
Beena meraih tas ranselnya, ia bergegas menuju area parkir restoran Marafuku.
Honda jazz ia lajukan dengan kecepatan tinggi menyusuri jalanan ibu kota.
Bukan Jakarta namanya jika tidak macet, apalagi weekend seperti hari ini.
Whenever you go
Whenever you do
I Will right here waiting for you...
Ponselnya berdering, Beena dengan cepat meraihnya dan segera menjawabnya.
"Iya bang, masih di jalan. Macet, hari Minggu parah!"
" Ok, nanti kalo sudah sampai langsung ke ruang meeting ya?".
" Iya bang"
Tut...Tut...Tut.. sambungan terputus .
"Kapan sih Jakarta terbebas dari macet".
Beena mendengus kesal. Tak biasanya ia terlambat.
Meski ini hari Minggu dan dia tidak ada jadwal. Tetap saja jika ada panggilan masuk kantor ia enggan untuk terlambat.
Setelah hampir dua jam terjebak dalam kemacetan.
Honda jazz warna silver milik Beena kini memasuki area parkir FirstTv.
Dengan tergopoh Beena berlari menuju ruangan meeting. Namun sayang rapat pimpinan redaksi sudah selesai, ia langsung menuju ruangan Billy.
Tok...tok..
"Masuk" teriak Billy dari dalam ruangan.
“ Maaf bang,telat”
Dengan muka penuh rasa penyesalan, Beena menuju meja pimpinan redaksi. Ternyata di ruangan itu sudah ada Bimo.
" Duduk Na, ada hal yang ingin aku sampaikan"
Beena menarik kursi lalu duduk dengan posisi kursi berdampingan dengan Bimo.
“ Langsung saja ya. Koresponden kita di Aceh mengabarkan telah terjadi gempa berkekuatan tektonik dengan skala 9,1 - 9,3 SR tadi pagi pukul 7.59 waktu setempat. Dan rapat terbatas tadi memutuskan kamu dan Bimo pergi ke Aceh”.
" Apa bang?"Bimo terhentak
Dengan ekspresi kaget keduanya tak menyangka jika kali ini tugas menanti mereka.
" Ya, kali ini FirstTv mengutus kalian berdua. Kalian siap?"
"Ya bang, aku siap" jawab Beena penuh keyakinan.
__ADS_1
Ini kali pertama Beena bertugas sebagai news anchor. Berbeda dengan pengalaman sebelumnya yang hanya ada di balik layar. Tentu saja ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas, meski segala resiko tentu saja akan ia hadapi. Termasuk dengan izin orang tuanya.
Bagi Bimo, yang memiliki hubungan tak baik dengan kedua orang tuanya karena ia korban brokenhome, soal izin tak jadi masalah. Tinggal menyiapkan mental saja.
Beena mengambil nafas, lalu melepaskan dengan bebas.
“ Ok bang, aku ke apartemen dulu menyiapkan barang yang aku perlukan” kata Beena.
“ Ok guys, good luck".
Beena pulang ke apartemennya yang terletak di pusat kota Jakarta. Ia mengemasi bajunya untuk tiga hari ke depan. Sebelum kembali ke kantor, Beena menelpon ibunya.
Tuuttt...tuuttt...
Setelah terdengar jawaban salam dari ibunya, Beena langsung menyampaikan maksudnya kali ini dengan to the point.
" Assalamu'alaikum, bu"
" Wa'alaikumussalam Na"
" Tumben telpon jam segini, biasanya kalo hari libur kamu ngerapel tidur" ledek bu Halimah.
“ Bu, Beena mohon doanya nggeh"
"Ada apa Na? kok bilang seperti itu."
" Kamu sehat kan? ada yang sedang di rasa Na?"
" Alhamdulillah sehat bu".
" Ya, Na" , jawab nu Halimah dengan lembut.
"Hari ini Beena dapat kabar kalau Beena di tugaskan meliput bencana tsunami di Aceh. Beena mohon izin dan ridho ibu sama ayah”
" Ya Allah Na, jadi kamu mau berangkat ke Aceh?"
" Iya Bu, tiga hari di sana"
Mendengar kalimat yang terucap dari anak bungsunya, mata ibu tak bisa membendung butiran cairan bening yang sudah berkumpul di kedua sudut netranya.
Ibu tak kuasa jika berita gempa dan tsunami yang beberapa jam lalu dilihatnya di televisi. Kini, Bu Halimah harus merelakan anak bungsunya pergi ke daerah bencana yang sudah dipastikan segala resiko akan dihadapi di sana.
Ayah yang melihat ibu menangis, penasaran dengan percakapan istrinya. Ayah lalu mendekat ke arah ibu.
“ Telpon dari siapa bu?” tanya ayah.
Bu Halimah menyeka air matanya lalu menjawab, “ Beena yah”
Tanpa aba-aba, ayah langsung mengambil gagang telpon yang dipegang ibu.
“ Hallo Na, ada apa?”
“ Yah, Beena mohon izin dan ridho dari ayah. Beena di tugaskan meliput bencana tsunami di Aceh.”
" Kapan berangkat Na?"
__ADS_1
" Ini Beena lagi prepare yah, rencananya malam ini langsung terbang ke sana".
"Berangkatlah, jadilah manusia yang bermanfaat" pesan ayah.
Entah kakuatan apa, yang membuat ayah mampu melepaskan dengan ikhlas putri semata wayangnya.
“ Ridho ayah dan ibu menyertaimu Na, berangkatlah. Hati-hati”
“ Iya yah, Beena tutup telponnya. Assalamu’alaikum”
“ Wa’alaikumussalam”
Pesan ayah kali ini terdengar begitu dalam. Entah alasan apa , akhir-akhir ini jika berkomunikasi dengan ayahnya. Beena merasa lebih terbuka dan hangat.
Setelah mengemas beberapa potong baju ke dalam ranselnya. Beena langsung kembali ke FirstTv untuk kemudian bersama-sama wartawan lain menuju Aceh dengan helikopter milik TNI AU.
***
Pukul dua dini hari, helikopter milik AU berhasil mendarat di tanah rencong .
Bencana yang telah meluluh lantakkan bumi serambi Mekkah menyedot perhatian dunia. Gelombang dengan ketinggian mencapai 30 meter dan menewaskan sedikitnya 200.000 orang.
Sebagian kota di tanah rencong lumpuh total. Tak ada listrik, nampak seperti kota mati.
belum ada posko resmi pengaduan, hanya ada tenda-tenda darurat yang didirikan secara insidental.
Berbagai relawan berdatangan mulai dari dalam negeri hingga luar negeri. Terdiri dari jurnalis, akademisi, ormas, tenaga medis hingga militer berbaur bersatu.
Tanpa memandang suku,ras, kewarganegaraan ataupun profesi. Mereka bersatu atas nama kemanusiaan.
Hari itu Beena dan Bimo berangkat menuju Aceh bersama rombongan petinggi pemerinta dengan menggunakan Helikopter.
Setibanya di Aceh, sedih dan pilu melihat bumi serambi mekah luluh lantak. Tak terhitung betapa besar kerugian yang dialami, baik materi maupun immateri.
Anak terpisah dari orang tua.Banyak orang tua hampir gila menghadapi kenyataan jika mereka terpisah dari keluarga yang mereka cintai. Harta? Tentu bukan sebuah ukuran lagi betapa sedihnya mereka.
Beena dan Bimo langsung bekerja, tak peduli jam berapa saat itu. Meski dingin dan gelap, dengan penerangan seadanya mereka tetap melakukan aktivitas jurnalisme.
Beena dan Bimo menyusuri wilayah terparah dalam tragedi gempa berkekuatan 9,3 SR hingga menyebabkan terjadinya Tsunami 26 Desember.
Wartawan adalah orang yang paling banyak dicari oleh warga yang selamat. Dengan berbekal cerita ciri-ciri yang mereka kenali, melihat foto para korban yang diabadikan kameramen.
Sebagian warga berharap foto korban bukan bagian dari keluarga mereka, karena masih punya pengharapan anggota keluarganya masih hidup. Bagi sebagian warga lain, tak apalah mereka mendapati keluarganya meski sudah tak bernyawa, setidaknya ditemukan.
Semua jurnalis bekerja mencari informasi terkini, tak lupa mereka pun membantu para korban yang ditemui. Bersama relawan dan TNI, para jurnalis mengevakuasi jenazah tak ada kata takut ataupun jijik.
Lumpur tebal, kayu besar yang terbawa hanyut serta barang-barang rumah tangga seperti kasur,kursi bahkan kendaraan bermotor menjadi pemandangan utama.
Bencana yang menjadi bahan muhasabah diri akan kebesaran dan keagungan Tuhan benar-benar terjadi di bumi Allah.
Bak teguran untuk manusia, seperti tak ada hentinya setelah konflik berkepanjangan antara pemerintah dengan GAM. Hingga akhirnya pemerintah menerapkan status Darurat Militer di tahun 2003.
Kini, rakyat Aceh berduka lagi. Indonesia menangis. Namun semangat persaudaraan tak pernah padam, dengan dikirimkannya berbagai relawan dari semua lini mulai dari akademisi, ormas, dan lain sebagainya.
***
__ADS_1