
I hate Monday, kalimat itu tidak berlaku bagi Beena. Setelah menikmati libur seminggu, ia kembali bekerja seperti biasa. Dengan segala kesibukkan di FirstTv, ia menikmati pekerjaan yang sangat ia sukai. Tak peduli harus pulang malam atau padatnya jadwal hingga tak jarang ia lupa memberikan kabar pada Akbar. Ini yang harus ia rubah, nyatanya sekarang ada seseorang yang tentu menunggu telpon atau sekeder SMSnya.
Meski sering ia membantah, jika itu adalah hal sepele yang tidak perlu dibesar-besarkan lagi pula mereka bukan ABG.
Dan satu hal yang sudah Beena tinggalkan kebiasaannya sebelum bertunangan dengan Akbar yaitu, ia sudah jarang lembur di first TV dan menginap di kantor. Tak seperti sebelumnya, jika ada pekerjaan hingga larut malam. Ia memilih untuk tidur di ruang kerjanya.
Kegiatan ini perlahan sudah Beena tinggalkan sebagai bentuk persiapannya menjadi pendamping Akbar, calon ibu dari anak-anaknya kelak.
Sementara Akbar kembali dengan rutnitasnya di kesatuan. Ia mulai dengan memberikan berkas yang harus ia lengkapi sebagai pengajuan nikah militer. Karena sedang mengajukan pranikah, kesibukan Akbar berbeda jauh dari Beena. Kesatuanpun mengurangi jadwal keterlibatan Akbar dalam berbagai kegiatan.
Seminggu sudah mereka di Jakarta, dengan segala kesibukkan masing-masing membuat mereka seperti LDR kembali. Hanya sesekali Akbar menghubunginya atau sekedar mengirim pesan menanyakan keadaan sang pujaan hati. Itupun dilakukan malam hari setelah Akbar selesai dari kantor. Dan bisa bertemu jika weekend saja.
Drtt...drttt...
Sebuah pesan masuk, Beena langsung membukanya.
“ hi gadis sundel bolong?”
“ hi juga hantu laut”
“ Mas udah selesai ngurus berkas persyaratan nikah, kemungkinan 2 bulan lagi kita menghadap atasan. Sudah siap?”
“ Siap komandan...”
Jawab Beena dengan mantap. Sambil senyum-senyum sendiri membaca dan membalas pesan yang dikirimkan Akbar.
Reyna yang sedari tadi memperhatikan tingkah rekannya itu semakin penasaran. Apa kiranya yang membuat Beena sebahagia itu.
"Ciye...mbak Na, emang bener ya kata orang tua. Aura orang menjelang pernikahan itu emang beda"
Kata Reyna sambil menggerakkan kursi kerjanya mundur beberapa senti, sehingga ia dengan mudah menggoda Beena dari meja kerjanya yang bersebelahan dengan Beena.
"Masa sih?beda ya?" Beena menanggapi pernyataan Reyna dengan pertanyaan, tak lupa ia meraba hidung dan pipinya secara bergantian untuk mempertegas tanggapannya.
"Iya bener, nah itu senyum -senyum sendiri baca SMS"
"Makanya kamu cepet-cepet minta di lamar Bimo" Beena membisikkan ke telinga Reyna disusul tawa geli.
"Idih, amit..amit kayak kagak ada cowok lagi aja" kali ini Reyna mengetuk-ngetukkan tangannya ke meja dan dahinya bergantian.
__ADS_1
"Jangan gitu kamu Rey, kesengsem beneran repot lho nantinya"
Beena terkekeh.
"Lagian, mbak Na ada-ada aja, jangan kasih perumpamaan yang standar dong. Minta dilamar tu sama cowok keren kayak abang Marinir, atau mas dokter gitu. Masa sama si manusia introfert.
"Hei, jangan salah. Bimo sekarang sudah banyak berubah lho. Sejak kita di Jogja, dia sudah banyak kemajuan."
"Ah, pokoknya gak mbak Na. Aku pengen cowok setipe Brad Pitt atau Tom Cruise bukan manusia macam Bimo"
"Ehem..." Suara deheman Bimo yang baru masuk ruangan mendadak menjadikan suasana hening seketika.
Beena dan Reyna saling melirik.
"Mampus gue" Reyna membatin.
"Barusan kuping gue mendadak panas, apa ac di ruangan ini mati kali ya?" kata Bimo sambil melewati meja Beena dan Reyna.
" Iya nih, kayaknya ac-nya mati". Reyna menimbali Bimo sambil mengibas-ngibaskan bagian leher kaosnya.
"Mbak Na aku mau ke pantry ambil air es, mbak Na mau nggak?" Reyna mencoba mencari alasan agar tidak banyak interaksi dengan Bimo. Ia langsung berjalan menuju pantry.
Beena hanya menggeleng, sebagai tanda bahwa ia tidak membutuhkan air minum sekaligus menegaskan kekonyolan Reyna.
"Lha, itu lu udah bawa air minum napa juga gue nawarin lu"
Jawaban skakmat dari Reyna karena memang Bimo sudah menenteng botol tempat minum.
Bimo menyunggingkan senyumnya, memunculkan barisan gigi rapinya.
Reyna ngeloyor begitu saja meninggalkan Beena dan Bimo di ruangan editor.
Tak lama Bimo pun meninggakan Beena di meja kerjanya, Beemo menuji ruang mini meeting yang masih satu blok dengan ruangan Beena.
Sementata Beena yang sibuk dengan naskah beritanya iapun harus mempersiapkan materi dan immateri untuk menghadapi pernikahan ala militer yang sering disebut lawang sewu. Banyak yang bilang jika ini menegangkan, pasalnya si calon pengantin wanita akan menghadapi seribu pertanyaan dan serangkaian test yang katanya lebih horror dari lawang sewu.
Bagi Beena harus menghafal nama lengkap Akbar, pangkat dan NRP milik calon suaminya bukan hal yang terlalu sulit menghafalnya. Mengingat naskah berita yang panjang saja mampu ia hafalkan dalam waktu beberapa menit saja.
Dan menghadapi pertanyaan- pertanyaan dari ketua Jalasenastri tentu saja bukan hal yang menegangkan. Pasalnya ia sudah terbiasa mengahdapi kamera yang tersambung secara live yang menjadi kesehariaannya. Selain itu, wawasan Beena yang luas menambah nilai plus , tak hanya tentang menyanyi mars atau hymne jalasenastri saja.
__ADS_1
Sungguh indah jalan cerita Akbar dan Beena saat ini, di mana keduanya makin intens berkomunikasi. Berbanding terbalik dengan keadaan Marry saat ini. Ia harus menahan rasa kecewa yang makin hari menyiksanya. Ditambah Akbar semakin menunjukkan keengganannya berkomunikasi dengan Mary.
Tut...tut...
Sebuah panggilan keluar menunggu jawaban dari seberang.
"Sial...napa sih telpon gue gak diangkat!"
Marry mendengus kesal.
"Ayo dong Bar, angkat dong...please gue pengen denger suara lo"
Tak ada jawaban,
"Ok, gue coba sekali lagi"
Tut...tut...
Akbar mengeluarkan hp dari saku celananya, dilihatnya sebuah panggilan masuk dan beberpaa panggilan tak terjawab dari nomor yang sama yaitu Mary. Ya, kontaknya saat ini sudah berganti nama bukan princess lagi melainkan nama Mary saja.
Jika sebelumnya Akbar membiarkan handphonya berdering saja, kali ini ia me-reject sambungan dari Mary. Berharap ia mengerti jika saat ini sudah tidak bisa mengaminkan semua keinginan dan kemauan Mary .
"Siapa bang?" tanya Yoseph berpura-pura penasaran karena dari tadi hp rekannya berdering tapi tak direspon si empunya. Tentu saja bisa ditebak, jika itu dari seseorang yang tidak diinginkan oleh Akbar. Dan Yoseph pasti sudah tahu, jika orang yang sedang Akbar hindari adalah Mary. Putri tunggal jenderal Bram.
"Biasalah" jawab singkat Akbar.
"Miss Princes belum tahu kalo abang udah punya mbak Beena?"
Akbar memilih diam dan meninggalkan Yoseph karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.00
" Aku ke mushola dulu ya" Kata Akbar sambil menyunggingkan senyumannya yang entah artinya apa. Ia lalu meninggalkan Yoseph tanpa menunggu balasan dari Yoseph.
"Akbaaaaarrr...." teriak Mary dari tempat lain dengan geram.
Panggilannya sering direject, sms tidak dibalas. Membuat Mary benar-benar kehilangan kewarasannya. Ia harus melakukan tindakan. Ya , ia harus melakukan action untuk mendapatkan cintanya kembali.
Mary berfikir keras, cara apa yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan kembali perhatian Akbar. Siapa yang bisa membantunya? Sedangkan Papi yang ia anggap orang yang paling bisa menolongnya mendapatkan cinta Akbar dengan segala kekuasaan jabatan menolak keras menggunakannya.
Sang papi merupakan orang yang paling patriot dan menghindari praktik-praktik keji mendapatkan apapun dengan kekuasaan yang ia miliki. Itu sebabnya Sang jenderal sangat dikagumi oleh Akbar.
__ADS_1
Mary teringat dengan Hesty, namun sayang saat dimintai tolong Hesty menolak. Tentu saja karena Hesty tahu betapa Akbar sangat mencintai Beena. Dan Hesty tahu betapa kerasnya perjuangan sahabatnya itu untuk menemukan cinta Beena.
***