
Bu Ratih mengelus punggung lebar suaminya itu," Papa harus sabar, yakin lah semua ini sudah menjadi garis tangannya putri kita dan juga sudah kehendak Allah SWT, kita hanya bisa bersabar dan ikhlas menjalani dan menerima kejadian ini dengan tawakal," ujarnya Bu Ratih yang sesekali menyeka air matanya karena keponakan pertamanya itu harus menjadi korban kecelakaan pesawat terbang.
"Apa yang terjadi sebenarnya, tolong katakan padaku! Apa benar Sayed putraku meninggal dunia?' jeritnya Bu Siska ibundanya Sayed.
Ketika keluar dari ruangan bersalin dengan deraian air matanya. Pak Farhan Fathonah Lubis Muller tidak mampu berucap sepatah kata pun. Mulutnya terkunci rapat, lidahnya keluh seketika dan tidak ada yang mampu berbicara di hadapan Mamanya Sayed Alfarizi Satya Muller.
"Mbak sabarlah, semua berita itu belum jelas adanya masih simpang-siur jadi kita harus perbanyak berdoa untuk keselamatan dari putra kita apa lagi kedua anak kembarnya sudah lahir ke dunia,"bujuknya Bu Ratih Atmanegara Lubis besannya Bu Siska sekaligus adik sepupunya dari Pak Farhan sendiri.
Bu Siska menatap ke arah besannya itu," apanya lagi yang perlu diragukan, sudah sangat jelas bahwa putraku Sayed Alfarizi Satya Muller menjadi salah satu korban dari pesawat naas tersebut, selama ini setiap ada pesawat terbang yang terjatuh ke atas lautan tidak satupun yang akan selamat dan hidup dari kecelakaan maut itu, jadi itu sangat mustahil Ratih!" Gerutunya Bu Siska yang sudah putus asa atas kesempatan kehidupan anak pertamanya itu.
Salman berlutut di hadapan mamanya, "Mama bagaimanapun kalau sudah waktunya setiap makhluk-nya yang bernyawa pasti akan mengalami namanya kematian, siapa pun yang mengenal Abang Sayed pasti akan sedih, merasakan kehilangan dan pastinya berduka atas kemalangan yang menimpa kita, perbanyak istighfar Mama agar Abang bisa pergi dengan tenang," tuturnya Salman putra keduanya Pak Farhan.
"Astagfirullah aladzim… maafkan aku ya Allah… aku sudah melupakanMu, innalilahi wa innailaihi rojiun.." lirihnya dengan deraian air matanya yang seakan sudah habis untuk melepas kepergian putranya yang tiba-tiba dan tak terduga itu.
__ADS_1
Anak buah kepercayaannya Pak Farid dan juga anak buah kepercayaannya Tuan Besar Farid Alexander Agung Miller telah dikerahkan untuk mencari korban kecelakaan pesawat terbang dengan tipe SJ-182 dan juga berita kepastiannya apa benar, salah satu korban dari pesawat terbang tersebut salah satunya adalah Sayed putra mereka.
Salah satu bidan berjalan ke arah mereka yang nampak semuanya begitu kacau," maaf siapa suami dari pasien Ibu Sanaya Alexandra Agung Miller?" Bidan tersebut melihat ke setiap orang yang berada di sana.
Pak Farid menyeka air matanya yang masih kadang menetes membasahi pipinya, "Emangnya ada apa Sus? Kami semua adalah anggota keluarga dari pasien yang Anda maksud," imbuh Pak Farid yang berdiri di depan perawat tersebut.
Bidan itu tersenyum ramah," kedua bayinya Nyonya Sanjana sudah bersih Tuan saatnya diadzani," jawab dari bidan itu.
"Tunggu sebentar Mbak Sus, kami akan segera ke sana dan mohon berikan kami petunjuk di mana tempat kedua cucu kembar kami berada," Tuturnya Pak Farhan yang tidak menyangka dihari kelahiran cucu pertamanya, anak sulungnya itu harus terenggut nyawanya dalam tragedi kecelakaan pesawat lagi.
Sedangkan yang lainnya meninggalkan ruangan operasi menuju kamar perawatan Sanjana karena Sanjana sudah dipindah ke tempat ruangan khusus VVIP.
"Ya Allah… ini sungguh cobaan yang begitu berat untuk keluarga kami, apa yang akan aku lakukan jika Sanjana tersadar dan mengetahui kondisi suaminya," cicitnya Bu Siska.
__ADS_1
Kedua bola matanya sudah memerah, hidungnya sudah memerah serta kelopak matanya membengkak. Kondisi seperti ini ya jelas terlihat dari semua anggota keluarganya Sayed.
"Mbak bersabarlah dan hanya satu yang bisa kita lakukan adalah mengikhlaskan kepergiannya Sayed dari kehidupan kita untuk selamanya tapi, aku sebagai mamanya aku mohon jangan lupakan kenangan manis yang ditinggalkan oleh Sayed," tuturnya Bu Ratih.
Siapapun yang mengetahui dan mendengar kabar kepergian Sayed untuk selamanya akan shock dan terkejut. Tapi, seperti itu lah kematian datang tanpa pemberitahuan sebelumnya ataupun tidak ada tanda-tanda sedikitpun yang diberikan oleh orang yang akan meninggal dunia.
"Ini semua salahku sehingga Sayed harus meninggal dunia, karena aku yang mendesaknya sehingga ia harus pergi ke Singapura dan pulang ke Jakarta semua karena aku!!" Batinnya Pak Farid menjerit.
Pak Farid memutar kenop pintu ruangan yang bertuliskan ruangan khusus bayi.
"Bismillahirrahmanirrahim," lirih Pak Farid.
Kematian adalah hal yang mutlak terjadi pada tiap-tiap jiwa.
__ADS_1
"Sesungguhnya sholat ku ibadah ku hidupku dan matiku hanya Allah untuk allah Tuhan semesta alam."
Kematian tidaklah menunggu kita untuk bertaubat, tetapi kita lah yang menunggu kematian dengan bertaubat.