Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
When Gadis Janda Meet Pangeran Baret Ungu


__ADS_3

Sebuah pesawat jenis Cessna Caravan yang disewa FirstTv mendarat di Lanud Asikin yang rusak parah akibat tsunami. Beena turut dalam pesawat bersama petinggi FirstTv membawa berbagai macam bantuan yang terkumpul dari donasi yang dilakukan FirstTv.


Beena merasa senang bisa kembali lagi ke serambi mekkah, bisa menghibur anak-anak korban tsunami, dan menebar manfaat menyampaikan berita bersama Bimo. Kembalinya Beena ke Aceh berdasarkan hasil rating yang melambungkan saluran berita yang ia bawakan tempo hari.


Kedatangan Beena kali ini benar-benar disambut gembira oleh Bimo, ia merindukan sosok kakak yang selama tiga hari ini jauh darinya.


Ya, meski hanya berpisah tiga hari saja,nyatanya Bimo si manusia introvert benar-benar merasakan kerinduan pada sosok kakak perempuan yang mampu merubah pandangannya tentang pentingnya hubungan sosial.


“ Mbak Beena...” teriak Bimo.


Teriakan dari salah seorang juru kamera membuat Akbar menghentikan kegiatannya .


Kali ini Akbar hanya bisa melakukan estafet kardus mie instan yang baru saja turun dari pesawat. Karena kejadian tempo hari yang menyebabkan kakinya masih terluka.


“ Mbak Beena...”


teriak Bimo sekali lagi sambil melambaikan tangan lalu berlari ke arahnya.


Nama Beena yang dipanggil kedua kalinya membuat Akbar yakin, jika ia tidak salah dengar. Akbar mengarahkan pandangannya, mencari sosok yang dimaksud.


Mendapati sosok Beena yang sangat dirindukan, membuat Bimo refleks langsung memeluknya. Bimo menyadari sikap berlebihnya dan langsung melepasnya.


“ Sory...sory mbak, aku seneng banget soalnya”


“ Sejak kapan lu berubah jadi manusia” tanya bang Billy yang ikut dalam rombongan.


“ Bang ” Beena menyikut badan Billy yang berada tepat di sampingnya.


“ Kamu sehat kan Bim?” tanya Beena.


“ Puji Tuhan sehat mbak, aku seneng mbak balik lagi ke sini."


" Masa sih?" Beena menyebikkan bibirnya.


" Aku kan cerewet Bim"


" Sumpah mbak, aku kangen sama kecerewatan mu mbak. Hm...tapi mas Nizar pasti jauh lebih seneng dan pasti kangen banget deh! ”


“ Dokter Nizar juga ada di sini?” tanya Billy.


“ Iya bang”


Mereka bertiga seperti orang yang sedang reuni, padahal baru beberapa hari tak bertemu.


Tiba-tiba sosok tentara bertubuh atletis dengan langkah tertatih berdiri diantara mereka.


“ Beena...” panggilnya dengan lirih.


Mendapati seseorang memanggilnya Beena menoleh.


Deg,


Sosok tentara tampan berpakaian loreng dengan model lengan dilipat menonjolkan otot-otot lengan yang kekar. Warna kulit khas tentara yang terbakar sinar matahari dan luka di kakinya menggambarkan sosok panglima perang yang tak takut menyerang.

__ADS_1


Untuk beberapa saat keduanya masih saling menatap, terkesima. Antara percaya dan tidak percaya. Akhirnya pertemuan yang selama ini dinantikan keduanya telah sampai pada ujung penantian.


“ Ehem...”


Billy berdehem, membuat Beena dan Akbar menyadari jika ini memang benar-benar nyata.


Beena memperkenalkan ketiganya secara bergantian.


" Oh ya mas, kenalin ini Bang Billy. Dia atasan saya di firstTv" Ucap Beena.


Keduanyapun bersalaman dan bergantian menyebut nama mereka masing-masing.


" Billy Silitonga" ucap bang Billy.


" Syaiful Akbar" balas Akbar dengan jabatan tangan yang kokoh dan tegap.


" Abimanyu Wicaksono, biasa dipanggil Bimo" ujar Bimo sambil menyodorkan tangannya. Lalu Akbar membalasnya dengan menyebutkan namanya.


" Namanya jawa banget" tanya Akbar.


" Iya mas, tapi saya gak bisa jawa. Saya blasteran, mama betawi,bapak Solo. Saya Numpang lahir dan nama saja di jawa". Kata Bimo sambil nyengir memamerkan giginya


Melihat kikuk keduanya memaksa Billy menarik Bimo menjauh. “ Ayo Bim, kita berikan ruang buat mereka untuk reuni”. Ujar Billy.


“ Iya bang, aku juga gak mau jadi nyamuk disini” jawab Bimo yang semakin terlihat keluar dari zona insecure-nya, dengan menerima kehadiran beberapa teman dalam hidupnya.


“ Hey gadis janda, rupanya ini pangeran baret ungumu”


“Gadis janda?baret ungu?”


Gumam Akbar, ia lalu tersenyum minta penjelasan lebih detail mengapa sebutan itu di tujukan pada Beena.


Beena menyebikkan bibir tipisnya pada Bang Billy, menundukkan wajah merahnya karena menahan malu.


“ Hm...anu mas. Mas sudah lama di Aceh?” tanya Beena mengalihkan pembicaraan.


“ Jelaskan dulu kenapa temanmu bilang gadis janda?”


“ Itu...anu mas.


Hm..." Beena semakin kebingungan, harus dengan cara apa ia menjelaskannya.


" Hey...ditanya kok malah ham-hem-ham-hem aja".


" Anu mas..." Beena semakin kehabisan kata-kata.


" Kenapa? Apa kamu sudah kehilangan bakat retorikamu?" tanya Akbar.


" Apaan sih, baru ketemu sudah ngajak berdebat" balas Beena sambil menundukkan wajahnya karena menahan malu. Rasa kikuk menyelimutinya karena pertama kali berjumpa dengan orang yang selama ini ia rindukan.


Beena mengalihkan perdebatannya dengan Akbar. Ya, sebab jika berlanjut mukanya akan mendadak seperti kepiting rebus.


Akbar lalu menarik paksa Beena ke arah posko terdekat, keduanya duduk diatas batang pohon yang terbawa arus banjir yang berada di samping posko.

__ADS_1


"Mas..."


" Na..."


Keduanya memanggil bersamaan.


" Kamu duluan deh" pinta Akbar. " Mau tanya apa?" lanjutnya.


" Ah, nggak mas duluan aja" balas Beena.


" Nggak...nggak...Lady's first. Di kesatuanku selalu mengutamakan etika pada perempuan" Akbar beralibi.


Tak mau kalah, Beena pun berdalih." Tapi di agamaku mempunyai adab untuk memuliakan pemimpin. "


" Ok, aku nyerah karena kamu membawa-bawa agama. Gak ada sanggahan untuk agama."


Beena tersenyum penuh kemenangan.


"Apa kabarmu Na?" tanya Akbar mengawali pembicaraan


" Alhamdulillah, seperti yang mas lihat. Aku sehat, mas sendiri?"


" Aku jauh lebih sehat ...", belum selesai menjawab Beena sudah memotongnya.


" Nah itu kaki mas?" kata Beena sambil melirik pada kaki Akbar yang dibalut kain kassa yang tak lagi berwarna putih menandakan luka yang tak biasa.


" Aku jauh lebih sehat dibanding kemarin, aku jauh lebih sehat setelah melihat kamu".


" Ash...tentara sedang menggobal".


" Oh ya, jelaskan padaku kenapa teman-teman memanggilmu gadis janda!"


" Anu mas. Hm, itu karena aku suka warna ungu dan hampir peralatan di ruangan kerjaku berwarna ungu makanya teman-teman suka meledekku dengan sebutan gadis janda. Katanya ungu itu warna janda” .


" Bukan karena kamu tergila-gila sama pria baret ungu nih?" goda Akbar.


" uhg...pede sekali pak tentara yang satu ini. Aku suka bunga bougeenville ungu, yang tak pernah layu"


" Seperti rindumu padaku?" tanya Akbar sambil terkekeh mendengar penjelasan Beena.


” Jadi si pria baret ungu yang membuatmu begitu, jahat sekali dia”.


Akbar makin tersenyum lebar.


“ Iya, saking jahatnya aku sampai sekarang menunggunya” balas Beena.


“ Terus kalo sudah ketemu sama biang keroknya mau diapain?” goda Akbar.


“ Hm...kira-kira hukuman apa yang pantas buat biang kerok macam dia?” Kedua tertawa bahagia.


Akbar akhirnya bercerita tentang peristiwa di Bandung beberapa tahun silam, yang menyebabkan ia losscontact dengan Beena. Beena pun menceritakan masa-masa ia menunggu kedatangan Akbar. Tak menyangka keduanya bertemu di tempat yang penuh cerita duka.


***

__ADS_1


__ADS_2