
Beirut Airport International,
Dikota Parisnya Timur Tengah , Beena pertama melangkahkan kaki. Takjub akan keindahan dan keragaman yang ada pada negara dipersimpangan budaya.
Selama beribu-ribu tahun Lebanon telah menjadi persimpangan utama peradaban. Maka tak heran, negara yang hanya memiliki luas wilayah 10.452 km2 memiliki budaya yang kaya. Campuran kelompok etnis dan agama yang sangat luas di Lebanon menyumbangkan tradisi makanan, musik, sastra dan festifal.
“ Mbak Na... kok bengong”
suara Bimo menyadarkan ketakjubannya pada negara yang memiliki bendera bergambar pohon aras yang berlatar warna putih dan diapit garis merah.
“ Ayo, taksinya sudah nunggu mbak “
Beena tersenyum simpul.
Sebuah taksi mengantar mereka ke hotel tempat mereka menginap selama seminggu ke depan. Di perjalanan menuju hotel, Beena dan Bimo sempat melewati lokasi perdana menteri Lebanon di bom. Tragedi peledakan yang menewaskan sang PM terjadi di samping hotel St. Georges
“ Kota yang sangat kuat...” ujar Beena lirih.
Ya, meski setelah perang saudara sejak tahun 75-an hingga tahun 90-an terjadi. Nyatanya Beirut selalu bangkit setelah berkali-kali di hancurkan.
“ Benar mbak Na, Beirut kota kuat makanya sering dikomparasikan dengan legenda burung phoenix. Seekor burung dalam mitologi Mesir sebagai lambang keabadian dalam kitab Kisah Para Rosul”.
Beena semakin menggeleng tak percaya, jika rekan yang sudah ia anggap adiknya sendiri sekarang sudah banyak kemajuan.
Bimo semakin menunjukkan jati dirinya, keluar dari zona insecurenya. Benar-benar perubahan yang amazing kan???
“ Hm...ceritakan legenda burung feniks versi alkitabmu!”. Pinta Beena memancing agar Bimo mau berbicara lebih banyak.
“ Mbak Na...” teriak Bimo seperti enggan menuruti permintaan seniornya.
“ Ayolah Bim, aku tahu kamu sudah lebih baik dari kemarin” Beena mengerdipkan matanya.
“ Ok..ok...tapi jangan sekarang, I’ll tell you later”
“ promise...?” Beena mengacungkan jari kelingkingnya.
“I’m promise” Bimo membalas dengan menautkan jari kelingkingnya ke Beena.
Setelah menikmati perjalanan dari bandara ke hotel yang cukup melelahkan mereka berpisah di depan pintu kamar masing-masing.
Beena segera menghempaskan tubuhnya yang terasa pegal-pegal hingga ia ketiduran.
__ADS_1
Tok..tok..
“ Mbak Na...”
Suara ketukan pintu diikuti panggilan namanya membuat Beena terperanjat.
“Astagfirullah... ” Beena langsung melihat jam di dinding,” selama itukah aku tidur”, gumamnya.
“ Mbak...”
Ceklek...
“ Ya Bim “ Beena membukakan pintu kamarnya dengan pakaian yang masih sama sejak dari Bandara tadi.
“ Kita makan malam yuk”
“ Aku belum mandi, ketiduran tadi “ Beena nyengir menunjukkan gigi putihnya sambil menggaruk hijabnya yang masih menempel sejak pertama datang ke hotel.
“ Ok , Aku tunggu di bawah ya”.
“ Ok”.
Malam ini mereka berjalan di sekitar hotel, menikmati atmosfer Beirut sambil membahas planning selama 3 hari mendatang.
Di kota yang terletak diantara dua bukit, Alasyrafiyah dan Musaytibah ini mereka menikmati makan malam Barout del batata disebuah resto di Hamra Street yang tak jauh dari hotel.
"Gimana mbk Na? Enak gak makanan di sini?"
"Buat aku gak ada yang gak enak, Bim. Semua makanan gak akan bersisa di hadapanku" Ucap Beena sambil mengunyah makanan khas Beirut.
"Iya...iya...aku percaya, mba Na paling anti melihat sisa makanan.Tapi aku heran,sebanyak apapun mbak Na makan.Tubuhnya segitu-gitu aja"
"Karena kerja kita berat, butuh tenaga yang ekstra jadi makan banyak juga ke pangkas buat kerjaan" jawab Beena dengan tetap senyum.
"Eh, tapi bu Nora di divisi humas badannya melar, kayak gajah bengkak padahal selalu bilang diet...diet dan diet"
"Hush...kamu itu ya sembarangan, gajah gak bengkak aja udah gede kamu tambahin bengkak lagi. Hm...tapi emang ada kok tipe-tipe orang yang cuma tarik nafas aja jadi daging.Ya...bu Nora itu contohnya"
Keduanya terbahak, bukan mentertawakan seseorang tapi sebenarnya mereka sedang merindukan orang-orang yang jauh dari jangkauan mereka. Ya, meski baru sehari meninggalkan first-tv rasanya mereka sudah lama tak jumpa dan seperti tidak akan bertemu dengan mereka lagi saja.
"Oh ya, mbak Na. Kenapa sih mbak Na suka bawel kalo ada diantara kita yang gak menghabiskan makanan?"
__ADS_1
"Ya, karena dalam ajaran kami, muslim. Menurut sebuah hadist yang diriwayatkan bukhori-muslim, ada 3 hal yang dibenci Allah yaitu menggosip,menyia-nyiakan harta (makanan) dan banyak meminta. Bahkan Rosulullah memerintahkan memungut makanan yang jatuh lalu memaknnya setelah dibersihkan terlebih dahulu bagian yang kotornya. Sampai-sampai rosul itu menganjurkan menjilat jari-jari kita setelah makan.Kamu tahu alasananya? "
Bimo mengeleng,
"Rosul berkata, karena kita tidak tahu makanan mana yang mendatangkan keberkahan. Bisa jadi, dari makanan yang jatuh tadi atau dari sebutir nasi yang yang kita jilat dari jari kita barusan"
"Wah, berarti kucing itu meniru konsepnya Muhammad ya mbak Na. Masak kita kalah sama hewan. Mulai saat ini saya harus menghabiskan semua makanan biar berkah"
"Tapi tetep tidak boleh berlebihan, makanya ambil secukupnya. Makan saat lapar berhenti sebelum kenyang"
"Lho...lho...ini konsep apa lagi mbak Na"
Bimo semakin tertarik dengan semua bahasan Beena.Selain obrolan mengakrabkan, ini memang topik baru yang Bimo sukai.
"Berhenti sebelum kenyang? Ini hadits juga?"
"Bukan, itu hadits dhaif. Itu adalah anjuran dokter kerajaan jaman islam terdahulu. Kenapa di anjurkan berhenti sebelum kekenyangan? Karena ada korelasinya. Saat kita kenyang, jika jumlah makanan yang ada di lambung melebihi kapasitas enzim pencernaan yang di produksi. Maka makanan jadi tidak sempurna ketika di cerna oleh tubuh sehingga menyebabkan fermentasi dan menimbulkan gas, timbullah penyakit gastrisisa alias maag"
"Wah...wah...mbak Na cocok jadi dokter ini".
"Jangan ngeledek kamu, kalo aku jadi dokter yang ada malaprakik nanti.Over dosis hahaha..."
"Ngomong-ngomong, giman kabar mama mu?"
"Baik mbak Na"
"Gimana komunikasimu sama mama mu, lancar?.
"Puji tuhan, sudah lebih baik dari kemarin mbak Na".
"Terima kasih mbak Na, karena mbak Na menyadarkan aku betapa pentingnya kehadiran mama untuk kita".
"Ya, kamu itu anak laki-laki. Pasti banyak pengaharapan besar ibumu pada keluarga, apalagi kamu punya adik perempuan".
Bimo menyadari ke egoisannya terhadap mamanya, ia yang membenci ibunya hanya karena menikah lagi setelah bercerai dari papanya. Tanpa menimbang kebutuhan dan kehadiran seorang kepala rumah tangga bagi sebuah keluarga.
Kini Bimo yang semakin dewasa, semakin mengerti tanggungjawab setelah sekian lama ia mengabaikan perasaan mamanya, menyia-nyiakan kehadiran adik permpuannya. Ah, kali ini Bimo sangat merindukan mereka yang ada di Indonesia. Kenapa baru tersadar sekarang ini, tapi tentu saja masih ada waktu untuk lebih dekat dengan mereka. Ya, sepulang dari Lebanon tentunya.
***
***
__ADS_1