Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Who are you, princess?


__ADS_3

Hari ke enam pasca tsunami


Pukul 07.00 pagi semua relawan dan jurnalis melaksanakan apel pagi setelah sebelumnya melakukan sarapan di posko masing -masing.


Beena dan Nizar berada di lokasi yang sama, Nizar mengggunakan kesempatan ini sebagai momen perpisahan. Setelah kegiatan apel dibubarkan, Nizar segera menghampiri Beena.


" Na..." sapa Nizar dengan langkah tertatih.


" Gimana keadaan kakimu mas?"


" As seen, I'm fine" jawab Nizar dengan berusaha jalan tegap. " Aku bisa minta waktumu?"


Beena terdiam sejenak, sedikit membayangkan jika Nizar akan berbicara serius. Ia tak siap jika arah pembicaraannya akan seperti tempo hari.


Dengan nada mengejek, Nizar menyenggol pundak Beena dengan pundaknya, " Hey, aku cuma minta waktumu sepuluh menit bukan seumur hidup".


Beena meringis, dan segera mencairkan suasana.


" Ok, just ten minuts" ucap Beena sambil mengetukkan jari telunjuk tangan kanannya pada arloji yang ia pakai.


" Ok, kita ngobrol di sana!" ucap Nizar sambil menunjukkan tangannya ke arah pohon beringin yang tak jauh dari tempat mereka apel.


" Na, aku mau pamit. Nanti siang aku balik ke yogya"


" Mas Nizar mau pulang? apa karena aku mas?" tanya Beena memastikan jika kepergian Nizar kali ini memang buntut dari penolakannya kemarin.


" Nggak Na, ini karena tugasku memang hanya seminggu"


" Maafin aku ya mas", ucap Beena dengan lirih dan menundukkan kepalanya. Membayangkan betapa jahatnya yang ia lakukan, betapa kecewanya keluarga mereka nantinya.


" Hey, kenapa kamu harus minta maaf? aku tidak pernah menyesal datang ke Aceh, ini memang kemauanku agar aku bisa..."


" Bisa apa mas?"


" Ah, lupakan saja. Pokoknya jaga kesehatan" jawab Nizar mengalihkan. Hampir saja Nizar keceplosan jika keberangkatan Nizar ke Aceh memang karena informasi dari ayahnya Beena. Nizar ingin memastikan jika Beena di Aceh baik-baik saja dan berencana akan melamar Beena sepulang dari kegiatan di Aceh. Namun ternyata alur yang ia kehendaki berbeda dengan skenario dari yang maha kuasa.


" Sepuluh menit sudah habis Na, pesanku jaga diri baik-baik"


Beena tersenyum, " Ya mas, matur kesuwun"


" Sampaikan salamku pada Akbar, aku tidak bisa pamit langsung".


" Nggih mas, salam buat umi sama abah juga ya"


" Ok, akan aku sampaikan nanti sesampainya di sana"


Nizar dan Beena berpisah dengan tujuan masing-masing.

__ADS_1


Beena merasa sedikit tidak ada beban setelah semuanya terjawab secara jelas. Meski ada rasa tak nyaman, setidaknya ia tidak memberikan harapan lebih pada Nizar dan keluarganya yang notabene ayahnya dan abah Zul adalah sahabat.


Beena segera melaksanakan aktivitasnya bersama Bimo dan rekan jurnalis yang lain.


Hari-hari Beena berada di Aceh membuatnya bahagia. Tak terlihat ekspresi lelah ataupun capek, karena ia selalu ditemani Akbar sang pujaan hati tiap malam. Mereka tak pernah kehabisan obrolan, selalu saja ada tema perbincangan tiap mereka bertemu. Apalagi setelah kepulangan Nizar ke Jogja membuat mereka bebas tanpa harus menjaga perasaan orang lain.


" Gambar rumah siapa itu mas?" tanya Beena sambil melirik pada sketsa yang sedang Akbar buat.


" Uh kepo!" balas Akbar sambil memencet hidung mancung Beena.


" Au, sakit tahu"


" Maaf,maaf...ini calon rumah kita bee. Ya...meski tak luas tapi cukuplah untuk berteduh".


" Rumah? kamu sudah punya rumah mas? bukankah biasanya tentara itu tinggal di asrama?"


" Ya, aku juga selama ini masih tinggal di mess. Tapi aku udah beli perumahan jauh sebelum ketemu sama kamu dan sudah aku renov 70% sudah sesuai rencana".


" wah, wah...calon suamiku memiliki best management tenyata" puji Beena pada Akbar. " Hm...emang boleh mas gak tinggal di asrama?"


"Boleh lah, lagi pula aku beli KPN masih di kawasan cilandak kok"


Akbar menceritakan rumah impiannya yang sudah ia beli sebuah perumahan dekat kesatuannya di Jakarta Selatan. Rumah yang sengaja ia persembahkan untuk keluarga kecilnya bersama Beena. Satu persatu mereka bahas dengan membuat planning tree. Ya, keduanya merupakan sosok pribadi yang penuh dengan perencanaan matang yang sistematis dan terorganisir dengan baik.


Agenda utama sekembalinya dari Aceh tentu saja adalah meresmikan hubungan mereka secara sah menurut hukum agama dan hukum negara . Sebelum melangkah ke hukum keduanya ada satu prosesi wajib yang harus mereka tempuh yaitu nikah ala kemiliteran. Nikah kantor yang diajukan maksimal 3 bulan sebelum nikah KUA.


“ Hm...” jawab Beena sambil menulis narasi untuk berita besok pagi.


“ Kamu siap jadi istri tentara? Jadi istri tentara itu banyak cobaannya. Harus siap LDR-an tiap waktu”.


Beena menghentikan aktivitasnya, lalu memandang Akbar.


“ Mas, apa waktu yang aku habiskan untuk menunggumu selama ini masih belum cukup membuktikan bahwa aku sanggup? Toh selama ini kita sudah LDR-an kan!”


“ Beda bee, kalo kemarin kita belum ada ikatan. Tapi nanti setelah nikah dan aku harus tugas ke luar daerah bahkan ke luar negeri apa kamu gak kesepian?”.


“ Kesepian? bagaimana mungkin aku akan kesepian. Aku punya kegiatan, punya teman,punya keluarga insyallah tidak akan ada kata kesepian. Apalagi setelah ada anak makin rame kan?”.


“ Hm...ngomong-ngomong soal anak kamu mau anak berapa bee?” tanya Akbar menggoda.


“ Stt...kejauhan mikirnya. Will see...”


Gemas melihat rona wajah Beena saat ditanya jumlah anak yang berubah kemerahan membuat Akbar tak tahan untuk mencubit pipinya.


“ Aduh...duh...sakit mas “.


“ Abis gemes sih...” Akbar tak mau melepaskan tangannya mencubit pipi Beena.

__ADS_1


" Tadi hidung barusan pipi, habislah aku mas" ucap Beena sambil mengelus-ngelus pipinya yang jadi korban kejahilan Akbar.


Tiba-tiba ponsel Akbar berdering, sebuah nama muncul di layar ponsel Akbar “ PRINCESS”.


“ Siapa mas?” tanya Beena penasaran karena Akbar lama membiarkan ponselnya berdering.


“Mantan majikan, anak Jenderal Bram”


" Mantan majikan?" Beena mengernyitkan dahinya.


" Iya, si princes ini anak atasan mas. Dulu mas pernah diminta jadi ajudan sementara cuma beberapa bulan saja"


" Ajudan? semacam bodyguard gitu?"


" Hm..."


" Kayak di film the bodyguardnya Whitney houston atau semacam Jet Lee di Film The Bodyguard from Beijing?"


" Gak segitunya non, orang cuma beberapa bulan saja"


" Etapi bisa saja kan si princess itu jatuh hati sama bodyguardnya. Kamu itu gak kalah ganteng sama Kevin Costner atau Jet Lee, mas " ucap Beena sambil meledek .


Sambil mengecek narasi berita di laptopnya, Beena yang sedari tadi meledek Akbar menyempurnakannya dengan bersenandung lagu I will always love you yang ditujukan pada Akbar.


If I should stay, I would only be your way


So I'll go but I know, I'll think of you every step of the way


And I...will always love you


Oh... will always love you, you...my darling


Beena menghentikan senandungnya, lalu segera bertanya


“ Kok gak di angkat? Siapa tahu penting!” saran Beena sambil matanya kembali menatap layar laptop melanjutkan kegiatannya.


“ Gak ada hal lain yang lebih penting selain berduaan dengan gebetan”


“ Ih...geli tahu dengernya kayak abg aja”


Mereka terhanyut dengan obrolan hingga malam larut.


Sementara di Jakarta, Mary semakin tak kuasa menahan rindu jauh dari pria yang ia cintai. Tanpa kabar, hanya sesekali saja pesannya dibalas. Itupun tidak bisa mengurangi rasa rindunya yang makin hari makin menggunung.


Pesan balasan yang dikirim Akbar tidak bisa mempresentasikan balasan cintanya. Untuk itu Mary sudah mempersiapkan diri mendeklarasikan perasaannya pada Akbar sepulang dari Aceh nanti.


Tak sabar rasanya menunggu moment Akbar memberikan bros inisal namanya. Akhirnya Mary mengambil langkah cepat untuk menyatakan perasaannya lebih dulu. Toh menurutnya, selama ini Akbar terlihat mencintainya meski tanpa ada ungkapan yang keluar dari mulut Akbar sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2