Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Akal-akalan Mary


__ADS_3

Setelah kejadian di apartemen beberapa hari yang lalu, membuat Akbar menjaga jarak dengan Mary. Ia menyadari akan kesalahannya. Benar kata Beena, mengapa dia tidak mengantarkan Mary ke kediaman orang tuanya? Andai saja waktu itu dia mengantarnya ke rumah Jenderal Bram tentu ini semua tak akan terjadi.


Ia bisa dinner dengan Beena, mengantar Beena fitting seragam jalasenastri, dan beberapa planning yang lain. Kini, Akbar hanya bisa melihat wajah Beena yang muncul di tv saat review liputannya yang tayang beberapa menit saja. Meski hanya melalui tv nyatanya itu membuat Akbar senang, melihat Beena tetap cantik dan professional tanpa dibayangi masalah yang sedang ia hadapi.


Lalu apa kabarnya dengan Mary? Ya, gadis ambisius yang sampai detik ini tetap pada keyakinannya mendapatkan hati Akbar.


Weekend kali ini Mia sepupu Mary berniat mengunjunginya. Karena permintaan tantenya, Mami Rosa khawatir dengan keadaan putri semata wayangnya yang lebih suka mengurung diri di kamar.


Semenjak peristiwa tempo hari, Mary diminta untuk tinggal bersama orang tuanya. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Karena bisa saja Mary nekat menemui Akbar dan membuat kegaduhan lagi. Bahkan yang paling menakutkan bagi Bu Rosa adalah saat keinginan Mary tidak terwujud bisa saja Mary menyakiti tubuhnya sendiri atau mungkin sampai bunuh diri.


Mia yang tidak mengerti apapun yang terjadi pada Mary semakin kebingungan saat tantenya meminta untuk kerumah.


“ Pagi tante...” sapa Mia sambil mencium pipi kanan-kiri adik dari Papanya.


“ Pagi sayang, udah sarapan? ”


“ Udah tan, Mary di mana?”


sambil celingukan.


“ Ada di kamarnya, tante minta tolong ajak Mary bicara dari hati ke hati ya?”


Meski tidak faham maksud tantenya, Mia tetap mengangguk dan langsung menuju kamar Mary.


Ceklek...


Pintu kamar dibuka, dan Mia mendapati Mary sedang termenung memandang foto Akbar.


“ Mar...”


Mia memeluk sepupunya yang nampak dengan pandangan kosong.


Mary tak membalasnya, masih dengan memegang foto Akbar.


Mia sangat terkejut melihat foto yang sedang dipegang Mary, ia adalah orang yang dikenalnya beberapa kali bertemu di FirstTv. Lelaki itu tunangan salah satu pegawainya, Beena. Ya, tak salah lagi ia adalah Akbar. Orang yang dicintai sepupunya yang katanya pernah jadi bodyguard Mary adalah Akbar, calon suami Beena.


Saat dipeluk Mia, Mary meneteskan air matanya sambil terisak.


"Mar, lu kenapa?"

__ADS_1


Alih-alih menjawab pertanyaan Mia, Mary justru menangis semakin menjadi-jadi.


“Mar, gue perlu bicara sama lu”.


Kata-kata Mia kali ini sedikit mengeras dan memaksa Mary menghentikan tangisannya. Mary melepas pelukan Mia.


"Stop Mary! Come on, fight!


“ I'm not so sure"


“ Jadi cowok ini yang udah bikin lo jadi begini?”


Mary hanya mengangguk, tak lama kemudian air matanya mengalir lagi secara otomatis.


“Lu sadar dia sudah punya tunangan?”


Mary tersenyum menyeringai,


“ Whatever, I just love him. Nothing else!”


"Live must go on, the're many men who love you! U'r so beautiful, smart and perfect girls"


“ Lu jangan gila, atau jangan-jangan saran lu waktu itu untuk mengirim Beena ke Lebanon...”


Mia mengingat-ngingat saat dia berdiskusi tentang siapa yang akan dikirim liputan ke Lebanon bersama timnya tiba-tiba Mary datang dan memberinya ide untuk memilih Beena.


“ Ya...gue memang sengaja buat ngejauhin Beena dengan Akbar” sergah Mary dengan cepat.


“ Ah...lu udah dibuat gila Mar. Lu tu ya...ah...”


Mia kecewa dengan sikap bucin saudaranya itu.


“ Apa...lu juga bela tu cewek?Sama kaya papi! Kenapa sih gak ada orang yang peduli tentang perasaan gue.” Teriak Mary.


Mia lalu menyadari karakter saudaranya itu, yang tak bisa didekati dengan cara yang frontal.


“ Mar...semua kesempurnaan cewek lu punya. Lu cantik,baik, keluarga sempurna, karir bagus . Gue yakin banyak cowok yang suka sama lu”


kali ini suara Mia sangat lembut.

__ADS_1


“ Ah... kalian sama saja. Lu gak ngerti, cinta gue cuma buat Akbar. “


“ Tapi lu gak bisa maksa Akbar ”


Jelas Mia dengan penuh hati-hati. Ia tidak mau Mary lebih nekat, karena Mia tahu jika Akbar si baret ungu adalah lelaki yang selama ini ditunggu-tunggu oleh Beena.


“ Jadi lu juga lebih milih bela Beena ketimbang gue, sepupu lu?” bentak Mary.


“ Bukan gitu Mar”


“ Pergi lu dari sini...gue gak butuh lu..lu sama aja kayak papi. Pergi...”


Melihat kemurkaan Mary membuat papi Bram mendekat, memeluk Mary.


“ Sabar sayang, papi peduli denganmu. Jangan pernah berfikir saat kami tidak berada searah denganmu lalu kami tidak menyayangimu. Terkadang, dalam hidup kita harus mengenal konsep kecewa. Tidak semua hal bisa kita miliki.” Terang papi sambil terus memeluk Mary.


“ Tapi Mary cuma mau Akbar pi, cuma Akbar yang bisa buat Mary bahagia”


Dengan susah payah papi menyadarkan kekeliruan Mary, dengan kuat pula Mary meyakini langkahnya sebagai pembuktian betapa besarnya cintanya pada Akbar. Namun Papi tak patah semangat mengajak Mary untuk belajar menghadapi kekecewaan.


Melihat kenyataan bahwa Mary, sepupunya semakin tak gentar merrbut Akbar dari Beena, rekan kerja yang mampu melambungkan karir Mia di first-tv membuat Mia menjadi serba salah.


Di satu sisi, Mia sayang dengan saudara sepupunya yang banyak memberi ruang di first-tv. Karena meski sama- sama cucu Hartawan Atmajaya, Mary tak pernah mau bersentuhan dengan first-tv ia lebih suka di perhotelan. Tapi di sisi lain, Mia harus memposisikan diri sebagai orang yang netral terhadap urusan asmara bawahannya. Apalagi Beena adalah orang yang mengharumkan jagat news anchor di first-tv.


"Tante...gimana ini bisa terjadi?" tanya Mia yang semakin bingung posisinya.


"Tante juga bingung, Akbar itu anak baik dan sudah dekat dengan keluarga kita. Tapi dia punya wanita pilihan hatinya, yang tidak mungkin kita paksakan keinginan kita."


"Masalahnya, perempuan itu bawahan Mia tante. Dia sudah banyak membantu first-tv"


"Ya, semoga ada jalan terbaik buat semuanya".


"Dan kemarin Mia ngirim Beena ke Lebanon, itu saran Mary katanya sebagai reward karena sudah mengharumkan first-tv selama di aceh tempo lalu. Ternyata ini cuma alasan Mary saja, agar ia bisa leluasa dekat Akbar".


"Astaghfirullah...Mary, kamu sudah senekat itu" Ucap bu Rosa sambil mengelus dadanya, tidak percaya akan tindakan putri semata wayangnya yang berusaha menghalalkan segala cara demi merebut Akbar.


" Coba nanti tante bicarakan sama om mu, mudah-mudahan inu bisa segera kita atasi. Tante minta tolong untuk selalu mengabarkan apapun tentang Beena.Tante tidak mau jika Mary bertindak anarkis"


"Baik tante, terima kasih karena tante sudah bijaksana".

__ADS_1


***


__ADS_2