
Semenjak jadi news anchor, Beena menjelma bak jadi selebriti. Jadwalnya mendadak padat tidak seperti saat jadi reporter di balik layar.
Seperti hari ini, saat Mary mengajaknya makan siang di luar Beena tidak bisa memenuhi permintaan Mary. Setelah proyeknya goal, Mary belum sempat berterima kasih secara khusus pada Beena. Akhirnya Mary berinisiatif mengunjungi Beena dan Mia sepupunya di FirstTv.
Bagi Mary keluar masuk kantor FirstTv adalah hal yang biasa, karena FirstTv adalah stasiun milik kakeknya. Semua petinggi FirstTv mengenal sosok Mary yang cantik dan memiliki karir cemerlang.
" Pagi mbak..." sapa salah satu kru firstTv pada Mary.
" Pagi " jawab mary sambil terus berjalan menuju ruangan Mia.
Sesampainya di ruangan yang ia tuju, ternyata tak ada orang yang dimaksudnya.
" Kemana si Mia?' gumam Mary.
" Eh...kamu" tunjuk Mary pada salah satu staff di firstTV yang kebetulan sedang lewat di hadapannya.
" Iya bu, ibu panggil saya?" jawab laki-laki kurus berambut ikal dengan kulit sawo matang.
Mary memperhatikan penampilan laki-laki tersebut dari atas hingga bawah.Jika dilihat dari penampilan dan logatnya laki-laki itu seperti orang jawa.
" Iya kamu, siapa lagi" kata Mary dengan nada agak ketus.
" Iya bu, ada yang bisa saya bantu"
" Kamu lihat Mia gak?"
" Oh mbak Mia? Mbak Mia tadi sedang rapat dengan bang Billy bu" jawabnya dengan tetap medhok.
"Kamu anak baru?"
"Iya bu, saya baru sebulan disini"
" Hm...pantas, lain kali jangan panggil aku ibu. Aku bukan ibumu" jawab Mary ketus.
" Iya bu, eh..."
Belum sempat dia mejawabnya dengan sempurna Mary langsung melenggang ke ruangan Mia.
" Cantik sih, tapi serem " Laki-laki itu menggerutu.
" Ngedumel aja lu Jok" sapa Bimo.
Ya, laki-laki medhok itu bernama Ardian. Ia asli wonogiri, namun karena logatnya jawa banget jadilah ia di panggil Joko.
" Eh, mas Bimo" jawab Joko dengan tempo lambat persis kaya ratu Solo.
" Nganu mas, itu lho tadi ada ibu-ibu cantik tapi kuetusnya minta ampun.Lha aku ndak salah to kalo manggil dia ibu?" papar Joko.
" Ibu-ibu yang mana yang lu maksud?"
" Tu, yang lagi di ruangan mbak Mia" jawab Joko sambil melirik ke arah Mary.
Bimo berjinjit, mencondongkan tubuhnya. Memastikan orang yang berada di ruangan mbak Mia dengan seksama.
"O..o..ow" ucap Bimo sambil ke posisi semula dan segera menarik Joko menjauh dari ruangan tersebut, setelah menyadari jika Mary mengetahui keberadaannya.
" Mas..mas Bimo" teriak Joko menolak tindakan Bimo yang menggandeng tangannya dengan paksa.
" Stttt, jangan berisik"
" Ada apa to mas? kok aku di tarik-tarik gini? sakit tahu"kata Joko sambil berusaha melepaskan tangannya dari ajakan paksa Bimo.
" Kamu tahu perempuan itu?" tanya Bimo.
Joko menggeleng," emang dia itu siapa?"
"Dia itu anak singa"
"Anak singa?" ulang Joko dengan mimik yang masih belum mengerti,"cantik gitu kok anak singa".
Bimo menengok ke kanan ke kiri memastikan tidak ada orang yang menguntit dan menguping pembicaraan mereka berdua, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Joko dan berbisik " Dia itu cucu yang punya firstTV, sepupunya mbak Mia"
" Nah, bilang dong kalo mbaknya itu tadi sodaranya mbak Mia" ucap Joko .
"Jangan kenceng-kenceng Jok"
__ADS_1
"Lah emang kenapa? apa dia akan menerkam kita mas?" tanya Joko.
" Kamu gak liat mukanya kayak yang dilipet gitu?itu tandanya dia sedang kesal"
" Lha salahku apa mas? gara-gara panggil dia ibu?"
Bimo mengangkat kedua bahunya, " eh, dulu dia pernah memaki OB baru di sini gara-gara OB tersebut salah bawa minuman yang dipesannya".
"Terus gimana nasibnya si OB itu mas?' tanya Joko penasaran.
" ya, kena mental lah dia. Dia langsung minta berhenti kerja"
" sampe segitunya mas?"
Bimo mengangguk.
"ehm..." mbak Mia berdehem.
" Eh mbak Mia" Bimo menggaruk kepalanya tak gatal.
" Jok, aku duluan ya masih banyak kerjaan" ucap Bimo sambil mengalihkan dan menghindar dari mbak Mia.
" Mari mbak" ucap Bimo pamitan, meninggalkan Joko dengan senyum penuh kemenangan. Dari arah kejauhan Bimo melambaikan tangannya ke arah Joko sambil menutup mulutnya menahan ketawa.
"Eh, nganu mbak, itu...anu" Joko kebingungan.
"Kenapa Jok?" tanya Mia.
" Nganu mbak, itu"
" Ada apa Jok?"
" Itu , ada orang yang nyari mbak Mia".
" Siapa?"
" Saya lupa tanya namanya mbak, wong saya takut"
"Takut?" tanya Mia.
" Iya, mbaknya marah-marah"
"iya mbak sama-sama. monggo mbak."
Mia segera menuju ruangannya. Dilihatnya sudah ada Mary di kursi tamu, ia tampak kesal"
" Kenapa muka lu? kecut amat". Kata Mia.
" Gue kesel sama pegawai lu yang baru, dia manggil gue ibu. Apa gue kelihatan tua?"
" Ya elah, dia itu pegawai baru mana tahu lu itu siapa."
" Ya , gue sebel aja udah gitu nyariin lu juga gak ada. Bete-kan gue!"
"Sory, eh tumben lu ke sini. Jangan bilang lu mau curhat tentang pacar lu itu ya? Gue lagi gak mood bahas cowok lu yang kayak siluman"
"Enak aja lu, ngatain cowok gue siluman. Dia itu cowok tertampan yang aku kenal"
" Lha gue gak pernah liat ketampanan pacarmu itu,tiap di ajak ketemuan pasti gak nongol"
" Dia itu sibuk, udah ah bete gue." jawab Mary sambil sesekali memeriksa sms masuk, namun tidak ada nama Akbar di kotak inbox. " Eh, gue ke sini tu mau ketemu Maryam. Sejak bantuannya tempo hari gue belum sempet ngucapin terima kasih secara khusus."
" Kebetulan, dia baru pulang dari Aceh"
" Oh, jadi yang dikirim ke Aceh kemarin Maryam?"
"Lu gak tahu kalo dia sekarang jadi news anchor yang lagi trending!"
"Lu tau kan gue sibuk, gak sempet nonton TV"
" Sok sibuk lu"ledek Mia.
" Udah ah, gue nyari Maryam dulu" Mary beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Mia.
" Tadi gue lihat dia ada di cafetaria" teriak Mia memberitahukan pada Mary yang semakin jauh meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
Beena menikmati makan siangnya di cafetaria FirstTv bersama Reyna. Seperti biasa makanan khas Indonesai jadi menu favoritnya, kali ini ia memilih nasi rawon sebagai menu makan siangnya.
“ Katanya ayah mbak Na ada di Jakarta ?”
Beena mengangguk sambil tetap menyantap rawonnya, “ Iya, tapi cuma dua hari, udah di Bandung sekarang”
“ Pantesan mbak Beena ga ikut party tempo hari, seru tau ga. Btw, katanya mbak Na dah ketemu pangeran baret ungu. Beneran mbak?” tanya Reyna sambil menyantap spaghetty bolognaise.
“ I’m engaged” jawab Beena sambil menunjukkan bros cantik yang diberika Akbar.
“ So sweet...cerita dong gimana gantengnya si prajurit baret ungu itu .”
Reyna makin penasaran.
“ Ganteng mana sama Pak dokter?”
“ Hm...kasih tau gak ya?” Goda Beena sambil memainkan jari telunjuknya di dagu.
“ Ih...mbak Na jahat, masa sama temen sendiri maen rahasia-rahasiaan”.
Beena memandang panjang ke arah pintu “ Hm...dia itu gagah seperti panglima Khalid Al Walid” .
Jawab Beena dengan mantap dengan senyum manisnya yang mengembang di kedua sudut bibirnya.
Dari arah pintu masuk cafeteria ada sosok gadis cantik melambaikan tangannya, Mary.
“ Hi girls...” teriak Mary dari kejauhan sambil mengangkat tangannya ke arah Beena.
Lalu Mary duduk di meja yang sama.
“ Wow...rawon? itu makanan kesukaan Papi aku” Marry menarik kursi lalu duduk di depan Beena.
“ Benarkah? Inikan makanan daerah Mar”
Balas Beena yang tidak percaya mengingat selera Mary yang tak biasa mungkin saja jika keluarganya pun memiliki selera western.
“ Papiku asli Surabaya, dan rawon itu makanan favoritnya. Kapan-kapan kamu nyobain rawon bikinan Mamiku deh. Kata papi rawon mami tiada duanya”
“ Boleh,aku paling suka kalo diajak makan-makan” balas Beena sambil menyantap rawonnya dan sesekali harus menyibakkan kerudungnya karena hampir menyentuh kuah rawon.
Saat membetulkan posisi hijab berbahan ceruty, tiba-tiba Mary melihat benda berkilauan di dada sebelah kiri Beena. Benda yang tak asing baginya. Benda yang dia kira dipersembahkan khusus oleh Akbar untuknya yang hingga saat ini belum ia terima.
Apa mungkin ada benda yang sama persis? Mary merasa jadi penasaran dari mana Beena mendapatkan benda itu. Mary terus saja memperhatikan detail bros itu tanpa berkedip. Ya, tidak salah lagi, bros itu sama seperti sketsa yang ia lihat dari Hesty.
“ Rey...” Panggil Bimo berlari sambil ngos-ngosan.
“ Ada apa? “ tanya Reyna sambil meneguk air setelah selesai menyantap seluruh spaghetinya.
“ Lu di panggil Bang Billy.”
"Apa?gue?yah...spagheti gue baru ngelewatin mulut, belum nyampe usus maen panggil aja" Reyna mendengus kesal.
"Udah, cepet tar kena SP bang Billy lho" ledek Beena.
Reyna berdiri merapikan mulut dan rambutnya, lalu pamit menemui Bang Billy.
“ Mbak Beena, aku duluan ya. Miss Mary saya permisi”
“ Beena?” gumam Mary semakin penasaran sedikit tak percaya.
Beena memberikan isyarat ok pada Reyna.
“ Mar...kok bengong!” ujar Beena menyadarkan lamunan Mary.
“ Eh, nama lengkap kamu siapa si? Aku kok baru denger nama panggilanmu tadi dari Reyna”
“ Maryam Tabeena, temen-temen manggil aku Beena”
“ Asal kamu?” tanya Mary semakin penasaran berharap Beena bukan orang yang ada dalam sampul buku yang temui di rumah Akbar.
“ Semarang, kenapa Mar?”
Deg...
Tiba-tiba hawa panas menyelimuti seluruh badan Mary, dadanya terasa sesak. Mendapati kenyataan jika perempuan yang ada dihadapannya adalah orang yang telah merebut perhatian Akbar selama ini.
__ADS_1
Pantas saja Akbar selalu menolak panggilannya selama di Aceh. Ini karena mereka bertemu di kota tsunami rupanya.
***