
Nizar termenung mengingat kalimat penolakan Beena atas perasaannya. Dengan kecewa ia berdiri meninggalkan tempat yang menjadi saksi bisu cintanya, ia berjalan lemas kembali ke tempat tugasnya.
Namun sebelum ia menuju posko , ia menyadari ada kekacauan dalam hatinya dan harus ia ekspresikan. Sebab jika tidak ia tumpahkan tentu akan berimbas tidak baik pada emosi dan profesionalitasnya.
Nizar memilih sebuah bukit yang letakknya cukup jauh dari keramaian posko korban bencana. Sesaat sebelum mencapai puncak bukit, Nizar berlari lebih kencang ke arah atas bukit yang cukup terjal dan licin. Sambil berteriak sekencang-kencangnya berharap dengan berteriak sedikit meluapkan emosinya.
“Aarrrrrgghhhhh...”
Bugh...
Nizar terjerembab, namun ia memaksa bangkit dan berlari lebih kencang lagi tak peduli tubuhnya terluka bahkan jatuh sekalipun membuat kewarasannya menurun beberapa persen dari jiwa seorang Nizar.
"Maryaam Tabeena.........." teriaknya, menyebut sebuah nama yang menggema di atas bukit.
Nafas Nizar tersengal, ia berlutut membuat kedua lututnya terluka,menundukkan pandangannya.
" Beena......." kali ini Nizar memanggil nama Beena dengan lirih, dengan sedikit tenaga tersisa hingga bulir air mata keluar dari matanya tanpa ia sadari.
Bruk, ia merebahkan tubuhnya di atas tanah dengan pandangan menatap jauh ke langit.
Lalu Nizar memejamkan kedua netranya.
Saat Nizar terpejam, bayangan Beena hadir seperti mengajak berdialog.
" Mas...mas Nizar" bisik suara wanita yang tak asing baginya.
Di alam bawah sadar Nizar, ia meyakini bahwa itu adalah suara wanita yang sangat ia cintai.
" Na, ini tidak adil buatku, Aku mencintaimu bahkan jauh sebelum laki-laki itu mencintaimu. Ini tidak adil Na..." ucap Nizar.
" Mas, Aku menolakmu bukan karena siapa yang lebih dulu mencintaiku. Atau siapa yang lebih dulu datang padaku."
"Mas Nizar..." kali ini Beena mendekat, dan duduk bersimpuh di hadapan Nizar.
" Belajarlah dari Rosulullah, saat baginda Rosul berusia 20 tahun ia yang harus menerima penolakan oleh Fakhitah. Padahal Fakhitah adalah anak dari pamannya sendiri, Abu Thalib namun soal perasaan bukan perkara dekat atau jauhnya kekerabatan.
"Mas..." ucap Beena menenangkan,
Ia dekatkan bibirnya ke samping Nizar dan berucap "menukil kalimatnya Abu Thalib bahwa laki-laki baik haruslah membalas tiap kebaikan"
Nizar membuka kedua matanya perlahan, memastikan bahwa yang mengajak dialog adalah Beena. Ia mulai bangkit dan memperhatikan keadaan di sekelilingnya.
Benarkah ia berhalusinasi?
Nizar bergumam,"Ah...ternyata tidak ada siapapun" ia mulai berjalan kembali ke posko. Jalanan yang menurun membuatnya sempoyongan. Meski harus terjatuh beberapa kali, ia tetap berjalan.
Saat terjatuh, ia semakin tersadar akan kata-kata wanita dalam halusinasinya. Ia harus menerima semua keputusan Beena yang sedari awal sudah memberikan peringatan padanya bahwa ia tidak bisa menerima perasaan Nizar, itu sebabnya Beena memintanya untuk tidak menunggu, Biarkan Tuhan menuntun takdir cintanya.
Huh....
Nizar membuang kasar nafasnya.
Ia berharap setelah meluapkan kekecewaannya dengan kencang tidak akan ada sesak dalam dadanya.
Sesampainya di posko, ia segera membersihkan badan dan luka-luka di tubuhnya. Sambil sesekali merasakan sakit, akhirnya ia menyadari langkah konyolnya tadi di bukit.
__ADS_1
Sementara bagi Beena, tentu saja ini merupakan situasi tersulit. Dalam hati kecilnya ia tidak mau menyakiti perasaan seseorang. Tapi bagaimanapun, ia harus menyelesaikannya dengan cepat dan tepat.
" Mbak Na..." sapa Bimo sambil mendekat ke arah Beena yang sedang fokus pada leptopnya.
"Hm..." jawab Beena sembari mengedit naskah, memastikan bahwa pekerjaannya nanti tidak terjadi kesalahan.
" Mas dokter kenapa?" tanya Bimo menyelidik.
" Kenapa , apanya?" jawab Beena datar.
" Tadi?" ucap Bimo dengan menirukan muka masamnya Nizar.
Beena menghentikan aktifitasnya, menengok ke arah Bimo. Dilihatnya mimik wajah Bimo yang menirukan raut wajah Nizar kala itu.
Beena menggeleng, berusaha tidak menanggapi pertanyaan-pertanyaan Bimo.
Urusan perasaan itu memang rumit, jikapun ia menjelaskan pada Bimo belum tentu ia mengerti. Karena Bimo biasa terlihat apatis untuk urusan hati.
"Mbak Na..." Bimo merengek.
" Apa..." jawabnya santai.
" Jadi benar, cowok yang kemarin ketemu itu cinta pertama mbak Na?"
Beena masih saja tak acuh, sesekali ia memeriksa semua laporan dan foto terkini korban bencana.
" Cowok marinir itu keren ya? pantas saja mbak Na rela menunggu lama".
Beena tetap tidak menanggapinya, ia lalu melihat jam tangannya. Waktu untuk live tinggal satu jam lagi.
Bimo meledek.
Kali ini Beena benar-benar tidak tahan dengan ocehan Bimo. Beena menutup laptopnya dan merapikan semua bahan catatan untuk siaran langsung yang akan ia bawakan nanti. Memastikan urutan kartu yang akan ia sampaikan agar tidak terlewat.
“ Huh...manusia introvert sudah sembuh, dan bermetamorfosa jadi penggosip”
Beena menyebikkan bibir manisnya.
“ Dah ah, ini waktunya kerja!” Beena langsung menuju posko Bakornas PBP.
Beena beranjak dari tempat duduknya, disusul oleh Bimo.
" Mbak Na...mbak tunggu aku" teriak Bimo sambil menenteng kamera.
Kegiatan hari ini benar-benar menguras tenaga dan pikiran Beena. Hingga malam hari ia belum sempat makan malam, wajahnya terlihat lesu.
Meskipun letih, tak membuat semangatnya surut menemani anak-anak dipengungsian. Malam ini, Beena mengisi dengan permainan sambung kata. Gelak tawa dari anak-anak membuat beberapa relawan tertarik menghampiri posko. Selesai mengisi kegiatan dengan anak-anak beberapa relawan dari akademisi dan medis berbincang-bincang.
“ Mbak Beena belum makan malam dari tadi, aku ke posko dapur umum dulu barangkali ada makanan yang bisa disantap” ujar Bimo yang sedikit khawatir dengan kesehatan rekan kerjanya.
“ Selarut ini Bim? “ tanya Beena tak yakin ada sisa makan malam.
Nizar yang saat itu berada diposko anak-anak menghampiri Beena.
“ Kamu belum makan Na?” tanya Nizar.
__ADS_1
Beena menggeleng.
Dengan langkah tertatih, Nizar mendekat ke arah Beena.
" Kakimu kenapa mas?"
" Jatuh, tapi gak apa-apa kok" kata Nizar menjelaskan dengan berusaha jalan tegap memastikan jika keadaannya baik-baik saja.
" Jatuh? kok bisa?" tanya Beena penasaran.
" Ceritanya panjang, tapi its ok seperti yang kamu lihat I'm fine" ucap Nizar meyakinkan.
" Mas, maafin aku ya?"
“ Santai aja Na. Oh ya katanya kamu belum makan? Aku ada buah. Lumayan lah buat menahan laparmu.” Nizar menyodorkan buah pisang ke hadapan Beena.
Beena hanya memandang sekilas buah tersebut lalu beralih menatap Nizar.
“ Na, kandungan karbohidrat dan kaliumnya bagus buat sumber energi tubuhmu yang sudah seharian bekerja”
Tambah Nizar menjelaskan manfaat dari tanaman suku Musaceae.
Tak berapa lama Akbar datang menghampiri keduanya.
“ Hi Bee” sapa Akbar sambil berlari kecil menuju arah Beena.
Pandangan Akbar bergantian melihat ke arah Beena dan Nizar.
“ Tadi ketemu Bimo katanya belum makan, nih aku bawain roti”.
Dengan sedikit tidak enak hati, Beena memilih roti yang dibawakan Akbar ketimbang pisang.
Penolakan untuk kedua kalinya, membuat Nizar tersenyum kecut.
“ Oh ya mas, kenalkan ini mas Nizar. Mas Nizar ini anak temannya ayah yang diJogja.”
Terang Beena pada Akbar.
“Dan ini mas Akbar, mas Akbar ini...”
“ Kami sudah saling kenal” sergah Nizar memotong kalimat yang belum selesai Beena ucapkan.
Melihat situasi ini, Akbar memahami jika Beena sesungguhnya adalah orang yang dimaksud Nizar tempo hari. Untuk mencairkan suasana atas penolakan makanan yang ditawarkan rivalnya, Akbar tak kehabisan akal menjelaskannya.
“Zar, Beena itu bukannya ga mau tawaranmu. Tapi ia punya trauma pada buah pisang. Makanya dia pilih roti” jelas Akbar.
“ Benarkah?” Nizar membalas dengan wajah penasaran berpura-pura untuk menyembunyikan ekspresi kekecewaannya.
“ Ya, dulu saat kami di kegiatan Raimuna. Kala itu Beena menahan lapar dari malam hingga pagi. Eh dikasih sarapan pisang yang overcook bisa dibilang mendekati busuk. Dia muntah-muntah, sampe mencium bau pisang aja dia ga suka” Akbar terbahak membayangkan kejadian itu.
“ Ya mas, sampe sekarang aku ga suka buah pisang” Beena mengusap keningnya menahan malu.
Dari cerita Akbar, Nizar mengetahui betapa besarnya pengetahuan Akbar tentang Beena. Mereka merupakan pasangan sempurna. Dan Nizar bahagia melihat Beena sudah menemukan tujuannya. Mungkin benar kata pujangga, mencintai tak harus memiliki.
***
__ADS_1