
Seminggu sudah sejak Beena datang ke Aceh untuk kedua kalinya. Ini adalah malam terakhir Beena berada di tanah rencong. Ia harus kembali ke Jakarta karena Bimo sudah dua minggu meliput di Aceh. Dan akan di gantikan oleh rekan yang lain.
" Mbak Na besok jadi ikut balik ke jakarta kan?" tanya Bimo.
" Ya jadi lah, apa aku ada tampang mau pindah KTP?"
" Ya...kali aja mbak Na mau nemenin pak tentara" ledek Bimo.
" Kelamaan di Aceh bisa di depak sama bang Billy" kata Beena.
" Mbak Na, aku boleh nanya gak?"
" Hm...jangan tanya yang aneh-aneh. Aku gak bisa jawab nanti" balas Beena meledek.
" Mbak Na sudah ketemu sama Mr. Baret Ungu berarti sebentar lagi nikah. Apa Mbak Na akan berhenti dari firstTv?"
" Pertanyaanmu terlalu berat Bim" jawab Beena singkat.
" Mbak Na, serius aku tanya. Aku takut kehilangan partner seperti mbak Na"
Beena tersenyum manis, lalu mendekat ke arah Bimo.
" Hey, boys! Why are you being melancholic? dengan siapapun kamu berpartner nanti, kamu harus siap!" jawabnya menenangkan Bimo.
" Tapi mbak Na, tidak semua orang bisa menerima kekuranganku. Dan mbak Na orang yang mampu mengeluarkan aku dari zona introvertku!"
" Itu bukan karena aku Bim, itu karena kemauanmu yang keras keluar dari zona nyamanmu"
" Tapi sosok kakak seperti mbak Na yang membuatku semangat keluar dari sana. Dan di saat aku mulai bisa menerima dunia lain, mbak Na akan pergi meninggalkanku?"
" Bim, kamu itu laki-laki dan harus kuat untuk perempuan yang ada disekitarmu. Kamu punya mama, kamu punya adik perempuan dan mungkin besok kamu punya pacar seperti Reyna yang harus kamu lindungi" ledek Beena mencairkan suasana yang tadinya serius menjadi suasana familiarity.
" Amit...amit...amit..tujuh turunan jangan sampe cewek itu masuk ke hidup gue" Bimo membalas tanggapan dari Beena sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke dahi lalu ke meja.
Beena semakin merasa tergelitik dengan tingkah Bimo, " Jangan begitu, siapa tahu dia jodohmu"
" Nggak...nggak,kayak gak ada cewek lain aja di Indonesia raya ini." Lalu Bimo mengembalikan topik pembicaraan ke semula, " mbak Na akan keluar dari firstTV kalo udah nikah?"
" Mas Akbar bukan tipe laki-laki curber, kayaknya aku masih bisa bekerja di TV. Lagi pula aku akan sering di tinggal tugas ke luar daerah bahkan mungkin ke luar negeri. Jika aku gak punya kegiatan bakal kerasa banget sepinya. Mungkin aku akan tetap di firstTV"
Keduanya larut dalam obrolan. Hingga tak terasa sudah selesai semua prepare kepulangan mereka.
" Oh ya mbak semua sudah siap" kata Bimo sambil mengecek barang yang di packing untuk kepulangan mereka besok pagi.
" Cek lagi Bim, jangan sampai ada yang ketinggalan".
" Ya mbak, oh ya nanti jadi ke acara perpisahan kan?"
Beena membalas pertanyaan Bimo hanya dengan menganggukkan kepalanya, sebab dia sedang mengecek barang pribadinya.
Malam ini merupakan malam perpisahan bagi beberapa rekan wartawan dan relawan sebelum digantikan dengan relawan yang lain. Ada semacam acara hiburan yang diselenggarakan beberapa relawan untuk mengenang masa-masa mereka menjadi keluarga tanpa hubungan darah. Semua membaur, ras, golongan, agama, bahasa bahkan negara yang berbeda tak jadi penghalang bagi urusan atas nama kemanusiaan.
Di sana berkumpul juga seluruh angkatan kemiliteran beberapa negara menyaksikan acara perpisahan ini.
Acara perpisahan kali ini di isi dengan cerita-cerita dari relawan. Ada cerita haru, cerita lucu bahkan cerita konyol dari masing-masing relawan. Dengan latar belakang ras, suku, bahasa bahkan bangsa yang berbeda nyatanya mereka mampu melebur menjadi satu. Satu tekat membangkitkan semangat rakyat Aceh.
" Ladies and Gentlemen. To conclude the evening's activities. How about we ask Miss Maryam to sing a song?" ucap seorang pemandu acara dari relawan PMI.
Dengan muka merona, Beena menolak halus permintaan MC.
__ADS_1
" No, no...I can't do that" tolak Beena.
" Come on, you can do it for us." ucap salah seorang relawan dari negara Australia.
" Iya kak, kami butuh hiburan" jawab dari relawan medis dari arah lain.
Dengan langkah tak percaya diri Beena akhirnya bangkit, beranjak dari posisi duduknya lalu berjalan ke tengah dan membisikkan sebuah judul lagu kepada gitaris untuk mengiringinya.
Terlihat fotografer asal negeri sakura mengabadikan ekspresi perempuan yang sedang menyanyikan lagu dari Mayumi Itsuwa di iringi gitar akustik yang dimainkan oleh salah seorang relawan akademisi .
Ai wa itsumo rarabai
Tabi ni tsukareta toki
Tada kokoro no tomo to
Watashi o yonde...
Bait terakhir yang di lantunkan oleh suara merdu Beena membuat semua terkesima. Diakhiri dengan standing applause menjadi ending yang apik sebuah pertunjukkan.
Akbar yang sedari tadi memperhatikan penampilan sang kekasih membuatnya tak berhenti memuji segala yang ada pada diri Beena.
" Konbanwa" ucap sang fotografer
" Konbanwa" ucap Beena sambil menganggukkan kepalanya.
" Hajimemashite, watashinonamaeha Nihon no zasshi no Yoshidadesu'
" hajimemashite, watashinonamaeha Mariamudesu.Watashi wa FirstTV kara kimashita".
" Anata no koe wa totemo amaidesu" Yoshida memuji penampilan Beena baru saja.
"Arigatōgozaimashita. Watashi wa anata no homekotoba ni ureshīdesu. ucap Beena membalas pujian yang dilontarkan Yoshida
"kochirakoso douzo yoroshiku onegaishimasu, Arigatou" balas Beena.
Mereka berpisah di malam pertemuan mereka untuk pertama kali. Beena berjalan menuju kerumunan relawan salah satu ormas Islam Indonesia.
Sementara dari arah lain ada Yoseph dan kawan-kawan TNI lain yang ternyata memperhatikan penampilan Beena.
“ Perfect”
Satu kata yang keluar dari mulut Yoseph membuat Akbar terhenti dari pandangan panjangnya terhadap Beena.
“ Bro, aku ke sana bentar ya” kata Akbar meninggalkan Yoseph.
“ Puas-puaskan lah malam ini bang, sebelum besok pacar kau pulang” Yoseph terkekeh.
Akbar menoleh ke belakang, lalu mengisyaratkan dengan tangannya ke arah Yoseph
“ Ok bro....”
“ Bee...” panggil Akbar.
“ Eh mas, sejak kapan di sini?”
“ Dari tadi, saat kamu nyanyi saja aku udah di sini”.
Beena tertunduk malu, tak percaya jika Akbar memperhatikannya sedari tadi.
__ADS_1
“ Lagu yang indah, seindah makhluk Allah yang Dia ciptakan sebagai tulang rusukku”.
“ Mulai deh...pasti mau gombal lagi”
“ Tentang apa lagu itu?”
Tanya Akbar penasaran.
“ Tentang seseorang yang sabar menunggu datangnya kebahagiaan”
“ Lagu itu menggambarkan kamu menunggu ku? Wah, tersanjungnya aku dengan lagu yang kau bawakan itu sayang...”
Beena terdiam,
“ ih, Ge-eR kamu mas! Secara ekplisit lagu itu ditujukan untuk sahabat pada umumnya”.
“ Tapi secara implisit lagu itu didedikasikan untuk tentara ganteng macam aku kan? Ha...ha..ha..”
Akbar terbahak.
“ Uh...dasar biang kerok”
“ Eh bee, besok langsung pulang ke Semarang?”
“ Gak tahu mas, kalau dapet cuti setelah pulang dari sini mungkin pulang ke Semarang. Kenapa gitu?"
“ Gak apa-apa, cuma kalau bisa cutinya bareng aja. Ambil pas mas pulang dari sini,sekalian kita urus admistrasi nikah”.
“ Hm, ide bagus tuh, mas cuma tugas sebulan disini kan?”
“ iya, dua minggu lagi mas pulang”
“ Ya, nanti aku ajukan surat cuti dulu ke bang Billy”.
"Apa sulit mengajukan cuti di kantor mu bee?"
"Tidak juga, tapi prosedurnya memang harus begitu mas. Tenang saja, bang Billy seorang atasan yang humble kok".
"Pastikan kita bisa pulang ke Semarang bareng ya bee?"
" Insyaallah " jawab Beena pendek.
Beena berjalan di belakang Akbar.
Mendengar jawaban yang singkat dari kekasihnya, membuat Akbar menghentikan langkahnya.
Bruk...
Auw...
"Kenapa mau berhenti gak bilang-bilang" Beena menggembungkan mulutnya.
"Kamu masih sama menggemaskannya saat masih SMA, bee"
Akbar mencubit pipi Beena.
"Aku bukan Tina toon"
Beena melotot.
__ADS_1
Mereka menikmati kebersamaan menghirup atmosfir serambi Mekah untuk terakhir kalinya.
***