Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Kemarahan Mary vs Kebijaksanaan Jendral Bram


__ADS_3

Pagi hari di kota Lumpia,


Setelah melaksanakan shalat subuh Akbar meraih hp-nya yang tak tersentuh semenjak mengantarkan Beena dan meminta restu calon mertuanya. Betapa kagetnya Akbar membaca sebuah pesan yang dikirim Mary padanya.


Dengan segera Akbar melakukan panggilan, ia harus meluruskan ini semua agar tidak menjadi boomerang nantinya.


Tut...tut..


Mary mengambil hp-nya di atas nakas lalu menempelkan di telinganya.


“ Hallo “ ucap Mary dengan keadaan masih terkantuk.


“ Hi Mar “ sapa Akbar.


Begitu terdengar suara Akbar, Mary langsung terperanjat dan mengembalikan kesadarannya secara penuh.


“ Aku sedang tidak bermimpikan?” jawab Mary.


“ Aku sudah membaca pesanmu, maaf baru sempat menghubungi mu.”


“ Jadi bagaimana dengan perasaan mu?”


Tanya Mary dengan masih pengharapan yang sama jika Akbar memang mencintainya, dan Beena hanya masa lalu.


“ Maaf Mar, aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku sudah memiliki hati yang sudah lama menungguku”.


“ Karena Beena, gadis masa lalumu?”


Akbar terkaget, mendengar nama Beena yang di ucapkan Mary. Dari mana dia tahu Beena. Sedangkan selama ini ia tidak pernah bercerita sedikitpun tentang Beena kecuali padaYoseph.


“ Dari mana kamu tahu Beena?”


“ Tak penting dari mana aku tahu Beena, yang terpenting adalah dia gadis masa lalumu dan aku masa depanmu!”


“ Kamu tidak tahu siapa Beena dan bagaimana berartinya dia bagiku”.


“ Aku tahu Beena, gadis yang memberi hadiah buku Khalid Al Walid di hari ultahmu yang ke 19. Bahkan Aku kenal gadis lulusan sastra jepang itu yang kini sukses jadi news anchor”


“ Kamu kenal Beena? “ Akbar tak percaya.


“ Ya, Aku bahkan beberapa kali bertemu dengannya. Aku juga pernah memakai jasanya sebagai translator.”


Mendengar ucapan Mary membuat Akbar semakin terkaget-kaget dan ia harus mengambil sikap tegas, agar semuanya tak berlarut-larut.


“ Mar, kamu cantik, pintar dan baik. Aku yakin ada seseorang yang jauh lebih baik dariku. Maaf, aku mencintai Maryamku untuk kemarin, hari ini, dan seterusnya.”


Mary langsung menutup sambunganya sepihak, tak kuasa mendengar penolakan dari laki-laki yang ia cintai. Emosinya membuncah, handphone-nya tak ayal jadi sasaran kemarahannya.


“Aaarrarrrrrggghhh....” teriak Mary setelah melempar hp lalu mengacak rambutnya .


Mendengar suara gaduh barang-barang dipecahkan di dalam kamar membuat mami Rosa khawatir.


Tok...tok..


Mami membuka pintu, ia mendapati putri semata wayangnya yang terkulai lemas di bawah ranjang . Rambut acak-acakan, barang-barang berserakan.


“ Mar...” Mami mendekat lalu memeluknya dengan penuh kehangatan.


" Mar, ada apa sayang?" tanya mami dengan tenang.

__ADS_1


Mary tak menjawab, ia hanya menangis. Duduk di salah satu sudut kamar, sembari memeluk kedua lututnya dengan menundukkan kepalanya.


Mami berusaha membujuknya, mengajaknya beranjak dari pojok kamar. Setelah bersusah payah, akhirnya Mami berhasil memapahnya ke tempat tidur.


Lalu mami mengambil segelas air dan memberikannya pada Mary.


Namun sayang, Mary menolak meneguk air yang di bawakan Mami Rosa.


"Mar, minum dulu sayang. Biar kamu tenang, lalu ceritakan pada Mami, apa yang sebenarnya terjadi ".


Mary meneguk sedikit, lalu menjauhkan tangan Maminya yang menuntun gelas dari bibirnya. Memberikan isyarat jika seteguk air sudah cukup bagi Mary.


"Udah sayang?"


Mary mengangguk.


"Cerita sama Mami, ada apa sayang"


Mami mengusap air mata Mary dan menyentuh wajah putri semata wayangnya.


Alih-alih jawaban yang Mary berikan, ia malah menangis lebih kencang.


Mami memeluknya, mengusap punggung Mary sembari meyakinkan jika ia akan selalu berada di samping putrinya.


"Sudah...sudah, jika kamu belum bisa cerita sekarang Mami kasih kamu waktu. Kamu istirahat dulu ya". Kata mami sambil merebahkan Mary, menarik selimut hingga menutupi dada.


Cup...


Mami mengecup kening Mary.


" Istirahat ya sayang, nanti biar sarapannya bibi bawakan ke kamar".


Saat mami beranjak meninggalkan Mary, tiba-tiba Mary menarik tangan Maminya, seolah ia tak mau ditinggal sendiri.


"Kenapa sayang? Cerita sama Mami, biar Mami tahu apa yang terjadi"


Mary semakin terisak, “ Mi, aku ditolak Mi, Mary ditolak Akbar"


Mami duduk kembali dan memeluk Mary.


" Akbar sudah punya wanita lain Mi.” tangis Mery memecah suasana di pagi hari.


“ Sabar sayang, masih banyak laki-laki yang baik”. Ucap Mami sambil mengelus kepala anaknya.


“ Aku cinta Akbar mi, cuma Akbar satu-satunya yang aku inginkan. Bantu aku mi...please!”


"Iya sayang, Mami Papi pasti bantu. Tapi kamu jangan begini. Sarapan dulu ya? Biar bibi bawakan buburnya ke mari"


Bujuk Mami, biar Mary tidak terlihat kacau.


"Bi...bibi" teriak Mami Rosa.


Dengan tergopoh-gopoh bi Minah datang dari arah dapur.


"Iya...bu, ibu manggil saya?" tanya bi Minah.


"Tolong bawakan bubur ke mari"


" Baik bu "

__ADS_1


"Oh ya, sekalian panggilin bapak kesini ya"


"Oh, iya bu. Bibi pamit ke dapur dulu ya bu"


Tak tega rasanya melihat puterinya tersiksa karena penolakan.


" Ada apa bi, ibu lama sekali di kamar Mary" pak Bram tanya sambil menyantap sarapannya.


" Nganu pak, bapak diminta ke kamar non Mary. Sepertinya non Mary tidak enak badan"


Tanpa menyelesaikan sarapannya, Pak Bram beranjak dari ruang makan lalu menuju kamar Mary.


Papi segera menuju kamar Mary, dilihatnya kamar Mary yang biasanya tertata rapi kini sudah acak-acakan.


Papi mendekat ke arah Mary, dengan seksama memperhatikan perbincangan dua wanita yang ia sayangi.


Tak berselang lama, bi Minah datang dengan membawakan semangkuk bubur hangat.


" Ini bu, buburnya"


"Makasih bi" ucap pak Bram.


"Bi, tolong rapikan barang-barang yang berserakan ya?" Ucap Mami.


"Baik bu"


"Pi, bagaimana ini?kasihan Mary" ucap Mami yang dengan telaten menyuapi Mary, meski tak sesendokpun diterima Mary, ia tetap menggeleng. Menolak semua asupan makanan sebagai bentuk protes, agar sang Papi mau membantunya.


“ Pi, lakukan sesuatu untuk putri kita pi” pinta Mami.


Papi mendekat, memegang kedua bahu Mary mengisyaratkan untuk mampu lebih kuat.


“ Papi sayang kamu, apapun akan papi lakukan untuk kebahagiaan kamu. Tapi tidak untuk menghancurkan perasaan orang lain, menghalalkan segala cara”.


Mary menatap tajam papinya, tak percaya jawaban yang diberikan papinya. Ini di luar dugaan, seperti mendapatkan penolakan kedua bagi Mary.


“ Papi percaya kamu bisa melewatinya” ujar papi.


“ Ok, kalau papi ga bisa bantu. Biar Mary membuktikan kemampuan Mary.”


“ Ayo mi, kita berikan waktu untuk Mary menenangkan diri” pinta papi.


Keduanya lalu meninggalkan Mary. Dan Mami masih sangsi dengan Mary, takut terjadi hal-hal yang tak di inginkan.


“ Lets play girls, akan ku tunjukan siapa aku!” gumam Mary tersenyum sinis.


Keduanya lalu meninggalkan kamar Mary. Pak Bram merapikan PDH-nya, dan mami berusaha mengecek kelengkapan pakaian suaminya. Sambil berniat membujuk Papi agar mau membantu putri semata wayangnya.


"Pi, apa papi gak kasian liat Mary?"


Papi tidak menangapi ocehan istrinya.


"Bantu Mary kali ini, Pi!"


"Mi, bukan papi gak sayang sama Mary. "Tapi papi menjaga kode etik kesatuan, papi gak bisa kasih perintah untuk bawahan dalam hal ini".


"Papi gak harus kasih perintah, papi cukup minta pengertian Akbar. Siapa tahu Akbar mau dengerin Papi."


"Ya sudah, coba nanti papi bicarakan. Tapi papi gak bisa janji."

__ADS_1


Pembicaraan keduanya berhenti setelah ada kesepakatan jika pak Bram mau membujuk Akbar.


***


__ADS_2