Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 10. Aksi Nekatnya Galang


__ADS_3

"Jangan pakai lama, aku menunggu kamu di restauran X di meja 11 usahakan kamu memakai pakaian yang cukup seksi dan tampilkan layaknya kamu seorang ratu bukan seperti gadis tomboi lagi oke?" tuturnya Galang lalu berjalan ke arah pintu keluar kamar hotelnya lalu mematikan sambungan teleponnya dengan sepihak.


"Apa!! emangnya kita mau kencan apa! sadar woi! aku ini Istri orang dodol!" teriaknya Sanjana di balik hpnya yang layarnya sudah tidak menyala lagi.


Galang tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil membuat sahabatnya itu marah," pasti ia sudah mencat-mencat di tempatnya aku yakin dengan sangat masalah itu," cicitnya Galang.


Sanjana tanpa banyak pikir lagi segera bersiap untuk bertemu dengan salah satu terbaiknya semasa putih abu-abunya itu.


Galang entah kenapa merasa ingin sekali berbagi dan curhat dengan Sanjana dengan permasalahannya itu. Menurutnya Sanjana adalah orang yang paling tepat untuk ia tempati sebagai tempat untuk berbagi kebahagiaanya karena sudah bertemu dengan wanita yang selama ini ia cari.


"Aku harus segera mencari tahu dimana wanita itu tinggal selama ini, aku tidak akan melepaskan dirinya lagi, ini kesempatan yang sudah lama aku tunggu selama ini," gumamnya Galang Aryanta Martadinata yang berjalan ke arah bagian dalam restauran.


Sesuai dengan permintaan Galang entah kenapa hari itu ia mulai kembali seperti karakternya yang selama ini ia simpan. Memakai pakaian yang feminim tapi, tidak seksi tapi elegan dan berkelas.


Dengan make up yang lebih menunjukkan sisi keanggunannya yang selama ini baru sekali Sayed melihat istrinya yang berpenampilan sangat cantik itu ketika mereka menikah tepatnya di hari akad nikahnya dan juga resepsi pernikahannya.


Setelah menikah Sanjana kembali ke mode tomboi seperti saat ia duduk di bangku sekolah menengah atas.


Sanjana memoles make up di wajahnya dengan polesan yang cukup berani dan menantang, "Kira Mas Sayed kalau lihat aku seperti ini apakah ia marah, setuju atau terkejut!" Gumamnya Sanjana dengan senyumannya yang terukir disudut bibirnya itu.


Sanjana memilih gaun malam dengan warna merah yang lebih lembut sedikit dari pada yang dipakai oleh Sania.


Sania masuk ke dalam resto lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling resto tersebut, ia tersenyum saat melihat punggungnya Sayed.


"Aku yakin itu pasti Mas Sayed!" Cicitnya Sania Mirza Hakim yang berjalan dengan tatapan matanya yang berbinar-binar terang bahagia seolah ia akan mendapatkan sesuatu yang sangat besar.

__ADS_1


Padahal ia berniat untuk memutuskan hubungannya dengan Sayed Alfarizi Sungkar yang sudah terjalin sekitar tiga bulan terakhir ini. Biasanya orang yang akan putus hubungan akan sedih dan meratapi kesedihannya dan perpisahan itu.


Tetapi, berbeda halnya dengan yang dialami oleh Sania. Hidupnya terasa lebih santai dan seolah-olah beban berat yang ia emban di pundaknya sudah hancur dalam sekejap mata.


"Mas Sayed!" Sapanya saat sudah berhadapan dengan Sayed.


Sayed segera mengalihkan perhatiannya dari layar hpnya yang sedang sibuk memeriksa Ig istrinya tapi, satupun tidak ada foto yang diunggah oleh Sanjana lewat laman Instragramnya itu.


"Alhamdulillah kamu sudah datang rupanya!" Imbuhnya Sayed.


"Maaf sedikit terlambat soalnya ada yang aku urus," ujar Sania Mirza yang tersenyum tipis seraya duduk di atas kursi.


"Tidak apa-apa kok,kamu mau makan apa? Aku akan pesankan untukmu!" Tanyanya Sayed yang mengerutkan keningnya melihat rona bahagia di raut wajahnya Sania.


"Tidak perlu repot-repot kok Mas, lagian aku juga belum lapar soalnya, aku hanya kesini untuk berbicara hal yang sangat penting dengan Mas," ucapnya Sania.


"Bagaimana kalau aku saja yang duluan nanti Mas belakangan setelah aku bicara," timpalnya Sania yang senyumannya tidak pernah pudar dari wajahnya itu.


"Baiklah, silahkan bicara saja aku akan menjadi pendengar setia kamu," Sayed terus menerus memperhatikan Sania dengan sesekali meresap minumannya itu yang sudah dingin.


Sania perlahan menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup pelan pula," kita putus saja Mas!" Jelasnya Sania Mirza yang sudah bisa bernafas lega karena sudah mengutarakan keinginannya selama dua hari ini.


Sayed cukup dibuat terkejut karena apa yang dia inginkan sampaikan seolah-olah apa yang diutarakan oleh Sania sendiri telah mewakili perasaan dan rencananya itu.


"Serius apa yang kamu katakan ini? Apa tidak akan berubah?" Tanyanya Sania yang ingin memastikan apakah semua yang perkataan dari Sania Mirza bukanlah hanya candaan atau yang ataupun gurauan semata saja.

__ADS_1


Sania tersenyum penuh kemenangan sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari Sayed mantan kekasihnya itu.


"Syukur Alhamdulillah… makasih banyak Sania karena sebenarnya hal ini lah yang ingin aku katakan padamu, untuk memilih jalan kita masing-masing, aku sudah capek hidup berpura-pura menjadi pria Casanova dan aku berniat untuk menjalani kehidupan pernikahanku dengan serius, aku ingin seperti mereka yang bahagia dengan kehidupan rumah tangga merasakan kebahagiaan dalam berumah tangga sendiri," jelas Sayed panjang lebar.


Sania tersenyum sambil menggenggam tangannya Sayed," maafkan aku yah Mas selama ini sudah membuat hubungan Mas renggang dengan Sanjana, aku akui kesalahanku sudah terlalu banyak dan besar sehingga aku sudah menyadari jika apa yang kita lakukan selama ini sudah salah besar, selama ini aku kira aku mencintaimu Mas tapi semuanya hanya lah obsesi aku semata setelah aku sadari semuanya itu," ungkapnya Sania dengan tatapan matanya yang intens menatap ke arah kedua bola matanya Sayed.


Sayed pun membalas menggenggam kepalan tangannya Sania. Apa yang mereka lakukan itu dilihat dengan jelas dua pasang mata. Yaitu Sanjana dan Galang Aryanta Martadinata.


Galang terus memperhatikan Sanjana yang raut wajahnya sering berubah dari sendu, sedih, kecewa, cemburu dan marah dalam waktu bersamaan.


"Nana! Kamu masih seperti dulu selalu saja pintar untuk menutupi perasaan yang kamu rasakan, aku harap kamu bisa kuat menghadapi ujian dalam rumah tanggamu," batinnya Galang.


Galang menggenggam tangannya Sanjana," are you okey!" Sapanya Galang yang berusaha untuk menenangkan Sanjana.


Galang belum menyadari jika perempuan yang bersama dengan suaami dari sahabatnya adalah perempuan yang selama ini ia cari dan ingin ia nikahi. Tanpa aba-aba Galang menggenggam erat tangannya Sanjana lalu menariknya hingga ke hadapan Sayed.


"Galang! Apa yang kamu lakukan! Lepaskan aku dodol! Aku bukan kambing yang harus ditarik segala baru bisa jalan!" Ketusnya Sanjana.


"Stop! Kamu diam saja dan ikuti saja semua yang aku katakan padamu, buktikan kepada perempuan itu jika kamu lebih layak dan baik jadi istrinya dari pada wanita pelakor itu," dengusnya Galang yang terus menarik tangan kanannya Sanjana tanpa peduli dengan tatapan dari beberapa pengunjung restoran tersebut yang sudah saling berbisik-bisik satu sama lainnya yang kebetulan melihat apa yang mereka sedang lakukan.


Tapi, Galang dibuat tercengang dan terperangah melihat siapa perempuan yang bergaun selutut berwarna merah menyala itu. Hingga tanpa ia sadari tangannya segera melepaskan pegangannya dengan Sanjana lalu berjalan tergesa-gesa ke arah Sania dengan tatapan mata yang tajam seolah ada amarahnya yang siap meledak kapan saja.


Galang menarik dengan kuat tanganna Sania Mirza hingga tubuhnya Sania berdiri dengan paksa hingga tubuhnya tertarik dengan kuat hingga membentur dada bidangnya Galang karena posisinya Sania Mirza yang sudah berdiri dari duduknya sehingga memudahkan Galang untuk menariknya.


Tanpa aba-aba Galang menarik dengan paksa tengkuk lehernya Sania ke hadapan wajahnya. Galang segera mendekatkan bibirnya ke bibir seksinya Sania hingga mereka saling berciuman. Sania melototkan matanya saking tidak percayanya dengan sikap pria itu.

__ADS_1


Sania membelalakkan matanya melihat pria yang sudah dua kali menciumnya dengan paksa di depan umum lagi. Sayed dan Sanjana dibuat tidak percaya dengan tingkah absurnya dan nekatnya Galang.


__ADS_2