
Seminggu setelah nikah dinas, Akbar dan Beena menggelar acara adat di kediaman mereka masing-masing sebelum akhirnya menggelar acara resepsi pernikahan.
Acara diawali dengan prosesi masang tarub atau tratak di halaman rumah Beena . Filosofi jawa tentang tarub berasal dari bahasa jawa di tata ben kethok murub (ditata biar terlihat bersinar atau mewah), sebagai tanda bahwa akan ada hajat manten.
Prosesi berikutnya yaitu serah-serahan. Serah-serahan yakni keluarga pihak pengantin pria memberikan barang kepada keluarga pihak pengantin perempuan. Berbagai parcel berisi seperangkat pakaian lengkap, perhiasan, beras, kelapa, peralatan rumah tangga, hewan ternak, dan sejumlah uang.
Serah-serahan bertujuan membantu persiapan acara pernikahan serta memberikan beberapa barang yang memiliki nilai filosofi sekaligus simbol pengharapan kepada Tuhan.
Setelah prosesi serah-serahan di lanjut dengan adat siraman. Siraman ini bermaksud membersihkan jasmani (badan) dan ruhani sebelum melangsungkan ijab kabul. Siraman dilakukan oleh 7 (pitu) orang yang dalam filosofi jawa adalah pitulung (pertolongan). Artinya melalui siraman ini pasangan pengantin pria dan wanita akan memperolah pertolongan dari Tuhan.
Siraman pertama di awali oleh ayah Hadi, ibu Halimah , lalu ada mas Arief dan teh Raya, mas Zaki dan mbak Naely dan bunda Ramy.
Berlanjut dengan adat midodareni, midodareni dilaksanakan pada malam sebelum ijab kabul dimana mempelai wanita bersama ibu, ayah, dan teman-temannya memanjatkan doa agar ijab kabul dan pesta pernikahan keesokan hari berjalan lancar dan mempelai wanita tampak cantik seperti bidadari.
Sebelum berdoa bersama, kedua orang tua menyuapi putrinya sebagai lambang suapan terakhir (dulangan pungkasan). Saat itu pula diadakan acara penebusan kembar mayang atau sekar maneka warna (berbagai macam bunga). Kembar mayang sebagai simbol dari kesejahteraan semesta.
Prosesi berikutnya yaitu, acara sakral inti sebuah pernikahan yaitu proses ijab qabul dikediaman Beena dengan dihadiri keluarga dan tetangga disekitar rumah Beena. Sebelum ijab kabul dimulai, di awali dengan khutbah nikah yang dibawakan oleh abah Zul yang jauh-jauh datang dari Yogya khusus untuk Beena.
Ijab diucapkan oleh ayah Beena sendiri selaku wali, disaksikan oleh petugas pencatatan nikah dari KUA tempat ayah Hadi bekerja dulu.
Dengan mahar yang masih sama, uang tunai sebesar Rp. 21.500 sesuai permintaan Beena. Kalimat qabul yang diucapkan Akbar terdengar lancar dan fasih menggunakan bahasa arab.
Dengan satu tarikan nafas, Akbar menjawab "Qobiltu nikahaha wa tazwijaha Maryam Tabeena binti H. Noor Hadi alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi”
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sah...alhamdulillah"
Setelah dijawab sah oleh para hadirin, ditutup dengan doa secara khidmat menandakan proses ijab kabul telah selesai.
__ADS_1
Dilanjut proses panggih atau temu manten. Disini untuk pertama kalinya Akbar akan melihat istrinya setelah proses pingitan pengantin. Beena keluar dari ruangan, dengan menggunakan kebaya putih yang sangat anggun.
Dengan menempelkan tangannya di kening istrinya Akbar melafalkan mantra Tuhan "Allahumma innii as aluuka khaira haa wa khaira maa jabaltahaa alaihi wa 'audzubika min syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa alaihi"
Kemudian ada adat bobot timbang ( Ini lambang bahwa ayah mempelai wanita telah menerima menantunya dengan baik dan menganggapnya sebagai anak sendir), lalu ada prosesi nanem jero, kacar kucur, dulangan, hingga sungkeman.
Sehari setelah acara ijab, dilanjutkan dengan acara resepsi yang dilaksanakan disebuah ballroom hotel di Semarang.
Dekorasi yang megah dan elegan dengan nuansa penuh bunga menambah kesyahduan pelaminan. Dipandu oleh MC dari 2 artis kenamaan yang sengaja disiapkan oleh FirstTv, beserta sepasang MC khusus seremoni Pedang Pora yang dipersiapkan oleh kesatuan TNI Marinir menambah kesan khidmat.
Suara menggema khas MC prosesi Pedang Pora mendadak hening dan khidmat suasana dalam ballroom hotel. Tradisi upacara khusus pernikahan yang terdiri dari 15 prajurit TNI berstatus perjaka menjadi petugas pedang gapura, dipimpin oleh Yoseph Bensan Aliputty dan sebagai inspektur upacara Jenderal Bram beserta ibu Rossa.
Alunan instrument lagu Pachelbels’s canon mengiringi langkah Akbar yang begitu gagah menggunakan seragam putih dilengkapi pedang. Sedangkan Beena terlihat anggun dan begitu cantik dengan balutan gaun berwarna ungu. Mereka berjalan melewati pasukan gapura.
Suasana tambah syahdu saat pengucapan ikrar wira setya Akbar dan Beena dengan posisi berhadapan sambil memegang pedang dengan dikelilingi prajurit yang mengarahkan pedangnya ke atas membentuk barikade payung.
“ Ya Allah, limpahkanlah pada kami kekuatan iman. Tunjukkanlah kami jalan yang benar. Sempurnakanlah agama kami melalui janji suci ini. Lengkapilah hidup ku untuk selalu berada disampingmu, mengamalkan sapta margamu. “ Balas Beena .
Pengucapan janji dengan backsound instrument piano milik Richard Marx , lagu right here waiting merupakan lagu yang memberikan kesan mendalam bagi keduanya.
Acara dilanjutkan peresmian mempelai wanita sebagai keluarga besar TNI dan jalasenastri oleh inspektur upacara.
“ Atas nama pemimpin TNI AL korps Marinir saudara Maryam Tabeena,S.S istri dari Lettu Mar Syaeful Akbar, S.H saya resmikan menjadi keluarga besar AL dan jalasenastri”
Jendral Bram dengan penuh wibawa menyambut Beena sebagai anggota baru keluarga besar TNI AL.
Kemeriahan tak berhenti di situ saja. Setelah acara pedang pora selesai, ada surprise event yang dibawakan oleh rekan-rekan berbaju loreng baret ungu memberikan penampilan flash mob dance dengan lagu yang dibawakan langsung oleh artis dangdut Evie Tamala.
Lagu 1001 hari yang sarat makna bagi prajurit TNI dan pasangan.
__ADS_1
Suara riuh tepuk tangan dari seisi ruangan, suara merdu sang artis yang dipersiapkan khusus oleh mbak Mia menghipnotis semua tamu undangan.
Rangkaian acara sudah dilaksanakan oleh kedua mempelai, para tamu undangan dan keluarga berangsur meninggalkan hotel. Kini tinggal kedua mempelai beristirahat setelah seharian melakukan berbagai prosesi pernikahan.
Akbar dan Beena menikmati fasilitas gratis dari hotel berupa menginap selama sehari di sana.
Akbar menggandeng Beena menuju suite room.
"Capek bee?"
"Lumayan mas"
"Mau ku gendong?"
"Aku bukan pesakitan keleus"
"Biar ala-ala bridal style sayang"
Akbar sudah pasang kuda-kuda untuk menggendong Beena.
"No...no..." Beena mempercepat langkahnya setengah berlari menuju pintu kamar hotel, menghindari Akbar.
Akbar menggeleng, "Kali ini kamu lolos bee, liat aja nanti" gumam Akbar.
Pintu suite room dibuka oleh Been, tipe kamar di atas junior suite room berukuran kurang lebih 80 meter dengan fasilitas mewah lengkap dengan mini pantry layaknya kamar apartemen.
Terlihat bed king size yang sudah dihias bunga mawar membuat Beena merona tidak bisa membayangkan rasa malunya jika di goda Akbar.
***
__ADS_1