
Di lain tempat, Yoseph kebingungan mencari seniornya. Ia khawatir terjadi sesuatu mengingat kondisi Akbar yang belum pulih benar, sedangkan waktu semakin larut namun komandannya belum kembali ke posko.
Yoseph segera menuju posko logistik, sebab terakhir ia ketahui Akbar bertugas membantu kedatangan logistik. Ia bertanya dari satu orang ke yang lainnya perihal keberadaan Akbar. Namun nihil.
Dari posko logistik ia berpindah tempat, kali ini ia mendatangi masjid. Sebab sudah bisa dipastikan Akbar mengunjungi masjid untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Namun karena hari sudah malam, tidak ada yang bisa ia tanya. Di dalam masjid hanya ada beberapa warga yang sedang merebahkan tubuh mereka.
" Sepertinya mereka sudah tidur, tidak mungkin kalau aku bangunkan mereka" gumam Yoseph.
Ia berjalan hendak keluar dari masjid.
Masih dengan celingukkan, Yoseph memperlambat langkahnya meninggalkan pelataran masjid Rahmatullah. Mengharap ada seseorang yang bisa ia mintai informasinya
" Ada yang bisa saya bantu dik?" tanya seorang laki-laki senja menggunakan peci putih dari arah berlawanan.
Yoseph tersenyum menunjukkan gigi putihnya yang kontras dengan warna kulitnya yang hitam. Ia pun menganggukkan kepalanya.
Ya,laki-laki senja itu melihat Yoseph dengan seksama. Dilihat sekilas, ia seperti non muslim sebab paras Ambonnya yang kentara ditambah jika melihat nama B. YOSEPH A. yang melekat di baju lorengnya menambah keyakinan jika ia bukanlah muslim.
" Iya bapak, saya sedang mencari atasan saya " jawab Yoseph. " Biasanya dia mengerjakan shalat di masjid ini, mungkin bapak melihat dia tadi di sini?".
" Wah, makmum di sini banyak sekali dik, bagaimana ciri-ciri saudara adik mungkin saya bisa mengingatnya" jawab laki-laki itu.
" Tinggi badannya di atas saya, bapak. Dia sedang terluka kakinya, mungkin jalannya sedikit kesulitan" jawab Yoseph.
" Hm...Kalau dia pake baju tentara lengkap mungkin bapak menegnali namanya, S. Akbar. Tapi sayang hari ini dia cuma pake kaos tentara tanpa papan nama" lanjutnya.
" Oh, mas Akbar. Iya...iya...saya kenal mas tentara yang itu"
Begitu laki-laki senja itu menjawabnya, Yoseph girang bukan kepalang mendengar kata-kata dari lawan bicaranya.
" Benarkah, bapak melihatnya hari ini?"
" Iya, tadi mas Akbar shalat magrib hingga Isya di sini"
"Terus, kira-kira bapak tahu tidak setelah dari sini dia kemana? saya khawatir karena kakinya belum sembuh benar".
" Kalau itu saya kurang tahu dik, tapi yang jelas mas Akbar sehat dan dia jalan ditemani seorang gadis".
" Abang sama cewek?" ucap Yoseph dengan lirih. " Apa mungkin putrinya jendral Bram nyusul ke Aceh? Ah...segala kemungkinan pasti terjadi. Mary kan cinta mati sama bang Akbar." Yoseph membatin.
" Kalau begitu saya permisi pak, terima kasih atas informasinya"
" Iya, sama-sama dik".
Setelah berpamitan Yoseph memutuskan untuk kembali ke posko gabungan TNI, berharap ia akan bertemu dengan Akbar dan meminta penjelasan seniornya itu yang menghilang sementara dengan seorang cewek putri jendral.
Sesampainya di tempat yang ia maksud, ternyata Akbar tak menampakkan batang hidungnya.
" Kemana kau bang? aku muter-muter mencarimu tapi tak nampak bau kentutmu sekali pun" celetuk Yoseph dengan nada sedikit geram.
" hey, kau..." kata Yoseph menunjuk pada rekan tentara AU.
" Iya bang "
" Ada kau lihat bang Akbar di mana?"
" Oh mas Akbar, tadi saya lihat di posko pengungsian anak-anak bang"
__ADS_1
" Di situ?" kata Yoseph sambil mengacungkan jari telunjuknya pada suatu tempat yang berada tepat diseberang posko tempatnya berada.
" Iya bang, tapi gak tahu kalau sekarang"
" Ya sudah, aku cek ke sana. Kali aja masih tu orang"
Yoseph berlari kecil menuju posko yang dimaksud, ia menyapu pandangannya ke segala arah. Untuk beberapa saat ia belum menemukan orang yang ia maksud.
Hingga akhirnya ia menemukan keberadaan Akbar dan segera menghampirinya.
“ Disini kau rupanya, bang? Sama cewek pula. Aku sudah muter-muter nyari kau. Dan kau asyik-asyik tertawa-tawa di sini”
celoteh Yoseph dengan gaya khas ambonnya.
Beena melirik ke arah Akbar, lalu tersenyum manis ke arah Yoseph.
“ Astaga, Tuhan...manis kali senyuman makhluk Mu ini”.
“ Hush... dia ini milikku” jawab Akbar.
“ Milik abang?apa maksud kau bang, semua cewek cantik kau bilang milik mu!”
Yoseph duduk disebelah Beena, memperhatikan dari atas hingga bawah perempuan cantik dan anggun mengenakan tutup kepala.
Akbar tak tinggal diam, ia segera menghalangi pandangan Yoseph menggunakan tangannya. Lalu menarik Yoseph agar pindah posisi duduknya.
“ Apaan sih mas “ Beena tertawa melihat tingkah Akbar yang berlebih.
“Kenalin bro, ini yang namanya Maryam Tabeena" ucap Akbar. " Bee , ini Yoseph dia itu partnerku”
Terang akbar pada keduanya.
Dengan mata menyeringai, giliran Beena meminta penjelasan Akbar. Mengapa Yoseph memanggilnya dengan sebutan sundel bolong.
" Mas...?" ucap Beena meminta penjelasan.
Akbar terkekeh,
“ Jadi gini Bee, Yoseph itu juniorku di kesatuan. Kita beberapa kali tugas bareng. Nah, dia itu yang sering penasaran dengan sosok sketsa yang ku buat.”
“ Habis si abang selalu gambar gadis yang menampakkan bagian belakangnya saja”
Yoseph beralibi.
“ Jadi jangan salahin aku memanggilnya sundel bolong”.
“ Terus kalo sudah ketemu aslinya masih mau bilang sundel bolong?” tanya Beena.
“ Aslinya lebih cantik “ jawab Yoseph terkekeh.
“ Berani dekati dia, aku sikat juga kau “ Akbar menggerakkan sikut lengatnya ke dada Yoseph.
“ Ih atut..., si hantu laut berreaksi. Kalian memang serasi hantu laut dan sundel bolong” Yoseph terbahak.
“ Hm...Yoseph itu mengingatkan aku pada seseorang mas”.
“ Siapa ? “ tanya Akbar.
__ADS_1
“ Anak tetangganya Mas Arief di Bandung”.
“ Pasti aku menggemaskan kayak anak itu, lucu dan imut” Yoseph sambil memperagakan wajah imut anak kecil.
“ Banyak kesamaannya, anaknya nyerocos terus ga ada titik ga ada koma. Hm...namanya juga sama, Yusuf. Tapi orang sunda itu kan ga bisa melafalkan huruf F jadilah dia dipanggil Ucup. Nah, mengobati kangenku sama Ucup, gimana kalo Yoseph aku panggil Ucup juga” tanya Beena.
Dan sekarang giliran Beena dan Akbar yang terbahak.
Membayangkan wajah ambon dipanggil Ucup.
Sebuah panggilan masuk di hp Beena.
Whenever you go,
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
Beena melihat nama Nizar sebagai penelpon, sedikit lebih lama dari biasanya ia memutuskan untuk mengangkatnya.
“ Mas Akbar, Aku angkat telpon dulu ya?”
Akbar mengangguk dan melanjutkan ngobrol dengan Yoseph. Beena berjalan beberapa langkah dari Akbar.
“ Assalamu’alaikum mas?”
“ Alaikumussalam, tadi aku ketemu Bang Billy. Katanya kamu ke sini lagi.”
“ Oh iya mas, baru nyampe tadi siang”.
“ Ada yang mau aku omongin sekarang, kamu di mana”
“ Aku ada di posko pengungsian anak-anak mas”.
“ Aku ke sana sekarang ya?”
“ Ini sudah malam mas, apa tidak bisa lain kali saja?”
“ Oh ya sudah, kamu istirahat. Lain kali aku ke sana”.
“ Ya mas”
Beena menutup telpon, lalu kembali arah Akbar dan Yoseph duduk.
“ Siapa bee?”
“ Teman mas, relawan juga di sini”
“ Oh ya bee, udah malem. Aku pamit ya kamu juga perlu istirahat.”
“ Ok mas. Oh ya Cup, aku titip mas Akbar ya”
__ADS_1
“ Siap boss”
Beena masuk ke kawasan tenda pengungsian anak-anak . Di sana tersedia tenda khusus untuk relawan dan wartawan perempuan. Sedang Akbar kembal ke posko TNI yang letaknya di seberang jalan beberapa meter dari tenda Beena.