Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Akhirnya,I'm engagaged


__ADS_3

Pagi hari setelah sarapan , Beena menuju posko tempat Bimo istirahat. Di sana ada bang Billy, Bimo dan Nizar.


“Pagi bang “


Sapa Beena lalu duduk di dekat Billy yang sedang sarapan.


“ Udah sarapan, Na?” tanya Billy.


“ Sudah bang. Bimo mana?”


“ Noh, lagi antri ambil sarapan sama Nizar juga”


“ Gimana kemarin ?”


“ Apanya bang?” Beena tak mengerti maksud Billy.


“ Reuni sama si baret ungu”


“ I’m engaged “ Beena sumringah sambil menunjukkan bros cantik dari Akbar.


“ Wah, aku kesalip. Ya Tuhan jangan biarkan hamba lama-lama menjomblo” kata Billy dengan gaya menggoda.


“ Udah ah, gak asyik bahas ginian menjelang kerja” potong Beena.


Bimo dan Nizar bergabung dengan Beena.


“ Assalamu’alaikum mas”


“ Alaikumussalam, ceria bener kamu Na” jawab Nizar.


Beena menjawab pernyataan Nizar dengan senyum manisnya.


“ Oh ya Bim. Jadwal kita liputan sampai sore kan?”


“ Iya mbak, nanti kita ke lokasi PT Andalas dan lokasi kuburan masal dengan acara live tiap dua jam sekali” jawab Bimo.


“ Kenapa mbak? Ada janji?”


“ Nggak, sih. Cuma memastikan jadwal saja" , balas Beena.


" Oh ya mas, katanya ada yang mau di omongin. Mungkin kita bisa ngobrol saat aku free pas jam makan siang, gimana?” .


" Hm...jam makan siang ya?" kata Nizar sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja . Memastikan jika waktu yang akan dipilih menjadi waktu yang tepat untuknya mengutarakan isi hatinya.


Memastikan jika semuanya akan berakhir indah seperti apa yang Nizar bayangkan.


" Kalau mas Nizar sibuk, kita cari waktu lain. Setelah saya menemani anak-anak di malam hari, misalnya?"


" Nggak,nggak...jangan malam."


Dengan cepat Nizar menjawab.


" Kasihan waktu istirahatmu kurang nanti. Ya sudah, nanti pas makan siang aku samperin kamu ya?".


" Oke, aku tunggu di jam makan siang ya"


Jawab Beena sambil melihat jam, memperhitungkan berapa waktu yang harus ia siapkan disela-sela jadwal yang sangat padat.


Beena memang sosok yang disiplin dan matang dalam hal perencanaan. Itu yang menyebabkan rekan-rekan kerjanya senang berpartner dengannya.


Selesai sarapan, mereka berpisah dengan kegiatan masing-masing.

__ADS_1


Beena melakukan tugasnya bersama Bimo, setelah berkeliling area bencana lalu ia menyusun skrip untuk menjadi bahan teks news anchor yang akan ia bawakan secara live.


Selama memburu berita, dan harus live pula. Beena tak pernah menyentuh hp-nya bahkan sekedar sms Akbarpun tidak bisa ia lakukan. Dia benar-benar menggunakan waktunya untuk berkonsentrasi. Setelah selesai semua tugasnya tepat menjelang waktu istirahat makan siang tiba, Beena menyempatkan untuk menghubungi Akbar.


Tutt...tutt...


“ Assalamu’alaikum mas”


“ Alaikumussalam, kamu di mana bee?”


“ Masih di lokasi liputan mas? Gimana kakinya udah baikan?”


“ Alhamdulillah, jaitannya sudah mengering”.


“ Ok, take care ya mas. Oh ya aku mau makan siang dulu, aku tutup telponnya ya!”


“ Ok, miss you Bee”


Bagi Beena tak ada waktu untuk main-main, menjaga komunikasi penting namun harus to the point. Ia menggunakan waktunya seefisien dan seefektif mungkin untuk hal-hal yang bermanfaat. Termasuk menghubungi orang-orang terdekatnya pun harus efektif, jangan sampai waktunya terbuang sia-sia.


Setelah sambungan terputus, Beena teringat dengan janjinya pada Nizar. Ia mengetikkan kalimat dalam handphone-nya lalu segera mengirimkan messenger pada Nizar.


“ Mas Nizar lagi sibuk? Aku ada waktu sekitar 40 menit di jam makan siang”


“ Ok, aku ke sana”


“ Sip, tapi aku shalat dzuhur dulu ya, keburu habis waktunya”


“ Ok”


Sambil menyantap jatah makanan yang sudah kelewat waktu makan siang. Nizar menghampiri Beena yang sedang berada disebuah bangku panjang. Ia nampak sendirian, sedangkan Bimo berada jauh dari tempat Beena makan.


" Na..." sapa Nizar sambil melambaikan tangan lalu berlari kecil menuju ke arah Beena berada.


“ Maaf mas, saya sambil makan ya? Udah makan mas?”


“ Iya gak apa-apa Na, Aku udah makan tadi di posko”.


Nizar sedikit salah tingkah, dan bingung mengawali pembicaraannya.Untuk beberapa saat tak ada obrolan di antara keduanya.


" Katanya ada yang mau mas omongin?" tanya Beena memecah suasana kaku yang dialami Nizar.


Akhirnya Nizar mengawali pembicaraannya, “ Dua hari lagi aku pulang Na. Dan sebelum pulang aku mau menyampaikan sesuatu sama kamu”.


“ Apa ya mas, kayaknya penting banget” ujar Beena sambil menyantap nasi bungkus dengan lahap.


“ Na, setelah kamu pergi dari Jogja. Banyak hal yang aku sadari. Ditambah saat bertemu pertama kalinya sama kamu disini tapi harus berpisah lagi karena kamu balik ke Jakarta. Dan mendengar kamu kembali lagi ke sini, aku merasa ada sesuatu yang terjadi dengan perasaanku. Apalagi orang tua kita sudah sangat berharap lebih dengan hubungan kita.


Adrenalinnya tiba-tiba memacu dengan begitu cepat hingga terasa sesak. Nizar menghela nafas sebentar, memastikan jika oksigen benar-benar masuk ke saluran pernafasannya.


"Na, aku mencintaimu dan aku rela untuk menunggumu”.


Uhuk....mendengar penjelasan panjang lebar dari Nizar dengan ending deklarasi cintanya membuat Beena tersedak.


Sontak Nizar meraih air minum yang dipegang Beena. Tangan Beena dan Nizar bertemu di gelas yang sama. Nizar dengan cepat melepas tangannya dan membiarkan Beena meneguk minumannya.


Nizar berdiri lalu beralih posisi tempat duduk hingga bersampingan di bangku yang sama.


"Hati-hati Na" ucap Nizar sambil menepuk-nepuk punggung Beena. Mendapati sentuhan tangan Nizar membuat Beena menarik diri, sedikit bergeser hingga ada jarak diantara keduanya.


Beena menghentikan kunyahannya. Ia melipat bungkus nasi meski masih ada beberapa sendok lagi tersisa.

__ADS_1


Kalimat yang dilontarkan Nizar mendadak membuatnya merasa kenyang.


" Kenapa Na, kok sudah makannya?"


Beena menghela nafas, " aku udah kenyang" jawabnya dengan lirih.


Beena meneguk air di gelas plastiknya sekali lagi, lalu mengambil nafas dengan teratur.


“ Mas, aku pernah cerita kan tentang tujuan menunggu seseorang? Aku berhutang janji menjawab lamaran seseorang” ucap Beena dengan nada yang lembut namun tegas, memberikan pemahaman yang lebih pada Nizar.


“ Aku bersedia menunggumu Na” jawab Nizar memotong penjelasan Beena yang belum selesai ia katakan.


“ Mas, kenapa dulu aku bilang jangan pernah menungguku biarkan takdir menuntun kita. Karena aku tahu rasanya menunggu dengan sabar dan itu tidak mudah! Tapi aku percaya Allah akan menuntun takdirku. Dan kini aku sudah berada di ujung tujuanku. Aku sudah bertemu dengannya, aku sudah menjawab lamarannya, mas”.


Degggg...


Jantung Nizar seperti terhenti, ia merasakan lemas di sekujur tubuhnya.


Sekuat-kuatnya laki-laki tetap saja runtuh pertahanannnya mendengar wanita yang dicintainya ternyata sudah menemukan laki-laki yang dicintainya.


“ Kapan kamu bertemu dan menjawab lamarannya?” tanya Nizar datar.


“ Aku bertemu dia kemarin, dan menjawab lamarannya semalam mas”


“ Bertemu kemarin?” gumam Nizar. “ Maksudmu laki-laki itu ada di sini?”


“ Iya mas, ia ada di sini."


" Siapa dia?" ucap Nizar pelan, namun masih cukup terdengar di telinga Beena.


"Namanya Akbar, Syaiful Akbar mas” jawab Beena dengan nada yang sangat lembut, berharap itu tidak membuat Nizar terluka.


Tak percaya dengan hal yang ia dapati. Nizar harus menerima kenyataan, Marinir yang tempo hari ia kenal ternyata menjadi rival cintanya.


“ Mas, saya minta maaf” Beena menundukkan kepalanya.


Beena dan Nizar membisu untuk beberapa saat. Nizar menghela nafas dan membuangnya kasar memecah keheningan diantara keduanya.


“ Gak apa-apa Na, kamu gak salah. Setidaknya saat pulang ke Jogja nanti aku bisa menjawab pertanyaan Abah sama ummi”.


" Abah sama ummi tanya apa sama mas?" tanya Beena penasaran, namun pertanyaan Beena kali ini tidak dijawab Nizar. Ini membuat Beena merasa semakin tidak enak hati pada keluarga Nizar di Jogja.


“ Sampaikan maaf saya sama abah dan ummi “


“ Mbak , sudah selesai makannya?” tiba-tiba Bimo muncul dihadapan mereka.


Memaksa menyudahi pembicaraan antara Beena dan Nizar


“ Udah, udah kok. Lanjut ngeliput wilayah mana Bim? tanya Beena.


“ Posko Bakornas PBP mbak. Mau presscon data korban ter-update”


Beena beranjak dari tempat duduknya, “ Ok. Mas , aku pamit ya. Assalamu’alaikum”. Lalu ia berjalan meninggalkan Nizar.


“ Alaikumussalam” jawab Nizar lemas.


" Mas dokter, aku juga pamit ya" kata Bimo pada Nizar yang sedikit keheranan melihat mimik muka Nizar yang berbeda dari Nizar biasanya. Ditambah gesture Beena yang tak biasa.


" Mbak Na kenapa? tanya Bimo pada Beena.


Beena tak acuh pada pertanyaan Bimo kali ini. Dengan langkah penuh kebingungan Bimo melempar pandangan pada Beena dan Nizar bergantian.

__ADS_1


" Ah...pusing gue" Bimo menggaruk kepalanya sembarang.


***


__ADS_2