
Suasana haru terjadi saat penyambutan kedatangan Beena dan Bimo ke tanah air. Bimo dan Beena keluar dari mobil TNI.Dengan kondisi fisik yang sedikit berbeda, Beena lebih terlihat kurus dan kulit lebih sedikit menggelap. Begitu pula dengana Bimo, bahkan beberapa luka masih terlihat diwajah Bimo. Jalannya pun masih di bantu tongkat penyangga kaki yang diapit pada ketiaknya.
"Beena, are you okay?" Mia menyambut dengan memeluk staffnya, dengan derai air mata keduanya. Tentu saja air mata kebahagian. Bahagia bisa bertemu dengan orang-orang yang mereka rindukan di tanah air. Bahagia setelah terbebas dari ancaman.
" As seen, i'm okey" jawab Beena dengan bibir manis tersungging menampakkan lesung pipitnya yang tersamarkan oleh warna kulit yang sedikit menggelap namun tetap manis.
"Welcome back, you're are fighter boy"
Billy memeluk Bimo sambil menepuk-nepuk punggungnya.
"I miss you all" jawab Bimo dengan cucuran air mata, ini kali pertama Bimo merasakan kesedihan yang luar biasa. Ia tak bisa membayangkang jika kesempatan kedua masih berpihak padanya. Bimo teringat dengan jelas bagaimana dia disandera dengan perlakuan yang tidak baik di akhir. Terlintas bayang tentara hizbullah menendangnya dengan membabi buta, bahkan bisa saja nyawanya tak tertolong andai Akbar tak menyelamatkan mereka berdua. Bukan hal mustahil mereka pulang tinggal nama.
Isak tangis menghiasi seluruh staff first-tv dengan tak lupa banyak kamera yang menyorot pada mereka.
"Mbak Na...bagaimana perasaan mbak Beena setelah kejadian yang menimpa kemarin?" ucap wartawan yang sudah memadati pintu masuk first-tv
"Bisa mbak Beena ceritakan bagaimana kejadiannya?" disusul pertanyaan berikutnya.
"Mas Bimo, bagaimana perlakuan tentara yang menyandera kalian?"
"Berapa hari kalian di tawan?"
Suara riuh pertanyaan dari ratusan wartawan saling bersautan.
Beena dan Bimo sedikit kesusahan menuju pintu masuk, dengan bantuan pengamanan dari kopasus,TNI dan beberapa bodyguard berpakaian khusus berhasil melewati kerumunan wartawan. Hingga di ujung pintu masuk, Beena dan Bimo membalikkan badan mereka ke arah kamera dan memberikan senyum mereka sambil melambaikan tangan.
Pihak humas first-tv langsung mengambil alih.
"Buat teman-teman jurnalis, mohon bersabar biarkan kru kami istirahat. Dan nanti kami informasikan untuk konferensi pers.Jadi teman² bisa siapkan pertanyaannya. Sekali lagi mohon maaf dan mohon doa untuk kesehatan fisik dan psikis kru kami.Terima kasih atas dukungan teman-teman semua". Begitu humas menjelaskan langsung di sambut dengan tepuk tangan yang meriah dari ratusan jurnalia yang memadati halaman first-tv.
"Ya Allah mbak, aku kangen sekali" ucap Reyna dengan memeluk erat seniornya itu.
"Cuma sama mbak Beena saja? Aku nggak!" protes Bimo.
"Ya, tentu saja" jawab Reyna ketus.
"Kenapa gue gak dipeluk juga"
"Sorry ye, pacar gue marah nanti"
"Hah, lu punya pacar?laki mana yang kesambet macarin kayak lu" sindir Bimo.
"Sudah-sudah, lu istirahat Bim. Besok ada undangan dari presiden. Dan habis itu kita presconfr".
Beena di antar ke apartemennya oleh kru first-tv. Disana sudah hadir semua keluarga Beena dan keluarga Akbar.
__ADS_1
Beena di sambut pelukan hangat ibunya.
"Alhamdulillah, ibu masih bisa meluk kamu nduk" Ibu menciumi pipi Beena berulang-ulang, mengucap beribu- ribu syukur karena Beena bisa berkumpul di tengah-tengah keluarga.
Ayahnya mendekat, lalu mencium kening putri semata wayangnya. Memeluknya sambil melirik ke arah Akar. "Terima kasih nak Akbar, sudah menjalankan tugasmu dengan baik". Dari arah lain,Akbar tersenyum dan tak sabar pula ingin memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki yang kini sudah jadi mertuanya.
Pelukan disusul oleh ibu Ramy, kedua kakak Beena dan iparnya,lalu keponakan-keponakannya. Hingga akhirnya Akbar berdehem.Ia tak sabar menunggu gilirannya yang sedari tadi sudah kalah start dan selalu diserobot yang lain.
"Ehemmm...kapan giliranku?" sarkas Akbar sambil tak lupa membentangkan kedua tangannya."Kamu gak kangen sama aku, bee?"
"Ish, kita sudah dua hari bertemu di Lebanon mas!" jawab Beena dengan menahan malu di depan keluarganya.
"Tapi mas belum kamu peluk kayak yang lain!"
Akbar berjongkok ke arah si kembar Hassan-Husein lalu berbisik, "oba Beena juga belum berterima kasih sama om yang sudah menghajar tentara jahat" ucap Akbar mencari sekutu.
"benarkah?oba tidak mengucapkan terima kasih sama om yang sudah menyelamatkan oba?"
"aduh, oba ini gimana sih" ucap Hassan sambil menarik Beena ke arah Akbar.
Dengan malu-malu akhirnya Beena mendekat ke arah Akbar. Tubuhnya yang kini hanya berjarak oleh pakaian yang mereka kenakan. Ada desiran hangat yang mengalir, tak lupa ucapan terima kasih ditujukan pada laki-laki kesatria yang membawanya ke tengah-tengah keluarganya.
Keesokan harinya, keluarga Beena kembali ke Semarang untuk mengurus persiapan pernikahan Akbar dan Beena. Beena tidak bisa ikut pulang karena harus menghadiri undangan pemerintah.
Beena dan Bimo menjadi tamu istimewa istana presiden yang didampingi petinggi FirstTv, mbak Mia. Setelah acara penyambutan di istana kepresidenan mereka melakukan konferensi pers di sebuah gedung dengan dihadiri Beena,Bimo,dan perwakilan dari TNI. Tentu saja ada Akbar di dalamnya.
Hari ini Beena mengunjungi FirstTv ditemani Akbar setelah mengurus seragam jalasenastri.
“ Mbak Beena...”
teriak Reyna dengan khas cemprengnya di pintu masuk gedung FirstTv.
“ Nanti malem datangkan?” tanya Reyna.
“ Datang dong, masa farewell party buat aku sendiri gak datang.”
“ Aku bakal kangen sama mbak Na , gak ada yang bela aku lagi di depan bang Billy”
“ Gue bisa bela lu asal tulalit lu itu ilang” dari arah lain datang Bimo.
“ Ugh...dasar manusia introvert” Reyna mendengus kesal.
“ Sudah-sudah, aku kesini cuma mau antar ini” ucap Beena sambil menyerahkan undangan pernikahannya.
Beena dan Akbar lalu berpamitan pada Bimo dan Reyna tanpa menemui bang Billy. Lalu mereka pergi menuju rumah Jenderal Bram untuk mengantarkan undangan.
__ADS_1
Suasana canggung dan hening untuk beberapa saat ketika Mary keluar dari kamarnya.
“ Maafin aku Na”
Mary memeluk Beena dengan erat sembari menyeka air mata yang mengucur deras dari kedua matanya.
“ Sudahlah, kamu tidak salah. Ini bagian dari dinamika cinta kami”.
Beena melepas pelukan dan menatap Mary dalam-dalam.
“ Kami kesini untuk meminta restu dari Pak Bram dan bu Rossa, minggu depan kami menikah” ucap Akbar sambil memberikan undangan.
“ Ya, tentu kami pasti hadir ke Semarang ya mi?” kata pak Bram sambil melirik istrinya.
“ Kalau begitu kami permisi dulu pak”
“ Kenapa buru-buru sekali nak Akbar, kita makan malam sekalian aja” tawar Bu Rossa.
“ Maaf bu, kami masih ada kegiatan lain. Kebetulan habis ini kami ada undangan farewell party Beena”. Jawab Akbar.
“ Kamu resign dari FirstTv Na?” tanya Mary.
“ Iya Mar, biar lebih fokus mendampingi mas Akbar” jawab Beena.
Setelah memberi alasan yang logis dan santun pada keluarga Jenderal Bram, akhirnya Akbar dan Beena meninggalkan kediaman atasannya.
Di ruang tamu apartemen Beena, Akbar menunggu wanita pujaannya yang sedang prepare untuk menghadiri farewell party di sebuah restoran mewah di Jakarta.
“ Bee, sudah belum? Nanti telat lho! “ teriak Akbar dari luar kamar.
“ Ya mas, ini lagi pakai bros”.
Tak sabar menunggu Beena keluar dari kamar membuat Akbar menerobos masuk ke kamar Beena.
“ Masyallah...cantiknya istriku ini”
Akbar memuji penampilan Beena dengan balutan gamis ungu bahan chiffon silk dengan aksen pinggang terlihat pas ditubuh ramping Beena.
Akbar mendekat dan memeluk Beena yang sedang berdiri menghadap cermin. Dari arah belakang Akbar menelusupkan tangannya ke pinggang Beena. Bibirnya menyentuh telinga Beena yang sudah tertutup kerudung. Hembusan nafas Akbar yang halus membuat Beena mendadak merinding disko.
Sesaat mereka terbawa suasana, menyadari hal yang akan terjadi setelah ini jika dibiarkan. Beena segera mengembalikan kesadaran Akbar.
“Stttt...nanti telat” Beena tersenyum manis menjauhkan bibir Akbar.
“ Hm...gagal lagi” Akbar mendengus kesal.
__ADS_1
Beena menunjukkan arloji di tangannya, mengisyaratkan agar jangan sampai telat.
***