Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Jogja Istimewa


__ADS_3

Yogyakarta,


Bukan hanya dikenal sebagai kota pendidikan, di kota ini pula dikenal dengan kota budaya.


Menikmati aneka makanan di tepi jalan sepanjang Malioboro dengan bermacam suguhan seniman jalanan. Membuat orang betah dan bisa menghabiskan waktu berjam-jam menghirup hiruk pikuk jantung kota Jogjakarta.


Makanan yang ramah di kantong untuk ukuran pelajar/mahasiswa menjadi daya tarik sendiri yang menyebabkan jalanan ini selalu ramai tak pernah sepi dari pengunjung.


Bagi Beena, malam ini sangat membuatnya senang karena setelah berkutat dengan liputan yang membuatnya penat, ia bisa menikmati seni teater jalanan yang diselenggarakan oleh seniman Jogja.


Kesempatan yang jarang ia dapatkan. Dan sebagai orang sastra, tentu ini seperti oase di tengah padang pasir.


Tak cukup hanya di Malioboro, Beena dan rombongan kemudian berjalan hingga titik nol kilometer Jogjakarta. Tentu saja untuk bahan liputan kali ini.


Beena merasa senang bergabung di FirstTv dan memiliki team yang solid. Mereka mendapat program acara tentang kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia.


Program ini cocok dengan Beena yang menyukai seni,sastra dan budaya.


Selama di Jogja, Nizar menjadi supir pribadi yang baik. Ia tak pernah terlambat mengantar ataupun menjemput Beena disela-sela kesibukkan jam praktiknya di RS Elizabeth sebagai dokter bedah.


Kali ini Beena menikmati seni teatrikal bersama tim produksi dan tentu saja ada Nizar.


Di bangku yang ditempati lima orang, Bang Bily, Bimo, Reyna, Beena dan Nizar. Mereka asyik dengan kegiatan masing-masing.


Bimo ngedit video bersama Bily, Beena ngedit narasi untuk hasil liputan. Dan Reyna lebih memilih melayani apa yang dibutuhkan ketiganya ketimbang harus ikut-ikutan.


Ya, karena suka lemot. Reyna sering mengacaukan pekerjaan.


Sedangkan Nizar, ia hanya tukang ojek yang menunggu Beena dengan sabar.


Sesekali Nizar mengambil gambar Beena secara canded. Meski sedang serius di depan laptop, Beena tetap mempesona.


" Na, masih lama ngeditnya?"


"Dikit lagi bang, kenapa?"


"Kita duluan ya? Reyna udah nguap terus tu"


Bang Bily menunjuk ke arah Reyna yang sedang membungkam mulutnya menyembunyikan rasa kantuk yang melandanya.


" Iya bang, lagi pula lagi asyik ni teaternya. Nanggung" Beena tersenyum


"Ok, Zar kami duluan


Nitip Beena ya".


"Iya bang, beres" jawab Nizar dengan akrab pada orang yang terpaut beberapa tahun dari usianya.


Melihat wajah Beena yang benar-benar menikmati pertunjukkan membuat Nizar tak berani mengajaknya pulang.


Sambil sesekali melirik jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 23.50 WIB.


Tut...tut...


Sebuah panggilan masuk di hp Nizar.


“ Hallo bah” jawab Nizar pada Abahnya di seberang sana.


“ Beena sudah dijemput?”


“ Sudah bah, kami masih di Loji”


“ Cepat pulang, ga bagus bawa anak perempuan orang malam-malam”.


“ Iya bah, kami pulang”.


Panggilan terputus, Nizar terpaksa mengajak Beena untuk segera pulang.


“ Hey, ini sudah jam berapa?” tanya Nizar sambil menunjukkan jam tangannya.

__ADS_1


Beena tersenyum, dan segera merapikan laptop yang tadi ia pakai mengerjakan skrip tugas liputannya.


“ Maaf mas, jadi lupa waktu gini”


“ Ayo cepat pulang, sebelum aku diinterogasi abah dan ayahmu”.


“ Iya...iya”.


Beena bergegas menuju parkiran mobil.


Nizar membukakan pintu mobil untuk Beena. Lalu Nissan Xtrail melaju meninggalkan titik nol kilometer Yogyakarta.


“ Maaf ya mas... “ Beena merasa tidak enak hati.


“ Ga apa-apa, paling nanti abah nyuruh kita nikah”.


Nizar menggoda Beena dengan tetap mengendalikan stir dan melaju dengan kencang.


“Maaass..”


Beena melotot ke arah Nizar dan mendaratkan pukulan di bahu Nizar dengan ransel yang sedari tadi dipangkuannya.


“ Aduh...sorry...sorry...aku bercanda”. Nizar mengelus-elus bahunya yang menjadi sasaran Beena.


“ Kamu senang dengan teatrikal kayak tadi?”


Beena mengangguk sambil membalas pesan di hp-nya.


Bang Bily menunjukkan tempat besok untuk berkumpul.


“ Adjiman Ariaji, WS.Rendra, Teguh Karya, Slamet Raharjo, Nano Riantriarno, Rahman Sabur, Rudolf Puspa, Nasjah Djamin, Arifin C Noer”.


Beena mengabsen beberapa nama seniman teater yang ia sukai sembari menatap panjang jalanan Jogjakarta .


“Teater modern, teater koma, teater keliling, teater Bumi, hmmm... teater payung hitam” lanjutnya secara lirih namun masih cukup terdengar jelas di telinga Nizar.


Beena mengangguk.


" Ya, itu juga jenis teatrikal"


“ Hm...kapan-kapan aku ajak kamu ke jalan Sriwedani di Ngupasan, ada ketoprak rutin selapanan di sana”.


“ Kapan mas?” Beena kegirangan.


“ Minggu depan kayaknya”


“ Yah...aku udah balik ke Jakarta dong”


Beena memonyongkan bibirnya dan menyilangkan kedua tangannya di dada dengan ekspresi sedikit kecewa.


Melihat ekspresi kesalnya Beena membuat Nizar menjadi gemas dan berniat mencubit pipinya.


Tangan kiri Nizar secara refleks mendekat ke arah pipi Beena. Belum sempat mendarat di pipi halus wanita yang membuat dia jatuh cinta, tiba-tiba telponnya berdering.


“Astagfirullah...” Nizar tersadar dari tindakannya.


“ Kenapa mas?”


“ Anu, itu di kerudungmu ada serangganya”


“ Mana...mana...mana...” Beena mengibas-ngibaskan tangan di kerudungnya mengusir serangga yang dimaksud.


“ Udah pergi kayaknya”


"Yang bener mas!"


"Iya, udah terbang."


"Udah terbang, kaca mobil nutup lho. Ke mana terbangnya?"

__ADS_1


Beena masih menganalisa keganjilan tingkah Nizar.


“ Mas, hp-mu berdering terus tu”.


"Aku lagi nyetir, tanganku gak bisa ambil" Nizar menggoda Beena.


"Bisa ambilkan hp di saku kemejaku?" Pinta Nizar sambil membusungkan dadanya.


Buk...


Kali ini ransel Beena tepat di dada Nizar.


" Auw...sakit Na"


"Dasar dokter jahil! Tadi aja bisa lepas stir mau ambil serangga. Sekarang bilang gak bisa ambil hp, pake acara minta di ambilin.


Beena menjulurkan lidahnya.


"Namanya juga usaha".


"Pantes aja di tolak cewek-cewek, lha wong jahilnya gak ketulungan!"


"Eit jangan salah, sekarang cewek yang ngantri banyak Na. Tapi-"


"Tapi apa?"


"Udah ah...aku angkat telpon dulu siapa tahu cewek cantik"


Akbar mengambil hp disaku kemejanya.


“ Ya, ummi”


“ Kamu di mana Zar?”


“ Ini sebentar lagi nyampe rumah mi”


“ Oh ya, hati-hati ya”


Sambungan terputus.


"Benar, cewek cantik yang telpon"


"tante mas?"


"iya "


"Apa Tante marah sama aku mas?"


"Sejak kapan umi bisa marah?"


Beena tersenyum.


Ya, Tante Farida sama seperti ibunya. Tak pernah memarahinya.


Pernah, dulu saat Beena kecil. Ia menyuruh Nizar memanjat pohon jambu. Lalu Nizar terjatuh karena dahan jambu tidak kuat menahan tubuh gembulnya. Hal ini membuat Nizar mengalami cidera.


Ibu dan Tante Farida hanya menasihati Beena untuk tidak menyuruh Nizar memanjat. Karena badan Nizar gemuk dan sangat beresiko.


Lima belas menit setelah sambungan terputus, Beena dan Nizar sampai di rumah.


Nissan xtrail berhenti di halaman rumah Nizar.


Ia membukakan pintu untu Beena.


Dengan tertunduk, Beena berjalan menghampiri ayah dan om Zul yang sudah menunggu lama kedatangan mereka.


Nizar tampak lebih santai dari Beena.


***

__ADS_1


__ADS_2