
Suara merdu mu’adzin dari masjid di lingkungan rumah pak Zulfa bak memanggil kaum laki-laki untuk segera menuju mesjid, mengharap keutamaan 27 derajat shalat berjama’ah bagi laki-laki dari shalat munfarid. Ayah Hadi, Abah Zulfa dan Nizar segera menuju masjid.
Selesai shalat shubuh, Nizar melanjutkan dengan dzikir pagi mengharap segala kebaikan datang di pagi ini. Memohon agar terhindar dari segala keburukan, serta diberikan anugerah rasa sabar yang luar biasa.
Sabar menunggu hati Beena yang terbuka lebar untuknya, untuk hidup dan kehidupannya kelak.
Pagi buta, jama'ah dari masjid mulai keluar satu persatu meninggalkan rumah Allah.
Nizar berjalan diapit oleh ayah Beena dan abahnya.
"Nanti nganter Beena, Zar?"
"Iya yah"
" Kamu memang laki-laki yang pas untuk bersanding dengan Beena, tak salah kami memilihmu".
"Insyaallah, yah. Semoga Allah melancarkan urusan kita semua".
"Kamu seperti pesimis sama Beena, Zar?" tanya Abah Zul.
"Bukan pesimis Abah, Nizar cuma belajar realistis"
"Lho, memang kenyataannya Beena tidak menyukai kamu apa? padahal Abah lihat kalian cukup akur, mesra malah"
"Ya, kan Nizar belum tahu Beena nerima Nizar atau tidak".
"Iya nak, butuh proses. Biarkan kalian menikmati kebersamaan dulu. Ayah yakin dengan kalian sering bersama akan tumbuh cinta. Witing tresno jalaran saka kulino"
Ayah meyakinkan Nizar, agar dia tetap semangat memperoleh cinta Beena yang sampai saat ini belum terlihat hilalnya.
Sementar ummu Farida, Ibu Halimah dan Tabeena melaksanakan shalat berjamaah di rumah. Selesai shalat, mereka bertiga berkutat di dapur menyiapkan sarapan pagi.
Bagi Ummu Farida, kemampuan di dapur merupakan suatu keharusan. Sebab berawal dari makanan yang di hidangkan dengan penuh cinta untuk suami dan anak-anaknya akan membawa keberkahan tersendiri bagi sebuah rumah tangga.
“ Hari ini kita mau masak apa te?” tanya Beena.
“Jangan panggil tante ah, panggil ummi ya”
"Ummi..." gumamnyano
Ah, sepertinya itu asing buat Beena
Beena menggerakkan bola matanya, menurutnya panggilan itu aneh. Mengingat selama ini dia sudah terbiasa memanggil tante. Tapi, tak apalah toh sekedar panggilan untuk mengakrabkan.
“ Menu sarapan kali ini kita bikin nasi merah, urap sayur, ungkep ayam kampung dan pepes ikan."
Untuk sarapan saja, menunya segitu lengkapnya. Lain halnya kalau Beena di Jakarta cukup roti bakar. Itupun kalau sempet, kadang Beena lebih milih sarapan di cafetaria.
__ADS_1
"Mas Nizar suka makan apa mi?"
Pertanyaan asal yang dilontarkan Beena. Tapi itu membuat ummi senang.
" Nah, Nizar itu suka sekali sama nasi merah sama pepes ikan”
"Makanan higienis non kolesterol, dokter banget itu"
Ucap Beena sambil membantu mencuci beras.
“ Ummi memang pandai masak ya, hebat...hebat”
“ Hebat lagi ibu kamu, meski dulu sibuk ngurus butik, ngurus 3 anak tapi tetep urusan dapur tak ketinggalan” Ummu Farida memuji bu Halimah, teman seperjuangannya.
“ Iya , ibu memang the best pokoknya” Beena memeluk ibunya.
“ Dulu, kami pernah juara masak di event lomba DWP Kemenag lho” kata ibu sambil membungkus ikan.
" Bener Bu? kok ibu gak pernah cerita sama Beena!"
Beena berjalan mendekat ke arah Bi Tarsih.
“ Iya bener, waktu itu peringatan hari kartini ya jeng?”
Ummu Farida mengingat-ngingat moment keseruan waktu itu.
"Biar saya aja bi "
"Jangan mbak, nanti tangannya luka".
"Bibi jangan remehin saya, gini-gini suka bantui ibu di dapur. Ya Bu?"
"Bantu makan iya..." jawab ibu.
Ah, kali ini ibu tidak bisa diajak kompromi.
" Sini bi, kelapanya"
Beena memaksa diri untuk mencoba hal yang tak biasa dilakukannya.
“ Nggeh mbak, hati-hati ya” jawab Bi Tarsih, rewang keluarga Abah Zulfa yang sudah menemani Ummu Farida dari awal menempati rumah di Jogja.
“ Ingat ya nduk, sesibuk apapun perempuan di luar. Jangan melupakan kodrat kita sebagai konco wingking pasangan kita. Pastikan perut suami dan anak-anakmu kelak harus sudah terisi dari rumah” Pesan ibu kali ini syarat dengan filosofi jawa .
"Nggeh Bu" jawab Beena
Sebagai orang jawa, Beena memahami betul budaya patriarki. Istilah konco wingking yang disematkan pada seorang istri syarat makna. Kebudayaan yang patriarkis dalam jawa menunjukkan korelasi dalam hukum Islam. Dimana ada pembatasan tertentu dalam relasi gender yang memperihatkan kedudukan dan peran laki-laki yang lebih dominan dibanding perempuan. Konsep swarga nunut, neraka katut menggambarkan posisi istri yang harus patuh pada imam.
__ADS_1
Konco wingking ( teman di dapur) melukiskan betapa harus kuatnya istri dalam tiga urusan yaitu sumur , dapur dan kasur. Seorang istri dituntut sempurna dalam rumah tangga. Tuntutan peran istri harus mahir dalam 3 M, macak ( bersolek), masak, manak ( melahirkan keturunan).
Dalam budaya jawa, selain sebagai konco wingking dikenal juga dengan sebutan garwa ( sigaraning nyawa\= belahan jiwa) yang menggambarkan posisi yang lebih egaliter.
Dimana seorang istri harus menjadi pendamping yang selalu mengiringi perjuangan suami dalam rumah tangga . Dimana totalitas pengabdian istri merupakan strategi diplomasi dalam rangka mendapatkan otoritas yang menjadi harapan terwujudnya harmoni sebuah kehidupan keluarga .
Mendengar ceramah dari ibu dan ummi Farida membuat Beena berhasil menjalankan misi marut kelapa tanpa terluka.
Ini adalah salah satu pencapaian yang amazing. Sebab memang Beena jarang sekali memasak.
Selama kuliah, Beena hanya seminggu sekali beraktivitas di dapur membantu Teh Raya.
Semenjak bekerja di FirstTv, yang memiliki jadwal yang padat membuat Beena jarang masak di rumah.
Tapi tentu saja itu bukan barometer gagal jadi ibu rumah yang baik. Ia masih bisa belajar.
" Na, bisa bantu bawakan makanan yang sudah mateng ke meja"
Ummi memegang sangku berisi nasi merah yang masih mengepulkan asap.
"Iya mi"
"Bi, tolong pepesnya dibakar dulu ya?"
" Nggeh Bu"
Setelah semua makanan tersaji di meja makan.
Beena pamit ke kamar. Membersihkan diri dan menyiapkan beberapa potong baju untuk ia bawa selama di gunung kidul.
Kali ini Beena berniat menginap bersama Bang Bily dan kawan-kawan.
Ia sudah cukup tidak enak hati banyak merepotkan Nizar.
Lagi pula tidak enak juga dengan Reyna yang harus sendiri terus. Sedang Bimo dan Bily pasti lebih sering meninggalkan Reyna untuk hal-hal tertentu.
"Ah, akhirnya packing selesai"
Beena keluar kamar dengan menggendong ransel di punggungnya.
Ia sengaja meninggalkan beberapa barang dan pakaian di rumah Nizar. Ini karena ayah yang ngotot untuk selalu berada di rumah Nizar selama di Jogja.
Memasukkan baju di ransel adalah pilihan jitu untuk menghindari pertanyaan dan permintaan ayahnya yang menurut Beena itu sudah berlebihan.
Bagi Beena, Nizar masih seperti seorang kakak seperti saat ia kecil. Ia belum bisa menerima dengan perasaan yang lebih.
***
__ADS_1