Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Pertemuan Beena dan Mary


__ADS_3

Suasana gedung salah satu stasiun televisi ternama di Jakarta sibuk dengan kegiatan masing-masing program tiap divisi. Salah satunya program yang dipimpin oleh Billy tentang liputan kebudayaan. Hari ini mereka langsung melaksanakan briefing setelah proses editing.


“ Ok fix, setelah ini aku serahkan hasil briefing kita ke bagian produser. Ada pertanyaan?


”Billy mengakhiri briefing.


Dengan manggut-manggut dan ekspresi bingung Reyna mengangkat tangannya.


“ Terus pembawa acara untuk program kita siapa bang?”


Beena dan Bimo saling melirik dan tersenyum gemes.


“ Dasar tulalit” celetuk Bimo.


“ Apa lu bilang?” Reyna melotot.


Billy mengeratkan giginya, “ Tadikan sudah dibahas, untuk pembawa acara itu urusan produser. Entah artis mana yang akan dipakai”.


“ Sorry bang, tadi gak konsen”


“ Lagian cewek tulalit kapan konsennya” tambah Bimo.


“ Dari pada lu, Mr. Introvert” tak mau kalah Reyna berargumen.


“ Sudah...sudah, jam makan siang nih. Cafetaria sudah melaimbai-lambai noh” Beena berusaha melerai aksi balas-balasan Bima dan Reyna.


“ Kalian emang cocok, Miss Tulalit dan Mr. Introvert” goda Billy.


“ Abang....” seru keduanya.


Mereka berempat merapikan meja di mini meeting room dari kertas-kertas yang berserakan.


“ Hey, gadis janda bagaimana luka kakimu?” tanya Billy.


“ Udah kering bang, dan gak terasa sakit lagi. Itu artinya sudah sembuh kan?”


Beena menyunggingkan bibir tipisnya dengan senyuman yang manis.


“ Oh ya, tadi mbak Mia nyariin kamu”.


“ Mbak Mia?Ada apa ya bang?”


“ Mana ku tahu!” Billy mengangkat bahunya.


“ Ok bang, nanti setelah makan siang. Aku temui mbak Mia”.


“ Ok aku duluan ya” tandas Billy.


Sambil menutup laptopnya Beena berpikir keras, ada alasan apa sang produser news mencarinya.


Beena berjalan menuju cafetaria. Suasana cafetaria hari ini begitu ramai. Setelah membawa makanan yang ia pesan, Beena belum mendapatkan tempat duduk.


Matanya menyapu ke segala arah, tiba-tiba ada tangan yang melambai. Senyum dari pemilik tangan mengisyaratkan jika masih ada tempat yang bisa ia gunakan.


“ Wah kebetulan kita ketemu di sini” sapa perempuan cantik dengan style rambut shagy warna burgundy.


“ Eh mbak Mia, baru saja saya mau ketemu mbak setelah makan siang” balas Beena.


“ Emang rejeki gak akan kemana, gak perlu jauh-jauh” kata Mia sambil mengunyah makanannya.


Beena menarik kursi, dan meletakkan semangkuk coto makasar di meja yang sama dengan mbak Mia.


“ Oh ya mbak ada apa ya?”


“ Gini Na, aku bisa minta tolong gak?”


“ Minta tolong? Maksud mbak?” tanya Beena sambil tetap menyantap coto makasar yang dipesannya.


“ Aku punya sepupu, dia lagi butuh translator bahasa jepang. Kamu bisa bantu kan?”


“ Aduh...gimana ya mbak, aku kudu minta izin bang Billy dulu nih. Kan lagi ada program yang tayang minggu-minggu ini”


“ Ini freelance kok, maksimal dua hari . Syukur-syukur sehari selesai”


“ Gimana ya mbak, bukannya ga mau tapi...”

__ADS_1


“ Please,bantu ya!”


Mia merapatkan kedua tangannya memohon.


“ Mendadak juga soalnya, sepupuku baru tahu kalo si Nipon gak bisa bahasa Indonesia dan bahasa Inggrisnya lemah. Atau gini deh, kamu ketemu dulu sama sepupuku. Terus bisa atau nggaknya kamu yang tentukan Ok!” Jelas Mia sambil menyerahkan sebuah kartu nama.


Beena menerima kartu nama warna silver, dibacanya dengan seksama.


" Ok mbak Mi, aku usahakan ya. Mudah-mudahan bang Billy kasih izin"


Mbak Mia memberikan isyarat dengan ibu jarinya sebagai tanda persetujuannya. " Aku duluan ya Na, makan yang banyak karena kerja bareng Billy kudu kuat ", kata mbak Mia sambil tersenyum meledek.


" Siap mbak, aku tahan banting" , jawabnya.


Lalu keduanya berpisah.


***


Setelah meminta izin pada atasannya, Billy sebagai pemilik produksi menginjinkan asal tidak mengganggu pekerjaan Beena. Lagi pula, Billy tidak akan melarang. Sebab Mia adalah atasannya, selain itu Mia adalah anak pemilik stasiun tv.


Pukul 16.00 Beena menuju ke alamat yang tertera di sebuah kartu nama dengan menggunakan Jazz-nya. Mobilnya terparkir di sebuah basement hotel, lalu Beena berjalan ke arah loby hotel.


Kemeja flannel kotak-kotak berwarna ungu berpadu kulot warna ungu tua. Dengan cocard jurnalis yang masih menempel di dadanya. Beena melangkahkan kakinya menuju resepsionis.


“ Sore mbak” sapa Beena pada seorang resepsionis.


“ Sore...ada yang bisa kami bantu”


“ Saya bisa bertemu Bu Mary” tukas Beena sambil menyerahkan sebuah kartu nama.


“ Ada janji sebelumnya?”


“ Sudah mbak, saya translator bahasa jepang”


Sang resepsionis lalu menekan beberapa angka dalam PABX. “ Silahkan naik lift mbak, sudah ditunggu sekretaris bu Mary di lantai 14 Ruang ke dua dari pintu lift”.


“ Terima kasih mbak” Beena berjalan menuju lift khusus yang di tunjukkan resepsionis cantik tadi.


Ting...


“ Ruang kedua dari pintu lift, Ya...ini ruangannya” gumamnya.


Beena menghampiri sebuah meja yang dihuni oleh seorang gadis cantik menggunakan blazer dan rok mini.


“ Selamat sore, permisi mbak...” Beena mengawali sapaan


“ Selamat sore, mbaknya translator bahasa jepang itu ya?”


“ Iya mbak”


“ Mari saya antar” ajak sang sekretaris cantik, imut dan ramah itu.


Tok...tok...


“ Permisi bu, ada tamu. Translator bahasa jepang”


Sekretaris cantik menyeru sambil membukakan pintu.


“ Iya Bell, suruh duduk dulu. Saya selesaikan pekerjaan sebentar. "


Ucap Mary yang terlihat asyik mengobrol di hpnya.


“ Oh ya Bar, aku tutup dulu ya. Ada tamu. Nanti jadi jemput kan?”


“ Sorry Mar, aku banyak tugas di kesatuan. Maaf ya, aku ga bisa nganter kamu ke pesta yang kamu maksud”


Dengan raut wajah kecewa Mary menjawab, “ ok tapi lain kali jangan tolak ajakanku ya?Bye”.


Sambungan terputus sepihak tanpa menunggu jawaban dari seberang.


Gadis cantik, muda, fashionable dan sepertinya seumuran dengan Beena. Ia berjalan menuju kursi tamu di ruangannya.


“ Bell, aku minta tolong ambilkan minuman ya?” titah Mary.


“ Mau minum apa mbak Maryam?” tanya Marry menyebutkan nama yang tertera di sebuah id-card Maryam T.

__ADS_1


“ Apa aja bu?’ jawab Beena


“ Jangan panggil saya bu, panggil saja Mary. Kayaknya umur kita gak beda jauh” jawab Marry mengakrabkan suasana.


“ Bell, bawakan lemon tea 2 ya?”


“ Baik bu, saya permisi “


“ Aku Mary Bramantyo, aku dapet rekomendasi dari sepupuku Mia.”


“ Iya bu”


“ Aduh...jangan panggil aku ibu dong, emang aku terlihat seperti ibu-ibu ya?” tanya Mary sambil mengecek mukanya di dinding kaca ruangannya, memastikan jika wajahnya masih sesuai umurnya 28 tahun.


“ Panggil aku Miss aja ya?” pinta Mary dengan menunjukkan gigi rapinya yang terpasang behel.


“ Ya, miss Marry”


“ Langsung saja ya, jadi gini. Perusahaan kami akan membangun sebuah hotel di Bali. Nah kami sudah mendapatkan investor dari jepang. Bulan lalu kami sudah mengadakan pertemuan, dan agendanya lusa kami bertemu lagi untuk membahas kerjasama lebih lanjut.


Pertemuan kali ini Mr.Hideyosi Ichiro sudah membawa kuasa hukumnya juga. Selama ini kami berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dengan sekretarisnya. Tapi minggu kemarin aku dikabari jika sekretaris Mr. Ichiro berhalangan hadir. Ga mungkinkan kami undur proyek yang sangat besar nilainya bagi perusahaan kami. Kamu bisa bantu kan?”


Mary menjelaskan panjang lebar, berharap Beena bisa membantu perusahaannya dan tentunya karir Mary pun berada pada keputusannya.


“ Kapan pertemuannya Miss?” tanya Beena.


“ Lusa, hari Minggu. Bisa dong, please!”


Dari luar , Bella masuk dengan membawakan 2 gelas lemon tea.


“ Silahkan di minum mbak” ucap bela sambil pamit berjalan ke arah luar ruangan.


Beena meneguk lemon tea, berharap keputusannya menjadi yang terbaik untuk semuanya.


“ Ok miss, kebetulan lusa saya free tidak ada kegiatan di kantor”


Dengan wajah gembira Marry memeluk Beena.


“ Thanks girl, you are my Athena goddess”.


“ Your welcome Miss”


“ Eh kamu udah lama kerja di Firsttv?”


“ 4 tahun Miss.”


Akhirnya mereka ngobrol santai mengakrabkan satu sama lain. Bercerita tentang pengalaman masing-masing pada pekerjaan mereka. Sesekali Beena memuji Mary atas karir yang cemerlang di usia yang hanya terpaut satu tahun dengannya.


Setelah berbincang panjang lebar dan memberi tahu pertemuan lusa dengan Mr. Ichiro Beena pamit tak lupa bertukar nomor hp dengan Mary.


“ Kalau begitu saya pamit dulu miss” ucap Beena.


Mary melotot, “ jangan panggil aku miss, panggil Mary saja”


Dengan berat hati, Beena meng-iyakan.


Mary lalu mengantar Beena hingga ke depan pintu.


“ Oh ya, urusan lebih lanjut nanti di tangani Bella ya. Thanks lho sebelumnya” tukas Mary.


Mary berjabat dengan Beena lalu berjalan ke arah Bella.


“ Bell, kamu atur urusan akomodasi Maryam dan administrasi lainnya ya”


“ Baik bu”. Bella mengeluarkan amplop coklat yang dari dalam lacinya.


“ Maaf mbak Maryam, bisa minta nomer rekeningnya? Ini sekedar uang transport, untuk fee translator akan kami kirim melalui rekening setelah kegiatan selesai.”


Beena membuka hp-nya melihat deret angka nomer rekeningnya lalu ia tuliskan pada notes dan menyeraahkannya pada Bella.


“ Terima kasih mbak Bella, saya permisi” Beena menerima amplop yang diberikan Bella.


“ Sama-sama mbak, hati-hati di jalan”.


Beena lalu menuruni lift menuju parkiran dan segera melaju menuju apartemennya.

__ADS_1


***


__ADS_2