pemboman perdana menteri tanggal 14 Februari kemarin bang?”
“ Iyap, kalian cuma 3 hari tugas liputan. Dan 4 hari kalian bisa jalan-jalan.”
Mendengar kata Lebanon yang tersirat pertama kali dalam bayangan Beena adalah sastrawan yang ia kagumi, Kahlil Gibran. Ia membayangkan bisa mengunjungi kota kelahiran sang penyair , Bcharri. Dan mengunjungi museum Kahlil Gibran yang otentik.
Beena berpikir sejenak, mungkin ini jalan untuknya agar benar-benar objektif memilih saat berada jauh dengan Akbar, tidak terkontaminasi dengan emosi.
Sebagaimana hal yang di contohkan sahabat Ali R.A yang tak membalas perlakuan Amr bin Ash saat ia sedang di hinggapi rasa marah. Ia lebih memilih meninggalkan Amr. Setelah lepas dari amarahnya barulah sayyidina Ali menghampiri Amr.
Ah...benar, ini moment yang pas untuknya menetralisir emosinya. Sepulang dari Lebanon Beena bisa benar-benar bersih hati dan pikirannya.
Ia tersenyum melihat tiket penerbangan ke Lebanon besok pagi.
Beena langsung mencari hp-nya dan berniat minta izin orang tuanya.
Tut...tut...
“ Assalamu’alaikum”
“ Wa’alaikumussalam”
“ Yah, Beena besok pergi ke Lebanon ada liputan di sana. Mohon doanya ya yah”
“ Na, bukankah kalian sedang menunggu proses nikah dinas?”
“ Cuma seminggu yah”
“ Na, kalau boleh ayah kasih saran mending gak usah pergi. Ayah khawatir keadaan disana”
“ Insyaallah semua aman yah, Beena pergi sama Bimo juga. Ini reward dari kantor, Beena dan Bimo dikasih liburan ke LN yah”
“ Ya sudah hati-hati. Oh ya kamu sudah ngabari Akbar?”
“ Apa perlu yah?”
“ Dia itu calon suamimu, biasakan dari sekarang untuk minta izinnya. Paling tidak kasih kabar kalau kamu mau melakukan kegiatan di luar”
“ Baik yah, setelah ini Beena telpon mas Akbar. Beena tutup telponnya ya yah.”
__ADS_1
Tak berapa lama hp Akbar berdering, melihat Beena yang menelpon Akbar girang bukan main. Beena sudah mau menelponnya. Meski masih sedikit kecewa karena telpon nya satu jam yang lalu berakhir dengan tidak baik. Setidaknya, Beena masih mau meminta maaf atas kejadian itu.
“ Assalamu'alaikum"
Ah...suara salam dari Beena kali ini terdengar sangat merdu bagi Akbar. Padahal salam itu sudah terbiasa diucapkan Beena.
"Wa'alaikumussalam sayang....”
Jawaban salam dari Akbar sekarang ini jelas diucapkan dengan lembut. Sampai-sampai Beena terperanjat. Jelas-jelas beberapa menit yang lalu Akbar menutup sepihak sambungan telponnya. Apa benar, Akbar sudah tak marah lagi?
Beena tersenyum, pasti akan sangat mudah mendapatkan izin dari calon suaminya dengan kondisi hati seperti ini.
“ Mas, aku minta izin"
"Izin?izin apa sayang?"
Ah, mendengar nada Akbar seperti ini membuat Beena yakin bisa pergi ke Lebanon besok pagi.
"Hm...anu mas, besok aku ada liputan ke Lebanon.”
"Apa? Ke Lebanon? No...no... Kondisi disana gak bagus bee, pasca pengeboman perdana mentri Lebanon pasti banyak konflik".
" Aku cuma seminggu di sana mas, lagi pula aku gak sendiri. Ada Bimo juga"
“ Tapi bee...”
“ Mas, ini tugas dari kantor”
"Apa kamu gak bisa nolak?sebentar lagi kita nikah bee?"
"Mas, sama seperti dengan sumpah prajuritmu.Aku pun punya kode etik jurnalisme. Boleh yah?"
“ Ini beda sayang, kita mau menikah. Harusnya kamu sudah cuti malah!"
Mendengar kata-kata menikah, Beena semakin berfikir keras untuk mendapat keputusan yang harus ia ambil nanti. Jangan sampai ia salah mengambil keputusan.
"Mas, bukannya aku egois. Kita sama-sama memiliki kode etik pada profesi kita sekarang ini.Aku janji setelah ini aku akan bisa menentukan jawaban apa yang tepat untuk kita"
"Kenapa kamu jadi keras kepala gini sih, bee?”
“ Mas,biarkan aku menikmati masa tenang. Anggap saja ini waktu buat aku menenangkan diri.Ok” ucap Beena dengan lembut.
“ Baiklah, apapun yang membuatmu tenang. Lakukanlah. I love you bee”.
Beena menutup sambungannya sebelum ia membalas ucapan Akbar.
“ Love you too mas” ucapnya lirih.
Di seberang sana, Akbar mendengus kesal. Bukan karena tidak mendengar jawaban love you too dari Beena. Tapi karena Akbar tidak bisa menemui Beena. Jadwal Akbar yang sangat padat, membuat ia tidak bisa menemui calon istrinya. Sebelum cuti nikah, Akbar sengaja mengambil semua tugas di kesatuannya.
Bahkan, Akbar sendiri sanksi kalau ia bisa mengantar Beena hanya sekedar ke bandara.
Arrrrghhh...
Suara luapan emosi Akbar terdengar ke telinga Yoseph.
"Calon pengantin uring-uringan mulu, kayak singa kurang pangan.Kenapa kau bang?" Tanya Yoseph penasaran, berharap masalah komandannya tempo hari sudah selesai malah kelihatan semakin kusut.
__ADS_1
"Beena ada tugas liputannke Lebanon"
"Wih...keren, bagus dong"
"Bagus kepala lu, aku harus menahan rindu selama seminggu".
"Jangan mendramatisir kau bang, rindu bertahun-tahun aja kau bisa. Masa ke Lebanon seminggu aja abang bilang gak tahan" Yoseph menyebikkan bibirnya.
" Setelah kejadian kemarin, aku gak bisa ketemu Beena. Giliran minggu depan aku sudah free kegiatan sore hari Beena malah ke Lebanon".
"Ya Tuhan, jadi cuma gara-gara itu kau bang!Setelah seminggu kau kan bisa puas-puasin ketemu wanitamu".
Yoseph terkekeh melihat tingkah seniornya yang mendadak kayak abg yang baru kenal cinta.
"Hm...mana aku besok gak bisa antar Beena lagi"
"Sabarlah bang, cuma seminggu ini".
***
Malam ini Beena mengemasi barang-barang keperluannya selama seminggu ke depan di Lebanon. Ia dibantu Reyna.Ya, malam ini Reyna menginap di apartemen Beena.
"Mbak Na sepertinya senang sekali mau ke Lebanon"
Beena tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.Ia masih berkutat dengan isi kopernya.
"Mbak Na sudah baikan sama mas Akbar kan?"
Beena tidak menjawabnya, namun kalau dilihat dari rona wajah dan komunikasi siang tadi sepertinya memang mereka sudah baikkan.
"Ah, syukurlah kalau mbak Na sudah baikkan. Itu artinya misi sebagai intel ku sudah selesai"
Ups...Reyna keceplosan.
"Maksud kamu apa Rey?kamu jadi mata-mata mas Akbar gitu?"
Reyna tidak bisa berkutik, ia hanya bisa nyengir kuda. Dan akhirnya Reyna menceritakan kejadian pertemuannya dengan Akbar di kafe Orange, malam setelah mengantarkan Beena yang berlinang air mata.
Beena tidak menyalahkan Akbar sepenuhnya, ia hanya butuh waktu untuk memikirkan semua keputusannya nanti. Sebab obsesi Mary terhadap Akbar jelas akan menjadi sandungan rumah tangganya kelak.
Drrt...drrt...
Sebuah pesan masuk di hp Beena dari Akbar.
"Besok penerbangan jam berapa,bee?"
"Pagi, jam 6"
"Maaf, mas gak bisa antar kamu sayang"
"Gak pa pa"
"Love U, Maryam Tabeena-ku"
Belum sempat Beena membalasnya, hp Beena sudah lowbatt. Ia bergegas mengisi daya hp-nya biar besok pagi sudah terisi penuh.
***
__ADS_1
***