Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Cuti Panjang


__ADS_3

Mendengar cerita Akbar, Yoseph hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tak percaya jika, seniornya yang cemerlang di karir kemiliterannya berbanding terbalik dengan kisah asmaranya.


“ Jadi sampai saat ini Abang belum dapat jawaban lamaran itu?”


Akbar mengangguk,


“Abang masih yakin gak kalo dia nunggu abang sampe sekarang?”


Akbar mengangkat kedua tangannya, antara yakin dan tidak.


“ Cuti besok kan lumayan panjang nih , kau masih bisa datengin rumahnya bang?”


“ Semoga saja kali ini bisa bertemu, syukur-syukur dapet jawabannya”


Yoseph tak henti-hentinya memotivasi Akbar agar tak patah semangat seperti motivator ulung saja gayanya.


“ Bravo bang...” Yoseph mengepalkan tangan kanannya, “ Tapi, kalaupun gadis kau sudah punya cowok lain masih banyak stok perawan bang. Siapa itu...em...anaknya jenderal Bram”.


“ Mary Bramantyo...maksud kamu?ngawur!" sergah Akbar, sambil bangkit dari bangku panjang.


" Aku sama dia tu cuma teman. Hubunganku sama dia itu sebatas mantan. Mantan majikan dan mantan ajudan pribadi“.


“ Tapi bang, aku lihat perhatian Mary itu spesial kali pada mu bang”. TukasYoseph


Drrrrtt...drttt...


Sebuah pesan masuk, Akbar melihat sebuah nama si pengirim pesan , PRINCESS.


Yoseph melirik hp Akbar, “panjang umur ni cewek, baru di omongin eh...muncul”.


Akbar membuka pesan itu lalu membalasnya,


“ Besok jadi pulang?”


“ Ya, ini malam terakhir jaga”


“ Aku jemput di tempat biasa ya?”


“ Gak usah, besok aku langsung ke Semarang dari Tarakan.”

__ADS_1


“ Ok, salam buat bunda ya”


“ OK, thanks ya”.


Akbar lalu menaruh hp di saku celananya.


***


Sementara, di kota lumpia ada Beena yang sedang menikmati kebersamaannya dengan kedua orang tuanya. Sebelum ia harus disibukkan kegiatan liputan berita selama dua minggu di kota gudeg, Jogjakarta.


Tentu saja moment ini sangat langka, semenjak bergabung di FirstTv sebagai tim reporter Beena jarang pulang, bahkan saat lebaran sekalipun. Ia hanya sesekali mampir ke Semarang jika kebetulan ada liputan di luar kota yang melewati kota Semarang.


Selain bekerja di FirstTv, Beena juga menjadi freelance sebagai translator bahasa jepang dan penulis artikel di sebuah media cetak harian. Dari hasil pekerjaannya, Beena mampu menyewa sebuah apartemen di tengah kota yang tak jauh dari gedung FirstTv dan membeli sebuah kendaraan untuk menunjang mobilitasnya.


Tok...tok...


Ayah masuk ke kamar Beena dengan mengetuk pintu sebelumnya. Ayah memperhatikan Beena yang sedang mengecek barang apa saja yang akan dibawa ke Jogja. Karena setiap pulang dari Jakarta ia tak pernah membawa baju. Jadi jika mau ada acara liputan ke kota yang melewati rumahnya, ia selalu membawa baju dari rumah orang tuanya.


Ayah langsung duduk di kursi belajar semasa SMA Beena dulu yang tak berubah posisi sejak terakhir Beena menggunakannya.


“ Nduk, kamu gak cape kerja kayak gini?”


“ Terus kapan kamu nikah? Ayah sudah pensiun, sudah terlalu tua menunggu kamu mondar-mandir!”


“ Hm, ga usah khawatir yah. Kalau sudah waktunya Beena pasti menikah”.


Ibu berjalan mendekati ayah dan Beena, lalu duduk diujung ranjang sambil membantu Beena memeriksa barang bawaan yang akan diperlukan selama 2 minggu di Jogja.


“ Benar kata ayahmu Na, kenapa kamu gak berhenti kerja saja. Toh di sini kamu masih bisa bekerja, mengurus butik ibu yang sudah memiliki dua cabang di Semarang dan Jogja “ pinta ibu sambil membantu mengemas baju Beena ke dalam kopernya.


“ Butik ibu kan sudah ada mbak Naely”.


“ Butik semakin berkembang dan butuh orang untuk menghandle-nya Na. Mbakmu repot kalau harus bolak balik Semarang-Jogja, dan ibu sudah terlalu tua” kali ini ibu benar-benar mengharap anaknya mau mendengarkannya. Tapi Beena yakin, butik bukan alasan satu-satunya ibu bertindak seperti ini.


“Na...usiamu sudah 27 tahun”


Ibu menatap Beena dengan penuh pengharapan saat menyebutkan angka di usianya dan seharusnya ia lebih faham pada situasi ini.


“ Bekerja di salah satu stasiun TV swasta nasional, penulis artikel dan translator sudah lebih dari cukup. Bahkan apa yang kamu dapatkan saat ini tanpa campur tangan kami sebagai orang tua merupakan pencapaian yang luar biasa. Pencapaian apa lagi yang kamu inginkan Na?”.

__ADS_1


Beena berjongkok dan menempelkan pipi di pangkuan ibunya. Merasakan kesedihan mendalam melihat kekhawatiran mereka pada anak bungsunya. Lalu menatap ibu sambil menggenggam tangannya dengan erat.


“ Bu, izinkan Beena menyelesaikan kontrak dulu. Satu tahun lagi, Beena janji setelah kontrak selesai jika Beena belum menikah Beena ikuti kemauan ayah dan ibu”.


“ Selama satu tahun kamu mau menunggu seseorang?” tanya ibu.


“ Kamu masih menunggu Akbar ?” tanya ayah dengan geram.


Ayah menganggap Akbar bukan orang yang tepat, saat mengetahui cerita dari mas Arief perihal menghilangnya Akbar dari kabar setelah berjanji menemui Beena di Hilton hotel beberapa tahun silam. Apalagi setelah kejadian itu, Akbar tak pernah datang ke rumah padahal rumah mereka masih dalam satu kota yang sama.


“ Tidak bisa laki-laki lainkah Na?


Beena tak langsung menjawabnya, sorot mata Beena tak bisa berbohong meski ia tak memberikan penjelasan perihal itu.


“Kalau Akbar sudah punya wanita lain bagaimana?” sambung ibu.


Beena tersenyum , “ Laki-laki manapun akan Beena terima bu, tapi nanti setelah aku ketemu mas Akbar dan menjawab hutang lamarannya dulu”.


“ Jadi kalau kamu kami jodohkan dengan Nizar, kamu terima?” tanya ayah.


“ Mas Nizar anaknya om Zulfa?”


“ Kamu masih ingat Nizar, Na? Ibu tersenyum berharap kali ini Beena menyetujui tindakan perjodohan ini.


“ Masih lah, anak om Zulfa yang gendut dan rambut klimis itu kan?”


“ Eits...jangan salah Na! Nizar sekarang sudah jadi dokter ga gendut dan gak klimis lagi” goda ayah.


Melihat Beena dan ayah sudah tak bersitegang lagi, ibu tersenyum lega.


Tapi mata ibu tiba- tiba berkaca- mengingat nasib anaknya yang selalu ingin terlihat mandiri, supel, humoris dan karir cemerlang berbanding kebalik dengan urusan asmaranya. Ibu merasa sedih mengingat perjuangan asmara Beena belum mencapai finish.


Bukan tanpa usaha, Beena sering mencari informasi dari teman-temannya yang dekat selama kegiatan kepanduan dulu tapi masih nihil. Hanya satu yang belum Beena lakukan yaitu berkunjung ke rumah Akbar. Selain jadwalnya memang padat, Beena sendiri malu jika harus datang ke sana mengingat ia tidak mengenal secara dekat keluarga Akbar.


Ia hanya pernah berkunjung sekali kerumah Akbar, itu pun rame-rame bersama teman pramuka. Waktu itu mereka memberikan kejutan di hari kelahiran Akbar ke 19 yang jatuh pada tanggal 20 Oktober.


Dan jikapun pada akhirnya Beena harus menerima perjodohan, ini bukan hal yang terlalu buruk. Meski bukan jaman Siti Nurbaya lagi, setidaknya ia tahu bahwa orang tuanya menginginkan yang terbaik buat anaknya.


Lagi pula, Nizar bukanlah orang baru yang harus ia kenal, karena Nizar anak dari sahabat ayahnya semasa kuliah. Secara nasab, tentu ayahnya lebih mengetahui ukuran kekufu’an perihal perjodohan ini.

__ADS_1


***


__ADS_2