Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Cocok Susunya


__ADS_3

Menikmati sarapan bubur gudegnya mbah Lindu yang legendaris di jalan Sosrowijayan mengawali kegiatan Beena dan Akbar menyusuri kota Jogjakarta. Kota budaya yang penuh keromantisan, di kota ini mereka mengabiskan sisa liburannya.


Selesai sarapan dilengkapi adegan memalukan di warung Mbah Lindu membuat Beena ingin segera meninggalkan warung sebelum kejadian memalukan lainnya ulah tingkah jail suaminya. Mereka berjalan santai menyusuri meriahnya Malioboro menuju hotel tempat mereka bermalam.


“ Mas, setelah dari butik nanti kita kerumah abah Zulfa ya?”


“ Boleh, lagi pula Nizar masih punya hutang karena kemarin gak hadir di acara nikah kita” Akbar terkekeh.


" Mas janji lho gak pake tingkah absurb dan ababil di rumah abah Zul"


" Tenang sayang, paling mas bikin muka kamu kayak kepiting rebus" Akbar terbahak.


" Mas..awas aja kalo sampe itu terjadi. Aku kasih selimut dan bantal sendiri biar tidur diluar kamar"


" Ampun...ampun kalo itu hukumannya mas gak berani, habis ini berarti kita ke butik ibu dulu?"


"Iya mas, cuma sebentar kok. Habis sholat dzuhur kita langsung ke butik. Satu jam perjalanan dari hotel. Sekalian istirahat di butik, habis sholat ashar kita ke rumah mas Nizar"


Setelah waktu dzuhur, mereka menuju butik milik bu Nurhalimah, mertua Akbar . Soluna GLi meluncur dengan kecepatan sedang, sambil menikmati atmosfer Yogya. Hal yang tak pernah dibayangkan oleh Beena bisa berkeliling kota gudeg dengan orang yang dulu ada dalam setiap doanya, yang kini sudah berhasil menjadi panglima rumah tangganya.


Betapa epic alinea cintanya bersama Akbar, dimana baris-baris ujian cinta berhasil mereka lewati. Dan tentu saja ini bukan akhir dari cerita cinta mereka. Justru ini adalah awal perjalanan cinta mereka yang sesungguhnya. Dimana ujian-ujian rumah tangga setelah ini akan datang bahkan mungkin lebih rumit dari sebelumnya.


Perjalanan mereka ke rumah Nizar hanya memerlukan waktu 20 menit saja dari cabang butik Zamara milik ibunya Beena.


Kedatangan Beena disambut ramah oleh Ummu Farida.


"Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumussalam..." Umm Farida menjawab dari dalam rumah.


Saat pintu dibuka, Ummu Farida sedikit tak percaya mendapat tamu spesial dari gadis yang pernah ia harapkan jadi menantunya.


“ Oalah...pengantin baru. Ayo masuk...masuk”


Beena dan Akbar mencium tangan Ummu Farida dan Abah Zulfa bergantian.


"Baru seminggu kemarin kita ketemu kok pangling jadi gemuk sekarang Bar? tanya Abah Zulfa.


" Alhamdulillah susunya cocok pak " jawab Akbar sambil melirik ke arah istrinya


“ Gimana rasanya jadi pengantin baru nak Akbar?” tanya Ummu Farida.


“ Enaknya sepuluh persen bu, Sembilan puluh persennya enak banget” canda Akbar.

__ADS_1


Beena mencubit perut Akbar, dengan wajah menahan malu dihadapan orang tua Nizar.


“ Oh ya mi, dapat salam dari ibu”


" Sampaikan salam balik buat ibu dan semua keluarga di Semarang yo nduk. Maaf tempo hari gak bisa lama-lama di Semarang soalnya harus ke Surabaya, nengok cucu yang baru lahir"


" Mas Azhar punya anak lagi mi? Cewek apa cowok?" Mata Beena berbinar, membayangkan sosok mas Azhar yang entah sekarang seperti apa, pasalnya saat di jahilin sama Nizar ia tak sungkan-sungkan mengadu sama Azhar. Dan tak ayal Nizar jadi korban omelan masnya, dan harus mengalah sama kemauan Beena.


" Alhamdulillah ini anak ke empat, perempuan. Setelah sebelumnya tiga jagoan semua."


" Surabayanya mana mi? Barangkali kalo ada tugas ke sana mas Akbar bisa mampir"


"Daerah Mrutu-Kalianyar"


"Wah, itu dekat dengan rumah dinas TNI AL Surabaya bu" jawab Akbar.


" Kalo pas ke Surabaya mampirlah, nanti bapak kasih kontaknya Azhar biar bisa bersilaturahmi"


"Nggih siap pak. Oh ya, Nizar ke mana pak? Kok sepi!” tanya Akbar.


“ Nizar masih seminar di Palembang, makanya kemarin dia gak bisa hadir di acara nikah kalian”.


“ Katanya sih hari ini sudah dalam perjalanan,mungkin nanti sore nyampe “ tambah ummu Farida.


Mereka berempat terhanyut dalam obrolan, seperti tanpa ada sekat dengan Akbar meski sebelumnya mereka berharap jika Beena menjadi pasangan Nizar. Sambil menunggu kedatangan Nizar, Akbar dan Beena di jamu masakan Ummi sebagai makan malam.


Mereka kembali ke hotel lalu menikmati atmosfer jantung kota Jogjakarta. Bergandengan tangan menyusuri jalanan Malioboro.


Sesekali Beena meminta istirahat duduk di bangku jalanan, menikmati indahnya malam. Hingga akhirnya mereka berjalan kaki kembali menuju titik nol kilometre.


Terlihat beberapa seniman Jogja menyanyikan lagu kla project tentang betapa istimewanya Jogjakarta.


“ Mas,sebentar...” pinta Beena menghentikan langkah mereka. Bukan karena suara merdu seniman Jogja, melainkan karena sosok yang sangat ia kenal berada tak jauh dari Beena.


“ Mbak Mia...”


Panggil Beena pada sosok wanita yang sedang asyik bergandengan tangan.


Mia pun membalikkan badannya bersamaan dengan laki-laki yang menggenggam erat tangannya.


“ Beena...” ucap Mia dengan tersipu malu.


Beena dan Mbak Mia berpelukan.

__ADS_1


Mbak Mia yang tak kuasa menahan malunya bergandeng tangan dengan dokter Nizar.


“ Sejak kapan kalian pacaran?” tanya Beena.


“ Sejak aku tahu ada gadis jakarta yang mempesona” jawab Nizar.


“ Tunggu...tunggu, apa kalian sudah bertemu sebelumnya? Ah.. Kenapa dunia ini jadi sesempit ini"


“ Salah satu teman mas dokter itu kebetulan temenku saat SMA, pas ada seminar di Jakart itu pertama kali kita dikenalin, just a friend waktu itu ”.


"Terus gimana ceritanya mbak Mia bisa pacaran sama mas Nizar, ah...mbak Mia rapi banget ngemas asmara sampe tidak terendus kru first-tv."


" Kamu juga, bisa sarapet itu nyembunyiin perasaan sama Letda Akbar, kalo bukan karena peristiwa di Aceh mana ku tahu kalo akhirnya Mary dan kamu mencintai orang yang sama"


“ Ya...ya...” Akbar mengingat kejadian waktu itu.


“ Hm...kita ngedate berjama’ah yuk?” lanjut Akbar.


“ Ye...kita mah tahu diri, gak mau ganggu pengantin baru” balas Nizar.


“ Mbak Mia, kamu punya hutang cerita sama aku “ Beena menarik tangan mantan atasannya menjauh dari Akbar dan Nizar.


Beena duduk di batu bundar mendengar dengan seksama cerita Mbak Mia bisa dekat dan akhirnya memutuskan berpacaran dengan Nizar.


Tak lama Akbar mendekat ke arah dua wanita yang asyik dengan obrolannya.


“ Sayang, kita balik ke hotel yuk. Sudah malam”


“ Iya Na, aku juga mau pacaran nih”


Mereka berempat akhirnya berpisah, Mia dan Nizar menuju Bantul. Sedang Beena dan Akbar kembali ke hotel.


Malam ini menjadi malam panjang bagi Akbar dan Beena. Mereka menghabiskan malam dalam satu selimut yang sama, satu doa yang sama, satu pengharapan yang sama.


***


Lampu temaram diatas nakas memancarkan siluet Beena dengan bentuk tubuh yang sempurna berbalut lingerie. Malam ini begitu indah. Kini, mereka tak perlu menunggu pagi karena malampun terlalu indah untuk ia lewati.


“ Kamu memang istimewa bee, dan aku tak ingin segera pagi”.


“ Malam-malam ku selanjutnya akan selalu istimewa jika itu bersamamu mas. Dan menunggu datangnya pagi adalah keistimewaan seumur hidupku”


"Dan kamu mas, tetaplah menjadi panglimaku, khalid al walid-ku, Syaifullah-ku untuk jihad mengarungi bahtera rumah tangga. Tak peduli sebesar apa badai menghantam kita, kuatkan aku selalu menjadi konco wingking-mu, menjadi garwa -sigaraning nyawamu- belahan jiwamu"

__ADS_1


...The End...


...~@@@~...


__ADS_2