Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Waktu Berkunjung ke Pacar


__ADS_3

Sementara di Semarang, Akbar yang sudah dua hari menikmati cutinya sudah tak sabar untuk berkunjung ke rumah Beena.


“ Pagi-pagi kok sudah rapi, mau kemana Bar” tanya Bunda Ramy.


“Akbar mau ke rumah Beena bun” jawab Akbar sambil merapikan pakaian yang ia kenakan.


" Gak sarapan dulu?"


" Sarapan di rumah calon mertua aja" Akbar membungkam mulutnya sambil terkekeh.


“ Oalah...ada yang mau wakuncar to. Saking kangennya rela nahan laper ” bunda tersenyum.


" Udah cakep belum Bun?“ tanya Akbar pada bunda dengan memutar badannya bolsk balik ke arah yang berbeda.


Kali ini Akbar menggunakan kaos berlogo marinir dan celana jeans menambah pesona kegantengannya naik tiga puluh persen.


" Anak bunda memang paling ganteng" jawab bunda sambil mengangkat kedua jempolnya.


" Ya iya lah, wong anak bunda yang ganteng cuma Akbar ".


Akbar meraih Pomade dan meratakan di telapak tangannya. Lalu mengusap perlahan di rambut cepak model 321-nya.


Dari postur tubuh dan gaya rambut saja sudah terlihat jika Akbar adalah seorang anggota TNI. Tentu tidak terlalu sulit mendapatkan cinta perempuan .


Sayangnya, rasa cintanya sudah habis untuk gadis bernama Maryam Tabeena.


Gadis yang sudah empat tahun tidak pernah ia jumpai, setelah terakhir Akbar melihat Beena di Bandung sebelum akhirnya benar-benar berpisah. Mereka berpisah tanpa ada kata perpisahan, itu yang menyesakkan dadanya.


Kini, akan ia buktikan dihadapan Beena dan keluarganya jika ia kembali.


Seperti mentari pagi yang kembali dengan segala keindahannya, setelah gelap malam menyelimuti kepergiannya.


"Ya..ya.. bawa kesini secepatnya Bar”


“ Doain ya bun, Akbar pergi dulu” Akbar mencium tangan Bunda Ramy.


Dengan menggunakan motor Honda Mega Pro, Akbar pergi menuju rumah Beena.


Dua puluh menit perjalanan dari rumahnya menuju rumah Beena.


Sesampainya di sana, nampak rumah Beena yang sepi seperti tak berpenghuni. Karena terlihat tidak terkunci, Akbar tetap mengetuk dan melanjutkan salamnya hingga tiga kali.


Tok...


tok...


" Assalamu'alaikum..."


" Kulo Nuwun... assalamu'alaikum "


Sampai dengan salam kedua, belum ada tanda-tanda penghuni"


Huh...coba sekali lagi, kalau sampai salamnya tak ada yang jawab ya...pulang . Akbar membatin.


"Assalamu'alaikum"


Ceklek...


“Wa’alaikumussalam” bi Sumi membukakan pintu.


“ Mas...nganu ya...eh...siapa ya...”


Bi Sumi susah payah mengingat-ngingat wajah pemuda yang pernah dilihatnya beberapa kali.


“ Akbar, bi. Saya Akbar temannya Beena”


“ Oh ya mas Akbar. Hampir saja lupa, habis mas Akbar lama ga kesini.”

__ADS_1


Akbar dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu.


“ Kok sepi bi, pada ke mana?”


“ Nganu mas, bapak sama ibu lagi nganter mbak Beena ke Jogja. Dua hari yang lalu”.


“ Beena kuliah S2 di jogja bi?”


“ Ga mas, mbak Beena ada kerjaan di sana”


“ Bi Sumi punya no Hp Beena?”


Akbar meraba kedua saku celananya mencari handphone-nya.


Sial, hpku pasti ketinggalan di rumah!. Akbar mendengus kesal.


“ Aduh, mas maaf. Bibi gak punya. Bi Sumi itu gaptek, di rumah sini cuma bisa angkat telpon rumah saja”


“ Ya sudah gak apa-apa bi, oh ya kapan pak Hadi atau Beena pulang?”.


“ Kurang tahu mas, soalnya bu Halimah kan punya butik di Jogja. Tapi kalo mbak Beena katanya kerjaannya 2 minggu-an gitu. Mas nya kesini lagi aja dua minggu lagi”


“ Yah...saya cuti cuma dua minggu bi, dan harus kembali lagi ke Jakarta”. Akbar nampak kecewa.


"Oh ya,mas Akbar mau minum apa? bibi sampe lupa."


" Gak usah bi, terima kasih.


Kalau begitu saya permisi ya bi, sampaikan kedatangan saya sama Beena atau Pak Hadi jika mereka sudah pulang” .


“ Iya mas..”


" Pareng bi " Akbar membungkukkan badan.


"Nggeh mas, atos-atos "


Akbar langsung pamit, melajukan motornya meninggalkan rumah Beena. Dan langsung kembali ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Akbar membantingkan tubuhnya di atas sofa.


Bunda yang sedang menyiram bunga di depan rumah segera menyusul Akbar, masuk ke dalam rumah.


“ Lho kok mukanya lesu gitu?” tanya bunda Ramy.


“ Rumahnya sepi bun ".


" Gak ketemu lagi? " Bunda duduk di samping Akbar.


Akbar menggeleng lemas, memejamkan matanya untuk beberapa saat.


" Cuma ketemu sama bi Sumi. Katanya lagi ke Jogja” jawab Akbar malas.


“ Kamu ga tanya alamat di Jogja? Kan bisa kamu susul ke sana sambil liburan”.


“ Oh iya ya kenapa ga kepikiran tadi, tapi...” gumam Akbar dalam hati.


“ Gak bun, wong tanya nomor hp-nya saja Bi sumi ga tahu, apalagi alamat” Akbar meyakinkan.


" Terus kamu juga gak ninggalin nomor hp-mu sama Bi Sumi?"


" Nggak bun" jawab Akbar menyesali kebodohannya.


“ Ya sudah lain kali kan bisa, masih banyak waktu."


Bunda berdiri menuju wastafel. Melirik hp Akbar yang di taruh di atas kulkas, Bunda jadi ingat hp Akbar yang berdering entah berapa kali.


Bunda sempat mengangkat panggilan terakhir, dari Mary. Namun saat di angkat ternyata sudah tidak ada jawaban,mungkin karena terlalu lama tidak diangkat.

__ADS_1


" Oh ya hp-mu gak dibawa?tadi ada telpon dari Mary”.


“Mary? Ada apa dia telpon bun?”


“ Mana bunda tahu, telpon balik gih” pinta Bunda Ramy.


Dulu, Akbar tak menyangka jika dia akan diminta menjadi ajudan pribadi salah satu anak atasannya,Jendral Bram.


Belakangan akhirnya dia tahu jika ia harus menjadi ajudan dari wanita yang membuat handphone-nya rusak.


Ya, Mary adalah orang yang ia tabrak di hotel kala itu. Dan Mary anak seorang jenderal yang ia kagumi dan banyak membantunya.


Meski hanya 4 bulan saja Akbar menjadi seorang bodyguard, nyatanya komunikasi tak kemudian berhenti di situ saja. Mary semakin menunjukkan perhatiannya setelah Akbar tidak menjadi bodyguardnya.


Bahkan Mary tak segan membantu Akbar saat ia menempuh S1 disalah satu universitas swasta di Jakarta , disela-sela kesibukan Mary sebagai manager executive di hotel group milik kakek dari maminya.


Akbar beranjak dari sofa.


Diambilnya hp di atas kulkas, mencari daftar missed call. Benar saja ada 5 panggilan tak terjawab dari Mary.


Tut...


Tut..


Dari seberang Akbar menunggu panggilannya diangkat oleh Mary.


“ Hallo , Bar”


“ Tadi telpon? Maaf aku lagi di luar”


“ Iya gak apa-apa. Eh, aku lagi di Semarang. Bisa ketemuan gak?”


“ Serius?”


“ Iya, aku lagi di hotel Ciputra ni”.


“ Ok, aku ke sana ya. Sekitar 40 menit-an dari rumahku”


“ Aku tunggu, bye”.


Sambungan terputus.


Akbar langsung menuju garasi, ia memilih sebuah sedan Soluna GLi untuk menemui Mary ketimbang menggunakan motor.


Akbar berncana mengajak Mary mengunjungi rumahnya. Mary yang notabene anak seorang pejabat tentu tidak cocok jika harus merasakan panasnya kota Semarang.


Ini adalah kali pertama Mary berkunjung ke Semarang. Dan sebagai teman dan mantan atasan tentu saja Akbar harus memperlakukannya dengan baik selama berada di kotanya. Apalagi Mary adalah anak atasannya, orang yang banyak membantunya di kesatuan.


Sebelum membawa Mary berkeliling Semarang, ia akan membawanya ke rumah. Tentu bunda akan senang bertemu dengan Mary.


Drttt...drtttt...


Sebuah pesan masuk, Mary tak sabar membacanya berharap jika itu sms dari Akbar. Benar saja, mata Mary bersinar-sinar melihat Akbar si pengirim pesan itu.


“ Mar, aku sudah di parkiran hotel nih"


Dengan cepat, Mary mengetik balasan.


" Cepet amat? Pakai shukoi?"


"Semarang bukan Jakarta non, gak macet!"


"Kamu di mana?"


“ Aku di Lounge bar”


"Ok, otw Loung bar" balas Akbar.

__ADS_1


***


__ADS_2