Meraih Cintanya

Meraih Cintanya
Bab. 48


__ADS_3

"Nona Muda sini aku saja yang bawakan tasnya Tuan kasihan Nona sedang hamil besar," pintanya Mbak Tuti Maryati yang menawarkan bantuannya setelah melihat Sanjana berjalan menuruni tangga bergandengan tangan dengan Sayed sembari menenteng tas kerjanya Sayed.


"Tidak perlu Mbak, kalau bisa aku minta tolong diambil kopernya Mas Sayed yang ada di atas saja,kalau itu untuk saat ini aku tidak mampu untuk membawanya," ujarnya Sanjana yang tersenyum tipis walaupun ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dalam hati dan pikirannya saat itu juga.


"Aku tidak boleh berfikiran negatif, insya Allah… semuanya akan baik-baik saja atas ijin Allah SWT," batinnya Sanjana yang mengecup punggung tangan suaminya sebelum Sayed masuk ke dalam mobilnya karena akan ke Singapura hari ini.


Sayed mengelus puncak perutnya Sanjana dengan penuh kasih sayang lalu sedikit membungkukkan badannya," sayang anaknya Papa dimana pun Papa berada kelak Papa akan selalu menyangi kalian dan tunggu papa pasti akan pulang."


Sayed mencium perut buncitnya Sanjana Alexandra Agung Miller dan tiba-tiba ada pergerakan dari dalam perutnya Sanjana. Calon bayi kembarnya menendang sehingga ada pergerakan dari dalam perutnya Sanjana yang mampu dirasakan oleh Sayed.


"Istriku! Apa kamu rasakan anak kita menendang papanya!" Sayed tersenyum sumringah bahagia karena tendangan dan gerakan kedua anaknya lebih kuat dibanding dari biasanya.


Sanjana tersenyum lebar," mereka bahagia karena diberikan kasih sayang yang melimpah dan tak terkira dari papanya dan mereka juga menjawab kalau anak kita menunggu kepulangan Papanya hingga kapan pun," ujarnya Sanjana.


Dimas berjalan ke arah Sayed," Tuan Muda sudah waktunya berangkat!" Imbuhnya Dimas sekretarisnya yang baru.


Dimas bekerja baru dua minggu karena Sania Mirza Hakim sudah hamil besar sehingga ia terpaksa cuti. Sedangkan Willy Widianto Ardiansyah Denan sibuk mengurus pernikahannya dengan Sarah Amelia Renard.


"Hati-hati Mas, aku akan sangat merindukan kehadiran Mas disisiku dan aku minta jaga selalu hatimu untuk aku! hanya aku seorang tidak boleh ada perempuan lain," tegasnya Sanjana lalu perlahan melepaskan pelukannya dari tubuhnya Sayed.


Mereka seolah-olah tidak ingin berpisah jauh, tapi demi pekerjaan Sayed Alfarizi Satya Muller sehingga dengan berat hati Sanjana merelakan kepergian suaminya dengan seulas senyuman termanisnya.


"Assalamualaikum," ujarnya Sayed sebelum mobilnya yang disupiri oleh Dimas Anggara Al-Fath.

__ADS_1


"Waalaikum salam… aku berharap Mas datang sebelum aku melahirkan anak kita buah cinta kita," gumamnya Sanjana dengan mengelus perutnya yang semakin membuncit saja.


Mbak Tuti segera berjalan ke arah Sanjana dan membantunya dengan cara memapah karena Sanjana semakin hari semakin kesusahan untuk berjalan saja.


"Makasih Mbak Tuti, apa sate bakarnya sudah jadi?" Sanjana berjalan bergandengan tangan dengan Mbak Tuti.


"Alhamdulillah sudah jadi dan juga sudah terhidang di meja makan, apa Nona ingin menyantap sate itu?" Mbak Tuti berjalan seirama langkah kakinya Sanjana.


"Makasih banyak Mbak, nanti saja Mbak aku mau istirahat dulu, kalau aku lapar nanti aku akan sampaikan kepada Mbak," pungkas Sanjana yang menaiki undakan tangga satu persatu dengan penuh hati-hati.


"Non! Katanya hari ini baru bisa dikirimkan pesanan Nona, kalau misalnya datang mau ditempatkan di mana spa langsung dimasukkan ke lemari babynya atau di simpan di gudang saja dulu?" Tanyanya Mbak Tuti seraya memutar kenop pintu kamar pribadinya Sanjana.


"Tolong masukkan saja ke dalam lemarinya,kalau bisa tolong di cek ulang lagi beberapa tas yang sudah aku isikan beberapa perlengkapan bayi kami," perintah Sanjana yang baru ingin mendudukkan bokongnya ke atas ujung ranjang king size-nya itu tetapi hpnya berdering.


Mbak Tuti segera mengambil hpnya Sanjana lalu memberikannya," telpon dari Mas Galang Nona!"


"Aahh!!" Pekiknya Sanjana yang mengelus perutnya yang sangat sakit.


Mbak Tuti yang melihat ke arahnya Sanjana segera berjalan ke arah Sanjana yang sudah mengeluh kesakitan, peluh keringat bercucuran membasahi pipinya hingga ke tubuhnya juga.


"Apa yang terjadi dengan Nona! Bagian mananya sakit Nona?!" Mbak Tuti mulai khawatir dan cemas melihat kondisi dari Sanjana yang wajahnya sudah pucat.


"Sakit!! Mbak perutku sakit banget sepertinya aku akan melahirkan," teriaknya Sanjana yang mengeluh sakit.

__ADS_1


Galang yang mendengar secara tidak langsung segera mematikan sambungan teleponnya lalu berjalan ke arah dalam rumahnya. Karena istrinya Sania juga menelponnya untuk segera pulang karena mengalami kesakitan yang luar biasa.


"Apa mereka akan melahirkan secara bersamaan yah?" Batinnya Galang Aryanta Martadinata.


Kembali ke rumahnya Sanjana, Mbak Tuti berlari ke arah luar pintu lalu berteriak memanggil beberapa asisten rumah tangganya.


"Mbak Titin!! Mbak Annisa!! Nona Sanjana akan segera melahirkan, tolong cepat kesini!!" Jeritnya Mbak Tuti.


Semua orang yang mendengar teriakannya Mban Tuti segera berjalan ke arah atas tangga.


"Cepat suruh Mang Udin untuk persiapkan mobil dan kamu Annisa kamu ambil beberapa tas dari dalam kamar baby twins!' perintahnya Mbak Tuti lalu segera membantu Sanjana untuk berjalan ke arah luar kamar.


"Apa aku akan melahirkan tanpa Mas Sayed disisiku!" Batinnya Sanjana.


Mang Joko segera membantu yang lainnya. Semua asisten rumah tangganya yang berjumlah delapan orang itu bahu membahu membantu Sanjana untuk segera mengantarnya ke rumah sakit.


"Pak Anwari tolong segera telpon Tuan Besar Fariz dan juga Nyonya Besar Ratih katakan kepada beliau jika Nona muda akan melahirkan dan kami akan ke rumah sakit Kasih Bunda!" Ujarnya Mbak Tuti.


Semua orang semakin sibuk dan hampir semua orang yang bekerja di rumahnya mengantar Nona Sanjana hanya dua asisten rumah tangga dan satu security yang tinggal di sana.


Di tempat lain, tepatnya di kediaman Tuan Farid Alexander Agung Miller sedang bersiap ke rumah sakit bersama dengan istri dan anggota keluarganya yang lain.


Raut wajahnya Bu Ratih menyiratkan kekhawatiran dan kecemasan yang berlebihan, "Ya Allah... jaga dan lindungilah putriku yang akan melahirkan semoga mereka selamat dan sehat saja, anak dan ibunya selamat'dalam keadaan yang baik-baik saja," cicitnya Bu Ratih Magdalena Miller.

__ADS_1


Pak Farid menyentuh punggung tangannya istrinya itu dan berusaha menenangkan diri istrinya sendiri," Sayang, perbanyak berdoa dan insya Allah... mereka akan baik-baik saja dan putri kita akan melahirkan dengan selamat begitupun juga dengan anak kembarnya," jelas Pak Farid yang berusaha memberikan nasehat agar Istrinya bisa sabar dan tenang menghadapi persalinan anak tunggal mereka.


"Aku juga seperti yang kamu rasakan, entah kenapa ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dalam hati, benak dan pikiranku tentang Sanjana dan Sayed, hari ini kan Sayed berangkat ke Singapura," Pak Farid membatin.


__ADS_2