Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Farewell party


__ADS_3

Di sebuah restoran yang menyajikan makanan Prancis yang terkenal cukup fancy dan elegan, Mia sendiri yang memilihnya khusus untuk farewell kali ini. Meski menu makan serba Prancis namun suasana tetap nusantara banget. Obrolan hangat dan penuh kekeluargaan sangat dominan.


"Nah itu, best couple sudah datang" kata seorang kru menunjuk ke arah kedatangan Akbar dan Beena.


"Aish capeng, auranya emang beda ya" Reyna menggoda keduanya.


"Emangnya lu, aura mistis yang keluar"Bimo terkekeh.


"Eh...dasar lu tuh ye, doyan bener bikin gue empet lama-lama gue santet juga lu" jawab Reyna .


"Ati-ati lu Bim, kena pelet baru tau rasa" kali ini bang Billy menimpali keduanya hingga tidak bisa berkutik.


"Betul,


Empat menu menjadi santapan, mulai dari appetizer, main course hingga dissert membuat Beena dan kawan-kawan kekenyangan.


Setelah ngobrol ngalor ngidul, mulai dari saat pertama kerja di FirstTv sampai cerita pengalaman selama disandera tak terasa waktu begitu cepat.


Akbar memberikan kode pada Beena untuk segera pamit. Sebab besok ia harus menghadiri sidang nikah bersama Akbar.


“ Mbak Mia, bang Billy mohon maaf nih kayaknya kami harus pamit. Besok kami mau sidang nikah kantor” ucap Beena.


“ Baru jam 22.00 Na” jawab Mia.


“ Biar bisa istirahat cukup mbak”


“ Ya...ya take care and keep spirit!” ucap Mbak Mia.

__ADS_1


Beena berpamitan pada seluruh rekannya.


Honda jazz yang dikendarai Akbar segera meninggalkan restoran.


“ Sayang, kita pulang ke rumah ya?”


tanya Akbar sambil menyetir ditengah kemacetan kota Jakarta.


“ Hm...aku tidur di apartemen saja ya mas”


Beena berusaha menolak ajakan Akbar.


“ Biar besok kita ke kantor tepat waktu, bee. Jadi mas gak bolak balik rumah dan apartemen”


Akbar tersenyum penuh kemenangan dibalik alasan logisnya.


“ Ya...ya” Akbar mengacak kepalanya mengaku kekalahannya mengajak Beena tinggal dirumah impian mereka.


Beena memegang pipi Akbar,


“ Mas, meski secara agama aku sudah halal tapi orang belum tahu kita suam-istri. Apa kata tetangga nanti, jangan lupa kita hidup dibudaya timur. Jangan sampai orang memandang rendah, dikira kumpul kebo nanti”.


Penjelasan Beena yang cukup diplomatis, yang tak bisa Akbar mengelaknya.


“ Ah...kamu ini memang paling bisa berdiplomasi. Mas kalah terus nih”.


“ Bukan masalah kalah atau menang sayang...”

__ADS_1


“Apa...apa...barusan kamu manggil mas apa?” goda Akbar berpura-pura tak mendengarnya.


“ Hm...mulai deh” Beena menepuk jidatnya.


“ Bener mas gak denger ,ulangi dong!”


“ Mas Saeful Akbar sayang... Panglima Khalid Al Walidku tercinta, puas?”


“ Kata terakhirnya kurang pas bee, ralat ah...”.


Beena menggelengkan kepala melihat tingkah Akbar.


“ Iya Mas Letda Mar Saeful Akbar, S.H sayang...”.


Akbar terbahak mendengar namanya disebut dengan lengkap.


“ Gak sekalian NRP-nya bee?”


“ Gak usah, itu buat besok pas nikah kantor” Beena menjulurkan lidahnya meledek Akbar.


Tangan kiri akbar segera menggenggam tangan Beena, mencium dengan penuh kebahagiaan.


“ Hidup mas begitu sempurna. Bisa naik pangkat hanya karena membebaskan tawanan cinta mas di Lebanon”.


Beena jadi teringat kalimat yang pernah dilontarkannya pada Akbar dulu. Jika dia bukan orang yang tepat untuk urusan karirnya jika di banding dengan Mary. Siapa sangka, Akbar bisa mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa ( KPLB) menjadi letnan setelah berhasil membebaskan Beena dari kelompok Hizbullah.


***

__ADS_1


__ADS_2