Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Rindu Ajudan Pribadi


__ADS_3

Sepuluh hari menikmati masa cuti, Akbar hanya keluar rumah jika Mary minta diantar jalan-jalan. Menikmati weekend di Simpang Lima, mengunjungi Lawang Sewu dan beberapa tempat yang rekomended untuk dikunjungi selama di Semarang.


Hari ini, Mary meminta Akbar untuk menemaninya ke Mall. Karena tentu saja tempat-tempat yang direkomendasikan Akbar selama ini kurang cocok dengan style Mary yang hoby shoping.


Tut...tut..


Mary menunggu jawaban panggilannya.


" Ya, hallo. Gimana Mar?" tanya Akbar


“ Bar, bisa anter aku ga?” dari seberang Mary menelpon.


“ Kapan?"


" Sekarang Bar, aku bete di hotel terus"


" Maaf, Mar kalo sekarang sepertinya gak bisa. Aku lagi ada acara di luar”


“ Sama siapa?” selidik Mary tak suka.


“ Sama teman SMA “ Akbar menjawab dengan nada datar.


“ Cewek?” telisik Mary lebih jauh dan penasaran.


“ Cowok, kenapa emang?”


Akbar menunggu lama alasan Mary. Jika saja Mary mengatakan perasaannya, tentu Akbar akan mudah menjawabnya bahwa ia sedang menunggu seseorang. Akbar tidak mau menebak-nebak jika Mary benar-benar memiliki perasaan padanya. Sebab Mary yang seorang lulusan Harvard Univerity dan berkarir cemerlang di dunia perhotelan tentu memiliki standard khusus mencari pasangan, tidak mungkin seorang Akbar.


“ Mar...masih disitu?” tanya Akbar memastikan sambungannya masih aktif.


“ Oh ya Bar. Gak, apa-apa". Jawab Mary sedikit kecewa karena penolakan Akbar kali ini.


" Ya sudah aku jalan dulu ya, Bar. Bye”.


" Ok, hati-hati Mar"


Sambungan terputus.


Mary segera mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan hotel menuju sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota Semarang.


Kali ini, Mary benar-benar menemukan dunianya dengan shoping sepuas hatinya .Menghilangkankan rasa penat setelah berkutat dengan segudang pekerjaannya. Meskipun terasa kurang tanpa ada seorang Akbar di sisinya.


Mary jadi rindu, saat-saat kebersamaannya bersama Akbar selama menjadi ajudan pribadinya. Saat dimana ia menghabiskan banyak waktu selalu berdua dengan Akbar.

__ADS_1


Ya, waktu itu. Papinya meminta pengawalan secara khusus untuk putri semata wayangnya dari kejaran paparazi yang disewa seseorang karena terobsesi pada Mary.


Meski hanya empat bulan saja kebersamaan mereka, nyatanya itu sangat berkesan bagi Mary. Siapa sangka, dari empat bulan kebersamaan itu memunculkan benih-benih kekaguman Mary pada Akbar. Hingga akhirnya perasaan cinta tumbuh di hati Mary. Sayang, belum sempat Mary mengungkapkan isi hatinya, Akbar harus berhenti menjadi ajudan pribadinya. Karena saat itu Akbar menerima tugas dari kesatuannya untuk menjadi duta pertukaran tentara se -Asia di negara Malaysia.


Dengan menenteng belanjaan di kedua tangannya, Mary masuk ke sebuah kafe. Mary memilih tempat duduk yang tak jauh dari pintu masuk, sebuah pilihan jitu agar ia bisa cepat-cepat duduk dan meletakkan jinjingannya yang sedari tadi membebani tangan ramping yang putih dan mulus.


" Huh..." Mary mendengus kesal.


" Andai saja Akbar bisa jalan bareng, mungkin gak gini ceritanya" batinnya menggerutu.


" Permisi kakak, mau pesan apa?" sapa pramusaji dengan perawakan ramping dan senyum yang ramah.


Sayangnya, ini tidak disambut baik oleh Mary yang sedang berada dalam mood yang tepat.


" Lemon tea" jawabnya ketus.


" Lemon tea satu, hot or ice kak?" tanya pramusaji tetap dengan senyum ramahnya.


" Ice" jawab Mary.


" Saya ulangi lagi pesanannya ya kak. Ice lemon tea satu, ada yang di pesan lagi kak?"


Mary menggelengkan kepala, tanpa menghiraukan si pramusaji. Mary sibuk dengan ponselnya mengharap ada pesan masuk atau telpon dari Akbar.


" Gak pake lama ya? saya udah kepanasan" kata Mary.


Pramusaji segera berlalu dari hadapan Mary. Jika bukan tuntutan pekerjaan, ia enggan harus memasang muka seramah itu.


Setelah berkumpul dengan teman-teman SMA-nya, Akbar mampir ke sebuah Mall. Ia menuju toko jewellery untuk mengambil pesanannya seminggu yang lalu. Saat Akbar berada di toko jewellery tersebut, Mary melihatnya. Kebetulan Mary berada di mall yang sama.


“ Akbar? ngapain dia disini?” gumamnya dalam hati.


“ Dengan siapa dia kesini?”


" Permisi kak, ini pesanannya " Kata pelayan sambil meletakkan gelas yang berisi lemon tea.


" ini " kata Mary sambil menyodorkan beberapa lembar uang.


" Kembaliannya ambil aja"


Mary beranjak dari tempat duduk tanpa meneguk sedikitpun lemon tea yang ia pesan. Ia langsung melengos saja takut kehilangan jejak Akbar.


" Orang aneh, tadi minta cepet-cepet. Giliran udah cepet malah di tinggal gitu aja." Kata pramusaji dengan kesalnya.

__ADS_1


Tanpa peduli dengan perkataan si pramusaji yang masih terdengar cukup jelas di telinga Mary, ia berjalan agak cepat. Kalau bukan karena Akbar, tentu saja dia akan berbalik arah mendekati pramusaji dan berakhir dengan tragis nasib si pramusaji tersebut. Bagi seorang Mary, mengadukan pada si empunya kafe dan pemecatan pramusaji yang kurang sopan bukan hal yang sulit.


Mary semakin penasaran, dan menelisik keberadaan Akbar di tempat yang tak terlihat oleh Akbar.


Setelah urusannya selesai, Akbar langsung memasukkan barang tersebut dalam saku jaketnya. Akbar langsung keluar toko dan pulang ke rumah.


Tanpa pikir panjang dan rasa penasarannya, Mary langsung menyambangi SPG dalam toko jewellery tersebut.


“ Misi mbak” sapa Mary.


“ Ada yang bisa kami bantu mbak? Kami menyediakan berbagai jenis perhiasan, silahkan bisa dilihat”. SPG itu nyerocos panjang lebar gak kalah dengan greeting pelayan di sebuah minimarket berlambang lebah.


“ Hm...” Mary sedikit kebingungan mengawali pertanyaannya.


Dengan sedikit mengesampingkan rasa tak tahu malunya akhirnya dia memberanikan diri.


“ Gini mbak, aku pacar dari cowok yang barusan keluar dari toko ini. Yang tinggi tegap barusan” terang Mary sedikit meyakinkan meski harus ada sedikit kebohongan. Tapi tentu saja menurut Mary ini bukan kebohongan, karena ia memang benar-benar mencintai Akbar.


“ Oh...mbak pacarnya Akbar”


“ Kamu kenal Akbar? Hesty...”


Mary menyebut wanita SPG itu melihat papan nama di dadanya.


“ Iya mbak, kebetulan kami satu kelas waktu SMA”.


Mengetahui jika pelayan toko jewellery adalah teman SMA-nya Akbar, Mary merasa ada sesuatu yang bisa dia korek tentang Akbar.


“ Wah, Akbar memang beruntung. Udah baik, ganteng, pacarnya cantik pula”.


Mendengar pujian dari Hesty membuat wajah Mary merona.


“ Oh ya, aku bisa ngobrol gak sama kamu?”


“ Maaf, saya lagi kerja sangat tidak professional jika saya memakai jam kerja saya” tolak Hesty.


Mary melihat jam di tangannya, “ ok, lima belas menit lagi kan jam makan siang nih. Mungkin kita bisa lunch bareng?”


Untuk yang satu ini, Hesty tidak bisa menolak. Lagi pula wanita yang mengajak makan siang adalah pacar dari teman SMA-nya sendiri.


“ Ok, aku tunggu di kafe sebelah ya” Mary langsung menyimpulkan diamnya Hesty sebagai tanda setuju.


Mary sengaja memilih Italian resto sebagai tempat makan siangnya karena ia memang penggemar Italian food.

__ADS_1


***


__ADS_2