Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Berduan di apartemen


__ADS_3

Setelah membersihkan badan dan melakukan fardhu ain pada Sang Khalik. Beena memilih gaun yang cocok untuk ia pakai. Ia memilih gamis berbahan ceruty berwarna ungu tua, dengan aksen opnaisel di kedua lengannya. Gaun yang pas menempel di tubuh rampingnya, tak terlalu ketat dan mencolok.


Beena memilih pashmina yang cocok untuk ia pakai, dengan sedikit make-up tipis dan lipstick natural menambah keanggunannya. Saat mengatur model jilbabnya yang sedikit terjatuh, ia tersadar harus menggunakan bros . Tiba-tiba ia tak menemukannya.


Ah dimana benda itu? Seingatnya tadi pagi masih ada dan menempel di dadanya.


Beena mendekati meja riasnya, memeriksa dengan teliti. Namun bros tidak ada disana. Lalu ia berjalan mendekati nakas tempat tidurnya, dibuka laci satu persatu.


"Dimana brosnya" gumamnya.


Bersusah payah Beena mengingat dan meyakinkan jika benda itu tidak terjatuh di jalan.


"Apa mungkin di tempat Mary ya?"


Ya,akhirnya dia ingat. Pasti terjatuh di apartemen Mary saat Mary mengguncang bahunya tadi.


“ Aku harus kembali ke apartemen Mary” gumamnya."Mudah-mudahan memang jatuh disana"


Harapan Beena memang hanya tinggal di apartemen Mary. Tanpa pikir panjang, Beena mengambil kunci mobilnya, dengan menenteng tas yang berisi handphone,dompet dan alat make up fasar berupa bedak dan lipstik.


Akhirnya Beena menuju apartemen Marry dengan kecepatan tinggi ia melajukan Jazz-nya. Memastikan agar ia tidak terlambat saat di jemput Akbar nanti.


Secepat apapun Beena mengendarai mobilnya itu tidak merubah keadaan agar ia cepat sampai karena jakarta tetap macet apalagi di jam kepulangan kantor seperti sekarang.


Sesampainya di pintu masuk apartemen Mary, Beena menaiki lift menuju lantai 12. Kali ini perasaan Beena agak gugup, tak seperti biasanya. Entah karena cemas takut brosnya tidak ada di apartemen Mary. Atau cemas karena mengkhawatirkan keadaan Mary yang saat ia tinggalkan beberapa jam lalu dalam keadaan emosi.


Apa mungkin Mary akan menyambutnya tanpa emosi setelah kejadian sebelumnya?


Huft, Beena mambuang kasar nafasnya. "Bismillah semoga semua baik-baik saja"


Ting...


Pintu lift terbuka, Beena segera menuju ruangan yang ia maksud. Diketuknya beberapa kali pintu apartemen Mary yang sedikit terbuka. Namun tidak ada sahutan. "Assalamu'alaikum , Mar..."


Entah kenapa,Beena semakin deg degan dengan tidak ada jawaban. Namun pintunya jelas tidak terkunci.


"Apa sudah terjadi sesuatu pada Mary?"


Ah, tidak mungkin...dengan segera ia menepis semua prasangkanya. Dan lagi-lagi Beena masih menaruh perhatian pada Mary, ia harus memastikan sendiri bahwa tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan Mary.


Beena masuk, memastikan jika Mary baik-baik saja dan termasuk benda yang ia cari ada disana. Belum sempat ia menemukan bros itu. Beena harus mendengar suara parau di kamar Mary.

__ADS_1


Merasa khawatir dengan keadaan yang dialami Mary, ia bergegas menuju kamar.


“ Aku mencintaimu, aku bisa memberikan segalanya buatmu” Mary meracau.


“ Kamu terlalu banyak minum”.


“ Persetan dengan semuanya, aku bisa memberikan tubuhku, uangku, dan memberikan jabatan tinggi”. Mary makin ngelantur sambil tak mau melepaskan tubuh pria yang mengantarnya dari bar.


“ Cukup Mar, kamu mabuk”


“ Aku mabuk cintamu”


Laki-laki itu kemudian merebahkan tubuh Mary ke atas ranjang. Saat ia berniat meninggalkan Mary, tiba-tiba Mary menarik lengannya sehingga tubuh laki-laki itu jatuh tepat di atas Mary.


Ceklek...


Betapa terkejutnya Beena mendapati Mary sedang berada di atas ranjang dengan Akbar yang menindihnya.


“ Mas Akbar...” panggil lirih Beena.


Akbar terkejut melihat sosok Beena yang tiba-tiba entah datang dari arah mana, ia sudah berdiri di balik pintu.


Entah apa yang sekarang Beena pikirkan. Rasa percaya diri akan cinta Akbar yang begitu besar padanya mendadak luntur dengan pemandangan yang ia temui saat ini.


“ Bee, aku bisa jelaskan semuanya” ucap Akbar mendekati Beena.


Beena segera menepis tangan Akbar yang hendak mendekati pundaknya.


Tanpa peduli apa yang akan Akbar katakan, Beena sudah berlari meninggalkan Akbar tanpa sepatah katapun. Air matanya terjun bebas di kedua pipinya. Beena langsung lari keluar meninggalkan apartemen.


"Bee, ini tidak seperti yang kamu lihat Bee" Akbar berusaha mengejar Beena, namun ternyata ia kalah cepat. Karena Beena sudah melesat jauh dari pintu kamar. Dan ia sudah berlari keluar apartemen.


Saat Akbar hendak mengejar Beena, kakinya menginjak benda yang tak asing baginya.


Akbar menggeser posisi kakinya, lalu memungut benda itu.


Akbar meraih bros Beena yang berada di lantai apartemen Mary. Beena pasti mencari benda ini, dan merasakan betapa hancurnya Beena melihat kejadian tadi. Akbar harus segera menjelaskan semuanya pada Beena.


Akbar segera belari ke bawah, meninggalkan Mary yang sudah aman di apartemennya. Dan kini konsentrasinya adalaha pada Beena. Namun di halaman parkir apartemen, Akbar sudah tidak menemukan jejak Beena ataupun mobilnya.


Akbar mengacak rambutnya asal, kini ia benar-benar takut Beena salah faham.

__ADS_1


Akbar mengeluarkan HP dari saku celananya, menekan tombol dial dan berharap sambungan telpon dengan Beena masih bisa menyelesaikan semua kesalahfahaman.


Beena melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dengan sambil bercucur air mata, sesekali ia mengusap air matanya yang tak bisa berhenti. Sambil memegang stir kemudi, diliriknya HP di tasnya berdering.


Whenever you go


Whatever you do


I will be right here waiting for you


Whatever it takes or how my heart breaks


I will be right here waiting for you


Beena menyetir dengan tangan satu, di ambil HP dan dilihatnya sebuah panggilan dari Akbar.


Ia hanya melihat layarnya saja tanpa ada tindakan apapun. Panggila itupun terabaikan, namun tak selang berapa lama HPnya berdering lagi. Dan dengan orang yang sama,Akbar. Beena langsung me-rejack panggilannya.


"Ayo lah Bee, angkat telponanya. Kamu gak boleh begini" Akbar bermonolog, sambil mondar mandir.


Namun ternyata panggilannya diabaikan, ia mencoba menghubungkan ulang bukan diangkat malah di tolak oleh Beena.


"Ok, aku akan segera menyusul mu Bee. Mungkin belum terlalu jauh" Akbar membatin. Ia lalu, menuju tempat mobilnya di parkirkan. Akbar langsung tancap gas, tanpa tahu tujuan kemana akan mencari Beena. Namun ia yakin belum terlalu jauh.


Beberapa tempat keramaian disambangi Akbar, berharap Beena ada diantara orang-orang itu. Apalagi di malam valentine banyak muda-mudi berkumpul. Namun ternyata nihil.


"Apa aku telpon Reyna saja ya?"


Tanpa pikir panjang Akbar menghubungi Reyna.


"Hallo, Rey"


"Iya, hallo ban marinir"


"Rey, kamu tahu di mana Beena?"


"Lho, bukannya ada acara Dinner candid sama bang marinir malam ini".


"Iya, tapi...tapi..."


"Tapi apa bang?, Mbak Na sudah izin pulang kantor cepat hari ini"

__ADS_1


"Ga apa-apa Rey, kita memang mau dinner tapi Beena belum ada" Akbar mencoba menemukan jawaban.


***


__ADS_2