Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Berkunjung ke Bcharii


__ADS_3

Pagi hari yang dingin di kota Beirut . Beena memutuskan untuk kembali ke hotel mengambil barang-barangnya yang masih tertinggal di sana. Sebelum lusa mereka kembali ke tanah air bersama pasukan militer TNI, Beena berniat mengunjungi museum seorang penyair yang tertunda untuk ia kunjungi karena insiden penyanderaan.


Museum tempat Gibran lahir dan dimakamkan terletak di kota Bcharii 130 km dari kota Beirut. Museum yang bagi sebagian orang katanya angker karena di bangun di atas sebuah biara dengan lattar batu kapur yang menjulang. Namun bagi Beena ini adalah tempat yang paling indah, mahakarya sastra yang sempurna.


"Kamu yakin mau masuk ke sini sayang?"


Beena mengangguk dan gak sabar ingin segera masuk ke dalamnya.


"Tempat ini angker, sepi, kamu gak takut sayang?"


"Nggak, kan ada kamu mas"


"Asyik, kita bisa pacaran nih di sini. Mas boleh cium kamu dong "


"Belum boleh!" ucap Beena dengan tegas, ia lalu langsung menarik tangan Akbar untuk segera masuk ke dalam bangunan.


Masuk ke dalam bangunan, terdapat makam dan tempat tidur sang pujangga yang lahir tahun 1883 itu. Nuansa hangat dan lembut langsung terasa disetiap sudut bangunannya. Dalam museum tersebar manuskrip dan lukisan yang dibuat oleh Gibran dalam harmoni yang indah.


"Wah, romantis sekali si Gibran ini. Senang benar yang jadi istrinya"


"Selama hidupnya, ia itu melajang mas"


"Kamu tahu dari mana?"


"Dari buku-bukunya lah. Tapi menurut literasi yang aku baca, Gibran itu memiliki 3 wanita yang pernah dekat dengannya. Ada Wardah Al Hani yang katanya adalah cinta pertamanya, terus ada May Ziadah, dan wanita terakhir ada Mary Hasskel, wanita yang saat Gibran meninggal menghadiri pemakamannya, meskipun dia memiliki suami."


"Terus si May dan si Wardah gak ngelayat gitu?" tanyanya santai.


"Nah, ini yang jadi simpang siur. Keberadaan wanita ini masih misterius antara ada dan tidak ada sososk nyatanya seperti Apa. Tapi ya, kedua perempuan ini ada dalam puisinya Gibran."


"Duh...pinter banget sih istriku ini"


Puas berkeliling di dalam museum, mereka kembali ke luar area museum dan duduk dekat patung Kahlil Gibran.


Akbar mengeluarkan hp-nya dan membacakan pesan terakhir yang dikrimkan Beena untuknya.


“ Bangunlah pada pagi hari dengan sayap hati mengepak, dan bersyukurlah atas datangnya satu lembar hari yang penuh kasih.


Jiwaku menderita karena perpisahan, tetapi kembali terhibur oleh cinta. Tindakan adalah cinta yang ditunjukkan”.


Dengan wajah bak buah tomat, Beena menahan rasa malunya.


“ Aku gak tahu seberapa puitis dan romantis istriku ini, sampai kalimat seorang pujangga saja istriku ini hafal.”


Mendengar kata-kata istri yang dilontarkan Akbar beberapa kali membuat Beena protes untuk kali ini.


“ Istri? Calon istri!“

__ADS_1


Beena menegaskan dengan nada yang begitu keras.


"Sejak kapan mas jadi orang yang doyan ngaku-ngaku heh!" tanya Beena sambil menggol dada Akbar.


"Lho siapa yang ngaku-ngaku. Mas gak boong kok"


"Kita baru proses pengajuan nikah kantor, belum ada ijab kabul, belum ada mahar. Mana bisa mas memproklamirkan dengan kata istriku!" kata Beena sambil memonyongkan bibirnya saat menyebut kata istriku.


"Coba bilang lagi sayang kata terakhir tadi" pinta Akbar dengan gemas melihat bibir Beena monyong seperti ikan ******.


"Istriku" ulang Beena sambil memonyongkan bibirnya meledek kata-kata Akbar.


Dan disaat seperti itu, Akbar mengambil kesempatan untuk mencium bibir Beena.


Cup...


"Kena deh" Akbar terkekeh


"Mas..." Beena makin melotot, antara kesal dan mau marah. Karena pria ini sudah berani tidak sopan padanya.


"Tunggu...tunggu jangan marah sayang, sini deh apa yang mas mau kasih liat sama kamu" bujuk Akbar pada Beena agar ia mau melihat apa yang Akbar tunjukkan.


"Ogah, mas gak sportif"


"Eh...liat dulu baru boleh marah kalo mas salah".


Nampak seorang pemuda tampan menggunakan baju koko dan peci. Duduk diapit oleh bunda Ramy dan mas Zaki dengan posisi bersebarangan dengan ayahnya yang menjabat tangan Akbar dengan erat.


Disaksikan oleh orang-orang yang mengadakan doa bersama saat Beena disandera. Akbar mengucapka ijab qabul itu.


"Ya...Saeful Akbar ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka bintii Maryam Tabeena alal mahri hallan."


“ Qabiltu Nikahahaa wa tazwijaha Maryam Tabeena binti H. Noor Hadi alal mahri madzkuur wa radhitu bihi ”


Kalimat qabul yang diucapkan Akbar dalam satu tarikan nafas membuat semua yang ada dalam rekaman terharu dan diiringi kata sah lalu dibanjiri hujan isak tangis.


"Bagaimana saksi? Sah?"


"Sah"


Jawaban itu membuat semuanya makin sumringah.


Pernikahan ini merupakan ijab kabul yang paling menyayat hati. Dimana sang pengantin pria harus mempertaruhkan nyawanya untuk mengambil istrinya. Bisa dibayangkan jika misi ini gagal maka bisa jadi Akbar menjadi duda tanpa merasakan indahnya rumah tangga. Atau jika Akbar tidak selamat maka bisa jadi, Beena menjadi janda yang belum pernah tersentuh oleh suaminya.


Dalam video berdurasi 20 menit , terlihat keluarga Akbar menyerahkan mahar uang tunai pada keluarga Beena, uang diterima oleh ibunda tercinta.


“ Ah...murah sekali maharku, cuma Rp. 21.500!”

__ADS_1


Beena menanggapi video tersebut sambil menyebikkan bibir tipisnya.


“ Sebaik-baiknya wanita itu yang paling murah ( mudah) maharnya” jawab Akbar sambil mencubit hidung mancung Beena.


“ Tetap saja kalian curang “ Beena menyilangkan kedua tangannya.


“ Mas waktu itu tidak ada persiapan sayang, pas minta izin mau ke Lebanon. Terus ayah minta untuk ijab qabul sekalian katanya biar halal saat ketemu kamu nanti. Ya...sudah mas kasih mahar sesuai tanggal lahir kamu saja”.


“ Hm...alibi yang sempurna” Beena mengetuk- ngetuk telunjuk dan jempolnya membentuk huruf V di dagunya.


“ Kamu mau mahar apa nanti sayang?” tanya Akbar dengan serius untuk pernikahan resminya nanti.


“ Aku becanda mas, mahar itu sudah lebih dari cukup”.


“ Bener nih, gak mau mas ganti maharnya buat besok?”


Beena menggeleng,


“ perjuanganmu sudah sangat mahal buatku mas”.


“ Ok, kasih mas reward atas perjuangan suamimu ini” ujar Akbar sambil mendekatkan pipinya ke arah Beena.


“ Dasar otak mesum!”


Beena menjauhkan pipi Akbar dengan tangan kanannya lalu berjalan meninggalkan Akbar.


Akbar hanya menggaruk kepalanya tak gatal.


Beena langsung berjalan di depan Akbar, beberapa langkah meninggalkan suaminya.


"Bee...tunggu sayang, kok dibilang mesum sih?"


"Terus kalo bukan mesum apa dong namanya?"


"Kan sudah halal sayang, sama istri sendiri kok dibilang mesum" Akbar menggoda.


" Dasar PM!"


"Apa itu sayang?"


"Prajurit mesum hahaha...'' Beena tertawa puas meledek Akbar, Lalu berlari menjauh kedepan.


"Hei, sayang...tunggu.Bikin suaminya kesel nanti dilaknat Allah lho" Akbar berteriak berharap Beena mendengarkan kata-katany.


Akbar segera berlari menyusul Beena yang sudah jauh melesat di depannya.


***

__ADS_1


__ADS_2