Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Tentara Jang Dong Gun itu calon suamiku


__ADS_3

"Mar...”


Suara lembut Beena kali ini terdengar melengking bagi Mary. Suara yang terdengar seperti ejekan baginya, ejekan dari seorang rival lebih tepatnya.


Ia mendadak ingin lari menghindari Beena dan minta penjelasan pada Akbar. Namun apa daya, Akbar selalu susah untuk di hubungi dan tidak pernah membalas pesannya.


“ Mar, kamu baik-baik saja kan?” tanya Beena sambil memegang bahu Mary.


Dengan terbata dan rasa sejuta tanya Mary berusaha menjawab pertanyaan Beena.


“ A..ku, aku harus pergi. Ada kerjaan mendadak” jawab Mary dengan segera berlalu dari hadapan Beena.


Langkah kakinya mendadak lemas, dengan susah payah ia berjalan meninggalkan cafetaria. Tangannya bergetar berusaha keras mengeluarkan ponselnya dari tasnya.


Mary mencoba melakukan panggilan berulang kali pada Akbar, namun panggilan itu tak kunjung di angkat. Tak patah arang, Mary segera mengirimkan pesan untuknya.


Drttt...drrttt...


“ Bar, hari ini jadi pulangkan?”


“ Ya Mar, aku sudah di Jakarta dua hari yang lalu”


“ Ketemuan bisa?”


“ Maaf Mar, aku sudah berkemas mau pulang ke Semarang siang ini”


Sesampainya di basemant, ia segera menuju parkiran dan membuka pintu mobilnya lalu menutupnya dengan keras.


Dengan kecewa Mary membanting hp-nya. Ia langsung melajukan Land Rover merahnya dengan kencang menuju rumahnya.


Kecepatan kemudi di atas 100km/jam di jalan perkotaan tentu saja membahayakan, namun itu tak dihiraukannya. Baginya, cepat-cepat sampai di rumah merupakan langkah yang tepat untuknya dan jalan cerita cintanya.


Ya, kali ini Mary akan meminta bantuan Papinya untuk mendapatkan Akbar.


Mendapatkan segala keinginan anak semata wayang papinya tentu saja bukan hal yang susah bagi seorang anak jenderal seperti Mary.


Ini terbukti, hingga di usia yang bukan lagi anak-anak seperti sekarang Mary selalu mendapatkan apapun yang ia mau. Dan orang tua seperti Jenderal Bram selalu mengamini permintaannya.


" Ugh, sial! kenapa jalanan jakarta selalu macet" Mary tak henti-hentinya mengumpat. " Kapan bisa cepat sampai " ia sudah tak sabar ingin segera mengadu pada papinya.


Berbeda dengan suasana hati Mary yang meradang mendapati kenyataan jika cintanya tak terbalas. Sepasang kekasih, Akbar dan Beena sedang menikmati kebahagiannya karena akan segera melajukan langkahnya ke sebuah pernikahan.


Akbar menjemput Beena di FirstTv setelah sebelumnya mengantongi surat cuti yang ia ajukan.


Tut...tut... sebuah panggilan masuk ke ponsel Beena.


Kali ini Beena mengabaikan panggilan Akbar karena dia masih berbincang dengan Billy.


" Ponselmu bunyi tu" Billy mengingatkan.


" Iya bang, gak apa-apa saya selesaikan tugas saya dulu" jawab Beena sambil merapikan meja kerjanya.


" Akbar?" tanya Billy memastikan orang yang sedari tadi membuat ponsel Beena berdering.


Beena mengangguk.


" Hei wanita, angkat dulu ponselmu jangan biarkan priamu cemas karena menunggu kabarmu".


" Nanggung bang, ini hampir selesai. Nanti juga ketemu kok".


" Kalian mau ke Semarang bareng?"


Sekali lagi, Beena hanya mengagguk.

__ADS_1


" Amboi, indahnya . Dunia serasa milik kalian berdua karena yang lain cuma ngontrak"


Beena tersenyum merapatkan giginya.


" Bang, aku pamit dulu ya"


" Ya, nikmati perjalanan kalian"


Drrt...drrrt...


Sebuah sms masuk ,


" Bee, masih lama? aku sudah sampai di firstTV"


" Udah mas, tunggu di loby ya"


Beena mempercepat langkah kakinya yang memakai sepatu kets agar cepat sampai di loby gedung firstTV.


"Mbak Na..." teriak Reyna." Buru-buru amat"


" Sory..sory...Aku dah ditunggu Rey"


" Jadi pulang hari ini mbak?"


" Jadi dong" jawab Beena dengan riang.


"Nyetir sendiri ke Semarang?" tanya Reyna.


" Gak, ada pak supir kok"


" Pak marinir?" tanya Reyna sambil memicingkan matanya.


" Yo,,,i"


" Apaan sih, genit amat kamu Rey"


" Aku pengin kasih nilai ketampanan pesona pria baret ungu dengan mas dokter".


" Gak...gak...kamu gak boleh liat nanti kamu terpesona" Beena terbahak sambil sesekali menarik Reyna hingga langkah Reyna tertinggal dari Beena.


Dari kejauhan terlihat seorang berbaju loreng dengan baret ungu menghadap ke arah pintu keluar. Nampak pundaknya yang datar dengan otot tangan yang kekar.


" Mbak Na,dia kah orangnya?" tanya Reyna sambil terbengong-bengong


Dengan pelan, Akbar menoleh ke arah belakang lalu membalikkan tubuhnya melepaskan pandangan tepat ke arah Beena dan Reyna tak lupa melemparkan senyum penuh kharisma.


" Oh my god, tentara Lee Jin-tae benar-benar ada di hadapan gue" ucap Reyna sembari terkagum-kagum.


Beena segera menyadarkan imajinasi Reyna dengan menyenggol pundakna.


"Jang Dong Gun ini calon suamiku" bisik Beena di telinga Reyna sambil cekikikan.


"Oh ya mas,kenalin ini Reyna rekan kerjaku"


" Reyna" ucap Reyna pada Akbar sambil menyodorkan tangannya.


Dengan sikap hormat militer lalu berkata " siap, syaiful Akbar" balas Akbar dengan suara menggema.


" ga segitunya juga kali" Beena mencubit perut Akbar yang bertindak berlebihan.


" Aw...sakit sayang" teriak Akbar.


" So sweetnya mbak Na" Reyna menggoda.

__ADS_1


"Udah ah, keburu sore nih mas"


"Reyna kami pamit ya?" Akbar memohon undur diri.


" Iya mas Marinir, nitip mbak Na ya" balasnya.


Setelah berpamitan pada Reyna, Akbar dan Beena segera menuju area parkiran. Honda jazz segera meninggalkan gedung firtTV.


Mereka merupakan pasangan yang paling bahagia saat ini. Bisa menikmati perjalanan berdua menuju kota kelahirannya. Dengan mengendarai mobil milik Beena, Akbar melajukan kendaraannya dari Jakarta menuju Semarang.


Sebuah panggilan masuk di hp Akbar. Kali ini Mary benar-benar mau mengatakan langsung perasaannya, meski lewat sambungan telpon. Tapi sayang sekali, Akbar tak bergeming. Ia mengabaikan 10 panggilan dari Mary.


“ Princess” ucap Beena dengan lembut, “kenapa gak di angkat mas?”


“ Aku gak mau kebersamaan kita terganggu, bee”


“ Tapi, siapa tahu itu penting?”


“ You’re the most important “ jawabnya sambil memandang ke arah Beena kemudian konsentrasi ke jalanan di depannya,


“ hm...apa kamu gak cemburu kalo aku terima telpon dari cewek?”


“ Cemburu? Gak tuh, karena aku tahu hati kamu sudah terikat oleh pesona seorang Maryam Tabeena” Beena terbahak.


“ Ya...ya... seorang gadis manis berseragam pramuka yang kalo ngomong ga pake titik koma sudah berhasil meluluh lantakkan pertahananku”


“ Oh ya mas, aku jadi penasaran sama si princess. Aku boleh kenal dia?”


“ Boleh, nanti saat kita nikah aja dia pasti ku undang".


Selama 6 jam perjalanan Jakarta-Semarang membuat keduanya menikmati kebersamaan. Ini kali pertama Akbar menikmati kebersamaan terpanjang dan setelah ini tentu saja kebersamaan mereka akan selalu terbina.


Honda Jazz kini terparkir di halaman rumah Akbar. Sebelum menuju rumah Beena, mereka sepakat mampir ke rumah Akbar terlebih dahulu untuk memberikan kejutan pada bunda Ramy. Akbar mengabari jika hari ini akan pulang dan sengaja tidak menceritakan pertemuannya dengan Beena. Ia hanya bercerita dengan kakak perempuannya yang saat ini masih betah tinggal di Singapura.


“Assalamu’alaikum bun”


“Wa’alaikumsalam” jawab bunda, ia tercengang melihat wanita yang dibawa Akbar.


Seorang pembawa berita yang sering ia lihat di tv.


Akbar dan Beena bergantian mencium tangan Bunda Ramy. Bunda masih terbengong.


“ Bun, calon mantunya gak di ajak masuk?” ledek Akbar.


“ Calon mantu?” Bunda masih bingung. Bunda pangling dengan wajah Beena yang ia temui 8 tahun silam. Saat Beena masih menggunakan seragam pramuka bersama teman-teman Akbar untuk memberikan kejutan dihari ulang tahun Akbar.


“ Bunda sehat?” tanya Beena memecah konsentrasi Bunda.


“ Sehat nduk, hm...kamu bukannya... “


“ Dia ini Beena bun, Maryam Tabeena calon mantu bunda” jawab Akbar memotong kalimat bundanya.


“ Oalah, pangling nduk. Pantes aja Akbar tergila-gila, wong kamunya cantik gini”.


Beena tersenyum melihat tingkah kocak Akbar dan Bunda yang bikin dia malu.


“ Hari ini masak apa bund? Aku sudah kangen masakan bunda” tanya Akbar menuju ruang makan. Lalu dibukanya tudung saji.


“ Wah...garang asem bee, ini makanan kesukaan aku”


Akbar terlihat lahap menghabiskan makanan yang ia rindukan. Sambil makan, Akbar menceritakan pertemuannya dengan Beena selama mengemban tugas kemanusiaan di Aceh. Setelah selesai makan malam Akbar mengantar Beena , dan tentu saja moment ini Akbar pakai untuk mempertegas niatannya menikahi gadis pujaan di depan walinya.


***

__ADS_1


__ADS_2