
Malioboro, jantungnya Jogjakarta.
Di sebuah hotel bintang lima di pusat Jogjakarta, Akbar dan Beena bisa menikmati malam yang tak pernah sepi di Malioboro.
Beena memandang ke arah keramaian jalan Malioboro dari atas hotel. Setelah membersihkan diri , dengan hanya mengenakan handuk kimono, rambut yang dikucir asal menonjolkan leher putihnya.
Akbar memeluknya dari arah belakang.
" Capek gak sayang?"
"Lumayan, tapi aku seneng mas. Akhirnya aku bisa mengunjungi kota Yogya dengan seseorang spesial"
"Oh ya, seistimewa apa suamimu ini"
"Seistimewa panglima perang yang berhasil menghunuskan pedangnya di medan peperangan, Saifullah-ku"
"Kalau begitu beri aku hadiah atas kemenangan itu"
"Hm...hadiah?, hadiah apa yang panglima inginkan dari ku. Aku bukan wanita dermawan yang mampu memberikan hartanya meski itu hanya untuk sebuah hadiah"
"Berikan harta termahalmu untukku, berikan kesucianmu hanya untukku, berikan malam pertamamu hari ini"
Tangan Akbar mulai meraba bibir Beena, dengan satu lenguhan nafas Beena membuat Akbar semakin tak bisa membendung hasratnya.
"Bisakah kita tunda, hingga kamu benar-benar memenangkan peperangan?"
"Aku tidak bisa menundanya. Ini seperti aku akan gugur di medan perang esok hari. Jadi sebelum aku gugur aku harus mengecap manisnya mahkotamu"
" Kamu adalah Khalid Al Walid-ku yang gak akan gugur di medan perang, kamu bukan Khalid bin Sa'id yang sahid setelah sehari melewati malam pengantinya bersama Ummu Hakim Al Harits".
Cup...sebuah ciuman mendarat di bibir Akbar. Kali ini Beena yang menciumnya. Akbar girang bukan kepalang, melihat istrinya yang sedikit agresif.
"Aku ganti baju dulu ya mas?"
"Ah, kenapa harus ganti baju sayang?" teriaknya, Apa ini artinya malam peperangan akan gagal lagi? Akbar membatin.
Setelah lima belas menit Beena pergi dari hadapan Akbar, kini ia hadir di hadapan sang suami dengan cahaya lampu temaram. Ia berjalan keluar dari walking close dengan menggunakan pakaian dinas malam pasutri, sebuah lingerie hitam yang tentu saja membangkitkan gairah suami yang sudah lama terpendam.
Akbar mencium telinga Beena, merapalkan doa untuk kebaikan malam ini dan malam-malam selanjutnya tak lupa membisikkan kata-kata yang membuat rona wajahnya makin kentara.
Perlakuan yang sangat lembut dan penuh kehati-hatian. Agar tidak menimbulkan efek trauma malam pertama benar-benar dilakukan Akbar.
Malam itu benar-benar menjadi malam pembuktian kisah cinta mereka. Betapa indahnya sebuah penantian panjang yang Tuhan berikan pada keduanya.
Malam yang penuh pergulatan fisik dan psikis yang memberikan kesan mendalam bagi Beena karena mampu memberikan mahkotanya pada laki-laki yang ia cintai.
“ Mas...bangun sayang, sudah subuh” belaian tangan lembut menyentuh wajah Akbar.
“ Hm...” Akbar menarik Beena ke dalam pelukannya. Seolah tak mau melewatkan di pagi hari.
“ Mas masih pengen meluk kamu bee”. Akbar masih dalam posisi mata terpejam dan memeluk erat Beena yang baru saja mandi.
Buk...
Sebuah bantal mendarat di muka Akbar.
__ADS_1
“ Ayo cepat mandi, kita shalat berjamaah”
“ Baru jam 4 sayang”
“ Makanya buka dulu matanya, lihat jam tu...” Beena membuka paksa kelopak mata Akbar dan menyodorkan hp-nya.
“ Hm...baru jam 5” Akbar terpaksa melepaskan pelukannya dan beranjak dari kasur.
“ Mandiin ya...” rengek Akbar.
“ Ah...aku gak bisa jamin kalo masuk kamar mandi bareng kamu mas” Beena mendorong Akbar menuju kamar mandi lalu menutupnya dari arah luar.
“ Cepat mandinya ya mas, aku sudah laper” teriak Beena.
“ Ya...ya...kamu sudah bekerja keras semalam sayang ” balas Akbar.
Whenever you go,
Whatever you do
I will be right here waiting for you
“ Ya bu” Beena menjawab panggilan dari ibunya.
“ Lagi di mana Na?”
“ Di hotel Malioboro, ada apa bu?”
“ Gak apa-apa. Kalau sempat tengok butik ya?”
“ Iya bu, rencananya nanti sore juga mau ke silaturrahmi kerumah mas Nizar”
Panggilan segera ditutup.
Akbar dan Beena melaksanakan shalat subuh berjama'ah. Tak lupa memanjatkan segala doa untuk kebaikan kehidupan mereka.
Di akhiri dengan Akbar mencium kening istrinya. Dan Beena mencium tangan suaminya.
" tadi siapa yang telpon, bee?"
"oh, tadi ibu yang telpon"
" Ada apa sayang, kok pagi-pagi telpon? Kangen sama anak perempuannya? Atau ibu tanya kapan di kasih cucu?"
"Kamu tuh ya mas, inu masih pagi untuk ngebahas hal mesum" Semakin geregetan Beena dengan tingkah suaminya, hingga cubitan di perut Akbar berhasil dilayangkan oleh Beena.
"Au...sakit sayang"
"Habis kelakuan kamu ababil"
" Ababil? "
" Iya ababil, abege labil "
"Ok, mas ababil nih, hm..." Dengan gaya siap-siap seperti harimau mau memangsa buruannya.
__ADS_1
"Stop...stop, ampun mas" dengan melambaikan tangan seperti hendak menyerah Beena menghentikan polah suaminya. " Eh, mas ibu tadi minta kita nengok butik yang di yogya"
" Kamu mau nerusin butik ibu yang di yogya?"
" Belum tahu sih, belum kepiiran ke arah sana. Bukan passion ku mas, lagi pula aku harus ikut kemanapun suamiku berada. Gak mungkin kalo harus bolak balik Jakarta-Yogya"
" Kalo kamu mau, gak apa-apa sayang"
" LDR -an lagi maksud mas? Ogah ah "
" Ciye... yang sudah kepincut sama hantu laut"
" Gak gitu maksudnya mas, di kesatuan juga banyak kegiatan rapat anggota, kegiatan sosial, amal. Oh ya aku sudah laper mas, turun yuk."
Akbar sudah siap dengan setelan kaos berkerah warna maroon dan celana jeans, menonjolkan otot lengannya yang kekar. Sedang Beena menggunakan kemeja lengan panjang yang digulung tiga perempat dan celana jeans.
" Mau sarapan di mana? Di hotel apa di luar"
" Kalo di Yogya belum afdol sebelum bisa sarapan di pinggir jalan mas, aku pengen sarapan bubur gudeg dengan cecek rawit setan trus ada telurnya"
" Cuma bubur doang? Setelah tenaga terkuras habis semalam?"
Plak...Beena memukul bahu suaminya. " Mulai deh, bahasa mesumnya keluar. " Dah ayo nyari bubur gudeg "
Akbar menggandeng tangan Beena, berjalan di sepanjang Malioboro untuk mencari makanan yang dimaksud.
Memasuki sebuah gang di jalan Malioboro dekat stasiun Yogya, Beena dan Akbar akhirnya menjatuhkan pilihannya untuk sarapan bubur gudeg Mbok Lindu. Warung sarapan yang mulai beroperasi pukul 6 pagi hingga pukul 11 siang ini tidak pernah sepi pengunjung. Konon katanya warung ini berdiri sejak jaman penjajahan hingga sekarang, diteruskan oleh generasi keduanya. Meskipun demikian, tidak merubah cita rasa masakannya. Tetap otentik seperti resep pendirinya.
"Mbak, tambah lagi dong" ucap Akbar sambil menyodorkan piring yang beralas daun jati pada seorang pelayan
" Kamu laper apa doyan mas ? "
"Dua duanya sayang, enak banget ternyata dan mas butuh asupan yang seimbang untuk tenaga yang dikeluarkan buat ganti sema-"
Beena langsung menyikut dada Akbar, melotot ke arah suaminya sambil memonyongkan bibirnya.
"Auw...uhuk...uhuk" Akbar tersedak.
Beena langsung menyodorkan segelas teh tawar hangat pada suaminya.
"Mas, sih...jangan bahas-bahas malam pertama napa. Aku malu mas" bisik Beena di telinga Akbar dan parahnya ternyata di dengar oleh si pelayan.
" Mas dan mbaknya pengantin baru ya?"
Mendengar pertanyaan si pelayan Akbar terkekeh. Sedang Beena cuma cengar cengir kuda.
"Eh, mbaknya bukankah pembawa berita yang terkenal itu ya?Hm...siapaya hm...mbak Maryam "
"Mampus gue, ternyata masih ada ja yang kenal" Beena membatin.
" Iya mbak, ini istri saya Maryam Tabeena si pembawa berita yang terkenal dari first-tv"
Beena tertawa kecut, " iya ibu, tapi sekarang saya sudah gak jadi pembawa berita lagi kok"
"Oalah...mboka saya minta tanda tangannya tow, saya itu ngefans banget sama mbak Maryam. Mumpung lagi ada di sini, boleh ya mbak?"
__ADS_1
" Bisa mbak...boleh banget ,nanti setelah kita selesai sarapan foto bareng juga boleh" Akbar menimpali dan berhasil membuat istrinya mati kutu di depan fansnya.
***