Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Kata-kata Pujangga


__ADS_3

Berada di negara yang berbatasan dengan Suriah dan Israel selama tiga hari nyatanya membuat Beena sedikit melupakan kejadian pahit di Indonesia. Ah, entah bagaimana kabar Akbar sekarang disana.


Akbar yang berada di tanah air tentu saja sangat merindukan Beena, berulang kali mencoba menghubungi Beena tapi tak ada jawaban.


"Kenapa kamu bang, kusut amat mukanya. Mana hp dari tadi diliatin mulu" tanya Yoseph


"Beena gak bisa aku telpon sampe hari ini"


"Ya...kali provider luar negeri sama kayak nomet hp d sini, ya jelas gak bakal nyambung di telpon seribu kali juga. Ini nih begonya orang lagi jatuh cinta" cibi Yoseph.


"Lagian, masa sih Beena gak kangen sama calon suaminya.Apa dia gak khawatir kalo suaminya belum tau kabar calon istrinya!"


"Ish...ish...ish...mbak Beena itu realistis bang, mana mungkin abang gak tahu kabarnya kalo ada berita muncul di tivi yang nongol wajah mbak Beena."


"Ah, apapun itu harusnya dia kasih kabar."


"Abang ya...lama-lama makin kayak anak abg bener, perkara soal telpon aja jadi masalah gede. Nah itu masalah abang sama si princess yang jauh lebih gede abang biarin aja"


"Aku bukan ngebiarin, aku cuma gak mau Mary semakin nekat. Lebih baik jaga jarak, lagi pula gak enak kan sama jendral Bram."


"Apapun itu, baik-baik lah kau bang sama jendral Bram. Banyak tingkah nanti pengajuan nikah abang batal dan aku gagal deh jadi pasukan pedang pora"


Saat Yoseph mengoceh, tiba-tiba saja Akbar mendapat ide.


"Aha..."


"Tuhan Yesus," Yoseph terperanjat."Abang ini mengagetkan ku"


"Kenapa aku baru kepikiran sekarang!"


"Apalagi ini kau bang, kau mengigau"


"Ok, aku besok telpon Reyna saja, dia pasti tahu nomor baru Beena".


"Astaga...bang...bang ku kira ada pikiran apa"


Nomor provider luar negeri yang Beena miliki hanya diketahui oleh FirstTv. Karena FirstTv yang menyediakan semua akomodasi termasuk tunjangan telekomunikasi. Belum banyak panggilan yang dia lakukan selain pada rekan-rekan di FirstTv, termasuk kedua orang tuanya pun Beena belum memberikan kabar.


Setelah tiga hari bekerja sebagai reporter, hari ke empat dipakai Beena dan Bimo mengunjungi spot ski resort terbesar di Lebanon, Faraya Mzaar . Yang terletak tak jauh dari pusat kota Beyrut. Lagi pula musim dingin di bulan Februari adalah waktu yang tepat mengunjungi Faraya.


Mereka tak bertahan lama di Faraya, karena hawa dingin yang tak biasa mereka dapatkan seperti di Indonesia. Meski berpakaian rangkap 4, long jhon dan kawan-kawannya nyatanya membuat mereka tak bisa bertahan lama. Mereka segera menuju tempat lain. Pantai mediterania di musim dingin dirasa paling tepat sekalian kembali ke hotel.


Selama di Lebanon , Beena benar-benar merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia mulai mengerti arti kehilangan, jauh dari orang-orang yang dia cintai. Mengetahui seberapa dalam cintanya untuk Akbar.


Mengutip kalimat sang pujangga idolanya, Kahlil Gibran “ Cinta tidak akan tahu kedalamannya sendiri sampai pada waktu pemisahan”. Beena semakin merindukan Akbar.


“Apa aku harus menelpon mas Akbar?


Ah, setelah telpon ayah aku harus menelpon mas Akbar” gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Sambil menunggu Bimo yang sedang beribadah di katedral St.george Beena duduk di salah satu sudut dinding masjid Al Amin setelah melaksanakan shalat ashar. Posisi masjid yang berbagi dinding dengan katedral menggambarkan betapa tingginya toleransi antar umat di kota ini. Pun sama halnya dengan Beena dan Bimo yang memiliki keyakinan yang berbeda.


Tut...tut...


“ Assalamu’alaikum...”


“ Wa’alaikumussalam”


“ Yah, ini Beena”


“ Gimana kabarmu Na?”


“ Al hamdulillah sehat yah “


“ Kapan kamu pulang Na?”


“ Insyaallah 3 hari lagi yah. Beena dapet waktu 3 hari untuk jalan-jalan di sini”


“ Alhamdulillah, seneng ayah dapet telpon dari kamu Na. Rasanya tak cukup dengan melihat kamu di tv saja. Kalau ayah saja serindu ini, apalagi Akbar ya Na?” goda ayah.


Kalimat terakhir yang dikatakana ayah cukup membuat Beena semakin merasa bersalah karena telah mengabaikan Akbar akhir-akhir ini.


“ Yah, sudah dulu ya. Beena juga mau telpon mas Akbar”


“ Hati-hati, jaga kesehatan Na”


“ Wa’alaikumussalam”


Setelah panggilan dengan ayahnya berakhir, Beena menekan beberapa digit angka. Nomor hp Akbar.


Tut...tut...


Berulang kali ia menelpon, namun tak diangkat Akbar. Ah...mungkin Akbar sedang sibuk atau mungkin sudah istirahat. Mengingat selisih waktu Indonesia –Lebanon 5 jam cepat di musim dingin seperti sekarag ini..


Lalu Beenapun mengetikkan beberapa kalimat untuk dikirimnya pada Akbar.


“ Bangunlah pada pagi hari dengan sayap hati mengepak, dan bersyukurlah atas datangnya satu lembar hari yang penuh kasih.” Send.


“Jiwaku menderita karena perpisahan, tetapi kembali terhibur oleh cinta. Tindakan adalah cinta yang ditunjukkan” send.


“ Maryam-mu, Maryam Tabeena” send.


Kalimat yang Beena kirim dari beberapa quote Kahlil Gibran yang ia hafal. Meski belum dibalas Akbar, setidaknya Beena sudah mengabarinya.


“ Mbak Na...jadi ke pantai Mediterania?” suara Bimo mendadak menghentikan aktifitas Beena yang sedang asyik menunggu balasan messenger dari Akbar.


“ Jadi dong” jawab Beena sambil memasukkan hp-nya ke dalam tas.


"Mbak Na sepertinya lagi bahagia"

__ADS_1


"He'em..." jawab Beena sambil menganggukkan kepalanya.


"Boleh aku tebak?"


" why not!"


"Kalo aku bisa menebak, apa hadiahnya?"


"Hm...apa ya?" Beena mengetuk-ngetuk jari di dagunya sebagai pertimbangan dan proses berfikir kerasnya hadiah apa yang pas buat Bimo.


"Apa mbk Na?" Bimo sampai penasaran


"Aha...aku kasih kamu pacar sempurna,Reyna".


"Amit...amit...apa gak ada cewek lain selain sikriwil itu!"


"Eh, jangan salah. Dia itu cewek tersetia dan sempurna untuk laki-laki macam kamu. Dia itu selalu jadi dewi penolong ku tau gak"


"Males ah, gak jadi nebak. Kalo ujung-ujung tebakanku benar bukannya hadiah malah jadi musibah"


"Lagian, apa kamu gak pengen punya penyemangat kerja?pacar misalnya"


"Eh, lagian kata mbak Na ga boleh pacaran. Nikah aja" Bimo kasih skakmatt.


"I see..., makin pinter dah adikku yang satu ini. Ucap Beena sambil mengacak rambut Bimo asal.


"Ah...mbk Na, jadi gak ganteng ini.Aku kan mau tebar pesona sama gadis Lebanon"


"Oh ya, kamu udah telpon mama mu belum?"


"Belum mbak, nanti aja langsung pas pulang dari Lebanon aku mau pulang ke rumah Mama"


"Mbak Na sendiri sudah telpon mas marinir?"


Beena tersenyum sambil menggeleng, "aku tadi nyoba telpon, gak di angkat mungkin mas Akbar masih tidur.Tapi aku sudah kirim pesan sama dia"


" Sudah sampai mbak, ayo kita liat sunset"


Mereka berjalan ke arah bibir pantai, tak lupa Bimo mengabadikan moment indah ini dengan kamera di tangannya.


Setelah hampir 30 menit mereka di sana dan waktu menjelang magrib. Mereka segera menyudahi aktifitasnya.


" Besok mau kemana lagi mbak?"


"Besok ke Museum Kahlil gibran ya?, karena letaknya jauh kita pergi pagi-pagi saja,gimana?"


"Ok, aku temenin kemanapun mbak Na mau"


***

__ADS_1


__ADS_2