Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Menghadapi Lawang Sewu


__ADS_3

Pagi ini Akbar menuju apartememen Beena untuk menjemputnya menghadapi proses nikah militer. Dengan menggunakan mobil Beena yang ia bawa semalam ke rumah impiannya, karena Beena menolak bermalam di rumah Akbar.


Honda jazz terparkir di basement apartemen Beena, Akbar segera menuju lantai atas dimana Beena tinggal dengan menaiki lift.


Ting...


Bunyi lift berhenti di lantai 12, Akbar berjalan menuju kamar Beena. Ia menekan bel, dan di sambut oleh Beena yang sudah rapi menggunakan seragam jalasenastri.


"Assalamu'aikum, istriku- "


"Wa'alaikumussalam" jawab Beena langsung melengos ke dalam karena dipastikan Akbar yang akan menghujaminya dengan kata-kata gombal bahkan tidak menutup kemungkinan pasti akan menciumnya.


"Kelembutan,keindahan, dan kecantikan Aphrodit ternyata Tuhan titiskan pada wanita yang sedang berada di hadapanku. Ia tetap hadir dalam bentuk personifikasi yang nyata yang membuatku tak sanggup berpisah dari pandangan meski hanya sekejap saja menutup mata"


Beena memonyongkan bibirnya, sambil membuatkan teh untuk Akbar. Sedang Akbar tak hentinya memandangi sosok perempuan yang ia yakini sebagai tulang rusuknya. Ia mengambil posisi duduk di kursi pantry dengan tetap mengeluarkan rayuan gombalnya.


"Jika Aphrodit diciptakan sebagai dewi keindahan yang diperebutkan dewa-dewa, maka akulah Ares itu yang telah berhasil membuatnya jatuh cinta dan menyerahkan semuanya cinta,pesona dan gairahnya hanya untukku"


Beena menyodorkan teh hangat dan roti bakar untuk Akbar.


"Apa hanya karena itu laki-laki mati-matian mendapatkan perempuan? Kasihan sekali perempuan hanya dijadikan objek kesenangan dan seksualitas. Lagi pula Aphrodit itu punya banyak kekasih lho, dia dipresentasikan sebagai dewi yang sangat cantik tapi tidak setia pada satu laki-laki. Meski sudah jelas-jelas dinikahkan dengan Hepaestus, karena merasa cantik ia memikat dewa Ares, Adonis dan tidak berhenti disitu saja ia pun memikat manusia seperti Anchises"


Sruput...ah...


Akbar menyesap teh yang masih panas yang diserahkan Beena.


"Ah, mas kalah kalo urusan puitis. Mas memang bukan tipe orang romantis, bukan pujangga. Tapi urusan ketahanan keamanan cinta dan strategi perang kesetiaan, serahkan semuanya pada panglima asmara yang satu ini" Ucap Akbar sambil membusungkan dadanya.


" Iya...iya, cepat habiskan sarapannya. Nanti kita telat lho. Aku siap-siap dulu ya mas?"


"Padahal kamu sudah cantik lho, mau dandan kayak gimana lagi sayang? Ingat kecantikan mu cukup kamu tunjukan untuk suamimu saja"


Beena terpaksa menghentikan langkahnya, ia mendadak balik arah menunjukkan sanggahannya pada laki-laki yang sudah berhasil merebut hatinya.


" Mas gak lihat aku? Aku masih nyeker! Apa mas mau aku diketawain orang satu kesatuan?"


Akbar tersenyum dan kembali mengunyah sarapannya.


Beena kembali berjalan menuju rak sepatu, dipilihnya sepatu dengan hak lancip 8cm berlogo LV warna hitam hadiah dari bang Billy. Sepatu itu pas sekali di kaki Beena dan menambah keanggunan pemakainya.


Beena menimbang-nimbang di depan kaca, jika penampilannya sudah pas. Ia merapikan kerudungnya tak lupa bros pemberian Akbar ia sematkan di dadanya.


Akbar berjalan mendekat ke cermin dimana Beena berdiri di sana. Terlihat keduanya melalui pantulan bayangan cermin, tampak serasi. Mereka saling memandang wajah paangannya melalui cermin. Lalu Akbar menjulurkan tangannya ke pinggang Beena, dengan menyandarkan kepalanya di pundak Beena sambil terus menatap wajah ayunya di cermin.


"Kamu adalah Maryam Tabeena-ku, Maryam yang akan melahirkan putra-putri sholehku".


Akbar memutar badannya, kali ini keduanya berhadapan, beradu dahi bahkan nafas yang keluar dari hidung keduanya benar-benar terdengar dengan jelas. Sesaat, keduanya saling mematung.

__ADS_1


"Ah...nanti kita telat, ayo mas"


"Bee..." Akbar geram, ciuman yang hampir saja ia dapatkan gagal lagi.


Beena tertawa puas karena sudah berhasil menggagalkan misi Akbar.


"Sabar ya sayang..."


Beena segera berjalan menggandeng tangan Akbar keluar apartemen.


Honda jazz melaju ke arah kesatuan TNI AL di Cilandak. Begitu sampai di tujuan, Akbar turun membukakan pintu di bagian Beena duduk.


Dengan PDH Marinir Akbar menggandeng Beena yang mengenakan seragam jalasenastri menuju kantor. Berbagai test akan dilakukan oleh Beena, interview dari atasan Akbar membuatnya sedikit nervous.


Prosesi yang sering disebut dengan lawang sewu, menggambarkan konotasi serem dan angker. Dimana calon pengantin militer harus menghadapi seribu pintu untuk mendapatkan restu dari kelembagaan.


"Mas..."


"Kenapa?kamu nervous?"


"Dikit..." ucap Beena dengan menyimpulkan senyum manis di bibir tipisnya. Ia mengambil nafas lalu membuangnya perlahan.


"Sejak kapan seorang Beena jadi gugup gini? Ribuan penonton bisa kamu taklukan, tentara hizbullah bisa kamu hadapi. Masa proses ginian kamu gak bisa hadepin!"


"Ini beda mas, sekali seumur hidup. Pengalaman yang tak bisa aku lupakan"


Akbar menggenggam tangan Beena sebagai bentuk penguatan khusus untuk wanitanya.


"Iya "


" Ini melukai harkat wanita "gumamnya.


"Ini cuma test wawancara biasa sayang, sudah lama test visum itu dihilangkan".


" Iya, aku berfikir bagaimana test itu dilakukan. Akan sangat melukai perempuan, bagaimana sebuah test perawan atau tidak perawan akan menjadi tolak ukur rumah tangga. Lalu bagaimana untuk mengukur kesetiaan laki-laki, apa ada sebuah test keperjakaan?"


" Sudah...sudah. Ayo sayang, kita masuk".


Serangkaian test sudah Beena jalani, ia keluar dari sebuah ruangan. Nampak kelegaan di wajah Beena.


Hingga akhirnya ruang terakhir dia hadapi, yaitu ketua jalasenastri.


“ Siap bee?”


tanya Akbar melihat Beena sudah sedikit kelelahan.


Beena menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya keras.

__ADS_1


“ Siap dong “. Jawab Beena dengan mengembangkan senyum manisnya.


Beena memasuki ruangan, disana ada ketua jalasenastri. Diawali perkenalan dirinya dan menyebutkan nama lengkap Akbar beserta pangkat lalu menyebut deret angka NRP dengan intonasi yang pas laiknya news anchor.


Interview dilanjut dengan permintaan ketua jalasenastri pada Beena untuk menyanyikan mars dan hymne jalasenastri membuat takjub sang ketua mendengar suara merdu Beena. Dan wawancara kali ini sangat relaks lebih terlihat seperti ngobrol biasa, mungkin karena pewawancara adalah sesama perempuan jadi tidak terlihat formal, lebih ke arah sharing.


Melihat begitu banyak kemampuan yang Beena miliki membuat sang ketua mengagumi sosok news anchor yang terkenal karena drama pembebasan dari kelompok Hizbullah beberapa bulan lalu.


Beena keluar ruangan dengan penuh kelegaan, satu per satu prosesi sudah ia lewati.


“ Laper gak bee?” tanya Akbar


“ Jangan tanya itu sih sudah otomatis mas”


“ Kita makan siang di kantin yuk, sekalian kenalan sama teman-teman yang lain”.


“ Apa gak malu mas?”


“ Udah...sebelum kamu pingsan disini karena kelaperan” Akbar menarik tangan Beena dan segera menuju kantin.


“Weh...ada calon pengantin” goda Yoseph yang saat itu sedang menyantap makan siangnya.


“ Bukannya itu Maryam Tabeena pembawa berita di tv?” tanya salah satu prajurit pada rekannya yang lain.


“ Iya bener, ternyata Letda Syaiful itu calon suaminya”


“ Wah aku patah hati...idolaku sudah digebet komandan” celetuk yang lain.


Beena merasa tak nyaman dengan suasana di kantin, saat dia jadi objek pembahasan.


Tiba-tiba salah satu prajurit menghampiri,


"mbak bisa minta tanda tangannya?”


Beena melirik ke arah Akbar meminta pertanggungjawaban atas suasana yang terjadi di waktu makan siangnya.


Akbar hanya terkekeh,


“Istriku bukan artis, bisa-bisa Beena-ku ke GR-an dia! “ tolak Akbar.


Beena langsung mencubit perut Akbar.


“ Auww, sakit sayang”


“ Ciye...sayang” ledek Yoseph.


“ Aduh...aku makin patah hati melihat kemesraan kalian berdua” celetuk prajurit yang lain dari meja seberang.

__ADS_1


Akhirnya mereka menyelesaikan makan siangnya dan langsung meninggalkan Yoseph dan rekan prajurit yang lain. Dengan sapaan khas Beena yang penuh keramahan membuat semua orang betah berlama-lama dekat dengan Beena.


***


__ADS_2