
Land Rover warna merah yang dikendarai Mary berhenti disebuah rumah mewah. Sangat jarang Mary mengunjungi kediaman orang tuanya, ini karena ia sibuk dan lebih memilih tinggal di apartemen mewahnya di bilangan Jakarta.
Kehadiran Mary sore hari ini tentu saja disambut gembira oleh Jenderal Bram. Sang mami yang sedang asyik menyiram beberapa koleksi anggrek langka di taman rumah yang cukup luas dan asri, terpaksa menghentikan kegiatannya dan menyambut putri semata wayangnya.
“ Sore mom...”
“ Sore cantik, tumben pulang kerumah?”
“ Iya lagi kangen mami nih...” jawab Mary dengan bergelayut manja. Melihat karakter manja sang anak membuat mami memicingkan matanya, pasti Mary ada maunya.
“ Papi ke mana mi?” tanya Mary sambil memakan buah yang berada di meja teras dekat taman.
“ Hm...mami jadi curiga kalo tanya-tanya papi, pasti ada maunya”. Jawab Mami.
Sang mami sangat hafal karakter Mary, jika sudah menanyakan papi pasti ada hal penting yang harus melibatkan kekuasaan Papi-nya. Seperti beberapa tahun lalu, saat Mary meminta jasa ajudan pribadi hanya karena ada paparazzi yang beberapa kali mencuri gambarnya. Entah apa motifnya, nyatanya semua baik-baik saja dan akhirnya hanya 4 bulan saja jenderal Bram menempatkan Akbar sebagai bodyguard Mary.
Hubungan Mary dengan sang papi sangat dekat, lebih dekat dibanding dengan Mami Rosa. Sosok jenderal yang tangguh dan memiliki loyalitas tinggi pada satuannya mengalir pada diri Mary. Mary merupakan pribadi yang tangguh atas apa yang harus ia capai dan memiliki loyalitas tinggi pada pekerjaannya, sekalipun perusahaan itu milik kakeknya sendiri.
“ Hi...Pi” sapa Mary dengan mencium pipi kanan dan kiri Papinya.
“ Gimana proyek hotel di Bali?”
“ Lancar Pi, tapi ada satu proyek lagi yang belum lancar. Dan ini harus melibatkan papi”
“ Papi?” Pak Bram mengerutkan dahinya sambil meneguk kopi buatan Mami Rosa.
Mereka bertiga duduk di sofa ala victory yang mewah di ruang tengah.
“ Apa yang bisa papi bantu buat anak semata wayang papi?” tanya papi dengan membusungkan dada meyakinkan bahwa apapun yang diminta Mary pasti bisa ia berikan.
“ Pi...Mary lagi jatuh cinta. Dan butuh tangan dingin papi”
“ What ?” Mami terkejut. “ Kamu jatuh cinta saja minta bantuan papimu?”
“ Kamu cantik, lulusan Harvard university, karir ok ! Tanpa bantuan Papi pun ga ada yang nolak kamu sayang”
“ Hm...nyatanya ada Pi”.
“ Siapa laki-laki itu biar Papi tembak” goda Papi.
"Hm...jangan ditembak pi, nanti Mary nangis tujuh hari tujuh malam" Mami Rosa melengkapi godaan yang dilayangkan Papi Bram.
" Ah...mami ini" ucap Mary sambil cemberut.
" Ceritakan sama papi, siapa laki-laki yang berani menolak anak cantiknya Papi?".
"Bener lho ya, papi bantuin Mary"
__ADS_1
" Iya, apa sih yang nggak bisa papi lakukan buat kamu sayang, sebutkan siapa orangnya?"
Dengan sedikit malu-malu Mary menyebutkan namanya.
" Hm, laki-laki itu...hm...tapi janji ya papi jangan tembak dia?"
" Ayo, katakan siapa dia, di mana alamatnya"
“Hm... cowok itu Akbar Pi, Mary jatuh cinta sama Akbar” Akhirnya Mary mengatakan pada Papi Bram.
Mendengar nama Akbar, Jenderal Bram terdiam.
Akbar adalah sosok prajurit yang disiplin, santun dan tangguh. Jenderal Bram kenal dengan Akbar sejak beliau menjadi pelatih saat Akbar menempuh pendidikan di Surabaya. Jenderal Bram yakin, Akbar adalah sosok yang pantas jadi pemimpin dimasa mendatang.
Setelah pendidikan selesai, Akbar dipertemukan lagi dengan Jenderal Bram di Jakarta Selatan saat Akbar ikatan dinas pertama kali. Melihat sejarah Akbar merupakan prajurit dari daerah, tanpa koneksi membuat Jenderal Bram teringat masa awal ia menjadi prajurit. Dan Jenderal Bram banyak membantu Akbar.
Jenderal Bram sangat hafal karakter prajuritnya itu. Akbar anak yang baik dan memiliki karir yang cemerlang. tentu hal yang membahagiakan jika Akbar menjadi menantu nantinya.
“ Pi...papi bisa bantu Mary kan? Mary Cuma cinta sama Akbar Pi, ga ada laki-laki lain” Mary merengek.
“ Nak, urusan hati tidak bisa Papi paksa. Tapi papi yakin kamu bisa mendapatkan cinta Akbar dengan usahamu sendiri”
“ Ok, kalo papi ga bisa bantu. Mary pake cara Mary sendiri. Mary yakin Akbar jadi milik Mary”.
“ Tapi ingat, harus tetap dengan cara yang baik” ujar Mami.
Malam ini Mary memutuskan untuk menginap dikediaman orang tuanya. Di kamar tidur yang super luas, membuat Mary merasa kesepian tanpa ada sms dari Akbar. Beberapa kali ia melakukan panggilan tak dijawab oleh Akbar. Malam semakin larut, namun matanya tak mau terpejam.
Mary mengambil hp-nya di atas nakas.
Ya...ia harus menyatakan perasaannya malam ini juga.
Tuut... Tuut...
Mary mencoba menghubungi Akbar,
"Ayo...angkat dong..." ucap Mary dengan lirih.
"Kok gak diangkat sih?"
Mary mencoba menghubunginya lagi,
Tutt...tuut...dari seberang terdengar sambungan, Mary masih sabar menunggu dan berharap panggilannya direspon Akbar. Namun, tidak dijawab juga.
Tak putus semangat, Mary melakukannya lagi. Dan entah panggilan yang ke berapa kali, namun masih dengan hasil yang sama, tidak ada jawaban.
"Lagi ngapain sih kamu ,Bar?" kali ini Mary mulai kesal.
__ADS_1
"Jangan bilang kalo kamu lagi berduaan sama si Maryam" kali ini Mary membatin, lalu dengan segera ia menjawab sendiri. "Enggak...enggak, nggak mungkin Akbar berduaan sama Beena, dia kan lagi sibuk liputan."
Ah, semakin kalut Mary di buatnya.
" Apa gue telpon Beena aja ya? ah, percuma juga. Jam segini Beena pasti lagi breafing mana bisa angkat telpon gue."
Tut...tut...
"Hallo, ada apa Mar?" suara Mia dari seberang.
"Hei, lu sibuk gak?" ucap Mary.
" Lumayan sih, tapi its ok. Tumben lu telpon gue, gimana...gimana lu butuh bantuan gue?"
" Gak si, gue bete aja. Keluar yuk, party atau kemana kek, gue boring"
" Kapan?"
" Taun depan, ya...sekarang lah" Mary jawab dengan mendengus kesal.
" Aduh, sory sist...gue gak bisa. Gue banyak kerjaan"
"Ah, sok sibuk lu. Tinggal suruh anak buah lu yang ngerjain beres kan?"
" Gak bisa, Mary honey sweety... Gue lagi nyiapin news anchor pendatang baru, gue harus turun tangan langsung"
" Emang si Beena ke mana?"
" Doi lagi cuti, pulkam ke Semarang"
Mendengar kabar jika Beena ke Semarang, Mary langsung panik. Tanpa salam perpisahan, sambungan langsung di matikan.
"Hallo, Mar...Mary?" Mia mengulang-ulang panggilannya.
" Yah, kebiasaan ni anak. Maen putus aja" Mia menggeleng.
Mengetahui kalo Beena dan Akbar ada di kota yang sama, Mary memutuskan untuk menyatakan perasaannya lewat SMS. Ia tidak mau kalah start dari Beena.
Mary mulai mengetik pesan yang akan dikirimkan pada Akbar. Namun beberapa kali harus ia hapus merasa pesannya kurang pas.
“ huh...mau bilang cinta saja susah amat ya!” Mary mendengus kesal.
Akhirnya Mary memantapkan diri.
“ Hi Akbar, beberapa kali aku coba menghubungimu tapi tak ada jawaban. Dan aku mulai takut, takut jika kamu akan menjauh dariku. Karena aku jatuh cinta padamu”.
Klik send message
__ADS_1
***