Menunggu Pagi

Menunggu Pagi
Fithing baju pengantin


__ADS_3

Hari ini Akbar dan Beena berniat berkunjung ke Butik ibunya yang terletak di pusat kota semarang. Setelah mengurus beberapa kelengkapan surat administrasi pernikahan. Di sana sudah ada mbak Naely yang disibukkan dengan orderan .


" Lampu bangjo depan belok kiri ya mas" kata Beena memberikan navigasi.


" Siap nyonya Akbar"


"Ih, apaain si geli tahu dengernya"


"Lha, kamu emang mau jadi nyonya Saiful Akbar kan?"


Kali ini Beena memilih tidak mau menggrubris candaan Akbar. Beena lebih memilih mengalihkan pembicaraan.


"Nah, itu butiknya udah kelihatan"


" Aku juga sudah tahu sayang, siapa sih yang gak kenal butik Samara?, salah satu butik terbesar di Semarang milik ibu mertuaku".


Beena menjulurkan lidahnya,


"Eh, ngeledek ya?" kata Akbar sambil mencubit pipi Beena.


"Au...sakit mas"


"Kamu gemesin sih"


"Lagian, mas Akbar ngaku-ngaku sih?"


"Ngaku-ngaku gimana?"


"Nah, itu manggil-manggil nyonya Akbar, sok-sokan manggil-manggil ibu mertua".


"Lha, kan emang sebentar lagi kamu jadi nyonya Akbar. Itu artinya ibumu itu ibu mertuaku kan?"


"Udah ah...udah kita turun yuk, udah sampe nih" kata Beena menghentikan perdebatan.


Kali ini Akbar harus menerima kekalahan, perdebatan harus terhenti karena mereka sudah tiba di tempat tujuan.


Akbar memarkirkan mobil, lalu berlari keluar mobil membukakan pintu mobil bagian Beena.


" Matur kesuwun mas,"


"Nggih, sami-sami nyonya Akbar" ledeknya.


Beena cuma melotot, takut kedengaran sama tukang parkir atau karyawan butik lainnya. Di sisi lain, Akbar senyum penuh kemenangan karena Beena tak mampu memprotes kelakuannya.


Pintu sliding digeser oleh Beena. Sebuah butik minimalis dua lantai dengan desain interior klasik modern . Warna soft dari dinding display dan pencahayaan pas yang sangat eyechachting dan menambah kenyamanan saat masuk ke dalamnya. Beena disambut oleh dua pelayan dengan senyuman ramahnya. Ia langsung menuju ruang kerja Naely.


“ Assalamu’alaikum mbak ...”


“ Wa’alaikumussalam capeng...”


Beena dan Akbar mencium punggung tangan mbak Naely.


“ Gimana...gimana... ada yang bisa mbak bantu?”


“ Kami cuma mampir, kangen sama si kembar. Mau ajak Hassan-Husein ke gramedia” jawab Beena.


“ Hassan-Husein mana mbak?” tanya Akbar.


Mbak Naely melirik jam yang ada di tangannya,


“ Lagi les, paling bentar lagi pulang. Biasanya sih di anter ke sini dulu sama mas Zaky, baru pulang ke rumah.”


“ Ok, kami tunggu disini ya...” kata Akbar sambil berjalan, lalu terhenti di sebuah sudut ruang tunggu. Ia duduk di sebuah sofa panjang berwarna putih, disamping sofa terdapat foto keluarga Beena. Ada foto anak perempuan imut di apit kedua anak laki-laki. Sudah dipastikan itu foto Beena saat kecil bersama kedua kakaknya, mas Zaky dan Mas Arief.


Akbar tersenyum melihatnya,


"Kenapa mas? Senyum-senyum sendiri?" kata Beena.

__ADS_1


"Ini kamu sayang?" tanya Akbar sambil menunjukkan sebuah foto.


Dengan cepat Beena meletakkan foto tersebut ke tempat semula.


" Gak boleh jail ya!"


" Siapa yang jail, orang aku tanya we..." kata Akbar menuntut jawaban dari Beena.


" Anak cewek yang di foto tadi lucu ya?"


Beena acuh tak acuh,


" Selain lucu, gemesin, cantik lagi" tegas Akbar semakin kentara minta tanggapan dari kekasihnya.


"Kira-kira, anak itu dulu jutek gak ya kayak sekarang?"


Mendengar ocehan Akbar dari tadi membuat Beena tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


" Bukannya dijawab malah ketawa" Akbar menyebikkan mulutnya.


" Hm...Bee, aku lagi bayangin betapa lucunya kamu dulu. Kalo nanti anak kita cewek pasti lucu dan cantik kayak ibunya"


Beena langsung menghindar topik pembicaraan Akbar, tak tahan jika berhadapan dengan Akbar yang semakin hobi membuatnya tersipu malu hingga membuat mukanya seperti kepiting rebus.


Beena berjalan sambil memeriksa beberapa koleksi butik.


“ Na, mbak sudah buatkan baju khusus buat kalian nikah nanti. Coba ya?”


Beena dan Akbar fithing baju yang di persiapkan khusus oleh kakak iparnya.


Masih butuh beberapa sentuhan lagi agar lebih sempurna.


“ Hm...cocok sekali buat kalian berdua”


" Kayaknya dibagian lengan terlalu glamor deh mbak" protes Beena, menginginkan revisi di bagian tersebut karena penuh payet. Beena tidak begitu suka dengan glamor, terkesan berlebihan.


"Ok, nanti mbak perbaiki. Biar mbak kasih opnaisel di bagian perut, terus payetnyaa pindah ke sini" kata mbak Naely sambil menunjukkan beberapa revisi.


"Ok, kayaknya bagusan model terakhir " kata Beena.


Sementara dari arah luar terdengar suara riuh anak-anak yang tak sabar memasuki butik, melihat ada mobil Beena terparkir.


"Assalamu'alaikum" ucap mas Zaki, Hassan, Husain secara bersamaan.


"Wa'alaikumussalam" jawab penghuni butik.


“ Oba...” dari arah pintu masuk ada Hassan dan Husein berlari memeluk tantenya yang mereka rindukan.


“ Hai jagoan oba...” balas Beena sambil memeluk keduanya.


“ Salim sama om sayang...” titah Zaky.


Keduanya mencium tangan Akbar,


“Assalamu’alaikum om tentara”


“ Wa'alaikumussalam jagoan”


“ Sudah lama Bar?” tanya Zaky.


“ 30 menitan kayaknya ” Akbar memastikan waktu di jam digitalnya.


Akbar dan Zaky lalu terlarut dalam obrolan sedangkan Beena masih di ukur oleh Naely. Sejam kemudian mereka berpamitan.


“ Mas, mbak, aku bawa si kembar sekarang ya? Takut kesorean nanti” izin Beena.


“ Ok, jangan malem-malem ya”

__ADS_1


“ Siap ndan” jawab Akbar.


Lalu mereka berempat menuju sebuah mall di pusat kota semarang yang jaraknya hanya 15 menit dari butik.


Sebelum ke toko buku, Akbar mengajak Beena untuk membeli cincin disebuah toko jewellery yang ada di mall tersebut.


“ Bee, ke sini dulu yuk “


Akbar menarik tangan Beena masuk ke toko diikuti si kembar.


“ Akbar...” panggil seorang pelayan toko.


Beena tersenyum ramah pada pelayan itu.


“ Bee, kenalin ini Hesty teman SMA ku”


Hesty dan Beena bersalaman dengan saling menyebut namanya.


"Hesty Dinata, teman Akbar waktu SMA . Panggil saja Hesty", ucap Hesty


" Beena, Maryam Tabeena" jawab singkat Beena.


“ Bukannya kamu pembawa berita di tv itu ya?” tanya Hesty memastikan.


Beena mengangguk,


“ Iya, Beena calon istriku” Akbar memperkenalkan bangga calon istrinya yang tak hanya cantik, pintar dan terkenal.


“ Beena?” ucap lirih Hesty sambil mengulang nama yang pernah ditanyakan Mary padanya.


“ Hest, bisa minta tolong carikan koleksi cincin nikah yang cocok buat kami? “


“ Oh ada..ada, sebentar aku ambilkan”


Hesty lalu membawakan sepasang cincin nikah dengan batu saphire berwarna ungu. Akbar dan Beena mencobanya dan terlihat pas dijari manis Beena yang lentik.


“ Oba...ayo katanya mau ke gramed” Husein mengingatkan.


“ Iya ba, ayo...ayo...” rengek Hassan.


“ Mas, aku duluan ke sana ya. Si kembar sudah gak sabar kayaknya”


“ Ok sayang, nanti mas susul ke gramed. Mas selesaikan pembayaran dulu” jawab Akbar.


“ Mbak Hest, maaf ya. Saya tinggal dulu” ucap Beena dengan santun.


“ Ok “ Balas Hesty sambil takjub dengan pembawaan Beena yang tetep santun sekalipun sudah terkenal.


Beena dan si kembar meninggalkan keduanya di toko langsung menuju toko buku yang letakknya diseberang gerai jewellery.


“ Jadi bros cantik itu buat Beena bukan Mary?” tanya Hesty.


“ Mary? " Akbar mengulang pertanyaan Hesty, "Kok kamu kenal Mary?”


Akbar memicingkan matanya tak nyangka jika Hesty kenal dengan Mary.


Lalu Hesty menceritakan kejadian beberapa bulan lalu, saat ia bertemu dan berkenalan dengan Mary.


"Jadi dia kesini Hest?"


Hesty menjawab dengan anggukkan kepala.


“ Maaf ya Bar, aku kira dia memang pacar kamu. Jadi aku kasih tahu perihal bros itu.”


Hesty merasa bersalah karena telah memberikan informasi bros inisial pada Mary.


“ Ga apa-apa Hest, salah aku juga gak peka sama sikap Mary. Harusnya dari awal aku menyadarinya dan secepatnya memberikan tindakan biar dia gak kecewa”.

__ADS_1


Akbar akhirnya mengetahui dari mana Mary mengetahui tentang siapa Beena. Dan kali ini dia harus menceritakan tentang Mary pada Beena, bukan hanya sosok princess saja yang selama ini Beena kenali dari Akbar. Nyatanya mereka sudah saling mengenal.


***


__ADS_2