Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Bros cantik milik siapa?


__ADS_3

Mary duduk di salah satu sudut kafe, ia memesan dua menu langsung sebagai menu makan siangnya.


Menunggu Hesty, orang yang dianggap akan memberi banyak informasi tentang Akbar.


Sesekali Mary melihat handphonenya. Ingin rasanya menelpon Akbar.


Ah, pasti dia masih di jalan. Percuma juga aku menelponnya.


Tangan Mary mengetuk-ngetuk jarinya di meja kafe.


Menyusun beberapa pertanyaan yang kiranya pas ia tanyakan pada Hesty , si SPG di toko jewellery tadi.


Tak selang lama, Hesty menghampiri tempat duduk Mary. Dilihatnya sudah ada menu makan siang untuk mereka santap.


Jika mengira-ngira selera Mary, tentu dia bukan orang sembarangan. Mary memesan Penne alla vodka untuknya dan saltimbocca chicken untuk Hesty.


“ Maaf, nunggu lama mbak...”


Hesty datang dengan sedikit tergesa-gesa, merasa tidak enak hati karena sudah membuat wanita yang cantik dengan balutan baju ternama berlabel Gucci.


Dari pandangan sekilas saja sudah jelas, jika wanita yang ada di hadapannya bukan sembarangan.


“ Mary, panggil aku Mary gak usah pake mbak”


“Ok, aku Hesty” Hesty menyodorkan tangannya lalu menarik kursi dan duduk, mereka saling berhadapan.


“ Sorry ya aku ganggu waktu istirahatmu”


“ Santai aja Mar, lagian kamu kan pacarnya Akbar”


“ Eh, ngomong-ngomong tentang Akbar. Tadi ada perlu apa ya dia ke toko?”


“ Oh, dia ngambil perhiasan yang ia pesan seminggu yang lalu” terang Hesty sambil mengunyah makanannya.


“ Perhiasan?” Mary memicingkan matanya penasaran.


“ Iya, ini...” Hesty menyodorkan sketsa bros inisial sebuah huruf pada Mary.


Dengan mata berbinar melihat sketsa bros itu, membuat Mary yakin jika Akbar selama ini benar-benar membalas cintanya.


“ Bagus ya?, Akbar itu tentara yang romantis” Hesty melipat gambar bros huruf M.


Mary mengangguk.


Mengunyah pelan penne ala vodcanya.


" Ini sengaja di buat oleh Akbar sendiri. Dia emang pinter gambar dari SMA"


" Benarkah? aku gak pernah tahu kalau dia suka melukis"


"Beberapa event sering dia ikuti, dulu".


" Kamu kenal banget sama Akbar!". Kata Mary semakin semangat


" Iya, kami dua tahun sekelas. Kelas satu dan kelas tiga, dan dari dulu dia memang bercita-cita masuk dunia militer."


" Iya, aku pernah dengar cerita itu dari Bundanya".


Dia pernah gagal masuk Akpol, terus katanya ikut TNI AD gagal juga. Eh malah masuk di AL."


“ Oh ya, aku boleh tanya gak?” tanya Mary.


Hesty mengangguk.


“ Akbar punya pacar waktu SMA?”


“ Setahu aku gak ada sih, waktu SMA kan dia sibuk banget”. Jawab Hesty dengan pasti.


" Masa sih" Mary memicingkan matanya.


"Dia itu kerjaannya kemah mulu, banyak ketinggalan pelajaran makanya pas kelas 3 dia masuk kelas IPS".


" Hm...dia tipe cowo yang suka curhat gak?"

__ADS_1


" Dia itu anak yang paling cuek".


Mary mengangguk-anggukkan kepalanya. Mendengar tiap informasi yang diberikan Hesty.


“ Kamu kenal sama yang namanya Beena?”


Kali ini Mary benar-benar ingin memastikan jati diri seorang Beena yang ia anggap sebagai orang yang akan menjadi rivalnya.


Mendengar nama yang disebut Mary, Hesty menghentikan kunyahannya.


Berfikir sekuat tenaga mengingat nama-nama seangkatanya.


Beena... Beena... Beena


Hesty mengulang nama Beena berulang.


“ Kayaknya ga ada teman seangkatan kita yang namanya Beena”.


"Adik kelas mungkin?"


" Kayaknya ga ada juga deh. Emang kenapa?"


"Gak apa-apa, cuma penasaran aja"


" Maksud kamu?"


" Kemarin aku lihat buku di kamarnya Akbar, kayaknya itu hadiah ultah Akbar ke 19. Harusnya itu masa SMA Akbar kan?"


" Iya, tapi teman SMA kita gak ada yang namanya Beena. Kalaupun adik kelas, setidaknya terkenalah. Karena Akbar aktivis Pramuka yang cukup tenar di sekolah."


" Kamu benar Hest, mungkin dia itu fansnya Akbar kali ya?"


" Kamu gak usah khawatir, kalaupun iya. Itu kan cuma masa lalu. Yang penting sekarang Akbar cintanya sama kamu".


Ah, benar apa yang dikatakan Hesty. Siapapun Beena, itu hanya masa lalu Akbar.


Yang terpenting sekarang, Akbar hanya mencintainya.


Lihatlah, sebuah bros cantik secara khusus didesain Akbar untuknya.


Mendengar penjelasan Hesty membuat Mary semakin yakin jika kali ini perasaanya pada Akbar tidak memiliki rival.


Apalagi melihat bros yang dibeli Akbar merupakan inisial namanya, huruf M untuk menunjukkan namanya, Mary.


Tiga puluh menit berlalu, Mary dan Hesty menjadi akrab dengan obrolan ala perempuan.


Makan siang kali ini terasa nikmat untuk Hesty, selain gratis ia juga sangat beruntung bisa ketemu seorang manager eksekutif hotel terbesar di seluruh Indonesia.


"Hest, aku bisa minta nomer hp mu?"


Tanpa pikir panjang,


"Tentu saja boleh"


Hesty mengucapkan beberapa digit angka dan Mary segera mencatat lalu mengulang angka-angka tersebut memastikan tidak terlewat satu angka pun.


" Ya, sip benar"


"Oke, aku save ya?"


Mary menyimpannya dengan nama yang sama "Hesty".


Lalu ia menekan tombol call,


Handphone Hesty berdering.


"Itu nomerku, save ya?"


"Ok Mar"


Hesty melirik jam di tangannya.


Setelah makan siang penuh obrolan, Hesty pamit.

__ADS_1


“ Mar, sorry ya waktu istirahatku dah selesai. Aku harus segera balik ke toko nih”


“Ok, thanks ya Hest. Kapan-kapan kita hang-out bareng ya?”


“ Boleh, terima kasih buat makan siangnya”


Mereka berpisah dengan ritual cipika cipiki seperti sudah lama kenal.


***


Setelah selesai makan siang, Mary masih melanjutkan acara shopingnya.


Ia memilih baberapa kaos yang cocok untuk Akbar. Namun ia mengurungkan niatnya.


Masa cuma kaos sih?


Ini tak sebanding dengan Bros yang didesain khusus buatnya


Lalu Mary mampir di toko jam tangan.


Dilihatnya beberapa model jam tangan. Dia memilih Tissot model sea touch sebagai jam tangan spesial buat Akbar yang banyak Aktivitas di air.


" Mbak, tolong bungkusan ini ya"


"Baik mbak, silahkan melakukan pembayaran di kasir. Kami bungkuskan segera."


"Oh ya mbak bisa di kasih kartu ucapan?"


"Bisa mbak, mbaknya mau tulis sendiri atau kami yang menuliskan?"


" Aku tulis sendiri saja "


Mary mengambil kertas yang berada tak jauh dari SPG.


"Bisa pinjem pulpennya mbak?"


"Oh ya mbak, maaf . Ini pulpennya"


Kata SPG bertubuh raping dengan rambut lurus rebondingan sambil menyodorkan pulpen.


Mary menuliskan beberapa kalimat, namun ia meremas kertas tersebut lalu membuangnya ke dalam sampah.


Ia menulis kembali,


Ah...terlalu biasa kata-katanya. Ga ada spesial-spesialnya!


Ia meremasnya kembali dan membuangnya.


Entah itu sudah berapa kertas yang ia buang, sang SPG hanya menunggunya dengan sabar.


" Mbak perlu bantuan" tanya si SPG.


"Aku bingung, harus menulis apa".


"Jam ini buat orang spesial?"


" Ya mbak"


" Hadiah ulang tahun?"


"Bukan mbak"


Lalu Mary menceritakan detail tentang Akbar pada SPG itu.


" Mungkin tak perlu banyak kata, tapi lugas dan tepat. Biasanya laki-laki dengan karakter seperti yang mbak katakan tidak begitu menuntut soal narasi"


" Maybe"


Lalu si SPG menulis di secarik kertas dan menunjukkan pada Mary.


"Ok , sip. Thanks ya mbak".


Setelah membeli Tissot Mary langsung kembali ke hotel.

__ADS_1


__ADS_2