Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Welcome back my team


__ADS_3

Jakarta, Gedung first TV lantai 5


Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan udara Aceh-Jakarta akhirnya Pukul 09.30 WIB Bimo dan Beena menginjakkan kakinya di stasiun televisi swasta yang telah melambungkan nama mereka di dunia news anchor.


Suara riuh di salah satu studio FirstTv menyambut news anchor baru yang sukses membawakan liputan bencana tsunami, Beena dan Bimo menjadi orang yang sangat diperhitungkan.


Berkat mereka, FisrtTv menjadi stasiun televisi swasta dengan rating nomer satu untuk kategori berita. Bang Billy adalah orang yang paling berjasa bagi Beena dan Bimo.


Kedatangan mereka berdua disambut hangat , pelukan dan ucapan selamat tak hentinya diterima oleh mereka.


" Welcome back my team..." ucap mbak Mia selaku pimred berita sekaligus cucu pemilik firsTV memberikan pelukan pada kru-nya.


Mbak Mia memeluk Beena dan mencium pipi kanan dan kirinya .


" Terima kasih atas kepercayaan mbak Mia kepada kami" ucap Beena sambil memeluk erat lalu menyeka air matanya yang tanpa aba-aba langsung meluncur ke pipinya.


Mia melepaskan pelukannya,


" hey, kenapa menangis? aku yang terima kasih karena kalian luar biasa" ucap mbak Mia.


Lalu mbak Mia bergantian memeluk Bimo kali ini, " Thanks very much my brother. You're the best".


" Dan hadiah menanti kalian berdua " ucap Bang Billy.


" Party...." teriak kru yang lain.


Semua penghuni studio 5 berteriak kegirangan. Beena mengambil posisi menjauh dari keramaian karena handphonenya berdering.


" Bang, aku angkat telpon dulu ya?" pinta Beena, " ibuku nelpon" ucapnya lirih.


Billy mengacungkan jempolnya sebagai tanda memberikan izinya pada Beena untuk menjawab telpon dari keluarganya.


" Assalamu'alaikum bu"


" Alaikumussalam Na"


" Kamu sudah sampai jakarta?"


" Alhamdulillah sudah bu, ini lagi di kantor. Ibu di mana kok berisik sekali?"


" Ibu lagi di jalan sama bapak, 20 menit lagi sampai di apartemenmu" ucap bu Halimah.


" Ibu ke Jakarta kenapa gak bilang Beena dulu?" tanya Beena sekaligus protes akan tindakan orang tuanya.


Ayah lalu mengambil handpone dari bu Halimah, karena kerinduannya pada anak bungsunya tak terbendung.


" Na, ini ayah"


" Ayah kok gak bilang-bilang mau ke Jakarta. Aku masih di kantor nih" kata Beena mendengus kesal karena tak mau mengecewakan mereka yang jauh-jauh dari semarang hanya untuk menemui putrinya.


" Beena segera pulang yah, ayah tunggu di lobi dulu gak apa-apakan?"

__ADS_1


" ya...ya...ayah tunggu"


Lalu sambungan terputus setelah keduanya berucap salam.


Beena kembali ke kerumunan kru firstTV yang sedang asyik membahas rencana party nanti malam.


" Mbak Mia, aku pamit duluan ya"


" Ok cantik, istirahat yang cukup. Kamu pasti capek"


“ Kita jadi party kan?” ajak Billy mengingatkan.


“ Sory bang, kayaknya aku ga bisa ikut deh. Ayah dan ibu hari ini datang ke Jakarta. Udah nyampe apartemen malah ”


Beena meringis menunjukkan sms dari ayahnya.


“ Yah, aku gagal ikut party dong” kata Bimo.


“Lha hubungannya denganku apa?” ujar Beena.


“ Tadinya mau nebeng sama mbak Beena, mobil bang Billy udah penuh” terang Bimo.


“ Kamu pake mobilku aja, tapi anter aku ke apartemen dulu”.


“ Good idea”


Bimo menuju tempat party yang disebutkan Billy setelah sebelumnya mengantar Beena ke apartemennya.


“Alaikumussalam, sudah selesai Na? Katanya ada acara kok pulang cepat?” tanya ibu sambil menunjukkan sms yang Beena kirim sebelum sampai apartemen tadi.


" Oh iya bu, ini Bimo, Masih ingatkan?" ucap Beena memperkenalkan Bimo pada orang tuanya.


' Oh ya... yang waktu itu liputan di Jogya ya?" kata Ayah Hadi sambil mengingat-ngingat.


" Iya om. Om apa kabar?" ucap Bimo sambil menjabat tangan pak Hadi.


" Alhamdulillah baik mas".


" Oh ya om tante saya pamit dulu".


" kok buru-buru mas?" ucap bu Halimah.


Dengan menunjukkan tingkah gak percaya diri karena badannya lusuh dan sedikit berkeringat, " mau mandi om, bau" ucap Bimo sambil nyengir.


" Mbak Na, mobilnya aku bawa ya?"


" Ya, sampein maaf aku sama semuanya ya Bim"


" Ok mbak, siap"


Bimo segera meninggalkan Beena dan keluarganya.

__ADS_1


Beena mengajak orang tuanya masuk ke apartemennya. Ya, studio apartemen 21 di bilangan jakarta yang selama ini ia huni seorang diri selama hidup di kota metropolitan.


" Katanya kantormu bikin acara Na?" tanya ibu.


“ Beena gak ikut bu, Beena mau istirahat aja lagi pula mana mungkin Beena ngebiarin ayah sama ibu disini. Ini tu kesempatan langka, jarang-jarang ayah mau ke Jakarta”.


Beena berjalan menuju dapur mini, membuatkan teh dan menghidangkan bingka ambon kesukaan ayah.


“ Kok tumben ayah mau datang langsung ke Jakarta, biasanya kalo diajak Beena ke sini suka ogah-ogahan. Panaslah, macetlah, bising dan masih banyak alasan ayah lainnya “ Beena menggoda ayahnya sambil menyuguhkan teh panas untuk kedua orang tuanya.


“ Ayah itu kangen sama anak gadis, mana gak pulang-pulang lagi!” kata ayah sambil mengelus kepala puteri semata wayangnya.


“ Ibu sama ayah kesini cuma sebentar Na, kami mau ke Bandung” balas Ibu.


“ Sebelum ke Bandung ada beberapa hal yang mau ayah sampaikan Na”


Beena beranjak dari pangkuan ibu, duduk disamping ayah mendengarkan dengan seksama hal apa yang membuat ayahnya mengunjunginya ke Jakarta.


“ Na, sehari setelah kamu minta izin ke Aceh. Keluarga Nizar berkunjung ke Semarang. Mereka datang untuk melamar kamu”


“ Melamar? Jadi kehadiran Nizar di Acah bukan sesuatu yang kebetulan tapi memang sengaja datang ke Aceh? Gumamnya lirih.


“ Ayah memberi tahu Nizar kalo kamu sedang ada tugas di Aceh. Apa Nizar juga ke sana?”


“ Iya yah, kami sempat ketemu beberapa hari disana”.


“ Terus dia cerita ga perihal lamarannya?” tanya ibu.


Beena menggeleng, dan berniat memberi tahu ayah dan ibu tentang Akbar. Namun Ayah lebih dulu menjelaskan sesuatu, sebelum sempat Beena menceritakannya.


“ Na..” ayah memegang tangan Beena.


“ Sepulang kami dari Jogja, Bi Sumi cerita kalau Akbar datang ke rumah. Itu sebabnya ayah dan ibu tidak berani menjawab lamaran Nizar. Meski kamu dibawah wali ayah, tak adil rasanya jika tidak bertanya terlebih dahulu padamu” terang ayah meyakinkan jika keputusannya ayah yang terbaik.


Beena memejamkan matanya lalu menarik nafasnya dalam-dalam.


“ Ayah, ibu terima kasih sudah sangat adil pada Beena. Beena sudah bertemu dengan mas Nizar juga dan sudah menentukan pilihan. Insyaallah mas Nizar sudah memahaminya."


"Bu, " ucap Beena dengan nada sedikit landai, " Allah sudah menjawab doa Beena."


" Maksud kamu? " tanya pak Hadi.


" Iya , Yah Beena bertemu mas Akbar di sana. Beena Sudah menjawab lamaran mas Akbar di Serambi Mekkah”


Mendengar cerita Beena ibu terharu, langsung memeluk Beena dan kedua mata ibu dibanjiri hujan tangis bahagia. " Alhamdulillah, akhirnya semua doamu terjawab sudah Na" Dengan mengucap syukur, ibu tak henti mencium pipi putri bungsunya.


Beena menceritakan rencana pernikahan mereka yang akan diusulkan saat Akbar selesai tugas dari Aceh. Akbar mengambil cuti bersamaan dengan Beena untuk melamar di depan keluarganya sekaligus mengurus administrasi pernikahan militer.


Ayah merasa senang, karena akhirnya putri semata wayangnya sudah menemukan tujuannya. Jarak dan waktu membuktikan jika rasa yang mereka miliki sangat kuat. Tak peduli berapa air mata harus di keluarkan, tak peduli liku jalan yang harus mereka temui. Nyatanya pertemuan indah jadi ending yang penuh epic.


Sementara Nizar harus menerima kenyataan, jika wanita yang ia cintai telah menemukan jodohnya. Keluarga Nizar sangat legowo menerima keputusan Beena. Tanpa merubah hubungan persahabatan kedua keluarga yang sudah terjalin sejak berpuluh tahun lamanya.

__ADS_1


***


__ADS_2