
Di gedung FirstTv, Billy sedang dilanda kecemasan sebab hingga tiba waktunya Beena dan Bimo harus segera kembali ke Indonesia, mereka tak kunjung ada berita. Terlebih Mia, ia merasa sangat bersalah jika sampai terjadi sesuatu pada kedua reporternya. Sebab ada andil niat jahat sepupunya dalam hal ini.
"Bil, lo sudah dapat kabar dari KBRI belum?" tanya Mia dengan cemas.
Billy menggeleng, ia sama cemasnya dengan Mia.
"Harusnya mereka sudah kembali dari Lebanon, tapi mereka gak ada kabar. Bahkan tidak meninggalkan jejak apapun" Ucap Billy.
" Rey, kapan kamu terakhir kali komunikasi sama Beena?" tanya Mia.
"Hari ke tiga mbak, ya...hari ketiga mbak Na betada di lebanon. Tapi di hari ke empat mbk Na masih sempat mengirimku gambar lewat surel. Terakhir mereka berada di laut Mediterania mbak."
"Ok, coba kamu tanya Akbar. Kapan terakhir kali berkomunikasi dengan Beena?" tanya Billy.
"Sama bang, mas Akbar juga beberapa hari yang lalu tanya. Ia terakhir berkomunikasi di hari ke tiga mbak Na di Beirut".
" Baik semuanya, tetep berfikir positif. Dan kamu ,Rey. Segera ke bagian PR minta mereka untuk intens berkomunikasi dengan pihak KBRI" titah Mia.
"Baik mbak"
"Dan lu Bil, gue minta lu nyari informasi ke bagian intelegen swasta. Kita kerahkan semua untuk mencari Beena dan Bimo"
"Siap bos"
Pihak KBRI pun belum memberikan informasi mengenai hilangnya WNI di Beirut. Hingga akhirnya pihak KBRI mendapat rekaman video warga negaranya dan menindaklanjuti permintaan kelompok Hizbullah.
Baru saja Reyna meminta pihak PR untuk tetap berkomunikasi dg KBRI tiba-tiba Reyna berlari menuju ruangan Mia.
"Mbak...mbak Mia"
Suara 4oktaf Reyna memecah gendang telinga seluruh karyawan first-tv yang ia lewati.
Sampailah ia di ruangan Mia dan masih ada Billy di ruangan itu.
" Ada kabar apa ,Rey"
"Mbak,gawat mbak..."
"Gawat gimana?"
"Tadi aku lihat surel dari KBRI untuk humas first-tv ternyata selama ini mbk Na dan Bimo jadi tawanan mbak"
" Bill, gue minta tolong kumpulkan staff berwenang, kita rapat sekarang juga,cepat!"
Dengan sigap, rapat segera dilaksanakan oleh beberapa staff terkait dan petinggi first-tv.
__ADS_1
Saat video kiriman dari KBRI diputar saat rapat semua tercengang.
“ Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,
Yth Pemerintah Indonesia. Kami wartawan FirstTv saat ini sedang berada dalam tahanan Hizbullah. Kami dalam keadaan sehat dan perlakuan yang sangat baik. Mohon mediasinya agar kami bisa pulang ke tanah air secepatnya."
"Astaga,Bimo, Beena bagaimana keadaan kalian sekarang" ucap Billy.
"Ya Alloh, lindungi rekan kami" Ucap Mia sambil meneteskan air mata. Betapa ia sedih dan merasa bersalah karena telah mengirim Beena ke Lebanon atas saran Mary.
Setelah rapat terbatas selesai, first-tv lansung meminta pemerintah untuk segera mengambil tindakan atas warga negara yang berada di bawah ancaman.
BIN dan pasukan TNI segera menyusun strategi.
Dan entah bagaimana caranya kiriman video yang berisi tentang permintaan mediasi dari pemilik suara merdu itu dengan cepat merebak ke Indonesia.
Kabar ini menjadi pukulan berat bagi keluarga Beena dan Akbar di Semarang. Hingga akhirnya mereka segera melakukan doa bersama untuk keselamatan kru first-tv, khususnya anak mereka Beena.
"Yangti, oba Beena kenapa?" tanya Hasan
"Oba lagi tugas jauh sayang, makanya kita doakan biar Oba bisa segera pulang" ucap Naely pada putranya.
"Tapi kata teman husein, Oba katanya diborgol penjahat mi".Ucap Husein sambil menangis.
"Sudah...sudah oba kalian pasti pulang kesini, yuk kita doa bareng-bareng" terang Zaki pada sikembar Hasan-Husein.
"Ibu kuatkan?apa ibu mau di kamar saja?" tanya pak Hadi yang semakin tak tega melihat kesedihan istrinya.
"Ibu kuat kok, ibu ingin mendoakan buat putri semata wayang ibu berjamaah biar cepat di ijabah Alloh"
Sementara menteri pertahanan sudah menginstruksikan pengiriman pasukan TNI yang terdiri dari TNI AD dan TNI AL untuk pembebasan kedua WNI tanpa jaminan, jika perlu nyawa prajurit yang jadi taruhannya.
Mendengar nama-nama yang akan jadi kontingen ke Lebanon membuat Akbar lemas. Ia tidak termasuk di dalamnya, hal ini karena kesatuannya mengetahui jika Akbar dalam proses pernikahan tanpa mereka tahu jika WNI yang jadi sanderaan adalah calon istrinya.
“ Bang...abang mau berngkat ke Lebanon?” tanya Yoseph.
Akbar hanya duduk tertunduk,
“ Abang bisa minta bantuan Jenderal Bram kan!”
“ Tidak, kali ini aku tidak mau melibatkan beliau kamu tahukan hubunganku dengan Mary seperti apa?”
"Tapi bang, apa abang tak mau menyelamatkan calon istri abang?"
Akbar terduduk lesu,
__ADS_1
"Gini aja bang, biar aku yang menghadap kesatuan. Aku mengundurkan diri dari tugas ini, biar abang yang maju"
"Tidak mungkin, kamu mau kena sanksi!"
Tanpa di sadari, percakapan mereka didengar Jenderal Bram. Ia berjalan menghampiri Akbar.
“ Selamatkan negaramu, selamatkan cintamu!” Jenderal Bram menepuk bahu Akbar.
Dengan rona bahagia, Akbar berdiri tegak memberi penghormatan.
“ Mohon Izin, laksanakan Pak!”
“ Maafkan Mary, maafkan anak saya”
Jenderal Bram memeluk Akbar lalu menceritakan ide pengiriman Beena ke Lebanon merupakan salah satu usaha Mary menjauhkan Akbar dengan Beena.
Betapa bahagia Akbar bisa menjadi bagian misi penyelamatan kali ini, apalagi yang diselamatkan adalah calon istrinya sendiri.
Ada waktu dua hari mempersiapkan keberangkatan pasukan ke Lebanon. Akbar memanfaatkannya untuk menemui Mary di rumah Jenderal Bram.
“ Mar...maaf jika aku tidak bisa menerima perasaanmu” suara Akbar memecah lamunan Mary di taman sebuah rumah mewah.
“ Akbar...”
Mary menoleh ke arah belakang dan mendapati sosok tentara penuh kharisma yang sangat ia rindukan. Namun kini, ia harus menghapus semua cinta dan kerinduannya yang entah dia sendiri mampu atau tidak.
“ Lusa aku pergi ke Lebanon untuk membebaskan Beena”
“ Maaf, aku minta maaf karena kebodohanku menyebabkan ini semua terjadi “ Mary terisak.
“ Doakan semuanya berjalan baik”
Lalu Akbar pamitan dan segera meninggalkan Mary yang masih penuh tangisan ditemani kedua orang tuanya. Dengan besar hati Mary menerima kekalahannya. Kalah mendapatkan hati Akbar.
Lalu Akbar pergi ke semarang menemui orang tua Beena, meminta doa restu agar semuanya diberi kelancaran. Diringi suasana haru keluarga Beena dan Bunda Ramy, membuat misi kali ini menjadi lebih dramatis.
“ Om...cepat bawa pulang Oba Beena ya?”
Permintaan Hassan kali ini sangat terdengar berat, namun Akbar tetap optimis.
“ Om janji secepatnya bawa Oba kalian”
Setelah menggelar doa bersama dan memohon doa restu Akbar kembali ke jakarta untuk pemberangkatan ke Lebanon dalam misi yang berharga.
Beberapa prajurit gabungan TNI AD, AL dan AU tergabung dalam Kopassus bertolak ke Lebanon.
__ADS_1
***