
" Assalamu'alaikum"
Terdengar suara rombongan laki-laki memasuki ruangan.
Uluk salam seperti paduan suara mahasiswa yang lengkap terbagi dua jenis vokal, suara satu dan suara dua.
" Wa'alaikumussalam "
Jawab ummu Farida dari ruang tengah yang sedang finishing meja makan.
Sesekali Ummu Farida mengecek dan melap piring saji dengan tissue, yang terlihat kena cipratan bumbu.
Lalu berjalan ke arah lain, meletakkan posisi piring dan gelas dengan tepat.
Ayah Hadi langsung menuju kamar. Menyusul Bu Halimah yang sedang merapikan barang-barang yang akan dibawa pulang ke Semarang.
Beena sendiri masih sibuk di kamarnya, menyiapkan segala sesuatu yang harus ia bawa ke Gunung Kidul.
"Wah...wah...makan besar nih mi? " celoteh Nizar sambil mendekati bungkusan pepes yang masih mengeluarkan kepulan asap sisa proses pembakaran.
Plak...
"Datang-datang bukannya cuci tangan main comot aja".
Ummu Farida melayangkan pukulan di tangan Nizar.
"Auw...ummi ini apa-apaan! orang cuma mau megang mi"
"Kamu itu yang apa-apan, sana ganti baju terus kita sarapan bareng!"
"Mi, sarapan kali ini kok spesial sekali. Ada yang ulang tahun?"
tanya Abah.
" Apa masak banyak itu harus nunggu momen ulang tahun bah?" ummu Farida balik nanya.
"Ya, nggak gitu. Kok kayaknya spesial sekali hari ini"
" Sarapan kali ini memang spesial bah, karena dimasak dengan penuh cinta " jawab Ummu Farida sambil melirik Nizar.
" Hallah...sudah setua ini, Abah dan ummi mau pamer kemesraan sama aku".
Nizar menggelengkan kepalanya.
" Istrinya Abah itu memang idaman" Goda Abah.
" Abah mau tahu siapa yang masak nasi merah ini?"
"Siapa mi?" tanya Nizar penasaran.
" Calon mantu Abah, Beena"
" Wah, Abah mendadak laper "
Pernyataan yang sengaja dilontarkan untuk menyindir Nizar.
" Beena yang masak mi? beneran?" tanya Nizar.
" Udah sana, kamu ganti baju. Nanti Beena sama keluarganya sudah siap sarapan malah harus lama nunggu karena kamu belum siap"
__ADS_1
" Ok, mi "
Nizar mengedipkan matanya.
Pukul 05.30 semua masakan sudah tersaji di ruang makan. Sarapan kali ini lebih pagi dari biasanya. Hal ini karena Orang tua Beena akan pulang ke Semarang dan Beena sendiri adaliputan kebudayaan masyarakat Gunung Kidul yang membutuhkan waktu tempuh perjalanan sekitar 1 jam lebih.
Suasana sarapan kali ini sedikit berbeda, jadi lebih hangat. Mulai dari panggilan Nizar ke pak Hadi dan bu Halimah yang berubah, begitu juga panggilan Beena ke orang tua Nizar menjadi Abah dan Ummi.
Bagi beena mungkin ini hanya panggilan untuk lebih mengakrabkan saja. Tapi bagi Nizar tentu saja panggilan ini penjadi panggilan spesial.
" Nasi merahnya Siapa yang masak, mi? "
Nizar mengawali obrolan.
"Aku mas, kenapa?"
jawab Beena.
Mereka-reka jawaban apa yang keluar dari mulut Nizar. Dilihat dari ekspresinya membuat Beena menciut.
Apakah ada yang salah saat memprosesnya tadi.
Setahu dia, beras merah harus direndam dulu agar hasilnya empuk. Berbeda dengan beras biasa.
Atau, jangan-jangan selera Nizar itu memang antimainstream?
" Nasinya enak, empuk dan lembut" jawab Nizar.
" Wah, istri idaman sekali " goda Abah
" Aku gak nyangka, cewek cerewet kayak kamu bisa masak "
Beena melotot ke arah Nizar.
“ Lagi diet kali” jawab Nizar menggoda.
Beena yang posisi duduknya bersebelahan dengan Nizar langsung melayangkan protes dengan menyenggol tangan kiri Nizar.
“ Maaf bah, Beena buru-buru takut ketinggalan sama tim produksi yang lain. Hari ini Beena ada kegiatan di Gunung Kidul”
“ Sepagi ini kamu kerja nak?” tanya Ummu Farida.
“ Nggih ummi”
“ Wanita karir memang sibuk mi” sergah Nizar.
Dan protes Beena kali ini lebih keras, hingga tangan kiri Nizar menjatuhkan garpu yang sedang dipegangnya.
Melihat pemandangan ini membuat ayah hadi dan yang lain tersenyum bahagia. Sepertinya Beena dan Nizar benar-benar menikmati perjodohan ini.
“ Nanti berangkat diantar Nizar kan Na?” tanya ayah.
“ Mas Nizar cuma mengantar Beena sampai di tempat kami janjian kumpul yah. Nanti Beena berangkat sama teman-teman.”
“ Nginep di Gunung Kidul?” tanya ibu.
“ Belum tahu bu, rencananya peliputan 3 hari. Biar gak bolak-balik, kemarin sudah dipesankan homestay di sana. Jadi kita semua bisa on time”.
Jawab Beena, padahal ia memang sudah memastikan untuk menginap bersama rekan-rekan kerjanya yang lain.
__ADS_1
“ Kalau bisa nginep disini saja nak” Saran Ummu Farida.
“ Iya, Abah setuju dengan saran Ummi tu. Biar nanti Nizar yang antar-jemput. Gimana Zar, kamu siap?”
“ Maaf abah, mas Nizar kan punya kewajiban lain di rumah sakit. Beena ikut sama teman-teman saja”
Sanggah Beena yang tidak mau merepotkan Nizar. Lagi pula Beena memang sedikit tidak enak dengan teman-teman yang lain.
“ Gimana Zar, siap jadi sopir?” tanya ayah.
“ Siap sekali yah”
“ Ya sudah, ayah titipkan Beena sama kamu selama empat hari ke depan”.
Tak ada perdebatan panjang untuk perintah ayah kali ini. Karena Beena menyadari, semakin dia menolak semakin keras ayah berkehendak.
Beena melihat jam tangannya, pukul 06.00 ia harus segera menuju tempat berkumpul yang sudah ditentukan semalam melalui messenger.
“ Ayah , ibu Beena harus berangkat sekarang. Sampein salam Beena buat mas Zaky dan mbak Naely ya ” Beena mencium tangan ayah dan ibunya.
Ibu memeluk erat putri ragilnya, mencium kedua pipi Beena dengan tatapan nanar.
"Ibu kok sedih?"
"Ah, ibu justru bahagia Na"
Giliran Nizar yang berpamitan pada orang tua Beena kali ini.
"Ayah,ibu Nizar minta maaf ndak bisa nganter. Nanti sepulang nganter Beena, Nizar langsung ke rumah sakit ada jadwal jam 8".
"Iya, gak apa-apa Nak. Titip Beena, jaga Beena"
Ayah menepuk-nepuk bahu Nizar.
Ih si ayah, berlebihan sekali. Pakai acara titip menitip segala. Emangnya aku ini anak TK!
Beena membatin, ini adalah hal yang memalukan dan sudah tidak wajar.
Ya, tidak wajar menurut Beena. Mulai dari panggilan ayah dan ibu oleh Nizar. Abah-ummi oleh Beena. Memuji cara masak nasi merah yang menurutnya adalah biasa saja.
"Ummi,Abah...Beena berangkat nggeh?"
"Iya hati-hati, calon-" ujar Abah.
Nizar menggeleng dan memberikan isyarat menempelkan telunjuk di mulutnya.
" Calon apa Bah?"
"Calon Artis" jawab Nizar.
"Hah, calon artis? apa maksudnya mas?"
"Ya...orang yang sering muncul di tivi itu kan artis. Nah, kamu akan lebih sering muncul di sana, itu artinya kamu calon artis".
"Muncul suaranya doang" jawab Beena.
Karena selama ini, dia hanya reporter program kebudayan dan hanya muncul suaranya saja.
Dan Nizar sengaja meminta orang tuanya untuk tidak membahas perjodohan ini lebih lanjut sebelum ia mendapat lampu hijau dari Beena.
__ADS_1
Mobil Nissan Xtrail melaju meninggalkan kediaman Nizar menuju rumah makan tempat Beena dan kru tv berkumpul.
***