
Menikmati sunset di pantai laut mediterania membuat keduanya terbuai dengan keindahan alam yang diciptakan Tuhan.
Pasca ledakan di dekat pantai st. Georges dan ditambah musim dingin pula menjadikan pantai ini sepi dari pengunjung. Mendadak mencekam dengan deru ombak yang bersautan.
Merasakan hawa yang tak baik membuat Bimo segera mengajak Beena pergi, belum sempat mereka pergi dari lokasi. Tiba-tiba beberapa pasukan bersenjata lengkap mengampiri mereka. Menodongkan senjata dan tanpa ada prolog apapun kepada mereka. Lalu kepala mereka ditutup kain hitam dan membawa keduanya ke suatu tempat.
“ Who are you?” teriak Bimo.
“ We just tourists. Let us go, please”
Beena menambahkan.
Bimo berteriak, Beena meronta namun tak dihiraukan oleh pasukan berbaju hijau tua mirip angkatan bersenjata Suriah.
"What are you doing, we just tourist!"
"Aismat ya eifret"
Kata-kata makian keluar dari salah seorang prajurit bersenjata itu.
Sia-sia mereka berteriak dengan menggunakan bahasa Inggis, ternyata tentara itu tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Keduanya dimasukkan ke sebuah sel camp prajurit.
Bimo dan Beena disekap di bangunan tua di sebuah pulau pedalaman Laut Mediterania.
"mbak, kita dimana ini"
"Entahlah Bim, aku juga gak tahu"
"Siapa mereka mbk Na?"
"Aku juga gak tahu, tapi kalau dilihat dari pakaiannya seperti tentara Suriyah"
"Apa mereka pelaku pengeboman mantan PM Lebanon?"
"Aku juga gak tahu Bim, kita berdoa saja semoga mereka mau melepaskan kita"
Meski disekap, mereka masih diberi hak-hak tawanan. Mereka masih diberi makan dan beribadah. Ya, karena Beena berhijab. Mereka tentu saja tahu bahwa wanita itu masih saudaranya, saudara muslim.
Entah sudah berapa hari mereka menjadi tawanan. Kamera dan alat komunikasi, bahkan jam tanganpun dirampas dan di sita oleh pasukan bersenjata tadi.
“ Mbak Na, sudah berapa hari kita ditawan?” tanya Bimo.
__ADS_1
“ Jika tidak salah 3 hari Bim. Mbak sudah 3 kali shalat subuh di sini.”
“ Apa kita akan mati di sini mbak?” Bimo makin terlihat insecurenya.
“ Tidak, jika mereka memang berniat membunuh kita sudah dari awal” jelas Beena menenangkan Bimo.
“ Kita masih diberi makan, diperlakukan dengan baik bahkan aku masih diberikan kesempatan ibadah”
“ Tapi mbak, aku takut jika sampai kita tidak bisa ke Indonesia dengan selamat”
“ Bim, harusnya hari ini kita pulang. Jadi kalau sampai kita tidak pulang. FirstTv pasti akan melapor ke KBRI, melacak keberadaan kita”. Jelas Beena meyakinkan rekan kerjanya.
“ Mbak Beena yakin kita akan di temukan?”
“Insyaallah”.
Melihat ketakutan dan pesimistis Bimo membuat Beena harus benar-benar meyakinkan juniornya itu. Sejujurnya, Beena pun memiliki ketakutan yang sama. Dengan keyakinan yang ia miliki, doa yang selalu ia panjatkan membuatnya sedikit tenang.
Hari-hari menjadi tawanan hanya di isi dengan cerita keduanya.
Dari sini, Beena mengetahui mengapa Bimo menjadi sosok yang introvert dan dari mana sifat insecure Bimo bermula.
"Mbak Na" Ucap Bimo dari pojok tahanan
"Ya Bim," jawab Beena dengan nada sedikit lemas.
" Mbak Na baik-baik saja kan ?"
"I'm okey" Beena sengaja menjawab sambil mengarahkan pandangan ke sisi yang berbeda. Menghindari air matanya jatuh dan terlihat oleh Bimo. Ia tidak mau jika semangat Bimo akan meluruh hanya karena melihat air matanya.
Lagi pula, ia hanya sedang merindukan orang-orang yang mencintainya di tanah air.
Ada kedua orang tuanya, ada kakak-kakaknya yang selalu mendukung apapun keputusan Beena sekalipun harus berlawanan arah dengan ayahnya,.
Ada juga keponakan yang lucu dan menggemaskan seperti hasan-husen yang sekalipun jarang bertemu tapi tetap dekat, ada sahabat-sahabat Beena di first-tv yang selalu mensupport perjuangannya.
Dan yang paling ia rindukan saat ini tentu saja calon suaminya, Saeful Akbar. Beena semakin merasakan betapa berartinya sosok Akbar dalam hidupnya saat ini, dan selanjutnya. Ia berharap masih bisa berjumpa dengan Akbar, seperti keyakinan-keyakinan sebelumnya saat jarak memisahkan mereka. Pada akhirnya, takdir bisa menuntunya pada jalan yang indah.
Dan, ah...semoga ujian kali ini pun bisa ia lewati seperti ujian-ujian sebelaumnya.
"Mas Akbar, I love U mas"
__ADS_1
Praaaaang...
Sebuah foto terjatuh di atas nakas, Akbar tidak sengaja menyenggolnya saat tangannya hendak mengabil air minum.
"Astaghfirullahal adzim..."
Akbar terbelalak, mendengar bunyi benda jatuh yang ternyata adalah sebuah foto Akbar dan Beena.
Akbar melihat jam dinding masih pukul 02.00 dinihari. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan memungut foto tersebut.
"Untung saja tidak pecah, Ya Alloh Bee, kenapa kamu gak ngirim kabar sampai sekarang" Akbar membatin.
Akbar mengambil hanphonenya, ia buka sms yang Beena kirimkan untuknya.
Ia baca berulang-ulang sebagai pengobat rindunya.
"Bangunlah pada pagi hari dengan sayap hati mengepak, dan bersyukurlah atas datangnya satu lembar hari yang penuh kasih.
Jiwaku menderita karena perpisahan, tetapi kembali terhibur oleh cinta. Tindakan adalah cinta yang ditunjukkan”
“ Maryam-mu, Maryam Tabeena".
Entah mengapa, saat membaca kata-kata Kahlil Gibran itu Akbar mendadak mellow. Matanya berkaca-kaca seperti hendak di jauhkan dengan wanitanya itu.
"Bee, dimana kamu?kenapa hp-mu gak aktif.Aku benar-benar mencemaskanmu kali ini"
Disaat kegundahannya, Akbar tersadar ini adalah waktu termustajabah untuk meminta pada Rabb-nya.
Akbar segera mengambil wudhu dan melaksanakan 2 rakaat tahajud, ia bermunajat pada Tuhannya. Meminta ampunan dan tak lupa meminta perlindungan untuk orang yang ia cintai. Yang hingga saat ini tidak bisa ia hubungi.
Ah, besok adalah hari dimana tugas Beena berakhir di Lebanon. Akbar masih yakin jika ia akan bertemu Beena di bandara. Tentu saja Reyna akan berkabar jika Beena sudah sampai di Indonesia.
Setelah selesai shalat malam, Akbar masih mencoba menghubungi Beena.
"Ah, seharusnya di Lebanon sekarang sekitar jam 8. Aku coba sekali lagi deh, siapa tahu hp Beena aktif". Akbar membatin.
Tutt...tuttt...
Dan ternyata masih sama seperti kemarin, handphone-nya tidak aktif.
***
__ADS_1