
Ditengah kegundahan Beena dan Bimo akan nasibnya, mereka berusaha maksimal untuk berkomunikasi dengan tentara yang Beena yakini adalah kelompok Syi’ah Hizbullah.
Namun sekali lagi, mereka terkendala bahasa. Di Lebanon bahasa Inggris belum begitu lazim. Hanya di gunakan oleh orang-orang tertentu, misalnya pelajar/mahasiswa dan parlemen. Mereka berbahasa resmi prancis dan bahasa arab.
Dengan kemampuan bahasa arab yang terbatas yang Beena miliki selama di Madrasah Aliyah dulu, ia berusaha berkomunikasi ala kadarnya.
Pagi hari sekitar pukul 05.30 LT, seorang tentara dengan wajah beringas menghampiri Beena. Kali ini dengan orang yang berbeda dari biasanya memberikan makanan dan mengantar Bimo atau Beena buang hajat.
Dengan sedikit ragu dan terbata Beena berkomunikasi dengan sang pria berwajah timur tengah. Meski bahasa arab yang di gunakaan Beena terlihat kaku, karena Beena hanya memahami bahasa arab fusha saat di sekolahnya dulu. Dan skill itu sudah lama tak d asah, jelas akan terdengar lucu bahkan mungkin berantakan.
“ Nahn shuhafiyuun min ‘indunisia” kata Beena sambil terbata.
Sang pria kekar di depannya tak bergeming.
“ A’thinaa furshatan lilaitisal bi alhukumat al-indunisia. Mahmaa kaana thalabak...”
Belum selesai Beena berucap, mendengar kata permintaan sang lelaki bertubuh tinggi dan kekar itu mendekat dan memegang dagu Beena.
Memperhatikan wajah asia Beena yang penuh pesona.
Tiba-tiba ketakutan menyelimuti Beena.
Beena segera mengibaskan wajahnya, melangkah mundur dan segera beringsut dari hadapan laki-laki berjamban lebat dan hidung mancung khas arab.
Laki-laki itu menatap liar, senyum menyeringai. Membuat Bimo semakin berpikir jelek.
Lelaki itu langsung mendorong Beena ke salah satu sudut ruang sempit yang dihuni Beena dan Bimo.
Tentara itu dengan beringasnya hendak mencium bibir tipis khas asia milik Beena.Dengan segala keberanian dan sisa tenaga yang Bimo miliki ia berusaha melindungi Beena.
"Anj*ng lo..."Bimo menabrakkan tubuhnya ke arah laki-laki yang berbadan kekar itu.Sehingga ia berhasil menjauhkan Beena dari laki-laki yang hendak menciumnya paksa, meskipun hanya beberapa langkah saja. Beena berlari ke arah lain, menjauhkan diri dari jangkauan pria mesum itu.
Laki-laki itu terdengar mengumpat dan semakin menunjukkan kemarahannya pada Bimo.
Bimo mengambil ancang-ancang untuk memukulnya, namun tinggi badan Bimo yang hanya dua pertiga dari laki-laki kekar di depannya membuat Bimo terpental sebelum ia memukulnya. Tangan kuat laki-laki itu berhasil menangkis dan langsung melempar Bimo.
Braaakkk...
“ Dasar biadab...”
__ADS_1
teriak Bimo, tentu saja lelaki itu tak peduli.
Bimo jatuh tersungkur, dan sekali lemparan membuatnya hilang kesadaran.
Tentara itu langsung mendekati Beena dan berusaha merudapaksa. Pakaian lapis empat yang beena pakai sedikit membuat laki-laki itu kerepotan. Membuat sedikit lama dia berusaha keras melucutinya.
Beena hanya bisa menangis dan berusaha memohon dengan kata-kata semampunya.
Buuuggggh...
Dari arah luar, seseorang melayangkan kepalannya. Menendang dan mengumpat. Terlihat dua tentara saling berkelahi.
Ya, pria yang selama ini memberi makan dan memperlakukan Beena dan Bimo dengan layak datang diwaktu yang tepat.
Setelah bergulat beberapa waktu akhirnya, lelaki yang berusaha meruda paksa jatuh tersungkur. Terlihat si pria brengsek itu memohon ampun pada laki-laki yang membuatnya jatuh tak berdaya.
Dengan rasa takut Beena menolak tawaran laki-laki yang menolongnya untuk memakaikan jaketnya. Laki-laki itupun segera memberikan pertolongan pada Bimo hingga tersadar. Lalu meninggalkan keduanya.
‘"Mbak Na...mbak baik-baik saja kan?”
Beena mengangguk sambil gemetar, duduk lemas telungkup dengan memeluk erat kedua lututnya.
Namun kalimat yang diucapkan Bimo tidak segera membuat Beena hilang trauma. Ia masih saja gemetaran.
Melihat kondisi Beena yang gemetar, masih dalam situasi shock. Laki-laki yang menolongnya tadi memberikan segelas air dalam bejana.
Dengan sedikit ragu, Beena melirik ke arah Bimo. Bimo menganggukkan kepalanya, sebagai isyarat untuk menerima air pemberian si tentara itu.
Beena menerimanya, tak lupa mengucapkan terima kasih meski dengan bibir gemetar dan dengan nada sangat lirih.
"Syukran katsir", lalu Beena meneguk air yang pria itu berikan. Sedikit lebih tenang rasanya setelah ia meminum air dari orang yang menolongnya.
Melihat Beena yang masih trauma, Bimo tak kehilangan akal. Kali ini, ia berusaha kuat meyakinkan Beena.
“ Mbak masih ingat janji saya untuk menceritakan legenda phoenix? Kali ini saya akan menceritakannya untuk mbak Beena”
Masih dengan membisu, Beena tak menjawabnya.
Lalu Bimo menceritakan kisah phoenix dalam Kitab Para Rasul Lukas: 27.
__ADS_1
“ Feniks itu nama sebuah kota di pelabuhan Kreta. Pada suatu hari ada rombongan melakukan perjalanan dan singgah di kota tersebut dan akhirnya rombongan melanjutkan perjalanan yang tidak cocok untuk ditinggali dimusim dingin. Sedang dalam mitologi mesir kuno, phoenix itu adalah burung ajaib seperti elang. Warnanya cemerlang merah dan kekuningan yang sering dikaitkan dengan matahari dan api.
Pendeta Heliopolis menggambarkan burung ini hidup 500 tahun sebelum membangun dan membakar diri hingga kemudian reinkarnasi”
Dengan seksama beena memperhatikan cerita Bimo.
“ Hm...kalau di Islam seperti burung anqa’ pada masa Nabi hanzhalah. Dan berakhir dengan kematiannya yang di bakar. Bedanya tidak terlahir kembali” sambung Beena dengan lirih.
Mendengar Beena sudah mampu bersuara, Bimo tersenyum.
"Mbak Na tau korelasi burung phoenix dengan Beirut?"
Beena menggeleng,
“ Itu sebabnya kota Beirut sering dikaitkan dengan kota feniks dan burung feniks meski sudah hancurkan berkali-kali namun tetap berdiri kembali.
Meski Lebanon di hancurkan berkali-kali oleh peperangan saudara, Lebanon tetap bangkit, meski Beirut di bom berkali-kali ia tetap berdiri kembali”
Penjelasan Bimo kali ini berhasil membuat Beena tertidur lelap.
"Syukurlah, mbak Na bisa tertidur. Tidurlah mbak, kali ini aku akan tetap terjaga untuk melindungi kamu mbak" ucap Bimo sambil mengusap pundak Beena.
Semalam suntuk Bimo terjaga, hingga area matanya semakin terlihat jelas bulatan menghitam, mata panda.
" Jam berapa ini Bim ?"
" entahlah mbak, sepertinya ini sudah pagi".
Setelah Beena bangun dari tidurnya, ia berniat memanggil tentara yang menolongnya. Beena ingin membuang kemihnya lalu berwudu untuk shalat subuh.
Beena di antar ke sebuah ruangan yang letaknya beberapa meter dari ruang tahanan. Setelah membuang hajatnya, Beena di antar ke tempat semula dimana ada Bimo di dalamnya.
Lalu laki-laki itu menghampiri Bimo dan meminta mereka untuk melakukan recording video untuk diberikan pada stasiun televisi Lebanon. Tentu saja ini kesempatan yang di tunggu-tunggu oleh Beena dan Bimo, karena ini satu-satunya jalan untuk mereka bisa kembali ke tanah air.
“ Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,
Yth Pemerintah Indonesia. Kami wartawan FirstTv saat ini sedang berada dalam tahanan Hizbullah. Kami dalam keadaan sehat dan perlakuan yang sangat baik. Mohon mediasinya agar kami bisa pulang ke tanah air secepatnya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh”
__ADS_1
***