Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Mencari si pemilik suara merdu


__ADS_3

Seperti biasanya, dari pagi hingga siang Beena melaporkan secara live informasi terupdate para korban. Sebagai news anchor, paras cantik di tambah hijab yang menutup auratnya menambah keanggunannya.


Selama menghadapi para korban membuat terbawa suasana. Kadang ia sampai tak bisa menahan air matanya meski sedang live sekalipun.


Penampilan dan gaya pembawaan Beena yang ditonton jutaan pasang mata seluruh Indonesia membuat ia menjadi terkenal.


Ayah dan ibu cukup terobati melihat kabar anak bungsunya dari layar tv. Sebab selama Beena berada di tanah rencong, mereka tidak bisa menghubungi Beena dengan mudah.


Beena meraih ponselnya yang tersisa dengan baterai dua strip saja. Semenjak aliran listrik terputus, Beena dan relawan lain harus benar-benar memanfaatkan arus listrik dengan cermat.


Pasalnya, untuk mengisi baterai saja mereka harus pergi ke posko bakornas PBP.


Tut...Tut...


Panggilan keluar oleh Beena ditujukan untuk ayahnya.


setelah mengucapkan salam, Beena melepas kerinduan pada laki-laki yang selalu jadi cinta pertamanya.


" Assalamu'alaikum"


" Alaikumussalam. " Dengan semangat ayah menjawab salam dari seberang"


" Alhamdulillah, ayah bisa dengar suara kamu Na". Lanjut ayah.


"Ayah sama ibu sehat?"


"Alhamdulillah, sehat. Kamu?


"Beena di sini juga sehat, Yah"


Ibu yang baru saja melaksanakan shalat Dzuhur bergegas mendekati ayah, Mendengar nama Beena yang diucapkan ayah, ibu langsung merebut handphone yang sedang ayah pegang.


" Ya Allah Na, ibu seneng lihat kamu di tivi. Dan lebih bahagia lagi denger suara kamu sekarang"


" Alhamdulillah itu berkat doa ibu yang tak henti"


Baru beberapa menit melakukan panggilan, baterai ponsel Beena sudah memberikan peringatan.


" Bu, maaf. Baterai ponsel Beena sudah limit. Di sini agak susah buat nge-charge Bu".


"Iya, iya ibu ngerti. Kapan-kapan bisa telpon lagi kan?"


"Insyaallah Bu "


"Jaga kesehatan ya Na"


"Iya Bu, Beena tutup telponnya ya? Assalamu'alaikum"


" Wa'alaikumussalam"


Sambungan terputus, meski hanya beberapa menit saja nyatanya itu mengobati kerinduan Beena pada orang tua yang sangat ia sayangi.


Beena mengajur napas.


Dari arah lain Bimo berjalan ke arah Beena. Dengan wajah yang lesu dan tampak sedikit berantakan.

__ADS_1


“ Bim, pastikan jaga kesehatanmu ya “ Beena merapikan barang bawaannya.


“ Jadi pulang hari ini mbak? Terus aku sama siapa?”


Bimo sedikit sedih jika harus berpisah dengan Beena, sikap introvert Bimo yang membuat ia hanya nyaman dengan orang-orang tertentu saja membuat ia gusar, ia merasa tidak memiliki siapa-siapa kecuali Beena.


Selama berpartner dengan Beena, Bimo merasa senior yang satu ini adalah sosok teman yang keibuan. Kasih sayang seorang ibu yang selama ini tidak ia dapatkan. Bisa ia rasakan dengan berinteraksi dengan Beena.


Apalagi di Aceh, ia benar-benar merasakan perhatian seorang kakak perempuan yang sangat ia dambakan. Bimo adalah anak sulung dan memiliki satu adik perempuan. Itu pun, hubungan mereka tak harmonis.


Bimo selalu menjauhkan diri dari ibunya, karena merasa ibunya adalah orang yang kejam lebih memilih ayah tirinya ketimbang Bimo. Dan bersama Beena rasa insecure Bimo mulai terkikis.


“ Tenang saja, nanti ada mbak Vero. Kata bang Billy, mbak Vero sedang dalam perjalanan ke sini”


Beena berjalan mendekati Bimo, menepuk bahunya.


“ Semangat, jaga kesehatan”.


Bimo terpaksa tersenyum menyembunyikan kesedihannya ,


“ mbak, boleh aku memelukmu?” tanya Bimo ragu.


Beena tersenyum, lalu menggeleng dan hanya membalas dengan menggenggam tangan Bimo.


“ Kamu laki-laki hebat, aku yakin kamu kuat.”


Beena melepaskan genggamannya lalu menepuk-nepuk bahu Bimo.


“ Ganbatte”


Heli milik TNI AU mengantarkan Beena dan wartawan lain yang akan kembali menuju Jakarta.


***


Malam ini, Akbar dan Yoseph selesai melaksanakan tugas lebih awal. Akbar duduk di depan posko sambil memandang ke arah posko anak-anak diseberang.


“ Ngelamun bang...” Yoseph menepuk bahu Akbar.


Yoseph mengarahkan pandangan ke posko anak-anak, tak ada yang berbeda. Seperti biasa ada relawan yang sedang menghibur anak-anak sebelum jam tidur.


“ Kamu ingat lagu kemarin?” tanya Akbar.


Yoseph menggaruk kepalanya tak gatal, makin tak mengerti arah pembicaraan Akbar.


“ Doraemon?” tanya Yoseph


“ Iya, malam ini tak ada lagu itu lagi”


“ Bagaimana kau ini bang, pasti ganti lagu lah. Biar anak-anak ga bosen”


“ Bukan, bukan lagunya. Tapi suaranya, dua hari ini aku tak mendengar suara merdu itu”.


“ Jangan bilang abang naksir sama cewek suara merdu itu” Yoseph terkekeh.


“ Lagian bang, Kak Mary mau dikemanain. Dia itu cantik, baik, anak jenderal pula”

__ADS_1


“ Aku dan Mary itu cuma teman bro. Lagi pula, aku masih nunggu jawaban Beena”.


“ Jadi selama abang pulang kemarin abang belum ketemu juga?”


Akbar menggeleng, lalu beranjak dari tempat duduknya.


Dengan ekspresi melongo, Yoseph tak percaya.


" Ah...kau ini bang, payah sekali!"


Akbar berdiri mendekati tiang penyangga tenda, memandang langit Aceh yang gelap dan mendung, sepertinya akan turun hujan lagi malam ini. Sambil melipat kedua tangannya ia mulai bercerita.


" Aku mendatangi rumahnya, tapi ternyata dia dan keluarganya sedang berada di Jogja"


Yoseph berdiri dan berjalan mendekati Akbar. " Sungguh tragis nasib cinta kau bang" Yoseph menepuk bahu Akbar berulang.


“ Kamu tau, cewek doraemon itu? suara dia itu mirip suara Beena”


" Bang, di dunia ini banyak manusia yang mirip. Abang tahu penyanyi Nadi Baraka? suara dia mirip bang Haji Rhoma Irama!"


" Entahlah, tapi aku meyakini suara si Doraemon itu adalah suara gadis yang sama. Gadis yang aku cari"


Akbar lalu berdiri dan meninggalkan Yoseph.


“ Mau ke mana bang”


“ Aku mau cari tahu pemilik suara merdu itu!” teriak Akbar berlari kecil menuju posko ditengan rintik hujan.


Sesampainya di posko anak-anak, Akbar menyapu pandangannya ke segala arah. Tak ada wajah yang ia kenali.


Tak ada Beena di sana.


" Permisi mbak " ucap Akbar pada salah satu relawan.


"Iya, ada apa ya mas?"


"Saya mau cari wanita yang suka menghibur anak-anak di posko"


"Maksud mas, siapa ya? soalnya disini banyak personil dan kita bergilir menghibur anak-anak".


" Hm...beberapa hari yang lalu saya dengar suara relawan menyanyikan lagu Doraemon. Saya mencari orang yang menyanyikan lagu itu. Mbak kenal siapa dia?"


" Aduh maaf mas, saya baru sehari di sini. Dan tidak kenal secara personal satu persatu semua relawan di sini".


Dengan muka lesu, Akbar berlalu. Tapi bukan Akbar namanya jika harus menyerah begitu saja. Ia tak pernah putus asa dalam hal apapun.


Akbar terus mencari informasi tentang orang yang sering menemani anak-anak di malam hari. Ia bertanya pada relawan yang lain, meski belum merujuk pada sosok Beena.


Setidaknya ia mendapatkan kabar yang lebih meyakinkan Dari informasi dikatakana bahwa orang yang dimaksud adalah seorang reporter perempuan dari salah satu stasiun televisi terkemuka.


Seseorang menunjukan kameramen yang sering bersama dengan sang news anchor. Karena hari sudah larut dan hujan tak kunjung reda, Akbar memutuskan untuk menghentikan pencariannya.


" Maryam Tabeena , sampai kapanpun aku tetap mencarimu. Akan ku pastikan, aku akan menemukanmu dan meminta jawabanmu" ucapnya dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2