
"Apa sebaiknya aku mengakhiri hubunganku dengan Sania saja, kasihan juga jika aku hanya memberikan harapan palsu saja php kepadanya karena aku tidak mungkin menceraikan dan meninggalkan Istriku walaupun kami belum saling mencintai," Sayed membatin sembari sesekali menatap ke arah Sania bergantian dengan Sanjana yang masih sibuk memainkan gawainya tanpa peduli dengan kedua penghuni mobil lainnya.
Sania menatap ke arah Sayed," Maaf! aku akan berbicara dengan Mas Sayed malam ini dan segera mengakhiri hubungan kami ini yang bisa saja membuat aku sakit hati dan kecewa untuk kedua kalinya dan aku juga lebih baik hidup berdua dengan putraku saja dari pada harus memiliki hubungan dengan suami perempuan lain," Lirihnya Sania.
Sanjana saking asyiknya main gejed sampai-sampai melupakan keberadaan suaminya dengan selingkuhannya di dalam mobil tersebut. Sedang Sania Mirza Hakim sudah membulatkan tekadnya untuk segera mengakhiri hubungannya dengan Sayed Alfarizi Sungkar yang tidak ada kejelasannya itu.
"Aku sudah bertekad untuk memutuskan hubungan ini, aku takut dengan karma dikemudian hari, lagian aku memiliki seorang putri yang harus aku jaga baik-baik masa depannya, cukup hidupku yang hancur dan tidak jelas aku tidak ingin mengijinkan anakku juga merasakan hal serupa dan sama dengan apa yang aku rasakan," Sania bergumam dengan menatap intens keindahan jalan yang dilaluinya.
Tatapannya tajam ke arah depan,"Aku harus berbicara empat mata dengan Sania, jalan yang aku pilih selama ini sudah salah satu keliru, aku harus segera menghentikan kebodohanku agar kelak aku tidak akan menyesali semuanya, cukup sudah sampai di sini!" Batinnya Sayed.
Arah pandangannya masih tertuju kepada jalan yang cukup padat dilalui oleh beberapa pengendara mobil dan motor siang hari itu.
Sanjana tersenyum simpul, "Sepertinya rencanaku sudah berjalan mulus sesuai dengan harapan dan targetku, apa aku ajak Galang ketemuan saja dan kira-kira apa yang akan terjadi jika Galang datang lagi!" Cicitnya Sanjana sambil mengarahkan hpnya ke bawah dagunya itu.
Berselang beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai ke tempat tujuannya. Nusa Tenggara Timur adalah destinasi wisata yang dipilih oleh kedua orang tuanya Sayed. Labuan Nano terletak di salah satu kecamatan yang ada di kecamatan komodo tepatnya di Kabupaten Manggarai Barat.
Wisata sunset di pinggir pantai adalah spot foto paling bagus untuk menikmatinya adalah di Labuhan Bajo tepatnya di puncak Watuh api tempat ini terletak di desa Liang Dara.
Rencana awalnya mereka selama satu minggu akan tinggal di sana tapi, ternyata hanya dua hari saja karena, tiba-tiba kakeknya Sanjana masuk rumah sakit.
Sebelum kepulangannya ke Jakarta, Sayed mengajak Sania untuk makan malam di salah satu restoran yang sudah mereka pilih sebelumnya. Dengan pakaian kasual Sayed duduk di salah satu meja yang sudah dipesannya.
__ADS_1
"Ya Allah… semoga saja Sania menerima keputusanku ini, aku tidak sanggup membuat mereka sakit hati dengan sikapku, cukup aku dulu ya disakiti oleh wanita yang sangat aku cintai yang malah harus menikah dengan pria lain," lirihnya Sayed sambil sesekali menikmati minumannya sore itu.
Sania yang baru saja membaca chatnya Sayed segera bersiap untuk menemui kekasihnya itu yang tinggal menghitung menit saja mereka sudah berstatus mantan.
Sania membuka lemarinya itu lalu memilih pakaian yang akan ia pakai. Dress selutut berwarna merah marun menjadi pilihannya sore itu yang sudah menjelang magrib.
"Semoga apa yang aku pilih ini adalah hal yang paling tepat dalam hidupku, dan kami bisa hidup bahagia selamanya tanpa ada dendam atau penyesalan lagi," gumam Sania seraya memoleskan make up keatas wajahnya.
Tidak lama kemudian Sania sudah berada di jalan menuju resto tempat mereka bertemu. Senyuman manis nan ramah selalu tersungging di bibirnya setiap ia bertemu dengan berpapasan dengan tamu resto tersebut.
Sedangkan, Sanjana sedang asyik rebahan di atas kasurnya yang begitu empuk sembari berselancar di dunia maya.
Sanjana membaca beberapa story beberapa sahabatnya sambil menikmati beberapa makanan ringan. Hingga hpnya yang satu berdering tanda ada panggilan masuk ke nomornya. Sanjana segera meraih hpnya itu lalu memeriksa siapa orang yang telah menggnggu kesenangan dan aktifitas santainya.
Sudut bibirnya terangkat ke atas saat melihat siapa orang itu yang berani merusak dan mengusik ketenangan istirahatnya.
"Galang! Baru saja diomongin sudah muncul juga ini anak!" Ketusnya Sanjana.
"Assalamualaikum putri tidur!" Sapanya pria yang ada di seberang telepon dengan memandangi pemandangan sunset sore itu dari jendela kamarnya.
"Waalaikum salam pangeran kodok!" Jawabnya Sanjana.
__ADS_1
Itulah panggilan mereka jika saling bercanda. Galang adalah satu-satunya sahabatnya yang paling dekat dengannya bahkan dari semua temannya hanya satu perempuan yang pernah menjadi teman terbaik sekaligus sahabat dekatnya. Dulu mereka berempat yaitu Sanjana, Galang,adik kembarnya Galang yaitu Gilang dan juga Sanaya.
Sanaya setelah memilih menjadi model sudah berpindah dari ibu kota Jakarta menuju Singapura. Sanaya memilih berkarir di negeri orang dari pada di negara sendiri.
"Kamu ada waktu enggak malam ini?" Tanyanya Galang dengan sesekali menyesap kopinya.
"Hemm! Kenapa emangnya?" Sanjana masih setia memegang hpnya yang satunya seraya membuka sosial media sahabatnya untuk menutupi rasa bosan yang tiba-tiba muncul.
"Aku mau ajak kamu ketemu soalnya ada hal yang ingin aku katakan padamu sekalian mau minta pendapatmu karena kamu selalu memberikan aku masukan yang cukup baik jika aku curhat dengan kau," imbuhnya Galang.
"Bisa saja, padahal aku hanya asal ngomong tapi, kmu saja yang terlalu masukin ke dalam hati," sangkalnya Sanjana.
Galang menatap sekilas ke arah jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kanannya itu," sekarang jam 6 malam lewat tiga puluh lima menit, aku tunggu kamu di restoran Xx yang ada di loby hotel X,okey?" Tuturnya Galang.
"Baik, kamu tunggu yah aku mau mandi dan siap-siap dulu, tapi ngomong-ngomong kamu mau ngomongin apa serasa penting banget deh!" Ujarnya Sanjana yang merapikan kembali beberapa bungkusan makanan kecil ke dalam kantong kresek yang tergeletak di atas meja nakas.
"Jangan pakai lama, aku menunggu kamu di restauran X di meja 11 usahakan kamu memakai pakaian yang cukup seksi dan tampilkan layaknya kamu seorang ratu bukan seperti gadis tomboi lagi oke?" tuturnya Galang lalu berjalan ke arah pintu keluar kamar hotelnya lalu mematikan sambungan teleponnya dengan sepihak.
"Apa!! emangnya kita mau kencan apa! sadar woi! aku ini Istri orang dodol!" teriaknya Sanjana di balik hpnya yang layarnya sudah tidak menyala lagi.
Galang tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil membuat sahabatnya itu marah," pasti ia sudah mencat-mencat di tempatnya aku yakin dengan sangat masalah itu," cicitnya Galang.
__ADS_1