Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Tsunami Aceh, duka seluruh dunia


__ADS_3

Kekuatan gempa yang terjadi berada di Samudra Hindia . Wilayah sumber gempa berjarak 149 km sebelah barat Meulaboh, Aceh.


Gempa yang berlangsung 10 menit tercatat dengan magnetudo 9,1-9,3 SR. Setelah itu gelombang tsunami memberikan dampaknya pada wilayah Aceh dan di sebagian Sumatera Utara.


Kecepatan rambat gelombang tsunami mencapai 800km per jam di samudra dalam dan bebas. Mendekati pantai yang dangkal dan dengan kecepatan yang besar, gelombang tsunami menjadi tinggi dan kemudian terhempas ke daratan.


Sungguh tak bisa dibayangkan saat kejadian itu menyerang warga yang sedang melaksanakan aktivitas pada hari itu.


Kerusakan parah terjadi di wilayah Aceh dengan kurang lebih sekitar 17.000 jiwa tewas. Semua bangunan yang berada di sekitar pantai hancur dan ratusan orang kehilangan tempat tinggal.


Dua hari pasca tsunami, relawan semakin banyak berdatangan. Dengan dikeluarkannya Notam A-0764 oleh TNI tentang terbukanya ruang udara untuk pesawat asing dalam misi kemanusiaan.


Kapal Induk Amerika Serikat USS Lincoln membantu evakuasi korban dan penyaluran bahan bantuan.


Sudah ada posko pengungsian dan pengaduan. Bau amis dan bangkai jenazah yang tiap menit berdatangan tidak membuat mereka mundur.


Beena merupakan salah satu wartawan perempuan dari banyaknya repoter perempuan lain yang paling banyak mendapat kesempatan dekat dengan anak-anak korban tsunami.


Parasnya yang cantik, lemah lembut dan keibuan. Membuat anak-anak betah berlama-lama dengannya.


Bersama relawan PMI dan akademisi, ia menghibur psikologis anak-anak dengan permainan, bernyanyi, dan mendongeng.


Seperti malam ini, Beena menceritakan tentang bahtera Nabi Nuh. Anak-anak terhipnotis dengan kisahnya, sesekali terdengar tawa mereka melihat gesture Beena mencontohkan Kan’an.


" Kakak cantik..." seorang anak tiba-tiba berdiri.


" Iya sayang..." jawab Beena. "Nama kamu siapa sayang?"


" Aku Farhan, usiaku 10 tahun " dengan suara parau ia menyebutkan identitasnya.


" Hai adik Farhan yang Sholeh " sapa Beena sambil melambaikan tangan dari jarak 1 meter.


" Kak, boleh aku bertanya?"


" Tentu dong, mau tanya apa ganteng?"


" Dari cerita kakak tadi tentang bahtera Nabi Nuh yang menyelamatkan umatnya dari banjir , apakah sekarang juga ada?"


Beena tersenyum mendengar pertanyaan yang di lontarkan Farhan.


Lalu berjalan ke arah Farhan lebih dekat lagi.


" Allah akan selalu memberikan Rahman dan rahimnya pada hambanya yang saleh kapanpun, termasuk zaman sekarang".


“ Lalu, apa orang tua kami yang tidak ada disini sudah dibawa dalam bahtera Nabi Nuh?” tanya salah satu anak lainnya.


Mendengar pertanyaan polos dari anak usia 10 tahun membuat para relawan yang ada saat itu menitikan air mata. Sejenak Beena memalingkan mukanya, mengusap air matanya agar tidak terlihat oleh mereka.


“ Tentu sayang, karena Allah mencintai orang tua kalian yang shaleh dan shaleha jadi Allah membawanya ke surga”.


“ Fadhila shalat terus, kenapa Allah tidak mengajak Dhila ke surga bersama ummi!” celetuk gadis manis usia 5 tahun.


Kini,Beena berjalan ke arah lain. Mendekati gadis kecil bernama Fadhila.

__ADS_1


Ia berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan gadis imut itu, lalu membetulkan posisi jilbab sang gadis cilik yang terlihat sedikit berantakan.


“ Fadhila memang shalihah tapi Allah meminta kamu untuk belajar dulu disini biar pinter. Nanti kalo pinter, Dhila bisa mewujudkan cita-cita ". Dengan sedikit suara parau Beena menjawab pertanyaan gadis manis itu.


" Oh ya, besok kalau sudah besar mau jadi apa sayang?” Jelas Beena sambil menggendong gadis kecil itu.


“ Hm...Dhila mau jadi dokter biar kayak kakak itu” Tunjuk Dhila pada sesosok dokter ganteng yang ramah.


Sosok pria yang tampan dan ramah menggunakan jas putih, sebagai identitas jika dia adalah seorang dokter yang menjadi relawan saat itu.


Beena terkejut, melihat sesosok relawan dari tenaga medis yang tak asing baginya.


“ Mas Nizar?” gumamnya.


Dari seberang Nizar melemparkan senyum manisnya.


Lalu Beena berkonsentrasi lagi pada anak-anak yang ada di hadapannya.


" Belajar yang rajin agar kalian bisa menggapai cita-cita, Ok!"


Beena mengangkat tangan dan menunjukkan ibu jarinya.


"Ok..." jawab anak-anak pengungsian dengan kompak.


"Kalian tahu tokoh Doraemon? si robot kucing yang punya kantong ajaib".


" Ya, aku tahu...aku tau" . Jawab anak-anak saling berebut.


" aku suka nonton dulu sama adik, tapi adik sekarang belum ada di sini kak" jawab Farhan.


Trauma therapy kali ini ditutup dengan sebuah lagu doraemon dalam bahasa jepang.


Konna koto ii na


Dekitara ii na


Anna yume konna yume ippai aru kedo


Minna minna minna


Kanaete kureru


Fushigina poke de kanaete kureru


Sora wo jiyuu ni nobitai ina


Hai ! taikekoputaa!


An an an


Tottemo daisuki Doraemon


Suara merdu Beena, terdengar hingga seberang jalan tempat posko TNI berdiri yang berjarak beberapa meter dari posko anak-anak.

__ADS_1


Akbar menghentikan kegiatannya, memastikan betul pemilik suara merdu itu adalah orang yang ia kenali.


“Bang...kok bengong” Yoseph menepuk bahu Akbar.


“ Kamu dengar lagu itu bro?” tanya Akbar.


“ Lagu? Lagu apa? Doraemon?”


“ Iya” Akbar penasaran berniat mendekati sumber suara.


“ Itu kan cuma lagu Doraemon, lagu film kartun yang sejak aku kecil sudah ada bang” .


“ Bukan lagunya, tapi pemilik suara itu. Aku sepertinya mengenalinya”


“ Begini nih, baru dua hari jauh dari cewek aja udah ngebayangin cewek cantik”


Yoseph menggeleng kepalanya.


“ Aku kesana sebentar bro”


Akbar berlari kecil menuju posko di seberang jalan. Posko yang berjarak 300 meter dari posko milik TNI. Ia berharap menemukan sesuatu yang memberikan kabar gembira untuknya, untuk hidupnya.


Suara riuh anak-anak menirukan Beena menyanyi dengan bahasa Indonesia. Tepuk tangan dari seluruh penghuni posko menandakan ending pertunjukan.


Belum sampai di tujuan, tiba-tiba sirine dari mobil PMI berbunyi. Menandakan ada penemuan jenazah baru yang dibawa dalam mobil. Mau tak mau Akbar kembali menghampiri mobil tersebut, mengangkat kantung jenazah bersama relawan lain. Dibantu paramedis dan wartawan untuk mengidentifikasi korban baru.


" Kok balik lagi bang?" tanya Yoseph.


"Ada jenazah baru sepertinya, ayo kita ke sana"


"terus Abang gak jadi ke posko anak-anak?"


"Gampang, bisa lain waktu"


Yoseph mengacungkan kedua jempolnya untuk seniornya yang sangat perfect, yang mampu membedakan mana profesional mana emosional.


Mendengar suara sirine, Bimo segera bergegas menuju sumber suara. Itu artinya ada informasi baru yang harus ia gali.


“ Mbak , aku gabung sana duluan ya” Bimo minta izin untuk merapat ke arah ambulance PMI .


“ Ya Bim, nanti aku nyusul ke sana” jawab Beena.


Beena berjalan ke arah Nizar yang sedari tadi tak henti-hentinya memandang paras ayunya.


“ Mas Nizar relawan juga?”


Nizar mengangguk.


“ Kamu sejak kapan di sini?


“ Tanggal 27 mas, tapi aku cuma 3 hari disini. Besok sore aku kembali ke Jakarta. Kalau mas?”


“ Aku baru hari ini, rencananya bergilir per 10 hari dengan teman-teman yang lain”.

__ADS_1


Meski dengan ekspresi sedikit kecewa. Nizar tetap senang bisa melihat wanita yang dicintainya dalam situasi seperti ini pun tetap manis dan ceria.


***


__ADS_2