Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Ujian Pra Nikah


__ADS_3

Honda jazz warna putih meninggalkan apartemen di bilangan Kuningan. Dengan hati merasa bersalah Beena meninggalkan Mary yang sedang emosi. Semoga hal-hal buruk tidak terjadi pada temannya.


"Kenapa jadi rumit begini?, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Mary? Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Pertanyaan-pertanyaan itu seolah datang silih berganti dibenak Beena.


"Kalau Mary sampai nekat melakukan hal-hal di luar kendali?astagfirullah.Tidak,tidak...itu semua tidak akan terjadi" batinnya menjawab.


"Apa aku harus ngasih tahu mas Akbar?"


Sepintas terbesit pikiran Beena untuk memberikan kabar pada Akbar. Ia menepikan mobilnya, ia berniat menelpon Akbar dan memberitahukannya pada Akbar.


Tut...tut...


Setelah beberapa menit, panggilannya tak dijawab.


"Ayo dong mas, angkat telponnya"


Dengan nada khawatir dan gerakan jemari Beena mengetuk-ngetukkan di setir. Berharap jika Akbar segera mengobati kekhawatirannya.


Setelah benerapa menit, panggilannya tak dijawab akhirnya Beena menyerah dan ingat jika kesibukan Akbar.


"Ah, aku lupa kalo mas Akbar hari ini memang sibuk. Ya sudahlah biar nanti aku ceritakan saja pas ketemu. Lagi pula mas Nizar pasti sudah lama menunggu ku di kafe".


Beena memutar kembali kunci mobilnya, menyalakan mesin dengan segala prasangka baiknya. Meyakinkan diri jika segala sesuatu akan berjalan seperti apa yang ia harapkan. Seputusasa-putusasanya Mary, dia masih punya keluarga yang masih memberikan support. Apalagi Mary merupakan anak semata wayang keluarga jendral Bram.


Beena segera menancap gas, menuju kafe Bariton. Berharap setelah bertemu Nizar, ia akan sedikit melupakan peristiwa yang terjadi di apartemen Mary.


Nizar menunggu di kafe yang sudah Beena tentukan. Beena memilih kafe favorit yang biasa ia gunakan bersama teman-temannya. Selain hidangan di kafe itu terkenal enak, dan tempatnyapun wort it untuk dijadikan destinasi kuliner.


Terlihat Nizar yang sudah duduk menunggu dengan hidangan yang sudah tersaji di hadapannya.


Nizar tampak tampan dengan setelan kaos supreme polos berwarna abu dipadukan dengan celana jeans. Ia memilih duduk dekat dengan dinding kaca. Beena menyapukan pandangannya, dan tak butuh waktu lama untuk menemukan sosok Nizar.


“ Assalamu’alaikum, mas”


“ Wa’alaikumussalam, Na”


“ Maaf ya telat, Jakarta macet”


Beena meringis menunjukkan gigi putihnya.


“ Sibuk ya?”


“ Ga kok, ini buktinya bisa ketemu mas Nizar”


Beena menarik kursi, lalu mengambil posisi duduk berhadapan dengan Nizar.


" Mau pesan apa?aku baru pesan minum nih" tanya Nizar sambil melambaikan tangan memberikan kode panggilan buat pramusaji.


Tak berselang lama, seorang wanita tinggi semampai dengan rambut kucir kuda berpakaian seragam bertuliskan identitas kafe menyambangi mereka.


"Silahkan bu,pak" ucap wanita cantik menyerahkan buku menu.


Tanpa membaca buku menu, Beena sudah menjatuhkan pilihannya pada menu favorit di kafe ini. Untuk beberapa menit Beena memperhatikan Nizar, bukannya memilih menu malah asyik nyuri pandang dengan pramusaji.


"mas ..." ucap Beena dengan suara melengking sambil memukul ujung topi yang dikenakan Nizar dengan buku menu. Sontak, Nizar kaget dan membuyarkan konsentrasinya yang beberapa menit memandang pramusaji.

__ADS_1


" Emang dokter kurang kerjaan ya? bukannya pilih menu malah matanya jelalatan" Beena terkekeh.


"Maklum, biasa interaksi dengan pisau bedah" tak kalah dengan sindiran Beena.


"Bapak,ibu bisa saya bantu tuliskan pesanannya?" sapa ramah pramusaji dengan nametag Dina.


"Oh ya mbak, aku minta stawberry smooties sama banan rolls. Kalo Mas mau apa?"


" Aku... Aku pesan...apa ya? Ucap Nizar sambil membolak balikkan buku menu. "yang best seller di kafe ini apa mbak?"


"Nasi goreng gila" jawab Beena dengan cepat.


"Woy, aku tanya mbaknya bukan kamu" protes Nizar pada Beena.


"Iya betul pak Nizar, nasi goreng gila merupakan salah satu menu top seller kafe kita"


Dengan mode kaget, Beena sedikit heran dari mana pramusaji itu bisa tahu nama Nizar. Pasalnya semenjak Beena berada di kursi tidak pernah menyebutkan nama Nizar.


"Oke aku pilih itu" tanpa pikir panjang Nizar menentukan pilihannya.


"Baik bapak,ibu kami ulang pesanannya. Satu strawberry smooties, satu banana rolls dan satu nasi goreng gila. Ada tambahan lagi?"


Beena menggeleng sebagai jawaban pertanyaan sang pramusaji berikan.


"Baik kita proses pesanannya, mohon tunggu sebentar" Ucap Dina sambil melangkah mundur.


Setelah pramusaji beberapa langkah meninggalkan mereka berdua, Beena segera memberondong pertanyaan.


"pramusajinya hebat ya, bisa tahu nama mas Nizar"


"Kayaknya aku pernah ketemu cewek tadi deh, tapi dimana ya?"


"Oh ya, mas Nizar di jakarta berapa hari?"


“ Aku udah 3 hari, besok udah balik ke Jogja. Penerbangan pagi.”


“ Aku kangen Jogja “


“ Gak kangen orangnya?” tanya Nizar sambil terbahak.


“ Udah ah, aku laper” Beena menghindar.Sambil melirik dengan kedatangan pramusaji yang sama dengan membawa nampan berisi pesanannya. Dina meletakkan ± sesuai pesanan Beena dan Nizar.


"Strawberry smooties dan banana rolls pesanan ibu dan nasi goreng gila pesanan pak Nizar, selamat menikmati"


" Tunggu mbak, apa kita pernah betemu?" tanya nizar.


Dengan tanpa malu, Dina menjawab "saya teman SMA pak dokter dulu"


"Oh ya, Nizar sambil mengingat-ngingat siapa gerangan orang yang di hadapannya.


"Saya Ngadinem" jawab Dina dengan logat medhoknya.


Dengan logat jawa khas yogya, membuat Nizar dengan cepat menemukan perbendaharaan nama-nama teman SMA.


"oh ya ..iya..si Dinem"


"St...itu nama saya kalo di Yodjo, nama metropolitan saya Dina" ucap Dina dengan lirih, berharap teman-temannya tidak mendengar percakapan mereka.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi, gak enak lagi kerja"


Beena dan Nizar mengangguk. Setelah kepergian Dina, Beena langsung ketawa karena tingkah konyol wanita medhok khas Jogja, padahal sebelum memperkenalkan dengan nama aslinya. Nyaris hilang medhok dengan nama Dina.


"Hm...Dinem jadi Dina" ucap Nizar sambil senyum-senyum.


“ Eh, gimana kabar si baret ungu”


“ Oh ya sampe lupa, dapet salam dari mas Akbar. Maaf ga bisa ikut makan siang bareng, mas Akbar masih ada kegiatan di kesatuannya.” Ucap Beena sambil mengunyah pelan makanan yang sudah di pesan Nizar.


“ Kapan nikah?”


Mendengar kata nikah, Beena teringat kejadian sebelum bertemu Nizar tadi dengan Marry. Apa benar ini salah satu ujian sebelum nikah? Dimana ada wanita lain yang mencoba masuk dalam kehidupannya bersama Akbar.


“ Kok gantian sekaranh, kamu malah ngelamun?”


“ Eh apa tadi mas?” Beena gugup.


“ Kapan nikahnya? Aku kudu nabung dulu buat kado kalian berdua” Nizar meledek.


“ Insyaallah 2 bulan lagi mas, mas Akbar baru mengurus berkas nikah dinas”.


“ Gimana rasanya mau nikah sama orang militer?” tanya Nizar.


“ Biasa aja sih. Hm...mas aku boleh tanya ga?” Tanya Beena dengan ragu.


“ Apa? Kalo aku bisa jawab aku jawab, kalo gak buat PR yak!” Nizar menenggak minumannya.


“ Mas percaya ujian pernikahan?”


Dengan seksama Nizar mendengarkan cerita Beena tentang Marry yang ternyata mencintai calon suaminya. Kedekatan Beena dengan Mary, dan hubungan Akbar dengan Jenderal Bram hingga akhirnya calon suaminya menjadi bodyguard Mary.


“ Aku yakin dengan Akbar, dia sangat mencintaimu Na”.


“ Iya, aku tahu mas. Itu pula yang aku katakana sama Mary. Tapi aku gak mau menyakiti hatinya. Aku perempuan”.


“ Tenang saja, ini proses. Waktu yang akan menjawabnya. Lihat aku, aku contohnya. Dan aku baik-baik saja setelah kamu tolak” Nizar tersenyum memberikan bukti nyata jika ia sudah move on, meski belum sepenuhnya.


“ Maafin aku ya mas”Beena menundukkan kepalanya semakin merasa bersalah pada keluarga om Zulfa.


“ It’s ok, live must go on “


Waktu menunjukkan pukul 15.00 Beena harus segera pulang ke apartemennya untuk menyiapkan diri, dinner dengan Akbar.


“ Mas sudah ashar ni”.


“ Cari mushala yuk, terus kita jalan-jalan. Gantian kamu jadi guide sebelum aku pulang ke Jogja”.


“ Maaf mas, aku sudah ada janji dinner sama mas Akbar “ Beena mengernyitkan dahi.


“ Oh ya aku lupa, ini kan tanggal 14 februari ya” Nizar tertawa.


“ Maaf ya mas, aku ga bisa nemenin mas kayak waktu aku di Jogja dulu. Terus habis ini mas mau kemana?”


“ Jalan-jalan lah. Siapa tahu ketemu cewek betawi yang siap aku jadiin istri” Nizar makin terbahak.


“ Ya sudah, aku pamit ya mas. Assalamu’alaikum”

__ADS_1


“ Wa’alaikumussalam”


***


__ADS_2