
Weeknd kali ini Beena diajak Akbar untuk mengunjungi rumahnya. Setelah kunjungan terakhir dua minggu yang lalu sepulang dari Semarang. Rumah yang tak terlalu mewah untuk ukuran seorang prajurit namun cukup indah dengan desain ulang interior yang dipenuhi gaya minimalis modern.
Memandang takjub selera Akbar yang mampu menyatukan warna-warna kesukaan Beena. Terdapat ruang perpustakaan di lantai dua yang sudah dipenuhi buku-buku tersusun rapi. Lalu Beena mengambil salah satu koleksi buku Akbar dan membawanya ke atas menuju rooftop.
Rumah yang terletak diperkotaan yang tak memiliki taman yang cukup luas. Sehingga memanfaatkan rooftop sebagai taman. Hamparan rumput hijau menghiasi space, dikelilingi pagar rumput yang tersusun rapi meski ketinggian baru 20cm.
Di salah satu sudut ada ayunan dan bersebelahan dengan beberapa anggrek yang tergantung. Sebagai pelengkap, ada meja kursi makan dan seperangkat alat barbeque menambah kehangatan di malam hari.
“ Kamu suka , bee?”
Beena mengangguk sambil memegang buku biografi Khalid Alwalid yang dulu ia berikan pada Akbar.
“ Bukunya masih kamu simpan mas?”
Beena berjalan menuju sudut ruangan lalu duduk diatas ayunan rotan berwarna putih . Tak lupa ia membuka buku tersebut, ada jejak tulisan yang ia sematkan dulu di halaman depan setelah sampul.
Sebuah tulisan tangannya dengan huruf tegak bersambung. Sebuah ucapan selamat ulang tahun yang sarat dengan doa-doa. Ia tersenyum manis melihatnya.
Lembar demi lembar ia buka, membaca sekilas tentang sosok panglima perang yang termasyhur di tahun pertama hijriyah. Ya, sahabat Khalid bin Walid adalah sosok panglima perang yang nyaris tanpa kekalahan, sahabat yang dikenal dengan julukan Syaifullah yang artinya pedang Allah yang terhunus.
Dan Beena memberikan buku tersebut sebagai bentuk support sistemnya Akbar yang cinta akan dunia militer. Dan kebetulan sama dengan nama Akbar, Syaiful Akbar.
Dalam Islam, nama adalah doa. Segala pengharapan tercurah dalam nama yang di sematkan oleh kedua orang tua. Pun, tak terkeculi bagi almarhum Pak Sajid, ayah Akbar. Nama yang beliau berikan untuk anaknya adalah serangkaian doa, pengharapan orang tua untuk putranya menjadi panglima besar. Dan kini, Akbar masuk TNI tak lain dan tak bukan karena doa-doa orang tuanya.
“ Iya dong, itu buku penyemangat aku masuk dunia militer”.
Akbar menjawab dengan bangga. Ia ingat betul bagaimana perjuangannya masuk kesatuan. Sebelumnya ia pernah mengecap pahitnya kegagalan masuk Akpol, TNI -AD dan akhirnya masuk ke TNI -AL.
Akbar menggulung lengan kemejanya, dilihatnya pukul 11.00
" Aku laper Bee, turun yuk kita cari makan"
Akbar menggandeng tangan Beena menuruni tangga sempit dari rooftop menuju ruang utama. Sebelum ke ruang utama, mereka melintasi ruang dapur minimalis yang cukup bersih dan rapi. Bersih, karena memang jarang digunakan. Meski jarang masak, ada stok sayur di dalam kulkas sebagai cadangan logistik.
Tiba-tiba Beena malah berjalan mendekati dapur. Ia membuka kulkas, ada beberapa sayur di dalamnya.
"Mas, ini ada stok sayuran. Kita makan dirumah aja ya? Lagi pula sebentar lagi dzuhur dan Jakarta lagi macet-macetnya"
Ucap Beena sambil membuka kitchen set juga, mengecek ada stok mie instan dan mie telur. Di pilihnya mie telur.
Akbar berjalan menyusul ke arah Beena berada.
"Boleh juga, sekalian aku test food. Sepandai apa calon ibu jalasenastri di dapur" jawab Akbar terkekeh.
__ADS_1
"Eh, jangan salah ya. Bakmi godhog ku tiada duanya lho mas"
Beena menyibakkan jilbabnya tak lupa menyingsingkan lengan bajunya. Terlihat kulit sawo matang khas orang jawa ditumbuhi bulu-bulu tipis membuat Akbar semakin gemas melihat tingkahnya.
"Ok, kita buktikan nanti"
Akbar bergegas mengeluarkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
"Mas Akbar duduk manis saja, liat calon istri beraksi. Okey"
Beena mendorong Akbar dan memaksanya duduk di kursi makan yang tak jauh dari dapur.
Ia lalu kembali ke dapur, seperti sedang mempertontonkan acara masak memasak ala ibu Sisca Soewitomo di studio first TV.
Akbar takjub melihat pemandangan indah di depannya, betapa sempurnanya sosok Beena. Perempuan modern yang mandiri dan tak lepas dari budaya patriarki jawa. Ia dianggap perempuan yang pandai macak (merias diri), masak , dan manak (memberi keturunan). Ia berharap, kali ini keberuntungan berpihak padanya. Karena wanita yang ia tunggu-tunggu hadir dalam hidupnya.
Akbar tersenyum-senyum melihat Beena yang cekatan di dapur, berharap cekatan pula di urusan sumur dan kasur.
"Kenapa mas, senyum-senyum gitu!"
Tiba-tiba ucapan Beena memaksa otaknya berhenti untuk traveling.
"Ah...nggak. Mas tinggak ke mesjid depan komplek dulu ya bee?bentar lagi dzuhur nih"
Akbar pamit ke mesjid komplek, sementara Beena merapikan dapur dan menata hasil masakannya di meja makan. Sambil menunggu Akbar pulang jamaah dzuhur, Beena shalat dzuhur di ruang ibadah yang berukuran 80x200 m. Cukup mungil karena memanfaatkan ruang kosong di bawah tangga menuju rooftop.
Keduanya lalu duduk di meja makan, menyantap bakmie godhog dengan nasi. Indonesia banget pokoknya.
"Hm...enak sekali masakan mu bee, gak salah deh aku pilih calon istri"
Kata Akbar sambil menyendokkan mie ke mulutnya.
"Pelan-pelan mas, masih panas"
Akbar meniup mie yang masih kemepul ditambah nasi panas yang baru keluar dari mejic com.
"Jangan di tiup, mas"
"Maaf, habis kelewat enak dan laper sih. Gak sabar aku tu bee" Sanggah Akbar memperkuat alibinya.
Dalam Islam, ada etika makan dan minum. Bukan hanya soal doa saja, Rosulullah melarang kita meniup makanan atau minuman yang panas. Larangan tersebut selaras dengan kajian medis. Karena saat meniup makanan atau minuman panas akan menstransfer senyawa negatif seperti bakteri dan reaksi H2O dan CO2 membentuk senyawa asam baru yaitu asam bikarbonat yang menyebabkan tingkat keasaman tinggi pada makanan.
“ Oh ya bee, besok kan tanggal 14 februari kita dinner yuk?”
__ADS_1
Uhuk...Beena mendadak tersedak mendengar ajakan Akbar.
"Pelan sayang, aku gak akan ngambil jatah makanmu".
Akbar meledek, sambil menyodorkan air putih.
“ Mas mau merayakan valentine’s day gitu? Sambil bawa cokelat sama boneka!” Beena terbahak membayangkan hal konyol yang suka dilakukan para abg saat mereka nge-date.
“ Kita ini sudah tidak abg lagi mas, usiaku saja sudah 28 tahun!”
“ Sekali-kali bikin acara yang spesial sayang!”
“ Mas itu orang spesial dihati aku”
“ Tapi mas pengen terlihat romantis”
“ Mas, kamu itu selalu romantis. Melamar di mesjid Al Maghfirah adalah hal romantis yang aku dapatkan sepanjang hidup. Lagian, tanggal 14 itu hari senin mas!”
“ Kan malam nya bee, kamu sibuk?”
“ Gak sih, aku cuma ada jadwal pagi”
“ Nah, pas kan sayang. Mau ya?”
Kali ini Beena tidak bisa menolak ajakan Akbar. Selesai makan, mereka membereskannya bersama. Beena membawa piring kotor ke wastafel, Akbat dengan sigap mencucinya.
“ Oh ya mas, tadi mas Nizar ngabarin kalo ia lagi ada seminar di Jakarta. Besok kita ketemu mas Nizar yuk?”
Beena mengawali cerita sambil mengelap piring yang di cuci Akbar lalu memasukkannya dalam rak kitcen set.
“ Aduh maaf Bee, mas masih ada kegiatan sampe sore. Free-nya pas kita dinner saja” . Jawab Akbar kecewa.
“ Ya, sudah nanti aku batalin aja ketemu mas Nizarnya.”
“ Jangan bee, ga enak kan. Mumpung disini juga. Kamu bisa tetep ketemu Nizar, aku izinin kok”.
“ Tanpa kamu mas?”
“ Iya, gak apa-apa kan sayang. Sampein maaf mas sama Nizar ya. Mas bener-bener gak bisa bolos sampai sore hari.”
Beena akhirnya mengirimkan pesan pada Nizar tempat dan waktu untuk mereka bertemu. Beena memilih kafe yang berada tak jauh dari FirstTv dan hotel dimana Nizar menginap.
Beena menyusun semua kegiatannya besok pagi, agar jangan sampai ada waktu yang terbuang sia-sia. Dari dulu ia selalu begitu, Beena paling tidak suka membuang waktu yang sangat berharga untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Itulah hal yang paling disukai Akbar saat mereka satu tim dalam kepanduan. Berbeda dengan anak seusia SMA lainnya saat mengikuti ekskul, 60% waktunya pasti digunakan untuk mencari kesenangan usia muda.
__ADS_1
***