Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Biarkan takdir menuntunku!


__ADS_3

Sepanjang jalan Bantul menuju tempat yang ditentukan oleh Bily. Beena sibuk dengan notesnya, menyusun agenda yang akan dilakukannya empat hari kedepan.


Sesekali Nizar melirik ke arah Beena yang fokus dengan pulpennya, memberikan tanda ceklis pada tulisannya.


" Na, kok bawa ransel? Mau nginep di Gunung Kidul?"


Beena tak memberikan jawaban, hanya tersenyum.


"Na...boleh nanya gak?"


"Apa?"


Jawabnya sambil tetap menulis di buku agenda kegiatan.


" Sampai kapan kamu menunggu pria Pramuka itu?


Nizar menyebutnya dengan pria Pramuka, karena Beena memang menceritakan sosok Akbar sebagai anak Pramuka.


" Sampai Allah mempertemukan aku dengannya"


" Kalau tidak ada kesempatan bertemu?"


"Setidaknya aku berusaha untuk bertemu dengannya suatu hari nanti untuk menjawab pertanyaannya "


" Kamu mencarinya?"


" Pernah, dulu aku pernah mencari tahu lewat teman-teman Pramuka yang masih terhubung denganku"


" Hasilnya?"


" Merekapun lost contack katanya".


" Kamu masih berniat mencarinya?"


" Tidak, biar Allah menuntun takdirku "


Pembicaraan kali ini jauh dari kata ceria. Ya, jika membicarakan sosok Akbar entah bagaimana akhirnya Beena selalu menjadi mendadak melow.


" Kamu tahu rumahnya?"


Beena mengangguk.


"Kenapa kamu gak nyari ke rumahnya saja?"


"Mas, aku ini perempuan. Mosok gentong marani siwur?"


Bagi Beena, mendatangi rumah Akbar duluan adalah hal konyol yang dilakukan seorang perempuan.


"Terus, apa kamu akan statis di tempat? tidak adil buat masa depanmu, buat laki-laki yang akan mendekatimu!"


" Aku sudah bilang sama ayah dan ibu, jika dalam satu tahun ini aku tidak bertemu dengannya. Apapun dan siapapun yang dikatakan ayah, aku tidak akan menolaknya"


Mendengar jawaban Beena, Nizar tersenyum lega.


"Dan sebelum laki-laki lain menikahi ku, aku akan datang mengunjungi rumah si Pramuka dan memberikan jawaban . Aku lunasi hutang jawaban lamarannya untukku."


Pembicaraan mereka terpaksa terhenti karena mereka sudah sampai di tempat yang di katakan Bily dalam messenger.

__ADS_1


Di rumah makan gudeg Yu jum, kru tv baru datang lima menit sebelum Beena, setelah memesan menu mereka duduk menunggu sarapan dihidangkan di salah satu sudut ruangan.


Tak lama mobil yang dikendarai Nizar berhenti di pelataran rumah makan. Beena langsung turun dan berlari kecil menghampiri mereka tanpa memperdulikan posisi Nizar yang tertinggal beberapa langkah darinya


Sosok gadis ramah dan humoris menuju rombongan kru tv, ia mengenakan kemeja flannel lurik warna ungu yang gulung lengannya ¾ dipadankan dengan celana jeans, sepatu kanvas dan tak ketinggalan tas ransel dipunggungnya.


Hijab senada dari bahan pashmina ceruty yang menutupi kepalanya menambah pesona kecantikannya.


“ Nah, tu mbak Beena datang” celetuk Bimo si kameramen junior yang baru setahun bergabung dengan tim.


“ Sorry...sorry, aku telat ya. Sudah dimulai briefingnya?”


Baru kali ini Beena merasa tidak enak hati jika sampai terlambat. Sebab selama ini , ia dikenal orang yang paling disiplin dan matang dalam hal perencanaan.


“ Sarapan aja belum mbak” Jawab gadis berambut keriting yang dikucir asal. Reyna namanya. Reyna adalah asisten bang Billy yang sudah bergabung dengan tim sejak awal produksi.


Beena mengelus dada, merasa lega.


" Alhamdulillah, aku kira aku telat bang"


"Kamu itu orang terdisiplin makanya gak aneh kalo sering dapet penghargaan, rewardnya banyak dari mbak Mia"


" Ih...kapan ya aku kayak mbak Beena, dapet reward dari mbak Mia" kata Reyna.


" Ngimpi lu...reward kategori apaan?" ucap bang Bily.


" Pegawai ter-tulalit" sambung Bimo.


" Pea lu...dasar manusia introvert" Reyna memonyongkan bibirnya.


" Weh...nasi gudeg, mantep" ucap Reyna.


Reyna yang asal Betawi, sudah mulai mencintai masakan Jogja yang terkenal manis-gurih. Berbeda dengan makanan dari daerah Betawi yang cenderung pedas-asin.


“ Selamat pagi semuanya” sapa Nizar yang baru bergabung dengan mereka.


“ Eh pak dokter, pagi pak...” jawab Reyna kecentilan. “ Mbak Beena kok ga bilang ke sini sama pak dokter ganteng” goda Reyna.


Nizar menarik kursi dan duduk disamping Beena.


“ Selama di Jogja kan Beena sudah sepaket sama Nizar, kayak gak paham aja orang pacaran” celetuk bang Billy yang sudah akrab dengan kehadiran Nizar selama sepuluh hari di Jogja.


“ Makanya lu juga cepet nyari pacar” sambung bang Billy.


“ Abang sendiri masih jomblo di usia hampir 40 tahun” ledek Reyna.


"Lagian mana ada cowok yang mau sama cewek tulalit kayak lu" Bang Billy tak mau kalah.


"Kecuali-"


"Kecuali siapa bang?"


Billy menoleh ke arah Bimo sambil cekikikan.


"Hidih...amit...amit...tujuh turunan"


Diantara kru, Bimo yang paling irit ngomong. Bimo memang anak yang introfert, meskipun demikian ia sangat perfect jika berurusan dengan pekerjaan.

__ADS_1


“ Hey, gadis janda” panggilan special Bang Billy untuk Beena, bukan tanpa sebab gelar itu diberikan pada Beena.


Dari awal kenal Beena, Billy tahu ungu merupakan warna favorit Beena. Mulai dari alat kantor yang berada di meja kerja Beena yang dominan ungu, tablet warna ungu, tas, hingga pakaian banyak yang warnanya ungu.


Maka tak heran, jika teman-teman sekantor banyak yang menyebutnya gadis janda, karena warna ungu identik dengan janda.


“ Iya bang” jawab Beena.


“ Ayo sarapan bareng, kasihan pacarmu sepagi ini sudah harus jadi supir” ajak bang Billy.


Mendengar kata pacar , Beena melotot ke arah bang Billy.


“ Aku sudah sarapan bang”


“ Pacarmu?” bang Billy melirik ke arah Nizar.


“ Pacar???” Beena celingukkan.


“ Wah...wah, lihat Zar. Pacarmu kelihatan bodohnya, gak ngakuin orang sekeren kamu sebagai pacar”. Bang Billy menepuk-nepuk bahu Nizar.


“ Saya bukan pacar Beena bang, tapi calon suami hahaha...”


Nizar menggoda Beena.


Beena melotot ke arah Nizar,


“ Mas Nizar...” Beena menggelengkan kepalanya.


Nizar tersenyum puas karena sudah membuat Beena merona di depan teman-temannya.


Lalu Nizar melirik jam tangannya, dan harus segera undur dari Beena dan kawan-kawannya.


“ Oh ya bang, aku duluan ada jadwal operasi jam 8”. Pamitnya pada Bang Billy. Nizar berdiri dari posisi sebelumnya.


“ Nanti kalau sudah selesai jangan lupa sms, Aku jemput!” pesan Nizar sambil mengacak-acak jilbab Beena.


Dengan bersungut dan kesal Beena segera merapikan kerudungnya.


“ Aduh so sweet banget sih pak dokter tu, rupawan dan dermawan sampe rela antar jemput segala” ledek Reyna.


“ Sudah, sudah cepet habisin sarapannya. Trus kita briefing” Beena mengalihkan pembicaran dan tidak mau jadi bulan-bulanan Reyna.


" Ya Allah ,sisakan laki-laki ganteng dan baik hati model dokter Nizar satu untukku "


Dengan gaya menengadahkan tangan, Reyna meledek Beena.


"Allahumma baarik lanaa fii maa Razak tana wa qiina adzaa bannaar Aamiin" Beena meledek Reyna.


"Mbak Na..." Reyna melayangkan pandangan protes.


"Lagian sejak kapan doa mau makan itu berubah jadi doa minta jodoh" ucap Beena.


Bang Billy dan Bimo hanya tertawa geli melihat tingkah Reyna.


Setelah sarapan selesai dilanjut briefing pagi sebelum peliputan agar kegiatan kali ini dilakukan dengan rencana yang matang dan menghasilkan suatu liputan yang perfect.


***

__ADS_1


__ADS_2