
Sebelum meninggalkan Beena, tiba-tiba handphone Reyna berdering sebuah panggilan masuk. Dilihatnya, ternyata Akbar menelponnya.
"Hallo...ya mas"
"Rey, kamu udah sampai?"
"Iya mas, mbak Na baru aja masuk"
"Bisa kita ketemu sebentar?"
"Boleh"
"Ok, kita ketemu di kafe orange ya".
Akbar segera menutup sambungan telponnya, senang rasanya bisa menghubungi Reyna. Orang yang tentu saja menguntungkan untuk di mintai bantuannya agar bisa menyelesaikan masalahnya.
Dan bagi Reyna, tidak ada alasan untuk menolak ajakan Akbar. Ia sudah gemas sama laki-laki yang bisa membuat Beena meneteskan air mata. Tentu ini akan Reyna pakai untuk mencari tahu, setelah sepanjang perjalanan mengantar Beena pulang ia diliputi oleh rasa penasaran. Ada apa sebenarnya?
Lima belas menit dari apartemen Beena menuju kafe yang dimaksud. Reyna sudah melihat Akbar dengan pakaian yang sama seperti terakhir ia lihat. Masih dengan kondisi lusuh, namun tidak memudarkan pesona kharismatik seorang prajurit.
"Rey..." Akbar melambaikan tangan.
Reyna langsung menuju ke arah Akbar. Ia duduk berlawanan arah dengan Akbar. Dengan raut muka masam dan penasaran Reyna langsung menghujani pertanyaan pada laki-laki yang biasa ia panggil hantu laut.
"Mas Akbar ngapain sampe bikin mbak Na nangis begitu!" ucapnya sambil mulutnya bersungut dan melipat tangannya didepan dada.
"Ok, aku salah sama Beena. Tapi dia baik-baik aja kan sekarang?"
"Baik-baik apanya! Mbak Na gak biasanya tidur di mobil sepanjang perjalanan pulang. Itu artinya dia sedang tidak baik-baik saja mas hantu".
"Maksudku, Beena masih bisa berkomunikasi dengan baik kan?"
"Iya sih, dan tau ga mas hantu. Mbak Na itu hebat, masih tetep mau masuk kerja besok pagi padahal matanya pasti masih kelihatan sembab setelah nangis tadi".
"Alhamdulillah" Akbar tersenyum lega mendengar penjelasan Reyna.
"Lho, kok alhamdulillah sih. Jelas-jelas ini kondisi yang memprihatinkan pacarnya kok masih bisa bilang alhamdulillah" sambil sedikit emosi Reyna meluapkan kekecewaannya dengan menyeruput habis minuman yang ada didepannya.
Sruputt...
"eh kok bocor ya gelasnya" Reyna nyengir menyadari kekonyolannya.
"Mau nambah Rey?"
"Boleh mas, boleh...aus soalnya"
__ADS_1
Akbar memberi kode pada waitres untuk menambah pesanannya.
Sambil menunggu pesanan datang Akbar menjelaskan kejadian hari ini pada Reyna. Mengapa Beena menangis dan mengapa ada kejadian duel antara Akbar dan Nizar. Reyna hanya manggut-manggut mendengar cerita Akbar. Pantas saja Beena sampai sekecewa itu pada Akbar, orang yang akan menjadi suami Beena dalam hitungan bulan lagi.
"Mas, maaf nih sudah malam.Aku pamit dulu ya?"
"Okey, terima kasih kamu udah nganterin Beena dengan selamat dan udah jadi pendengar yang baik.Tolong titip Beena, mungkin selama beberapa hari kedepan aku gak bisa menghubungi Beena.Tapi aku akan tetap berusaha untuk itu, ya..lewat kamu Rey"
"Tenang aja mas hantu, aku siap jadi intel nya mas hantu. Tapi barter sama cogan di Marinir yak". Reyna senyum memperlihatkan gigi rapinya sambil memilin rambutnya yang keriwil.
"Tenang saja, stok cogan masih banyak. Mau satu kompi apa satu pleton?"
"Gak...gak...becanda mas, buat kebaikan mbak Na dan mas Akbar aku siap membantu dengan ge-ra-tis"
"Ok, aku pamit ya mas"
"Jangan lupa kabari keadaan Beena besok pagi ya".
Akbar dan Reyna berpisah dengan masuk kendaraan masing-masing menuju rumah mereka sendiri-sendiri.
***
Dua hari setelah peristiwa itu, Beena lebih banyak diam. Ia pun tak mau mengangkat telpon atau membalas sms Akbar. Beena lebih banyak menghabiskan waktunya di FirstTv.
Bukan karena Beena melupakan janjinya untuk selalu setia pada Akbar. Tapi Beena berpikir jauh lebih dari itu. Ia membayangkan rumitnya hubungan mereka kelak jika kejadian buruk menimpa biduk rumah tangganya dengan kehadiran wanita lain.
Sebab menikah dengan militer prosesnya tidak mudah. Dan jika sampai ada perceraian, cerainya orang militer jauh lebih susah. Ia tak bisa mengorbankan anak-anaknya kelak.
Whenever you go,
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Handphone Beena berdering, entah ini merupakan panggilan Akbar yang ke berapa yang ia abaikan.
“ Mbak Na, hp-nya bunyi tu!”
Reyna mencoba mengingatkan.
“ Biarin Rey, ntar juga mati sendiri. Aku lagi sibuk” jawab Beena sambil berpura-pura sibuk di depan komputernya.
“ Mbak Na, kata pak ustadz gak baik lho berantem lebih dari tiga hari”
Reyna meringis, takut salah memberikan saran pada Beena yang pengetahuan agamanya jauh di atasnya.
__ADS_1
“ Astaghfirullah” Beena tersentak, ia bergegas mengambil hp nya. Menyadari sudah dua hari ini ia mengabaikan Akbar.
Beena berjalan setengah lari ke luar ruang kerjanya, memilih tempat yang paling aman dan privacy untuknya berkomunikasi dengan Akbar. Ya, akhirnya Beena memilih pantry. Tempat ini paling aman di jam-jam seperti ini. Tidak banyak yang berkunjung ke pantry di waktu menjelang makan siang. Karena semua pegawai memilih cafetaria.
“Assalamu’alaikum...” Beena mengangkat panggilan dari Akbar.
“ Alaikumussalam, Bee. Maafkan aku. Aku tahu aku salah. Aku harus melakukan apa biar kamu memaafkan aku.”
“ Kamu gak harus melakukan apapun mas, cukup beri aku waktu untuk memikirkan ini semua”
“ Maksud kamu?”
“ Kita harus memikirkan langkah kita ke depan sudah tepat atau belum. Aku gak mau kita salah pilih”
“ Gak Bee, aku gak akan salah milih kamu. Kamu calon istri yang paling tepat untuk ku, ibu yang baik buat anak-anakku kelak”.
"Lalu bagaimana dengan Mary?"
"Aku cuma mantan ajudannya, sayang. Dan aku hanya menghormati atasanku, pak Bram".
"Mas, kamu tahu gak. Mary itu sangat mencintaimu dan tidak akan mudah bagi dia untuk melepaskanmu untukku. Dan dia akan punya segala cara untuk selalu dekat denganmu. Dan aku tidak mau jika setelah menikah, masalah ini akan terjadi lagi"
"Bee, please believe me. Cuma kamu kekuatanku untuk saat ini, kamu masa depanku".
Entah apa lagi yang harus Akbar buktikan pada Beena agar ia kembali percaya.
Sedang bagi Beena, mendengar kata masa depan membuatnya makin teriris. Ia masih ingat kata-kata Mary untuknya. Hanya Mary yang bisa menjamin masa depan Akbar,karir Akbar.Dengan kekuasaan jendral Bram, ayahnya tentu bukan perkara yang sulit.
“ Masa depan?karirmu mas! Bukankah jika bersama Mary kamu bisa meraihnya?”
Entah intuisi dari mana, hingga Beena langsung melontarkan kata-kata itu untuk Akbar.
“Bee, kamu tahu kan aku bukan orang yang gila pangkat!”
Sambungan langsung Akbar putus mendengar arah pembicaraan pada jabatan yang tak pernah terbesit dipikiran Akbar.
Tak percaya jika Beena berani membahas sejauh itu. Dan sungguh itu merendahkan Akbar. Merendahkan harga dirinya dengan membandingkan cintanya dengan jabatan.
Akbar benar-benar merasa berada di titik terendah. Orang yang ia anggap paling mengerti keadaannya, kini jadi orang yang merendahkan harga dirinya.
Sedang Mary saat ini jadi orang yang paling senang dengan keadaan ini. Ia masih memiliki kesempatan mendekati Akbar kembali, disaat keduanya memilih jalan untuk instropeksi.
Mary selalu mencari celah dimana ia dapat merebut kembali perhatian Akbar. Tak peduli cara apapun yang harus ia tempuh.
***
__ADS_1