
Pukul 09.00 tepat pak Rahmat, supir keluarga Beena sudah memasuki halaman rumah. Semenjak ayah Hadi pensiun, mas Zaky melarang ayahnya untuk mengendarai mobil sendiri.
Maka pak Rahmat yang bekerja sebagai sopir di butik yang sekarang dikelola mbak Naely harus membagi waktu disela-sela kesibukkannya mengantar barang.
Kedatangan pak Hadi dan bu Halimah sudah dinantikan si kembar Hassan-Husein yang tak sabar bertemu obanya yang hampir satu tahun ini tidak berjumpa, bahkan lebaran saja tidak bisa pulang.
"Assalamu'alaikum"
" Wa'alaikumussalam"
Jawab bi Sumi yang saat itu sedang menjemur lap dapur yang habis dicucinya. Dilihatnya, ternyata juragannya yang mengucapkan salam.
" Oalah, bapak kalih ibu tho" Bi Sumi bergegas menuju ruang keluarga untuk memberitahukan kedatangan eyangnya sama Hassan-Husein.
" Mbak Naely, bapak sampun rawuh ".
Naely yang saat itu berada di rumah mertuanya, sengaja berkunjung karena di kabari jika ayah dan ibu mertuanya pulang hari ini.
"Hassan-Husein, eyang udah nyampe tu. Kita ke depan yuk"
Mendengar kedatangan eyangnya si kembar langsung berlari menuju halaman rumah.
"Eyaang..." keduanya berlari sambil memeluk Pak Hadi dan Bu Halimah.
“ Oba Beena mana yang?” tanya Husein sedikit kecewa saat tak mendapati orang yang dimaksud.
“Oba masih di Jogja, kemarin oba pulang kesini tapi cuma sehari. Hassan sama Husein lagi sekolah”. Jawab bu Halimah.
"Yah, obanya gak ikut pulang" jawab Hassan dengan lesu.
"Oba Beena masih ada kerjaan di Jogja jadi belum bisa pulang ke Semarang le" jawab Bu Halimah.
“ Hassan –Husein ayo bantu eyang bawa oleh-oleh” seru pak Hadi sambil menyerahkan beberapa kantong lalu masuk ke dalam rumah.
" Bi, tolong bawakan ini ke dalam ya" titah Bu Halimah.
" Nggeh Bu".
Bi Sumi membawakan bingkisan berisi bakpia pathok.
Hassan dan Husein menenteng beberapa hadiah yang dibelikan Beena.
"Horeee...miniatur becak . Mi..lihat mi becaknya bagus mi" Hassan menunjukkan hadiah yang yang dibelikan Beena pada umminya, Naely.
" itu satunya apa sayang, coba di buka" pinta Naely.
"Wah...kaos Jogja mi. Ada gambar wayangnya mi" kata Hassan.
"Kok gambar wayangnya beda mi, tumben biasanya Oba pasti beliin yang sama" tanya Husein.
" Coba eyang lihat ".
Pak Hadi membandingkan dua gambar tokoh wayang dalam kaos Hassan dan Husein.
"Oh...ini tokoh Nakula dan Sadewa le".
__ADS_1
Bu Halimah berjalan mendekati kedua cucunya, lalu duduk di kursi ruang keluarga tak jauh dari Hassan dan Husein yang memilih duduk di karpet tebal depan televisi.
"Itu tokoh wayang kembar putra Prabu Pandu Dewanata dan Dewi Madrim" kata eyang kakung.
" Oh iya, Oba Beena pernah janji mau menceritakan kisah Nakula dan Sadewa sama Husein"
" Iya bener, sama Hassan juga"
" Benar kah?" kata eyang putri.
" Bener yang ti " jawab Husein dengan semangat.
" Kalo oba Beena udah janji pasti besok-besok ditepati" kata Naely yang datang dari arah dapur sambil membawakan teh panas yang di buat bi Sumi, sebagai pasangan menyantap bakpia pathok khas Jogja.
Ibu sedang asyik memperhatikan Hassan dan Husein bermain miniature becak dengan memakai kaos bergambar Nakula-Sadewa.
"Teh nya diminum dulu pak, Bu"
Naely meletakkan teh di atas meja.
" Terima kasih , Nel"
“ Gimana butik di Jogja bu?Beena mau mengelolanya?” tanya Naely.
Ibu menggeleng lalu mengambil bakpia yang tersaji di meja ruang keluarga.
“ Sepertinya Beena masih betah kerja di tv, coba kamu kapan-kapan bujuk Beena” pinta ibu.
“ Insyaallah bu, tapi Naely gak jamin. Soalnya Beena sangat menikmati pekerjaan itu”
Lagi pula butik tidak terlalu jauh dari rumah Nizar.” Jelas ayah.
Menikah?Nizar? Naely tidak begitu memahami maksud perkataan ayah mertuanya. Naely memang tidak begitu tahu tentang asmaranya Beena. Selain karena jarang bertemu, Beena memang tak pernah membahas urusan asmaranya dengan keluarganya.
“ Menurut ayah, apa Beena mau dijodohkan sama Nizar?” tanya ibu.
“ Ibu lihat sendiri kemarin selama di Jogja. Nizar dan Beena terlihat serasi, mereka juga sudah dekat sejak kecil. Dan ayah kenal betul sama Nizar. Bibit, bebet, bobot keluarga Nizar tidak diragukan lagi karena ia adalah anak sahabat ayah sendiri”
“ Apa tidak sebaiknya kita tanya Beena dulu yah, kira-kira mau tidak dia dijodohkan” sanggah ibu.
“ Perjodohan bukan hal yang buruk kan bu? lihat contohnya Naely dan Zaky. Mereka hidup bahagia” ayah yang tak mau kalah sambil melirik ke arah Naely.
Ya, Naely dan Zaki menikah dari hasil perjodohan antara keluarga pak Hadi dan pak Bagio yang sama-sama orang Semarang.
Keluarga Pak Hadi dan pak Bagio kenal bermula ketika mereka manasik haji. Kebetulan berada di kelompok jama'ah manasik yang sama.
Silaturahmi berlanjut hingga selesai menunaikan haji, sering ada acara pertemuan rutin jami'ah anggota haji kloter tersebut. Dan akhirnya berujung pada perjodohan antara Naely dan Zaki.
Naely yang kebetulan lulusan tata busana sangat cocok jika mengurus butik milik Bu Halimah.
Pak Hadi sebetulnya bukan orang tua yang kolot, yang suka menjodoh-jodohkan anaknya tanpa sebab. Namun karena hingga usia 30tahun Zaky belum memiliki pasangan, akhirnya pak Hadi memutuskan untuk mencarikan calon istri untuknya.
Lain halnya dengan Arief dan Raya. Mereka bukan hasil perjodohan. Mereka kenal saat menempuh kuliah S2 di universitas yang sama. Kala itu mereka sama-sama mendapatkan beasiswa di ITS Surabaya.
Dari situ Naely baru mengerti, jadi keperian mertuanya ke Jogja bukan sekedar mengantar Beena kerja dan menengok butik saja. Melainkan untuk urusan besar, menjodohkan adik iparnya dengan laki-laki yang berprofesi sebagai dokter putra dari sahabat mertuanya.
__ADS_1
Mendengar pembicaraan majikannya tentang Beena, dari dapur bi Sumi datang menghampiri mereka.
“ Ngapunten pak, bu beberapa hari yang lalu ada mas Akbar datang ke mari”
Dengan sedikit ragu bi sumi menyampaikan. Bi Sumi takut dikira menguping pembicaraan majikannya.
“ Kapan bi?” tanya ibu.
“ Dua hari setelah ibu sama bapak di jogja”
“ Terus Akbar bilang apa bi?”
ibu semakin penasaran.
“ Tadinya minta nomer hp bapak atau mbak Beena, tapi bibi kan gak tau bu. Ya sudah akhirnya bibi menyuruh mas Akbar datang lagi setelah ibu kembali dari Yogya”.
“ Nah lho, gimana itu yah?” tanya ibu.
Ayah memijit keningnya , “ lihat nanti saja bu”.
Kabar kedatangan Akbar ke rumah Beena tentu saja membuat ayah gusar. Bisa jadi perjodohan yang sudah direncanakan tidak berjalan lancar .
***
Sementara, mendapati Akbar tempo hari yang diam-diam memesan bros inisial namanya membuat Mary semakin merasa senang.
Setiap selesai urusan pekerjaannya Mary selalu datang ke rumah Akbar. Bahkan kebersamaan mereka mendominiasi setiap harinya. Membuat Akbar lupa jika ia ingin mencoba mengunjungi lagi rumah Beena sebelum berangkat ke Jakarta.
“ Bar, kamu balik ke Jakarta lagi kapan?”.
“ Rencananya lusa, kenapa ?”
“ Kita berangkat bareng yuk?”
“ Aku pake kereta lho” Akbar sedikit ragu menyampaikannya. Sebab ia tahu, Mary tak begitu suka sama kereta kelas eksekutif sekalipun.
“ Kenapa gak pake pesawat aja Bar”
“ Aku sudah memesan tiket” kata akbar sambil menunjukkan tiket yang sudah dipesannya sejak seminggu yang lalu.
Dengan sedikit kecewa Mary menghembuskan nafasnya kesal.” Ya sudah, aku ikut pake kereta deh” akhirnya Mary mengambil keputusan.
“ Gak usah maksain hal yang kamu tidak suka, itu ga bagus”.
“ Asal sama kamu, tak apalah”
Mendengar jawaban Mary, Akbar curiga. Menatap Marry semakin dalam.
“Hm...aku cuma ga mau sendirian di perjalanan” Mary menjelaskan masih malu-malu jika harus menyatakan perasaannya.
Akbar lega mendengar penjelasan Mary, “ Ya sudah, nanti kita pesan tiketnya”.
Akhirnya mereka memutuskan untuk ke Jakarta bersama.
***
__ADS_1