Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Si Penyelamat Mega Proyek


__ADS_3

Sebelum hari H, Beena intens berkomunikasi dengan Mary. Ia harus mempersiapkan semuanya agar kegiatan berjalan lancar.


Sebab menjadi interpreter sangat berbeda dengan translator.


Kali ini Beena menjadi consecutive interpreting, peacemaker yang menyambungkan dua negara, dua budaya, dan dua bahasa dengan baik. Untuk itu ia harus mengetahui karakter Mr. Ichiro termasuk daerah asalnya.


Mr. Ichiro merupakan orang Osaka yang notabene bertempramen keras, tapi teguh hati. Jadi ia harus hati-hati jangan sampai salah dan akan menyebabkan kerugian bagi pihak lain.


Dengan berpakaian formal Beena menuju tempat yang akan dipakai pertemuan antara Mary dan Mr. Ichiro. Sebuah restoran khas jepang di pusat kota metropolitan.


Bagi Beena si freelancer , menjadi seorang intrepeter merupakan pekerjaan yang menyenangkan selain di FirstTv. Bagai mana tidak, selain pundi-pundi rupiah, ia juga bisa mengaplikasikan ilmu yang ia tempuh selama kuliah di Bandung.


Ia selalu mengingat pesan ayahnya yang diambil dalam sebuah hadits, sebaik-baiknya manusia adalah orang yang memberikan banyak manfaat buat lingkungan sekitar. Dan rupiah adalah bonus dari apa yang kita berikan untuk kemaslahatan orang lain.


Setelah tiga jam pertemuan, dan kesepakatan telah di tandatangani. Beena menunggu kalimat yang akan dilontarkan Mary yang harus ia terjemahkan.


“ Terima kasih atas kesempatan yang anda berikan untuk perusahaan kami, tuan Ichiro”. Ujar marry.


“ Ichiro-san kara heisha ni go renraku itadaki, arigatogozaimasu”


Mr. Ichiro tersenyum manis, “Anata no kaisha de hataraku no ni ureshi, sumatoredi”


Beena menyampaikan kalimat pujian yang Mr.Ichiro tujukan untuk Mary.


Mary tersenyum sumringah bukan karena pujian saja, tapi karena kerjasama dengan nominal fantastis telah didapatkannya.


Mereka bersalaman lalu diakhiri membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan pada Mr.Ichiro.


Mr. Ichiro dan kuasa hukumnya berlalu , kini menyisakan Mary , Beena, dan sekretaris Bella yang duduk di meja yang berbeda.


“ Huh...akhirnya” Mary bernafas lega.


“ Bell, kemari...” titah Mary.


Bella pun bergegas menuju meja Mary dan Beena.


“ Iya bu”


“ Kamu urus fee buat Maryam ya, dan satu lagi...kamu aku traktir Fendi baguette bag”.


Mendengar kata Fendi Baguette membuat mata Bella berkaca-kaca. Tas yang ia impikan yang tak pernah mampu ia beli kecuali menabungnya dalam waktu satu tahun gajinya penuh, kini bisa ia dapatkan.


Ini salah satu hal yang membuat Bella senang bekerja menjadi sekretaris Mary.


Meski kadang atasannya itu suka moody dan semaunya sendiri. Tapi kalau urusan uang dia tidak pernah pelit.


Bahkan tak jarang, Mary memberikan uang tambahan diluar gaji. Dan terpenting adalah jiwa sosial Mary itu sangat tinggi.


Pernah suatu ketika, orang tua Bella mengalami kecelakaan tunggal dan harus dirawat di rumah sakit.


Bella yang merupakan anak pertama dan mempunyai dua orang adik yang masih sekolah mau tidak mau harus menghandle keuangan keluarga.


Beruntungnya, Bella memiliki atasan seperti Mary. Berkat tangan dinginnya, urusan biaya rumah sakit dan biaya SPP adiknya di tanggung Mary.


Dan saat ini , Bella tengah kegirangan karena mendapat hadiah spesial dari atasannya.


Melihat ekspresi yang diberikan Mary, Beena mengetahui betapa berharganya kerjasama ini. Ia pun jadi lebih mengenal pribadi Mary yang trendy, fashionable dan highclass.


"Bu, saya permisi balik ke hotel lagi ya?"

__ADS_1


"Ok, jangan lupa cari model tas yang kamu suka"


Jawab Mary sambil terkekeh.


" Iya Bu, terima kasih. Sering-sering dapat tender ya Bu" Bella membungkam mulutnya cekikikan.


" Bandar tekor ini.."


Bella pamit menuju kantor lagi untuk mengurus fee Beena, dan tentu saja membeli tas impiannya.


“ Give me a hug, my goddess” Marry memeluk erat Beena. “ Your the best, thanks girls”


Beena tersenyum lega lalu membalas pelukan Marry


“ Your welcome”.


“ Eh habis ini ada acara gak?” tanya.


“ Ga ada sih”


Beena menghabiskan mizutaki yang ia pesan. Ia lebih mantap memakan mizutaki ketimbang sasimi yang tidak cocok di lidah nusantaranya.


“ Hm... aku mau kenalin kamu sama seseorang spesialku” Mary mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang


“ Pacar mbak Mary?” Beena memicingkan matanya.


Mary mengaduk minumannya, lalu menyeruputnya. Tenggorokannya kali ini terasa lega setelah mendapatkan kerja sama ini.


“ Sudah berapa kali aku katakan jangan panggil aku mbak, kayak sama siapa aja” Mary keberatan jika dipanggil mbak.


“ Hm...belum jadi pacar sih, tapi dia spesial banget. Kamu udah punya pacar belum?”


“ Masa sih gadis secantik dan secerdas kayak kamu belum punya pacar”. Mary sedikit mendengus kesal karenanya telponnya tak diangkat Akbar.


Drrrttt....drtttt...


Sebuah pesan masuk di hp Mary.


“ Sorry Mar, lagi di kantor. Ada apa?”


"Sibuk?"


"Lumayan , kenapa?"


"Sudah makan siang?"


"Belum"


“ Aku tunggu di Marafuku sekarang ya?”


“ Sorry , aku ga bisa Mar. Sebentar lagi ada kegiatan dadakan”


Dengan wajah semakin kesal, Mary meletakkan hp-nya dengan keras diatas meja.


Wajah cantik dan ceria seorang Mary mendadak berubah. Tak seperti kondisi sebelumnya, saat ia belum mendapatkan pesan dari seseorang.


"Huh..." Mary membuang napas napas kasar. Pipinya mengembang, mukanya bak di lipat terlihat tidak baik-baik saja.


Mendapati wanita yang selama beberapa hari ini menjadi akrab dengan Beena, meski hanya di messenger untuk urusan pekerjaan. Akhirnya Beena memberanikan diri untuk menanyakan keadaanya.

__ADS_1


“ Kenapa?” tanya Beena.


“ Dia sibuk, selalu sibuk”.


"Siapa? pacarmu?"


"Belum jadi pacar sih, tapi kami sudah deket. Deket banget".


Beena mengunyah makanannya.


"Hm...Maryam, aku boleh tanya sesuatu?"


" Tentang ?"


"Cowokku, dia itu perhatian sama aku. Tapi dia belum pernah sekalipun mengungkapkan perasaannya padaku. Apa itu wajar?"


"Maksud kamu?"


"Dia tidak pernah bilang cinta atau sayang padaku".


"Mar, kamu pernah baca buku Man are from Mars and Women are from Venus?"


Mary menggeleng,


" Jhon Gray mengatakan kadang laki-laki menganggap pernyataan cinta bukan hal yang penting, mereka lebih menyukai aksi nyata.Ya...berupa perhatian. Namun, sayangnya wanita yang dianggap makhluk planet Venus itu memiliki sifat kebalikan dari mereka (laki-laki) si makhluk Mars. Kita menuntut verbal seperti I love you atau sejenisnya sebagai pembuktian bahwa mereka memiliki perasaan yang sama terhadap kita".


Mary mengajur napas, "jadi maksud kamu laki-laki tidak perlu menyatakan perasaannya pada kita?"


"Tidak semuanya, aku bilang kadang. Itu artinya ada sebagian populasi yang menganggapnya demikian. Mereka cuek, tapi perhatian. Dan pembuktian rasa cinta versi mereka tentu saja berupa attention yang mereka tunjukan"


"Ih...kamu emang cerdas deh, I love you girl" Mary meraih tangang Beena.


Tiba – tiba hp Beena bedering


Whenever you go,


Whatever you do


I will be right here waiting for you


“ Ya hallo bang?” sebuah panggilan masuk dari Billy.


“ Kamu di mana?”


“ Di Marafuku”


“ Segera ke studio sekarang, rapat darurat”


“ Ya bang”


Sambungan terputus.


Beena segera mengemasi barang-barangnya dan pamit pada Mary.


“ Maaf Mar, aku dapat panggilan dari kantor. Sepertinya urgent. Aku duluan ya”


“ Ok, girls. Nanti jangan lupa cek fee-nya ya”.


Beena segera menuju kantornya tanpa berganti pakaian.

__ADS_1


***


__ADS_2